Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 13.2 : pencuri


__ADS_3

“huh....” setelah menutup pintu, dia bersandar di pintu. Keringat mulai bermunculan di dahinya. Jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Dia tidak pernah menyangka Tang Li muncul di saat seperti itu. Jika bukan karena dia berhasil mengendalikan dirinya, dia pasti sudah ketahuan.


Dia mengangkat pedang. Menariknya. Pedang yang dia pegang sangat indah dan langsing. Bilahnya sangat putih seputih salju, mungkin lebih putih dari itu. Jika cahaya matahari mengenainya, pedang itu akan bersinar terang layaknya memiliki cahaya.


Dia tersenyum tipis menyaksikan pedangnya. Dia tidak peduli entah ada yang memiliki atau tidak. Jika sesuatu sudah berada di genggamannya maka itu sudah di takdirnya akan menjadi memilikinya.


Sikap ini tertanam dan tumbuh saat dia kecil, ketika di pindahkan ayahnya. Saat itu dia sangat membutuhkan teman, dan karena tidak mempunyai dia selalu melakukan kenakalan, seperti mencuri.


Para pelayan dan orang-orang yang ada tentu saja sangat membencinya dan melaporkan itu kepada ibu xin mei, tapi ibunya membiarkan hal itu. Katanya, “biarkan dia melakukan itu. Aku akan mengganti rugi semua yang telah dia perbuat. Putriku membutuhkan semua itu, kalian jangan melarangnya.”


Xin mei mengayunkan pedang itu ke samping, membuat suara yang indah dan nyaring.


“ini baru namanya pedang.” Dia kemudian memasukkannya kembali. Meletakannya di meja. Dia lalu mengeluarkan patung yang telah dicurinya. Dia mengamatinya lekat-lekat.


Patung itu sangat indah dengan gaun berwarna ungu yang berterbangan. Kedua kakinya sangat indah, yang satunya menjijit, dan satunya lagi sedikit di tekuk ke belakang. Kedua tangannya terlentang di udara dengan salah satu memegang tongkat, yang di ujungnya ada selendang merah muda yang indah. Selendang itu melingkari tubuh sang penari dengan baik dan elegan, membuatnya tampak lebih indah.


“kau akan menjadi mainanku untuk selamanya. Tidak peduli entah pria itu mengambilnya atau tidak, aku akan tetap mempertahankan dirimu.” Dia kemudian meletakkannya di meja, dan mengambil pedangnya kembali.


“Mari kita lihat, apakah aku bisa menggunakan pedang atau tidak.” Dia mengangkat wajahnya, memandang Tang Li dan Liu Fang sedang berlatih pedang di taman. Dia berjalan mendekat.


Liu Fang sedang berlatih pedang. kelancaran gerakan dan kelembutan gerakannya, membuatnya seperti seorang sedang melakukan pertunjukan pedang. Samar-samar Xin Mei melihat angin bergerak-gerak berpola di sekitar tubuh Liu Fang, membawa daun-daun bunga persik. Latihan itu menjadi hiburan gratis baginya yang tidak pernah melihat orang melakukan latihan pedang.


Di sampingnya, Tang Li tidak kalah baiknya, tapi Xin Mei tidak menyukainya. Ketika dia melihatnya dia mengutuknya agar terjatuh dan gagal. Dia tidak mempedulikan Tang Li, pria biadab itu.

__ADS_1


Tapi ketika menatap Liu Fang, kedua matanya samar-samar bersinar. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya. Dia sangat menyukai pertunjukan pedang itu. Dia mulai bertanya-tanya, jika ketrampilan dalam berpedang bisa membuat seseorang gembira sepertinya, mengapa semua orang yang bisa menggunakannya untuk membunuh dan menyebar kebencian?


Kedua matanya berkedip sesekali. Dia tanpa sadar menyandarkan dagunya di bibir jendela. Ketika matanya berkedip, bulu-bulu matanya sangat indah dan elegan, menimbulkan perasaan yang indah bagi para laki-laki yang melihatnya saat ini.


Mereka akan iri dengan jendela kayu yang usang itu, karena dapat menyentuh kulitnya yang halus dan berkilauan.


Cahaya matahari yang menerpa wajahnya, dan angin yang mengerjakan beberapa helaian rambutnya, menambah kecantikannya.


