
Seorang wanita cantik berpakaian putih berdiri di bawah pohon beringin yang rindang. Dia menatap langit yang di penuhi bintang-bintang. Ketika mendengar suara, dia tersenyum. “Rencana pertama gagal, tapi rencana kedua, mungkin akan berjalan dengan baik. Aku terlalu buru-buru ingin memanfaatkan gadis polos itu. Aku tidak memperkirakan pria tua itu menghentikannya.”
Yang dia bicarakan, tidak lain adalah Li Xin Mei yang dia manfaatkan untuk membunuh Tang Li. Benar, dia adalah yan’er yang di anggap wanita dari kahyangan oleh Li Xin Mei. Dia Melakukan itu hanya semata-mata ingin membunuh Tang Li. Dia juga yang muncul di depan Tang Li untuk meyakininya mencari Li Xin Mei dan membawanya. Dia hanya cukup membuat keduanya jatuh cinta, kemudian memisahkannya sama seperti apa yang terjadi dengannya sebelumnya.
Dia ingin menghancurkannya untuk kedua kalinya, dan membunuh ketika ada kesempatan. Dia sudah mempersiapkan rencana untuk melakukan hal itu.
“bagus. Aku sangat memuji rencanamu. Saat itu tiba, aku sendiri akan membunuhnya.”
Seorang pria muncul di sampingnya dengan tatapan tenang. Pria itu memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi dan besar.
“Aku akan melakukan apa pun demi dirimu.” Wanita itu menoleh ke arah pria di sampingnya. Apa pun yang di mintanya, dia akan melakukannya.
......................
Matahari begitu cepat bersinar. Dia perlahan-lahan membuka matanya, kemudian menoleh ke segala arah.
Aku masih berada di sini, siapa yang membawa selimut ini? Kenapa aku masih berada di sini?
Dia kemudian menoleh ke belakang. Seorang wanita berada di belakangnya, dan dia tertidur di pangkuannya. Apakah aku berada di luar semalam? Apakah bibi juga begitu? Kenapa dia melakukannya?
Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikirannya. Dia tidak pernah menyangka, wanita yang dia kenal sehari dapat melakukan hal ini kepadanya. Dia perlahan-lahan berdiri. Mengangkat selimut dan mulai meletakkannya di atas pangkuan wanita itu. Dia merasa bersalah setelah menatap wajahnya yang kelelahan seperti itu.
Akan tetapi, ketika dia melakukannya, wanita itu membuka matanya dengan lembut.
“bibi, kenapa bibi tidak membangunkanku? Di luar terlalu dingin untuk tidur, di tambah lagi dengan posisi seperti itu. Bibi hanya perlu membangunkanku saja kemarin.”
“Lukamu.” Wanita itu menjawab dengan singkat, kemudian berdiri. Dia melipat selimut kemudian menuntun Li Xin Mei ke dalam.
Selimut itu, yang membawanya orang lain. Dia memerintahkannya ketika malam sudah menutupi langit. Dia tidak tega membangunkan gadis yang berada di pangkuannya. Wajah sayu dan pucat gadis itu cukup membuatnya tidak bangun dan tidur di luar. Meski terasa sakit, baginya, Gadis yang berada di pangkuannya lebih merasakan sakit dari pada dirinya yang hanya tidur saja.
Wanita itu membawanya untuk di rias, kemudian mengobati luka-lukanya. Setelahnya, wanita itu pergi, dan datang lagi membawa makanan.
__ADS_1
“bibi, siapa nama bibi?” tanya Xin Mei sembari menerima makanan yang di bawanya. Dia menerimanya tanpa curiga sedikit pun.
“Namaku He Xian.”
“Nama bibi indah, aku menyukainya.” Dia lalu mulai memakan makanannya.
Setelahnya, Xin Mei tidur untuk memulihkan lukanya. Dia bangun di siang hari, ketika itu, He Xian tidak ada di sana. Akan tetapi, dia mendapati ada sebuah patung yang sangat dia kenal dan sukai. Patung itu berada di meja samping tempat tidurnya. Dia memandangnya lama, dan bertanya-tanya Apakah itu patung yang sama miliknya atau bukan.
Tidak, tidak. Itu bukan patung yang sama. Itu milik orang lain. Tapi... Di sini tidak ada siapa-siapa, aku harus memilikinya.
Dia bergerak mendekatinya. Tangan kanannya di ulurkan, tetapi, tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Tidak, tidak. Aku tidak boleh mencuri lagi, aku sudah menjadi gadis yang baik. Mencuri adalah perbuatan yang tidak baik. Tapi... Patung itu sangat indah.... Meminjamnya tidak akan apa-apa kan? Hanya sebentar.
Dia mengambilnya, kemudian memperhatikan dengan baik. Senyuman manis muncul di wajahnya. Benar, patung itu sangat mirip dengan patung yang pernah dia miliki. Tidak ada berbeda sama sekali, itu seperti salinannya. Dia memutar-mutarnya, memperlihatkan setiap detail patung itu.
