Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 28 : Boneka gerimis salju


__ADS_3

Burung berterbangan dengan indah di langit sore yang dingin. Daun-daun kecokelatan yang indah dan kering berterbangan di Tiup angin. Tidak ada keindahan, Kesedihan, dan kekaguman ketika melewati musim gugur. Udara yang dingin, jalan di penuhi daun-daun kering, pohon yang botak, semuanya sangat indah, dan hanya ada warna coklat cerah indah.


Suasana kota sore ini sangat ramai, Beberapa orang saling bercakap-cakap, beberapa juga ada yang datang ke kedai, juga ada yang berbelanja.


“Ibu, apakah tidak akan apa-apa jika aku membeli boneka kecil ini?” tanya Du yueliang kecil. Tangannya di gandeng ibunya. Gadis itu mengangkat wajahnya menatap ibunya. Ada ketakutan di wajah kecilnya.


“tidak, liang,er, ini adalah uang ibu, ayahmu tidak akan marah. Lagi pula, kau sangat menyukainya, dan mengharapkannya sejak lama, kau harus mendapatkannya.”


“Tapi, jika ayah marah...”


“Tidak. Ayahmu tidak akan marah.”


Du yueliang memandang boneka wanita di pelukannya dengan tersenyum manis. Dia memang sangat mengharapkan boneka itu sejak lama. Dia ingin sekali mendapatkannya, tetapi kondisi keuangan keluarganya sangat buruk, ayahnya juga suka mabuk-mabukan. Ayahnya hidup pengangguran, dan suka marah-marah.


Ayahnya adalah pria yang buruk, tetapi, bagaimana pun juga dia adalah ayahnya, Du yueliang merasa keburukan dan kebaikan ayahnya adalah bagian dari keluarganya, dia harus tetap menjaganya. Kondisi yang buruk seperti itulah yang membuatnya berperilaku lebih dewasa.


Jika biasanya anak-anak seumuran dengannya bermain-main bersama temannya, dia harus bersemangat membersihkan rumah dan memasak sebelum bisa menikmatinya. Namun terkadang, dia tidak mempunyai teman karena selesai di sore hari.


Anak-anak sudah pulang. Orang tua mereka melarang anak-anak mereka bermain hingga sore hari. Katanya, ada makhluk menyeramkan akan mengintai mereka di semak-semak ketika bermain di sore hari. Tentu saja itu adalah bualan untuk membuat anak mereka tidak bermain-main di sore hari.


Du yueliang hanya bisa berjalan-jalan ketika anak-anak sudah pulang. Dia akan mengambil beberapa helai rumput dan menganyamnya menjadi boneka kecil. Dia akan melintasi sawah dan duduk di bawah pohon, hanya sekedar membuat boneka-boneka itu.


Ayahnya tidak pernah memukul, dan hanya marah-marah. Dia akan sangat marah Ketika ibunya tidak memberikan uang. Jika ibunya mempunyai uang, dia akan dengan senang hati memberikannya, tetapi ketika tidak punya, ayah akan marah-marah dan pergi dari rumah. Kadang-kadang, ibunya juga menyembunyikan uang itu untuk dirinya sendiri, maka dari itu, dia harus menerima ocehan ayahnya.


Kemarin, ayahnya meminta uang, ibunya tidak memberikannya dengan alasan belum di gajih. Tetapi, Du yueliang tahu, ibunya sedang menyembunyikannya, dan uang itu di gunakan untuk membelikan boneka.  Oleh karena itu, dia takut dengan ayahnya, jika dia mengetahui uang ibunya digunakan untuk membeli boneka.


Ketika tiba di rumah yang reyot itu, ayah Du yueliang berdiri di depan pintu, wajahnya yang di penuhi kumis dan sangar membuat Du yueliang takut, dia langsung menyembunyikan boneka yang di belinya di belakang punggung.


Entah ayahnya mengetahuinya atau tidak, semoga dia tidak mengetahuinya.


Ayahnya memandang tajam ke arah Du yueliang, kemudian memandang tajam ke arah istrinya.


