Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 11.2 : pecah


__ADS_3

“tang li, kau lihat dadanya itu? Anggun bukan.” Seolah kebijaksanaan dan sikap serius lenyap begitu saja. Guru tang li bak seorang mesum. Dia seolah seorang anak kecil yang telah di basuh mukanya.


Tatapannya juga terlihat lebih santai dan tidak menusuk seperti sebelumnya. Walaupun dia terlihat lebih santai dan mesum, tang li tidak menyukainya, terlebih lagi dia terbiasa dengan sikap gurunya yang serius sebelumnya.


“lihatlah, rambutnya itu, sungguh anggun bukan. Wajahnya, dia cantik. Dan ... Lihatlah kakinya itu, sangat indah dan menawan. Guru sungguh iri denganmu, bagaimana bisa kau di kelilingi gadis-gadis cantik seperti itu.” Guru tang li tetap berbicara Tanpa memandang tang Li.


“jika guru menginginkannya, aku bisa memberikannya, tapi guru harus menyiksanya.”


“memberikannya kepadaku?” barulah kali ini guru tang li menoleh, tapi tidak lama kemudian dia kembali memandang xin mei.


“ Tidak, tidak, tidak. Guru macam apa aku ini, jika merebut gadis muridnya sendiri? Hatiku sudah ada yang memiliki, dia jauh lebih cantik darinya. Wajahnya selalu bersamaku, bahkan jika dia sudah meninggalkanku. Jangan salah paham, aku mengatakan itu bukan menyukainya, hanya memujinya saja, hanya.” Wajah guru tang li penuh nostalgia ketika mengatakan itu.


“Tang li, tolong dia, jika kau membawanya ke sini, kau harus bertanggung jawab atas keselamatannya,” ucap gurunya tanpa memandang, tapi nadanya lebih serius dari sebelumnya. Tidak jelas apa alasannya.


“.....”


“tang li, cepat, jangan buat gurumu naik darahnya.” Kali ini gurunya memandangnya. Guru tang Li sangat serius. Kata-katanya tidak bisa di pandang remeh.


Dengan mendengus dingin, tang li melompat dari jendela. Dia tidak habis pikir gurunya pencinta perempuan.


......................


Saat tang li tiba, xin mei mengangkat wajahnya. Dia dengan marah berkata, “Ini semua salahmu tang li! Tangan dan kakiku lecet, dan aku tidak bisa memanjat pohon itu. Ini semua salahmu! Aku membencimu!”


Dia sangat kesal dan marah karena tidak bisa melakukan apa yang sangat diinginkan selama ini.


Dia masih duduk dengan membersihkan kaki dan tangannya yang kotor dan berdarah. Dia merasa kaki sakit karena jatuh dari atas.


Jika bukan karena berhasil meraih atap-atap, dan turun lebih lambat, dia sudah pasti akan patah tulang.


Dia ceroboh dan sangat ceroboh. Dan rasa pedih dan sakit inilah yang harus dia terima atas kesalahannya.


Tang li langsung membopongnya.


Ketika mengangkatnya, dia menjerit dan tanpa sadar memukul tang li.


Dia menjadi takut, tapi untungnya tang li hanya mendengus dingin.


“Tang li, aku ingin di sini! Aku tidak mau di bawamu, ini semua salahmu, aku membencimu.”


Dirinya yang salah, orang lain yang di marahi.

__ADS_1


“diamlah. jika kau melawan, aku memperkosamu di sini.”


“K-kau pria bejat, aku membencimu!” serunya setelah beberapa saat terdiam.


Walaupun dia berkata menolak, tidak ada reaksi tubuh untuk menolak; dia menerima apa yang dilakukan tang Li, dan lagi pula dia sangat membutuhkannya sekarang.


Tang li membawanya ke dalam kamar dan membaringkan dengan lembut. Baru kali ini tang li bersikap lembut seperti ini, membuat dia malu dan takut apa yang akan di lakukan jika bersikap seperti ini.


Ketika tang li pergi. Dia bertanya-tanya apa yang telah merasukinya dan mengapa bersikap seperti itu.


Dia tidak perlu memikirkannya. Setelah memejamkan matanya, dia pikir tidak ada yang datang, tapi tanpa di duga tang li datang membawa mangkuk dan selembar kain putih.


Apa yang dia lakukan? Apakah dia akan membersihkan lukaku? Tidak, tidak, pria berdarah dingin tidak mungkin akan melakukan itu. Akan sangat aneh jika dia melakukan itu.


Apa yang di duganya benar, tang li membawa itu untuk membersihkan lukanya supaya tidak infeksi. Dia melakukannya dengan lembut, tapi tidak untuk wajahnya; wajahnya terlihat sangat menolak sikapnya ini, Bahkan dia sengaja melakukan dengan cepat dan kemudian pergi.


