
Tidak butuh waktu lama setelah Tang Li mundur, pintu terbuka lebar menimbulkan kejut kepada Xin mei.
Dari pintu, seorang pria paru baya yang berpakaian putih melaju dan tersenyum kepada Tang Li. Pandangan ramah dia arahkan kepada Tang Li, kemudian memandang aneh kepada Xin mei.
Xin mei menunduk. Dia tidak berani di pandang seperti itu, apalagi pria di depannya memiliki aura yang kuat dan aneh.
“apa ini wanita barumu?” tanya pria itu kepada Tang Li. Senyuman menggoda terlihat di wajahnya. Dia mengelus-elus jenggot panjangnya.
“Tidak guru. Jika kau menginginkannya, aku bisa memberikannya,” jawab Tang Li tanpa terpengaruh senyuman gurunya.
Mendengar Tang Li ingin menyerahkannya, Xin mei mengangkat wajahnya. Dia takut dengan orang baru, dan takut bagaimana jika dia di siksa lebih lanjut dan di permainkan.
Dia gadis yang tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, jika bersama orang itu, dia yakin sulit untuk lepas, bahkan dengan Tang Li pun rasanya sangat mustahil.
Karena ketakutan, Xin mei berjalan mendekat dan menarik baju Tang Li dan memegangnya erat-erat sambil menunduk.
Aku tidak ingin bersama orang itu, aku ingin bebas dan hidup seperti sedia kala. Air mata Xin mei mulai menetes.
Pria itu tidak menjawab, dia mendekati Xin mei. Tangan tuanya meraih dagu Xin mei dan mengangkatnya.
Xin mei tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkannya. Jika bisa, dia ingin sekali tidak menurutinya.
Wajahnya sedikit gemetar ketika di angkat.
Pria itu tersenyum kemudian berkata, “Li, er, aku tidak menyangka kau memiliki wanita yang manis. Tapi sayang sekali, dengan tubuhnya yang lemah seperti ini, dia hanya sebagai beban untukmu.”
Pria itu kemudian berjala menjauh.
“Guru, dia bukan wanitaku, dia adalah gadis yang aku pungut dan akan aku titipkan di rumah bordil. Jika kau sayang kepadanya, kau bisa mengambilnya.”
“tidak bisa, aku tidak menyukainya.” Kata pria itu, “ baiklah, ayo masuk, mari kita berdiskusi di dalam.”
Mereka lalu masuk ke dalam. Xin mei di perintahkan untuk masuk ke lantai dua untuk beristirahat, sementara Tang Li dan gurunya mempunyai beberapa diskusi penting yang harus mereka lakukan.
Sebelum Xin mei ke atas, rantai yang mengikatnya di lepaskan oleh guru Tang Li.
Ekspresi tidak senang terlihat di wajah Tang Li ketika gurunya melakukan itu, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Kini Xin mei duduk di dekat jendela, memandang pohon bunga Persik yang sangat besar dan megah di depannya. Dahan-dahan menjuntai ke bawah dan di topang dengan bambu. Kelopak-kelopak bunga berguguran mengiasi genteng dan taman.
Dia duduk sambil menyandarkan kepalanya dengan tangan lembutnya. Wajahnya kini lebih terlihat segar dari sebelumnya.
“Aku akan memanjatnya!” dia berseru dan menunjuk pohon persik besar itu.
Ketika dia hendak mengangkat kakinya ke atas ada sesuatu yang terjatuh. Dia menoleh. Sebuah liontin yang indah jatuh di sampingnya, menimbulkan suara yang unik.
Dia dengan cepat meraihnya, takut jika benda itu hilang. Dia mendekap di dadanya dengan erat, dan menghela nafas.
“Liontin ini, bagaimana bisa jatuh?” dia memandang liontin di tangannya.
Itu adalah hadiah dari ibunya ketika dia masih kecil. Saat dia berumur sekitar 7 tahun. Ibunya membelikan sebagai hadiah ulang tahun kepadanya.
“mei, er! Ini adalah hadiah ulang tahunmu!” seru ibunya di sebuah gang sambil batuk-batuk dan mengejar Xin mei.
“Hehehe, hadiah ulang tahun?” Xin mei berhenti berlari, dan memandang ibunya, “Ibu, apa yang akan ibu berikan kepadaku?”
“kemari.” Seru ibunya sambil batuk-batuk. Wajahnya sedikit kebiruan karena sakit.
Setelah tiba, ibunya berjongkok.