Kedua mata istrinya sedikit bergetar karena takut, dia sedikit menunduk, dan tidak terasa menggenggam lebih erat tangan anaknya.


Du yueliang merasakan ibunya sangat ketakutan.


Setelah tiba di depan suaminya, dia berkata, “Aku pu-pulang.”


Ayah Du yueliang mengangguk, dia bergegas ke depan, menarik tangan istrinya, dan membiarkan Du yueliang kecil terjatuh.


Du yueliang kecil berdiri. Kedua kaki dan pupil matanya bergetar, perasaan buruk menyelimuti hatinya.


Suara tamparan terdengar dari dalam, kemudian di susul isak tangisan. Hati kecil Du yueliang di sambar petir, awan hitam memenuhi hatinya.

__ADS_1


“Ibu...” dia tanpa sadar mulai menangis. Bonekanya di biarkan terjatuh. Du yueliang kecil ingin menghampiri ibunya, tetapi dia sangat takut dengan ayahnya.


Suara pukulan, cacian dan kemarahan terdengar dari rumahnya. Du yueliang kecil tidak kuat, dia berlari pergi dari rumah.


Dia duduk di bawah pohon kering dan menangis. Karenanya, ibunya di marahi ayahnya.


Malam harinya, ibunya datang dan mengajaknya pergi. Dia membawa boneka yang telah ditinggalkannya. Ibunya memandang kasihan terhadap anaknya itu. Dia diam sejenak menatap anaknya, Kemudian mendekatinya


“Seandainya ibu tidak membelikanku boneka, ayah pasti tidak akan marah seperti itu.” Du yueliang memandang wajah ibunya yang di penuhi kepiluan dan kesedihan.


“Ayahmu memang suka seperti itu. Ayo kita pulang, amarahnya sudah mereda. Kau tidak di salahkan dalam hal ini.”


“Ibu... Lebih baik jangan membelikanku mainan lagi. Wajah ibu memerah dan terluka, aku sangat benci melihat ibu seperti ini.”


Ibu Du yueliang terdiam. Senyuman lembut terbentuk di wajahnya. Du yueliang anak yang sangat mencintai kedua orang tuanya. Tidak ada yang akan bisa menggantikan anak gadisnya ini. Di berikan seorang anak sepertinya, adalah berkah yang tidak terhitung jumlahnya.


Ibunya tidak bisa menolaknya, dia berjanji akan melakukan apa yang di perintahkan. Setelah mengusap-usap rambut anak gadisnya, dia beranjak berdiri. Setelah anaknya berdiri, dia menggandeng tangan anaknya, kemudian pergi dari sana.


Janji ibunya telah di lakukan, tetapi ayah lebih tidak semena-mena terhadap ibunya. Rumahnya yang nyaman seperti dulu tidak ada lagi. Setiap hari hanya di penuhi kemarahan dan pertengkaran hebat. Du yueliang hanya bisa menangis. Dia tidak pernah tahan dengan perbuatan ini, dia selalu merasa tersakiti di saat kedua orang tuanya bertengkar dan ayahnya marah-marah.


Suatu hari, seorang wanita datang dan menemaninya menangis. Wanita itu bertanya apa yang membuatnya menangis.


Du yueliang tidak menjawab. Dia menunduk dan menggaris-garis tanah sembari mengusap-ngusap air matanya.


“Aku bisa membantu.”


“Apa kau bisa membuat kedua orang tuaku akur?” Du yueliang tiba-tiba mengangkat wajahnya.


“Aku bisa membuat mereka menjadi boneka. Mereka akan abadi dan tetap bersamamu.”


Du yueliang diam sejenak. “Aku masih ragu-ragu, tetapi apa kau bisa mengajariku?”


“tentu saja.”


Du yueliang mulai berlatih membuat boneka. Dia sangat menyukai boneka dan juga mulai berlatih menggerak-gerakannya. Dia sangat senang dan tertawa bahagia kala melihat boneka kecilnya bisa berjalan dengan dia yang menggerakkannya.