Ini pasti ada seseorang yang memerintahkannya, tapi siapa? Apakah pria tua aneh itu?


Xin mei berpikir setelah tang Li pergi dari kamarnya.


......................


Di mana ini?


Dia kebingungan melihatnya dan bertanya-tanya apa yang terjadi kepada dirinya, dan mengapa dia bisa berada di sini?


Kobaran api di sekitarnya bergoyang-goyang karena angin, semakin membuatnya lebih besar dan panas. Suhu di sekitarnya sangat panas. Tubuhnya mengeluarkan banyak keringat.


Malam ini dia berada di tempat yang aneh dan penuh misteri. Dia berputar-putar, berusaha melihat sekelilingnya. Ini.... Rumahku! Setelah mengamati sebentar, dia mengetahui ini adalah rumahnya.


Dia ingat sekali, bagaimana suasana rumahnya ketika penyerangan terjadi. Di sekelilingnya, ada berbagai bangunan rumah yang sudah di selaput kobaran api. Melahap semua yang ada dan menjadikannya debu.


Bintang-bintang dan bulan bersinar terang di langit yang menjadi saksinya.


Dalam percikan-percikan suara api, dia mendengar teriakan-teriakan kesakitan dan ketakutan. Dia menjadi gelisah. Apakah ini asli? Tidak, tidak mungkin! Semuanya tidak nyata!


“argghhh....!”


Dia menoleh. Sekitar 20 meter seorang wanita paru baya tersungkur karena di dorong.


“siapa kau? Mengapa kau menghancurkan hari bahagia ini? Apa tujuanmu, jika kau ingin uang aku akan memberikannya, tapi tolong, Jangan hancurkan hari bahagia ini.” Kata wanita itu sambil memegang kaki seorang Pria yang telah mendorongnya. Dia memohon dengan serius dan tulus.

__ADS_1


Pria berpakaian hitam itu tidak bergeming. Dia menendang wanita itu dengan kasar, membuatnya tersungkur dan sebagian wajahnya tertutupi rambut. Xin mei mendekatinya secara perlahan-lahan. Hatinya tergerak untuk melihat siapa itu.


Ibu.... Dia.... Ibuku!


Dia berlari menghampiri wanita yang di anggap Ibunya.


“Nyawa harus di bayar dengan nyawa, hati harus di bayar dengan hati!” pria itu, memegang pedang dengan kedua tangannya dan menebas leher ibu xin mei, membuat kepalanya terbang berguling-guling mendekati Xin mei.


“Ibu......!!!”


Xin mei terkejut. Jantungnya terasa tidak berdetak lagi. Kedua matanya terkejut dan seolah terdiam dan tidak melihat. Tubuhnya tertegun seolah Jiwanya di tarik dari tubuhnya dengan paksa.


“ibu.....!!!!”


Dia tanpa sadar menutup mulutnya. Dia merasa perasaan yang aneh menyentuh Jiwanya; sebuah perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, atau sebuah ungkapan.


Air matanya mulai mengalir. Sungguh miris melihat ibunya terpenggal di hadapannya sendiri.


Darah Segar mengalir. Kobaran api semakin membara. Bintang-bintang masih sama.


Air mata mulai menetes dari kedua matanya. Bibirnya tidak tahu harus berucap seperti apa. Air membasahi pipinya yang lembut putih.


Dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya.


......................


Dia terbangun tiba-tiba. Tahu-tahu, keringat sudah membanjiri tubuhnya. Tidak, tidak, itu hanya mimpi, tidak nyata, ibu tidak mungkin di bunuh seperti itu, aku mempercayainya, iya, aku mempercayainya.


Dalam nafasnya yang buru-buru, dia berusaha meyakinkan dirinya, bahwa pembunuh ibunya tidak sekejam itu.


Ini pasti ulah pria biadab itu! Aku harus membunuhnya. Tidak peduli aku mati atau tidak, aku harus membunuhnya.


Cahaya kemarahan dan kebencian muncul di matanya. Dia lalu beranjak keluar dari kamar dan mengendap-endap mencari ruangan tempat tang li tidur.


Rumah hakka itu melingkar dan memiliki dua lantai. Karena xin mei mengetahui di lantai satu tidak ada apa-apa, dia memilih menelusuri lantai dua. Dia berjalan melewati koridor yang ada.


Sepanjang perjalanan, dia melihat pelita-pelita yang indah dan pohon bunga persik yang menawan. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya dia menemukan Tan li tertidur dari balik jendela.


Dengan pisau di tangannya yang telah dia persiapkan, dia masuk mengendap-endap


Hari ini adalah hari kematianmu. Aku tidak akan membiarkanmu selamat.

__ADS_1


Xin mei memandang tang li yang tertidur anggun.


__ADS_2