Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 42 : apakah ini cinta?


__ADS_3

Sebelum Xin Mei bereaksi, ibunya melanjutkan perkataannya dengan wajah sayu, seolah mengingat kenangan-kenangan yang pernah di laluinya, entah dengan orang itu atau pun dengan yang lainnya.


“Anak itu pernah meminum susu dari ku.... Juga pernah memanggilku dengan nama ibu. Waktu itu... Ibunya pergi karena mendengar suaminya terluka akibat berlatih terlalu keras. Dan, dia ibu rawat selama tiga hari. Saat ibunya kembali, dia terlihat pucat dan mengambil anaknya tanpa berkata apa pun.”


Xin Mei sangat penasaran apa hubungan orang tuanya dengan orang tua Tang Li, hingga membuat ibunya terlihat mengenang sesuatu dan ibu Tang Li sepenuhnya memberikan anaknya untuk di rawat selama tiga hari.


Dengan ragu-ragu, Xin Mei bertanya tentang itu.


“ayahmu dan ayahnya rival dalam mengejar kekuatan. Ayah anak itu selalu di kalahkan oleh ayahmu. Oleh sebab itu, dia mencari kekuatan dengan cara iblis. Kami tidak punya cara lain, selain membunuhnya dan keluarganya. Namun, anaknya lolos, dan kami tidak pernah menemukannya lagi, hingga kau besar.”


Xin Mei tidak tahu, harus berkata apa setelah mendengar semua kebenaran itu. Apakah dia harus bereaksi gembira karena tidak salah atau sedih karena ibu dan ayahnya melakukan tindakan yang membuatnya hancur.


“Mei’er, maafkan kami.”


“Mengapa itu harus di pikirkan? Ayah dan ibu telah melakukan perbuatan yang baik, hanya saja mungkin dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”


“kami selalu melakukan yang terbaik, hanya saja itu berdampak buruk kepadamu. Kami menjadi orang tua yang gagal membahagiakanmu.”


“tidak ibu, aku akan selalu ceria seperti dulu. Anak yang tidak tahu tentang perempuan itu tidak terlalu buruk terhadapku. Dia selalu membantuku ketika dalam kesulitan.”


“Apakah itu benar?” ibunya bertanya dengan tatapan yang dalam, seperti ingin melihat, apakah anaknya hanya ingin membuatnya tenang saja.


“Mengapa ibu tidak percaya? Aku tidak pernah berbohong kepada ibu.”


“Mengapa kau berada di sini?”


Xin Mei terdiam. Mulutnya sulit untuk mengatakan ingatan-ingatan sebelumnya. Tetapi tidak lama setelahnya, dia akhirnya bisa menjawab, “Aku di tusuk dari belakang. Tetapi bukan dia yang melakukannya... Ada seseorang gadis yang ingin membunuhku.”


“Anak itu berusaha menyelamatkanmu?”


Xin Mei mengangguk. “Tetapi dia lengah saat itu.”


“Bagaimana mungkin orang yang telah membunuh ayahmu tidak bisa melindungimu? Dia dengan sengaja ingin membunuhmu.”


“Tetapi... Mengapa selama ini dia melindungiku? Jika dia ingin membunuhku, dia pasti sudah melakukannya dari dulu,” Ujar xin mei.


“Dia memiliki rencana.”


Xin Mei ingin berkata, tetapi dia tiba-tiba teringat tentang sosok yang mengatakan Tang Li mengkhianatinya dan mimpi anehnya itu.


“Ibu, kau benar. Mungkin saja dia memiliki rencana.”


Ibu Xin Mei tersenyum dan berkata, “Kau masih sama seperti dulu, anakku...” ibunya kemudian membelai rambutnya dan perlahan-lahan menghilang.


Xin menjadi bingung dan memanggil-manggil ibunya beberapa kali. Tetapi tidak ada jawaban, dan semakin lama dia melakukannya, suaranya semakin menghilang dan menghilangkan. Kemudian dia tiba-tiba terjatuh dalam kegelapan dan berteriak-teriak.