 Ketika malam sudah turun, Du yueliang pamit dengan wanita itu dan pergi dari sana. Dia akan menceritakan semua hal yang membahagiakan ini kepada ibunya, dia ingin memperlihatkannya. Betapa senangnya dia ketika membayangkan bagaimana ibunya memuji-mujinya.


Tetapi.... Bayangan selalu tidak sesuai harapan. Ayah dan ibunya bertengkar hebat. Suara pecahan, tangisan tamparan, juga caci makian terdengar dari dalam rumahnya.


Hati kecilnya sangat sakit hari ini, malam yang di penuhi bintang-bintang terasa gelap gulita. Angin malam menyapu wajahnya. Isakan tangisan mulai terdengar.


“ayah dan ibu bukan manusia! Kalian lebih buruk dari binatang! Kenapa kalian selalu bertengkar! Apakah kalian tidak menyadari aku terluka karena itu! Aku sungguh kecewa! Sangat kecewa!”

__ADS_1


Dia sangat marah dan membencinya. Meski ayahnya selalu marah-marah, Ibunya tidak bisa mendamaikan ayahnya dan mendidiknya menjadi lebih baik. Dia adalah istri yang gagal.


Dengan air mata menetes, dia berlari dari sana dan pergi kembali. Tidak di sangka-sangka wanita itu masih berada di sana sedang bermain-main.


“bibi, aku ingin berlatih membuat boneka dan mengendalikannya, juga aku ingin mengubah ayah dan ibuku menjadi boneka! Aku ingin keduanya abadi dan selalu bersamaku!”


Maka sejak saat itu, dia mulai membuat boneka kecil wanita yang di penuhi ranjau mematikan dan mengendalikannya.


Suatu malam, dia kembali pulang setelah beberapa saat berlatih dengan wanita itu. Ayah dan ibunya berada di beranda. Saat dia melihat anaknya kembali, dia langsung bergegas memeluknya, sementara ayahnya menoleh tidak jelas.


Du yueliang memeluknya.


“ayah, ibu! Aku mempunyai hadiah untuk kalian berdua! Ini sangat spesial!”


“Apa itu nak?” Ibunya mengusap air matanya.


“ayah, ibu lihat ini!”


Du yueliang mengerakkan jari-jarinya, sebuah boneka kecil imut muncul dari semak-semak.


“Bagaimana bisa bergerak seperti ini?”


“Aku yang mengendalikannya!” Du yueliang tersenyum.


“ya! Kau benar, anakku, kau bisa mengendalikannya. Jadi sekarang, kau bisa mencari uang dari pertunjukanmu itu,” celoteh tiba-tiba Ayahnya.


“ayah benar! Tapi, sebelum itu, lihat ini!” Du yueliang menggerak-gerakan jari-jarinya. Boneka itu terbang mendekati ayahnya, terus mendekat dan mendekat. Saat sangat dekat, Du yueliang menggerakkan Telunjuk kirinya. Tiba-tiba pagoda yang Boneka itu pegang berubah menjadi pedang panjang.


Ayah Du yueliang terkejut, tetapi dia tidak bisa menghindari serangan boneka itu. Pedang kecil menusuk tenggorokannya. Darah keluar bercucuran. Mulut ayahnya terganga, dan tidak pernah menyangka akan terjadi seperti itu. Kemudian Boneka itu menarik pedangnya yang penuh darah. Ayah Du yueliang terjatuh dan akhirnya mati. Darah masih mengalir deras.


“A-apa yang kau lakukan nak?” dengan mulut ternganga dan mata sedikit bergetar karena tidak percaya, ibu Du yueliang mundur semakin mundur.


“ibu...kau telah menyakitiku!”


“akh!”


Tiba-tiba pedang kecil menusuk tenggorokan ibunya. Lagi-lagi darah segar keluar.


Setelah kedua tubuh orang tua terjatuh, Du yueliang roboh dan bersimpuh. Air matanya keluar tidak terbendung. Dia menangis sembari menutupi wajahnya. Rasa sedih, marah, benci keluar bersama dengan luapan emosinya


Butiran-butiran salju mulai berjatuhan seperti gerimis. Musim dingin telah tiba....


 

__ADS_1


__ADS_2