
Akhirnya aku bebas!
Seorang gadis kecil berumur sekitar 12 tahun berlari dalam kegelapan malam. Dia tersenyum manis sambil terus berlari. Semua rumput-rumput dan berbagai ranting pohon di bawahnya, dia abaikan, seolah itu tidak ada sama sekali.
Tapi, tidak lama setelahnya, kakinya tersandung, dan dia akhirnya terjatuh. Dia menjerit, tapi setelahnya kembali tersenyum. Membersihkan pakaiannya, kembali berlari.
Tidak beberapa lama berlari, dia akhirnya menemukan seseorang sedang duduk sambil memanggang ayam. Dia adalah pemuda berumuran sama dengannya. Dia memandang pemuda itu, dan begitu pun pemuda itu memandangnya. Gadis itu lalu mengalihkan perhatiannya kepada daging panggang yang terlihat indah dan enak. Dia tanpa sadar mencium bau harum dari daging panggang itu.
Gadis itu mendekatinya. “Hey, serahkan daging panggang itu...” dia mengulurkan tangan putih lembutnya yang kotor.
Mendengar ucapan itu, pemuda itu terkejut. Dia memandang daging panggangnya, kemudian menariknya. “tidak. Aku belum makan. Kau siapa? Aku tidak mengenalmu.”
“Cepat berikan!”
Gadis itu menggapai daging panggang dan menariknya. Pemuda itu tetap tidak memberikannya. Maka, terjadilah perebutan daging panggang itu. Mereka berdua saling mengeluarkan tenaga masing-masing. Menggertak gigi, dan menarik dengan sekuat tenaga, hingga tidak terasa bergerak semakin jauh, akibat dari perebutan tersebut, berguling-guling di tanah, dan saling menarik.
Tidak lama kemudian, mereka berdiri lagi, dan saling menarik. Tapi entah mengapa, gadis itu memiliki tenaga yang lebih kuat, dia dapat menarik lebih kuat, membuat pemuda itu tertarik, hingga akhirnya dia terjatuh, dan menindih tubuh gadis itu. Yang paling membuatnya terkejut, bibir mereka bersatu. Pemuda itu melebarkan kedua matanya, tidak percaya apa yang terjadi.
Dia berteriak dan menjauh dari gadis itu.
Gadis itu membersihkan pakaiannya kemudian mendekati Pria itu.
“Ambil saja daging itu! Aku tidak membutuhkannya.” Pemuda itu berkata dengan kesal sambil memalingkan wajahnya.
“Bagaimana rasanya?” gadis itu berkata dengan polos.
“Tentu saja enak!”
“Apakah lembut? Apakah kau menyukainya? Jika iya, ayo kita lakukan sekali lagi.” Gadis itu mendekatinya.
“T-Tunggu, apa yang kau bicarakan?”
“Bagaimana rasanya berciuman?” gadis itu duduk di atas dahan pohon di samping pemuda itu. “ Aku dengar dari kakak senior, berciuman itu sangat mengasyikkan. Aku juga pernah mengintip dari lubang di tembok, bagaimana kakak senior melakukan pekerjaannya. Dia akan bertelanjang bulat bersama seorang pria, mereka akan berciuman, berpelukan, dan melakukan adegan seperti permainan. Kakak senior akan mendesah, katanya itu adalah sebuah nyanyian di malam hari yang penuh gairah. Dia pernah berkata, berciuman itu sangat indah dan terasa menyegarkan. Aku juga mendengar dari yang lainnya. ‘bibir pria ini terasa masam, sedikit lembut. Ini terasa lembut dan menyegarkan. Yang ini terasa manis.’ Bagaimana rasanya?”
Pemuda itu memandang tidak percaya kepada gadis di depannya. Dia melebarkan kedua matanya. “Apakah kau selalu melakukan itu?”
“iya.”
“Dari mana kau berasal?”
“Rumah bordil.” Gadis itu menjawab sambil memakan daging panggang seolah hal itu adalah hal biasa.