“Patung itu sangat indah, bukan?”
He Xian terlihat pucat ketika melihat patung itu terjatuh. Tapi, untungnya Xin Mei dapat menangkapnya, meski dia harus terjatuh.
“jangan main-main dengan itu!” He Xian langsung mengambil patung itu dari tangan Xin Mei. Dia terlihat marah. Dia kemudian pergi dari sana, dan menaruh patung di atas meja.
“Cepat pergi mandi!”
Xin Mei terkejut mendengarnya, namun dia melakukannya. Dia merasa bersalah setelah melakukan hal itu. Dengan kepala menunduk, dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Meski perutnya terasa sakit karena belum makan, dia tidak mempedulikannya.
Setelah xin mei tidak terlihat, He Xian menghela nafas. Aku terlalu cepat marah...
Dia sejenak memandang ke arah di mana xin mei pergi, kemudian dia pergi dari sana.
......................
__ADS_1
Cahaya matahari orange bersinar terang dari balik awan-awan abu-abu sedikit gelap. Tang Li berjalan di atas jalan sepit yang menghubungkan dua tebing tinggi. Di kanan dan kirinya ada lembah yang sangat dalam dan di penuhi awan. Meski langit sedang cerah, itu tidak memperlihatkan apa pun yang ada di dalamnya.
Tempat itu tidak lain adalah tempat di mana xin mei terakhir kali berada.
Dia berjalan dengan tenang sambil membawa pedang di punggungnya.
Tepat ketika dia berada di tengah-tengah jalan itu, kedua alisnya terangkat, bersamaan dengan dahinya mengerut. Kedua matanya menjadi waspada. Di saat bersamaan dia berhenti.
Terdengar bunyi retakan dari bawah tempatnya berpijak. Suara itu sangat kecil, tetapi dengan kekuatannya sekarang, suara yang sangat kecil yang tidak terdengar itu dapat dengan mudah dia dengar. Suara itu seolah-olah menandakan jembatan tanah di bawahnya akan retak.
Dan, benar saja, tiba-tiba suara retakan terdengar lebih intens dan lebih banyak. Detik kemudian, jembatan itu hancur menjadi ribuan keping.
Tang Li jatuh dengan kecepatan tinggi. Dia akhirnya bisa mengendalikan tubuhnya ketika berpuluh meter terjatuh. Rambut hitam panjangnya berhamburan di tiup angin. Dia tidak bisa melihat apa pun selain kabut yang terus bergerak karena di tiup angin.
Tetapi, dia tahu apa yang ada di sekitarnya. Dia tersenyum dingin.
Menggapai pedangnya, kemudian mengayunkannya secara vertikal sedikit ke samping. Tepat ketika itu, ledakan pun terjadi, kabut-kabut yang ada menjauh, dan memperlihatkan apa saja yang ada di sekitarnya.
Dia perlahan-lahan melihat sebuah lengan yang sangat besar, atap pagoda sembilan tingkat, tubuh seorang wanita yang sangat besar. Sosoknya sangat besar dan tinggi! Mungkin sebesar pegunungan dan tingginya ratusan meter! Melihatnya, seolah melihat raksasa yang sangat besar. Jika kau melihat ke bawah, kau tidak akan bisa melihat kakinya menyentuh tanah. Meski pun di tutupi kabut di bawah, bukan berarti itu menipu.
Wanita itu memakai Han fu berwarna biru cerah. Kedua tangannya berada di depan seolah ingin menangkap pagoda sembilan tingkat berwarna merah di tengah-tengah tangannya. Wajah wanita itu terlihat sangat cantik dengan rambut hitam panjang. Namun, kedua matanya terlihat sangat gelap.
Di lehernya terselimuti selendang biru cerah yang panjang menggapai pinggangnya.
Pagoda itu terlihat melayang, tetapi, jika di teliti, ada beberapa benang putih terhubung dengan tangan wanita itu.
Selain itu, ternyata ada dua wanita seperti itu! Yang satunya lagi menggenggam pedang, dan bersiap melakukan serangan.
Kedua wanita ini bukan manusia, juga bukan dewa, atau manusia yang memiliki kultivasi yang mengerikan, apalagi raksasa.
Ketika Tang Li masih berkelana, dia sudah menjumpai berbagai sekte, dan teknik-teknik aneh yang di miliki. Berbagai benda pusaka, pernah dia lihat dan ketahui. Hanya ada satu orang yang memiliki Kekuatan seperti ini. Orang ini pernah bertarung dengannya, dan orang ini jatuh cinta kepadanya. Tetapi dia menolaknya.
__ADS_1
Orang ini memiliki kemampuan yang sangat kuat. Dia mungkin masuk ke dalam orang kuat sepuluh besar. Dia...tidak lain adalah dewi ahli boneka, yang bernama Du yueliang.