Dan, akhirnya..... Xin Mei membuka matanya kembali. Dia dengan tubuh yang lemah melihat pertarungan yang hampir selesai dengan kemenangan di pihak Tang Li. Namun, kedua sama-sama terluka parah.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”


Xin Mei merasa bimbang, apakah dia harus menyelamatkan gadis itu yang kini terlihat dewasa atau hanya melihatnya begitu saja?


Xin Mei kemudian berteriak keras, menghentikan pertarungan itu.


Tang Li menoleh kepadanya.

__ADS_1


......................


Setelahnya melakukan beberapa serangan-serangan, akhirnya Tang Li berhasil mengungguli pertarungan terhadap An Hua.


Dia masih berdiri, namun, tubuhnya sudah di penuhi banyak goresan-goresan. Walaupun itu tidak terlihat karena lukanya selalu sembuh setelah beberapa detik, itu masih membuatnya merasakan sakit. Apalagi, jika dia kini berada di alam berbeda, tentu saja, akan sangat menyulitkannya, meski dia adalah salah satu orang terkuat.


Saat ini dia menoleh ke arah Xin Mei yang masih tergeletak tidak sadarkan diri. Namun, entah itu ilusi atau imajinasinya, dia seperti mendengar Xin Mei berteriak.


Setelah memastikan itu hanya imajinasinya, dia kemudian memandang An Hua yang telah terluka. Burung elang yang telah dia bawa sudah tergeletak begitu saja di samping dengan darah mengalir deras.


An Hua mengerang. Bagaimana mungkin elangnya yang sangat dia sayangi mati begitu saja dengan suatu jurus dari pria di depannya? Itu membuatnya marah, terlebih lagi, ini adalah alam yang telah di buat ibunya, seharusnya Pria di depannya lebih lemah dari pada kenyataannya. Seharusnya dia bisa membunuhnya.


An Hua menancapkan tongkatnya ke tanah dan berkata, “Jika aku tidak bisa menang hari ini, maka kau pun tidak akan bisa!”


Tepat ketika dia mengucapkan kata terakhirnya, beberapa pilar hitam muncul di sekelilingnya.


Kemudian, gempa yang sangat kuat mengguncang tempat itu. Retakan-retakan demi retakan terbentuk di sana.


Air muncul dari tanah seperti tsunami dengan ketinggian ratusan meter.


“Selamat menikmati!” An Hua tersenyum licik, dan menghilang ketika tekanan air muncul dari bawahnya.


Tang Li mengutuk gadis itu, kemudian memandang Xin Mei. Dia kemudian menyatukan kedua pedangnya dan melemparkannya ke atas.


Pedang itu kemudian berputar-putar dan berlipat ganda menjadi ribuan pedang. Di langit, itu seperti burung-burung dan anak-anak panah.


Pedang-pedang itu bergerak ke arah Xin Mei dan menjadi perisainya, seperti menara pedang yang tersusun rapi.


Tepat pada saat itu, Tang Li tersapu oleh air.


Tetapi di langit, sebuah pelangi berbentuk bulat muncul. Pelangi itu berwarna cerah. Kemudian dari sana, muncul pedang berwarna putih bersih dan bersinar.


Ledakan terjadi saat ujung pedang itu merangsek masuk, membelah lautan itu. Gelombang yang sangat besar terlihat di sekitarnya saat pedang itu mulai masuk.


Itu bagaikan bencana alam yang sangat mengerikan....


......................


Xin Mei membuka matanya. Dia merasa kedinginan, kemudian bangun dan memandang sekitarnya.


Di sekitarnya, hanya ada pepohonan dan langit malam. Suara-suara burung hantu dan beberapa mahkluk malam ikut meramaikan malam itu.


“Ternyata kau sudah sadar.”


Xin Mei terkejut dan menoleh ke belakang.


Tang Li berada di sana dengan wajah seperti biasa.


“Mengapa kau membunuhnya...?” Xin Mei bertanya dengan nada pilu.