“Hah? Apakah kau sungguh berasal dari sana?”
Dia mengangguk. “Bagaimana rasanya? Jika enak, ayo kita lakukan adegan itu! Aku sangat penasaran.” Gadis itu berdiri.
“Tidak, tidak! Kau jangan macam-macam! Rasanya tidak enak!” pria itu memandang ngeri gadis itu dan menjaga jarak.
“Benarkah...?” gadis itu mendekatinya, dan memasang ekspresi mengerikan. Dia mendekat dan mendekat.
__ADS_1
Pemuda itu terus mundur, dan mundur lagi.
“jika kau berhenti, aku akan memanggangimu ayam lagi.”
“Baik.” Gadis itu langsung setuju dan kembali duduk.
Melihatnya seperti itu, pemuda itu menghela nafas, kemudian duduk.
“Apakah kau tahu apa arti adegan itu?”
“Pelayanan dan permainan. Aku mengetahuinya dari kakak senior. Dia pernah mengatakan, dia sangat menikmati permainan itu, dan selalu menyukainya.”
Pemuda itu diam sejenak, lalu berkata, “Sebaiknya kau jangan mengikutinya, dan mengintip hal itu lagi.”
“Memangnya kenapa?”
“ah, tidak. Hanya mengingatkan saja.”
Gadis itu memandang serius ke arah pemuda itu. Dia lalu tersenyum manis, mengangguk, kemudian kembali melahap daging panggangnya.
Pemuda itu menghela nafas lagi. Gadis di depannya sangat aneh dan memiliki pemikiran yang positif meski di hadapkan dengan adegan seperti itu. Dia adalah gadis aneh. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu seorang gadis seperti ini. Untungnya gadis ini bertemu dengannya. Jika dia bertemu dengan orang jahat, tidak akan pernah di bayangkan bagaimana jadinya.
Pemuda itu menoleh ke arah gadis di sampingnya, yang berjarak dua meter dari tempat duduknya. Gadis itu sangat manis, apalagi saat dia melahap daging itu, dia terlihat sangat cantik dan manis.
Dia lalu memalingkan wajahnya. Ketika dia hendak memandangnya lagi, gadis itu sudah berada di depannya. Pemuda itu terkejut, tetapi dia bisa mengendalikan dirinya.
Gadis itu mengedipkan kedua matanya. Bulu-bulu matanya sangat berkilau ketika di pandang sangat dekat, kulitnya sangat halus, meski sedikit kotor.
Pemuda itu memandang daging yang di ulurkan. Tinggal sedikit yang masih tersisa.
Dia sangat menginginkannya, tetapi dia tidak mau memakan makanan sisa, apalagi jika itu orang asing. Maka dia menolaknya dengan tegas.
Gadis itu memandang makanan yang di bawanya, kemudian memandang kembali pemuda di depannya.
“ini sangat enak, apakah kau tidak mau?”
“Tidak.”
“oh, ok.” Gadis itu kembali duduk dan memakan sisanya. Setelahnya membuang dengan sembarangan.
Dia menguap beberapa kali, lalu memandang pemuda sampingnya dengan penuh harapan.
“A-apa yang kau inginkan?” di lihat seperti itu, pemuda itu merasa akan ada sesuatu.
“bersila. Aku ingin tidur di pangkuanmu. Cepat! Aku sudah mengantuk.” Gadis itu lagi-lagi menguap.
“Tidak!”
“tidak mau?” dia tersenyum nakal, kemudian menendang batang pohon yang di duduki pemuda itu dengan keras. Ternyata gadis ini memiliki tenaga yang kuat. Hanya sekali tendang, batang pohon itu meluncur cepat.
__ADS_1
Pemuda itu sangat marah, dia ingin berdiri dan memarahinya, tetapi Gadis itu dengan cepat membaringkan tubuhnya, dan menggunakan pangkuannya sebagai bantal.
