Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 19.2 : maka berangkatlah kereta kuda itu.


__ADS_3

Mereka menuju ke arah timur, tidak tahu ke mana pria itu membawanya. Namun dia yakin kepada bibi ying, bawah semuanya akan baik-baik saja. Dia akan bahagia dan mulai melatih ilmu pedangnya walaupun pedangnya sudah ketinggalan.


Sore, malam, pagi, siang, sore, malam dan pagi lagi, kereta terus berjalan tanpa henti. Sepanjang perjalanan, dia sudah melintasi berbagai desa dan menemui orang-orang asing. Untungnya dia membawa bekal yang banyak, sehingga dia tidak perlu khawatir.


Tapi ada yang aneh dengan pria yang membawanya; dia tidak pernah berbicara sedikit pun dengan xin mei, bahkan ketika dia bertanya, pria itu tidak menjawab sama sekali.


Di sore hari ini, perlahan-lahan kereta berhenti. Xin mei menjadi takut. Dia lalu mengambil apa pun di dekatnya sebagai senjata. Hanya ada tongkat kecil yang dia punya. Maka di peganglah erat-erat. Tubuhnya bergetar, dan manik-manik keringat mulai menetes. Dia yakin, pria yang menjadi kusir bukan orang baik sebab, dia mendengar ucapan Lu yingtao kepadanya sebelum berangkat.


Namun meskipun begitu, dia tidak mau menyimpulkannya begitu saja. “Tuan kusir, mengapa kau berhenti? Apakah ada seseorang yang menghalangi?”


Meski dia berusaha untuk tetap tenang, Tapi nadanya tidak bisa dia kendalikan.


“Ah.... Tidak ada apa-apa, sakit kepalaku kambuh lagi.”


Dia tidak percaya. Dia perlahan-lahan mendekati jendela. Jika kini berada di dekat desa, dia bisa pergi. Namun ketika membuka korden, hamparan bukit-bukit tinggi yang di tutupi awan menyebar di hadapannya. Di bawah ada jalan sempit yang menghubungkan dua tebing yang di bawahnya ada lembah yang sangat dalam, kau tidak akan bisa melihat dasarnya.


Lembah itu di tutupi kabut-kabut putih. Jalan itu hanya cukup untuk kereta kudanya saja. Dia tidak bisa keluar, maka bertambah takutlah dia.


“A-aku punya obat, obat apa yang tuan inginkan?” tanya Xin Mei ketakutan.


“ah... Biarkan aku saja yang mengambilnya. Nona tidak akan tahu, obat apa yang cocok untukku.”


Dia ingin menolaknya, tetapi sudah terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Setelah orang itu menyibak korden, kedua mata xin mei membelalak karena terkejut. Pria di depannya adalah pria yang sebelumnya ingin membelinya.


“Sepertinya kita berjodoh. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi. Kau tampaknya lebih cantik dari sebelumnya. Aku tidak sia-sia menjadi kusir. Sekarang, kau tidak akan bisa lolos dariku.” Ketika pria itu melihat xin mei yang bersandar di belakang, dia tersenyum menyeringai dan di penuhi ekspresi mesum.


“A-apa yang akan kau lakukan!? Jangan mendekat! Jangan!” dengan tubuhnya bergetar dan nafas tergesa-gesa, dia menuding pria itu dengan tongkat di bawanya. Dia yakin Pria di depannya mempunyai niat buruk kepadanya.


“Aku tidak akan melakukan apa-apa.”


“A-aku tidak percaya!” xin mei melempar tongkatnya kemudian mendekati jendela. Meski jalan cukup sempit dan berbahaya, dia tidak punya pilihan, dari pada di permalukan lagi oleh seorang pria.

__ADS_1


Namun sayangnya, tongkat itu tidak mengenai pria itu, dan juga dia menggapai tangan xin mei. Dia menghempaskannya ke dinding kayu dan mencekik lehernya.


“Kau sangat wangi. Kulitmu juga sangat halus. Aku sangat iri dengan ayahku yang menjadikanmu selirnya. Tapi, tidak apa-apa, aku akan menikmatimu lebih dulu sebelum ayahku.”


“Kau... Pria....bejat!” dia berusaha melepaskan diri, tapi kekuatan genggaman pria di depannya sangat kuat.


Setelah beberapa saat berjuang, pria itu mengeratkan genggamannya dengan sangat keras, membuat dia tidak bisa bernafas, bahkan perlahan-lahan mulai memejamkan matanya. Kedua tangannya yang di gunakan untuk menggenggam tangan pria itu mulai melemah, dan akhirnya jatuh terkulai lemah.


Pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke lantai. Dia tersenyum menyeringai menyaksikan tubuh gadis di depannya yang sangat cantik. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi.


Perlahan-lahan pria itu melepaskan pakaiannya. Ekspresi penuh nafsu terlihat jelas di wajahnya.


......................


“kenapa aku tidak bisa tenang!”


Blak!


Tang Li memukul meja di depannya. Dia sangat marah karena belum bisa tenang setelah berada di tempat pegunungan seperti ini. Ini sudah satu bulan lamanya dia berada. Dia yakin, perasaan tidak nyaman di sebabkan karena dia sebelumnya membunuh seseorang dan perlahan-lahan akan menghilang. Namun, ternyata dia salah, perasaan itu masih menghantuinya dan membuatnya tidak nyaman.


“Liontin ini masih ada.”


Dia hendak melemparnya jauh-jauh, tapi ketika melakukannya, dia berubah pikiran dan mengurungkan niatnya. Dia menghela nafas, kemudian pergi masuk ke dalam.


......................


“ibu, ibu, lihat! Awan-awan itu berbentuk pedang!” Seorang anak kecil duduk sambil menunjuk ke langit.


Di sampingnya ada seorang wanita dewasa. Dia duduk sambil menekuk kedua kakinya ke depan. Tidak lupa juga dia menyentuhnya. Ketika anak itu berkata, dia mengangkat wajahnya.


Awan itu tidak berbentuk sama sekali seperti pedang, hanya gumpalan panjang di bawah langit biru dan terik matahari siang. Angin selatan berembus kencang, menyebabkan beberapa helai rambut dan rumput-rumput sekitarnya bergoyang-goyang.

__ADS_1


Dia menurunkan wajahnya, dan tersenyum lembut kepada anak laki-laki di sampingnya.


“itu seperti pedang kan? Aku tidak salah kan?” melihat ibunya tersenyum, timbul perasaan curiga di dalam hatinya.


“itu seperti pedang. Apakah kau menyukainya?” ibunya menjawab dengan lembut


“iya, ibu, aku menyukainya!”


Setelah mengatakan itu, anak itu berdiri, dan mengambil ranting yang ada di dekatnya.


“ibu! Aku akan menjadi pendekar pedang yang hebat suatu hari nanti!” anak itu berkata sambil menunjuk ke langit dengan rantingnya.


Wanita muda itu tersenyum dan bertepuk tangan, nyaris tanpa suara. “anak ibu tentu saja akan menjadi pendekar pedang. Dia akan pergi melawan orang-orang jahat dan menegakkan kebenaran.”


Anak itu menoleh ke arah ibunya. Dia tersenyum dan mengangguk. “iya. Aku akan membela kebenaran!”


“Tapi ada beberapa hal yang harus kau ketahui sebelum menggenggam pedang.”


“Apa itu?” anak itu kembali duduk.


“Kau tahu mengapa bilah pedang ada dua dan satu ujungnya?”


“tentu saja agar mudah untuk melukai lawan dan membunuhnya. Pedang adalah senjata, jika tidak mudah di gunakan untuk melukai atau membunuh, pedang tidak layak untuk pendekar dan kesatria.”


“Tidak salah. Tapi bukan hanya itu saja. Pedang juga memerlukan bentuk yang indah dan ringan. Selain itu, kedua bilah dan satu ujungnya memiliki makna tersendiri.”


“Ibu, cepat katakan.” Anak itu tidak sabaran.


Ibunya tersenyum dan membelai rambut putranya dan melanjutkan, “bilah kanan simbol tekad, keberanian, kelincahan, dan ketangkasan. Oleh karenanya di gunakan untuk menyerang. Bilah kiri, simbol penolakan, pengelakkan. Oleh karena itu di gunakan untuk menghindar dan menangkis. Terakhir, ujungnya berarti akhir dan tujuan. Kau harus menggunakannya ketika mengakhiri sebuah pertarungan.”


“Aku mengerti.”

__ADS_1


“jika kau memang sangat ingin menjadi pendekar pedang. Kau harus seperti pedang itu, tidak mudah di taklukan. Apa pun tujuan dan kata-katamu, kau harus mengikutinya, lurus seperti bilah pedang itu dan tidak mudah di bengkokkan.”


“ya. Aku mengerti.”


__ADS_2