Tang Li merasa bingung dan bertanya, “Apa maksudmu?”


“Mengapa kau membunuh gadis itu? Aku merasa sangat familiar dengannya...”


“Jika dia tidak mati, maka kita yang akan mati. Cepat berdiri, ayo kita pergi dari sini.”

__ADS_1


Tang Li berjalan.


“T-Tunggu. Bagaimana aku bisa berjalan jika kedua kakiku terasa sakit dan aku juga merasa lemas. Tapi, ngomong-ngomong bagaimana aku bisa sembuh dari luka yang parah itu?”


Tang Li mendekatinya. “Itu karena kau masih penting bagiku.”


Tang Li kemudian membopong gadis itu, membuat wajahnya merah.


“Lepaskan! Aku tidak memerlukan ini, aku hanya perlu duduk di pinggir jalan saja.”


Tang Li mengangguk dan mendudukkan Xin Mei di bawah pohon.


Xin Mei merasa kecewa dengan Tang Li, dia pikir, pria di depannya akan membujuk untuk ikut dan merayunya, tapi ternyata dia sama sekali tidak terpengaruh, meski mungkin mengetahui dirinya sedang marah.


“Tang Li, aku ingin mendapatkan liontin dan pedangku kembali, jika kau ingin membawaku pergi.”


“Aku sudah mengatakan perjanjiannya sebelumnya.”


“Aku merasa kecewa! Kau telah meninggalku dan hampir membuatku terbunuh.... Kau mengatakan aku masih penting bagimu, tapi mengapa kau membiarkanku pergi tanpa perlindungan apa pun. Kau membuatku kecewa. Dan.... Siapa kau sebenarnya? Apa tujuanmu menyelamatkanku? Aku masih belum bisa tenang sebelum kau mengatakannya dengan jelas.”


Tang Li kemudian mengeluarkan liontin dan sebuah pedang, kemudian mengulurkannya kepada Xin Mei, tetapi dia tidak menerimanya.


“Kau tahu, aku tidak punya siapa pun di dunia ini lagi, jadi tolong, katakan yang sebenarnya...”


“Aku juga ingin mendapatkan kompensasi atas perbuatanmu kepadaku.”


Kedua tangan lembut Xin Mei meraih pipi Tang Li. Wajahnya yang cantik bersemu merah dan mendekatinya. Dia kemudian memandang kedua mata Tang Li yang cerah dan bersinar, namun terlihat kesepian.


Dia memejamkan matanya dan merasakan sensasi lembut dan jantung berdebar.


Setelahnya, menjaga jarak.


Tang Li tidak melawan sama sekali, dia berpikir, apa yang telah perbuatnya selama ini sudah salah. Selain itu, dia juga merasakan perasaan baru yang menyegarkan setelah melakukan ciuman itu.


Dia memandang wajah Xin Mei yang merona dan sangat cantik. Dia melihat gadis itu bersinar terang malam ini.


Xin Mei mengambil pedang dan liontinnya. Dia memandang sejenak liontinnya, kemudian memandang Pedangnya sebelum menariknya.


“Ini sedikit lebih gelap dari sebelumnya...” Xin Mei memandang Tang Li. “Apakah kau menukarnya?”


Tang Li tidak menjawab, sebaliknya berkata, “pesta kembang api akan di mulai apakah kau tidak mau melihatnya?”


Xin Mei tersentak. “kau benar!” Dia bergegas berdiri, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


“Aku sudah menduga, kau menipuku...”


Xin Mei terkejut dan menyesali perbuatannya. Tetapi, dia kemudian bergegas menarik tangan Tang Li dan menariknya pergi.


“Tang Li, tanganmu teras kasar, kau pasti terlalu bekerja keras selama ini.”


Mereka terus berjalan menjauh.


“tanganmu juga sedikit kasar. Sebagai seseorang perempuan, seharusnya kau menjaganya.”


“Ini ulahmu!”

__ADS_1


Tang Li tidak menjawab lagi.


__ADS_2