“Apakah kau memiliki tingkat tidak malu yang luar biasa? Sehingga kau bisa melakukan ini?”
Gadis itu tertawa terkikik. “Iya.” Kedua matanya berkilauan ketika menatap ke atas. “ Lihat! Bintang-bintang itu sangat indah malam ini! Ada beberapa bentuk di sana.” Dia menunjuk dengan tangan putih mungilnya.
“Apakah kau baru pertama kalinya melihat bintang?”
“Tidak. Ini sudah kedua kalinya, pertama, di secarik kertas, kedua, secara langsung seperti ini. Ternyata lebih indah dari pada di kertas. Bintang-bintang itu sangat indah malam ini. Sungguh sayang sekali, akan menghilang saat matahari terbit.”
Pemuda itu mengangkat wajahnya. Benar, yang di katakan gadis itu, bintang-bintang itu berkelap-kelip menampilkan beberapa warna yang berbeda. Ada beberapa bentuk di sana, seperti bentuk angsa, burung, dan kerbau. Selain itu, ada Aurora berwarna ungu melayang-layang.
Dia kemudian menurunkan wajahnya. Gadis itu sudah tertidur menghadap ke samping dengan kedua tangannya bercakup di bawah Pipinya. Melihatnya seperti ini, dia terlihat sangat lucu. Wajahnya yang sedikit berisi dan putih, membuat siapa saja ingin mencubitnya.
......................
Lagi-lagi mimpi aneh. Xin Mei bangun tidak normal sore ini. Tubuhnya di penuhi keringat, rambutnya acak-acakan dan nafasnya tidak beraturan.
“Mengalami mimpi buruk?” He Xian bertanya lembut sambil menghanturkan segelas air.
Xin Mei mengangguk dan meminumnya. Butuh beberapa saat untuk menenangkan tubuhnya. He Xian menunggu dengan tenang. Kemarahan wanita dewasa ini sudah mereda dan kembali ke sikap awalnya. Dia tersenyum lembut, duduk di pinggir tempat tidur sambil memandang xin mei. Ketenangan dan keindahan senyumannya membuat siapa saja merasa aman dan nyaman berada di sekitarnya.
Melihat senyumnya, xin mei merasa lebih tenang. Tetapi dia merasa bersalah karena telah melakukan hal ceroboh mengenai patung itu. Meski dia tahu, patung itu tidak terjadi apa-apa, bagaimana pun juga, dia telah membahayakannya.
“bibi, maafkan Xin Mei tadi.”
He xian mengangguk. “Apa kamu sangat menyukainya?”
Xin Mei mengangguk. “Aku sudah menyukainya ketika aku melihat pertama kalinya, bibi. Aku juga sebelumnya mempunyai itu, tetapi hilang. Sayang sekali, jika patung seperti itu telah menghilang. Di mana bibi membelinya? Aku sangat menginginkannya.”
He xian mengerutkan keningnya. “Di mana kamu mendapatkannya?”
“Apa bibi? Patung itu?”
He xian mengangguk.
“Aku mendapatkannya di meja, ketika aku bangun tad–”
“Bukan. Kamu mengatakan pernah mempunyainya. Dari mana kamu mendapatkannya?”
“seorang pria tua yang berasal di puncak bukit persik. Aku.... mencurinya dari dia. Apakah bibi... mempunyai hubungan dengannya?” dia merasa sedikit tidak nyaman mengatakan yang sebenarnya, tapi sebagai gadis yang baik, dia harus mengatakan yang sebenarnya.
“Kenapa dia tidak mengambilnya kembali?”
“Aku tidak tahu, mungkin dia sudah melupakannya.”
“Bagaimana ciri-cirinya?”
Xin Mei menceritakan semua yang dia tahu.
__ADS_1
“Kita harus pergi dari sini,” kata He Xian berdiri tegap setelah mendengarnya. Keanggunan tubuhnya sangat terlihat.
“B-bagaimana caranya?” xin mei bertanya dengan wajah bertanya.