“Ibu, kau sakit, kau harus beristirahat. Wajahmu tidak terlihat baik-baik saja.” Xin mei kecil memegang tangan ibunya. Dia merasa khawatir dengan ibunya dan kesehatannya.
Ibunya batuk dan menggelengkan kepalannya sambil memejamkan mata, “tidak, ibu masih bisa.”
“ambil ini, ibu mempunyai sepasang liontin yang indah untukmu.” Ibunya mengambil sepasang liontin dari bajunya, dan menarik tangan kecil Xin mei. Kemudian meletakannya dengan lembut di atas telapak tangannya.
Mata kecil bulat yang indah itu bersinar ketika menatap apa yang ada di hadapannya. Mulut kecilnya terbuka tanpa sadar, dan mengeluarkan suara wahh.
“ibu! Ini sangat indah! Aku tidak bisa menerimanya. Aku takut, ibu tidak bisa membelikan aku mainan dan makanan lagi.” Xin mei mengulurkan tangannya dan menatap ibunya dengan ekspresi enggang. Gadis kecil imut ini jelas sekali ingin mendapatkan liontin itu, tapi pikiran kecil dan anehnya membuatnya harus merelakannya untuk di tukar dengan hal yang lebih berharga dari liontin.
Dia lebih menghargai mainan dan makanan dari pada liontin indah, alasannya sederhana, mainan tampak lebih menarik dan makanan bisa di nikmati, sedangkan liontin tidak bisa di makan dan di mainkan.
“ambil sayangku.” Ibunya mengambil tangan kecilnya dan menuntun untuk menggenggam liontin itu.
“Ibu tidak akan mengurangi apa pun, ini hadiah yang ibu lama persiapkan untukmu. Ambil.”
__ADS_1
Xin mei menatap tangan yang di genggam Ibunya. Tangan ibunya masih hangat, bahkan lebih hangat dari biasanya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata, “ibu, apakah ini tidak apa-apa?”
Ibunya memberikan senyuman tipis dan manis. “putriku yang cantik, sampai kapan pun kau menerima pemberian ibu, semuanya tidak apa-apa.”
Sudut bibir Xin mei bergerak melengkung dan tersenyum renyah, “baiklah, aku akan menerimanya.”
................
Di sebuah ruangan, Tang Li dan gurunya duduk berseberangan. Angin dingin berembus dari jendela, membuat kain yang menutupinya melambai-lambai.
Cahaya matahari sedikit masuk dari jendela, membuat ruangan itu bercahaya.
Mereka membicarakan sebuah latihan yang akan di lakukan Tang Li selanjutnya. Ini bukan masalah besar, dengan talentanya, Tang Li dapat menguasainya.
Ini hanya masalah waktu.
“kita akan berlatih beberapa hari ke depan. Kita akan berlatih di pagi hari dan berakhir di malam hari. Kau tidak bisa pergi sebelum kau bisa menguasainya. Latihan ini memang tidak terlalu sulit, tapi sangat berguna. Di perlukan bakat dan kerja keras untuk menguasainya. Dengan bimbingan guru, kau akan lebih mudah menguasainya,” kata gurunya dengan serius.
“meski di luar kau terbilang sangat kuat dan tidak bisa mengalahkanmu, kau hanya manusia biasa, dan kekurangan itu pasti ada.”
Tang Li mengangguk pelan. Dia yakin gurunya berkata seperti itu untuk mengingatkannya untuk tidak terlalu menyombongkan diri.
Dia tahu itu, dan selalu menerimanya. Kadang-kadang dia merasa jengkel dengan nasehat itu.
Ketika gurunya berdiri, suara keributan datang dari luar, itu tidak lain berasal dari kamar atas dan sesuatu jatuh dari sana. Beberapa genteng terdengar pecah.
Tang Li yang menduga itu ulah Xin mei tapi tidak berkata apa-apa.
Gurunya melihat ke sumber suara. Dia melihat seorang gadis tergeletak dan menangis di sana. Dia tersenyum anggun.
Beberapa bajunya robek dan tubuhnya terdapat luka sayatan. Di sekitarnya ada beberapa genteng hancur.
Rambut menutupi sebagian wajahnya, tapi guru Tang Li dapat melihat jelas wajahnya. Wajah polos dan cantik, sangat cantik.
Tapi, bukan itu yang membuatnya senang, melainkan dadanya yang anggun dan lekukan tubuhnya seperti penari yang pernah dia lihat. Penari itu sangat cantik, tatapannya tajam dan penuh keberanian seperti Kesatria yang sedang bertempur di medan perang.
Sangat indah dan penuh keberanian
__ADS_1