
“Dan kami juga menyediakan alat upacara. Toko kami sangat lengkap, anda ingin membeli apa?” tanya gadis itu sambil memandang aneh ke arah xin mei. Mungkin dia heran dengan pakaian xin mei yang aneh.
“Pakaian apa yang akan kau beli?” tang li menoleh.
“a-aku?” xin mei perlahan-lahan mengangkat wajahnya.
Tang li mengangguk.
“Oh, jadi ini untuk nyonya. Mari aku lihat, kan jenis-jenis pakaian yang ada di sini.” Gadis itu menarik tangan xin mei dan memperkenalkan semua pakaian yang dijualnya.
Tang li membiarkan gadis itu membawa xin mei ke dalam. Setelah mereka berdua masuk. Tang li berbalik dan melihat-lihat area pasar.
Semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah. Hanya kau saja yang tidak ada. Dia mengingat semua kenangan-kenangan yang pernah dialami bersama Jia Jia, seorang gadis yang membuatnya mengerti apa itu hidup, dan untuk apa dia di lahirkan di dunia ini.
Dia juga mengingat ketika jia jia mengatakan, “pedang itu benda mati, kau tidak akan menemukan kebahagiaan di dalamnya, meski kau sudah membunuh semua musuh-musuh dan dendam-dendammu.”
“Ingatlah, apa yang kau impikan tidak akan pernah selalu sama di dalam bayanganmu.”
Dia menghela nafas, seolah ingin membuang semua ingatan itu. Dia tidak mau lagi terjerat dalam masa lalu, sebuah masa yang tidak berguna dan hanya beban pikiran.
Dia menoleh, memandang kedai-kedai yang ada. Ada kedai minuman, manisan, alat-alat upacara, boneka dan lain-lain.
Dia ingat waktu dulu, ketika pertama kalinya bertemu jia jia. Saat itu dia hanya berjalan-jalan, dan tidak sengaja bertemu jia jia di jalan dengan keranjang kecil di tangannya. Di dalamnya sudah di penuhi bunga-bunga yang indah.
Mereka berdua tertegun dan saling memandang. Oh, Betapa indahnya sepasang mata itu bertemu. Dan betapa bahagianya hati mereka melihat itu. Mereka mulai merasakan sesuatu yang aneh di dalam pikiran dan hati mereka.
Setelah sadar, tang li menggosok-gosok belakang kepalanya dan menoleh ke arah lain.
Wajah Jia jia memerah dan menunduk. Tanpa sadar memegang lebih erat keranjang di depannya. Dengan menunduk dia berjalan.
Saat berpapasan dengan tang li, dia sedikit melihatnya dan pergi.
Tidak mau kehilangannya tang li berteriak memanggil dan ingin mengetahui namanya.
“Namaku jia jia!” jawabnya tanpa menoleh dan bergerak lebih cepat.
__ADS_1
Mengapa hati itu seperti alarm ketika merasakan cinta?
“tuan, apa anda punya uang?” tiba-tiba seorang anak kecil datang dan menarik bajunya.
“Tidak.” Jawab tang li dingin.
“Tuan, aku lapar, aku ingin makan.”
“Aku bilang tidak!” tatapannya lebih tajam.
“Tapi tuan...”
“sudah aku bilang aku tidak punya!” dia marah lalu tanpa sadar menghempas anak itu hingga tersungkur. Semua tatapan tertuju kepada tang li.
Melihat itu, tang li tidak mempedulikannya.
“Tuan... Aku mohon, aku tidak punya uang untuk makan lagi. Ini sudah tiga hari, kasihani aku.” Anak itu cepat-cepat memegang kaki tang li dan memohon.
“Sudah aku bilang, aku tidak punya!”
Dia menjerit. “kenapa kau kasar sekali?” tanya wanita itu yang tidak lain xin mei. Dia membantu anak itu berdiri dan mengusap-usap bajunya yang kotor.
Tang Li mendengus dingin. Semua orang menatapnya marah dan mulai membicarakan tang li. Mereka tidak bisa menyalahkan tang li karena dia sudah mengatakan tidak punya uang. Tapi tidak bisa membenarkannya karena itu tidak sopan.
“ini uang adik kecil, pergilah membeli makanan.” Xin mei menyerahkan beberapa uang.
Anak itu bukan main gembiranya. Setelah berterima kasih, dia lalu pergi. Uang itu adalah uang yang dia temui di dalam bajunya. Mungkin saja Fang Liang memberikannya ketika tidak di sadarinya.
Tang li langsung menarik tangan xin mei dan pergi dari sana. Saat tiba di bawah kerimbunan bunga persik mereka berhenti.
Tang Li menghela nafas. Xin mei sedikit meliriknya dan menunduk. Dia lalu berkata, “hukum aku, jika aku berbuat salah.” Dia mengulurkan kedua tangannya untuk di gores.
Tang li tidak merespon. Dia tetap berbalik. Xin mei hanya bisa melihat punggungnya yang lebar dan alus. Gagah dan pemberani. Tapi sayangnya tidak memiliki kasih sayang.
Tang li lagi-lagi menghela nafas. Apa yang dia lakukan? Kenapa diam seperti itu. Bukankah dia sedang marah?
__ADS_1
Dia tidak tahu entah apa yang di pikirkan pria di depannya. Mungkinkah dia menyesal karena telah bersikap kasar? Mungkinkah dia malu karena di bicarakan orang-orang?
Segelintir angin berhembus dari gang yang memisahkan mereka. Membawa bau harum bunga Persik. Membawa kelopak-kelopak bunga tersebut. Menari-nari, berputar-putar dan jatuh.
Xin mei memandang lekat-lekat kelopak bunga persik itu. Dia dapat melihat bentuk sempurna kelopak bunga itu. Runcing. Berwarna merah muda yang indah. Dia suka bunganya dan sering melihat-lihat ketika kecil.
Saat melihatnya, dia akan tersenyum dan menyadarkan wajah dengan kedua tangan di jendela samping tempat tidurnya. “andai aku bisa memanjatnya.” dia tersenyum.
Sejak kecil, dia bersumpah akan memanjat bunga Persik yang indah dan akan mencium bau harum. Memandangnya lekat-lekat. Dia suka kepala putiknya yang indah dan berwarna indah itu.
Tang li tiba-tiba berbalik dan mencekiknya. Apa dia marah lagi? Xin mei Berusaha melepaskan diri namun tangan tang li sangat kuat. Di tambah lagi, dia mengangkat tubuhnya.
Ekspresi penuh amarah muncul di wajah tang li. Apakah ini adalah kematianku?
Sedetik kemudian tiba-tiba tang li melepaskannya dan berbalik.
Akhirnya xin mei bisa bernafas lega dan sedikit batuk-batuk. Tang li berbalik dan menyuruh xin mei berdiri.
“apa kau akan membunuhku?” Tanya xin Mei setelah berdiri.
“mungkin, Jika kau tidak patuh denganku.” Tang li mengikat rantai di tangan xin mei.
Mereka lalu pergi.
Saat mereka sudah jauh dari gerbang, seseorang muncul dan tersenyum. Parasnya sangat tampan. Rambut panjang bertiup-tiup. Dia mengerutkan kening. Sebuah emosi meledak di dalam hatinya.
“tunggu saja, aku pasti akan membunuhmu.”
“Kita akan memanfaatkan wanita itu. Bagaimana?”
Seorang gadis muncul di samping pria itu. Dia sangat cantik dengan gaun putih panjangnya.
“Ya, kita akan melakukannya. Kita akan memberinya rasa sakit yang kedua kalinya.”
Mereka lalu menghilang.
__ADS_1