Tidak beberapa lama dia mengangkat wajahnya. Dengan suara yang renyah dan menyejukkan dia bergumam, “jika aku bisa belajar ketrampilan dalam berpedang, mungkin aku bisa membunuh Tang Li? Iya, aku tahu akan sangat sulit, tapi jika aku membunuh secara diam-diam, aku pasti bisa melakukannya.” Dia kemudian mengangkat wajahnya, dan membayangkan bagaimana dirinya bisa melakukan beberapa gerakan yang di lakukan Liu Fang dan membunuhnya.


“ah, ini sangat mengasyikkan! Alangkah indahnya dan bangganya diriku bisa melakukan itu! Aku bisa melindungi diriku setelahnya, kemudian mengembara, mencari bunga-bunga yang paling indah di pelosok negeri, kemudian.... Kemudian.... Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku bisa menjadi pendekar pedang. Orang-orang memujiku dan menyanjungku.”


Gadis itu tanpa sadar tersenyum manis membayangkan bagaimana dirinya bisa menjadi ahli pedang. Membayangkan memang sangat indah, tapi jika di jalankan baru tahu bagaimana sulitnya.


Seiring helaian bunga persik berguguran, dia hanya bisa melakukan gerakan pertama dari Liu Fang lakukan. Dia bahkan menggunakan hampir semua waktunya untuk melakukan itu. Dan hanya bisa melakukan gerakan pertama! Sungguh membuang-buang waktu!


Pagi ini akhirnya tang Li menyelesaikan latihannya. Dia akan pergi mengelana dan memberi pelajaran Xin Mei. Dia tidak pernah menghukumnya setelah beberapa waktu berlatih dengan gurunya. Rasa dendamnya terkumpul lama dan bisa-bisa meledak kapan saja.


Dia berjalan di koridor dengan anggun. Pedang di punggungnya membuatnya terlihat elegan dan memiliki aura misterius.


Setelah tiba di depan kamar xin mei dia membukanya secara perlahan-lahan. Hal yang mengejutkannya gadis itu tidak ada di dalam. Bahkan ruangannya sangat rapi, seolah dia beberapa hari tidak ada di sana.


Tang Li mengerutkan kening. Dia kemudian berjalan menelusuri kamar itu. Tidak ada suara lain kecuali deru angin yang meniup-niup gorden jendela. Dia mendekatinya. Dia menghela nafas.

__ADS_1


Apakah gadis itu pergi?


Dia kemudian menghela nafas. Ketika hendak berjalan pergi, angin meniup gorden kemudian cahaya kuning matahari masuk menyinari sesuatu yang berkilauan di atas jendela. Tang Li tanpa sengaja memperhatikannya.


“Sebuah liontin?”


Dia mengambil dan menggantungnya. Liontin bunga lotus kecil berwarna biru. Dia mengingat xin mei memakainya.


Apakah dia pergi melompat?


Tang Li memandang ke luar jendela. Dia kemudian menghela nafas. Apakah aku harus mencarinya lagi? Ekspresinya menjadi penuh dendam dan marah saat menyadari tidak ada Xin Mei di taman.


Tapi dia masih merasakan nafasnya sangat dekat dari tempatnya berada. Dia kemudian memejamkan mata. Perlahan-lahan di dalam benaknya dia dapat melihat tempat-tempat di dalam Hakka house ini. Dia melihat dapur, bunga persik, pintu depan, seolah semua yang ada di sekitarnya dapat dia lihat hanya dengan memejamkan mata. Dia tersenyum setelah melihat Xin Mei tengah duduk di undakan sambil memainkan sebuah pedang dan di sampingnya ada patung sang penari.


Tang Li menjadi terkejut melihatnya. Bagaimana bisa dia memilikinya? Pencuri! Gadis itu pasti mencurinya dari guru.


Anehnya, kenapa gurunya tidak mengetahui gadis itu mencuri? Apakah dia membiarkannya? Tapi kenapa?


Tang Li bertanya-tanya di dalam benaknya. Dia ingat gurunya pernah berkata dia menyukai penari dan selalu mengingatnya. Tidak mungkin tidak ada hubungannya dengan patung sang penari yang berada di samping Xin Mei.


Dia kemudian bergegas pergi dengan kemarahan di hatinya. Kali ini Xin Mei pasti di hukum berat.


“sekarang kau akan pergi?” Liu fang berada di koridor sambil menatap hamparan bunga Persik beterbangan.

__ADS_1


Tang li mengangguk dan mendekati gurunya.


“hah.... Secepat ini kita berpisah.” Lirih liu fang. Tang Li mengetahui gurunya itu enggan berpisah dengannya. Sejak kecil mereka selalu bersama-sama, makan bersama, latihan bersama, dan banyak lagi hal yang mereka lakukan bersama-sama.


__ADS_2