Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 6 : pedagang


__ADS_3

Mati? Aku mati, orang ini sangat kejam. Suatu saat nanti aku pasti akan mencarimu dan membalaskan dendam yang telah kau tabung di dalam hatiku. Ah... Ini akhir yang buruk!


Tang li menarik pedangnya dan menghempaskan tubuh xin mei dengan kasar ke tanah.


......................


Tiba-tiba sepasang mata itu terbuka lebar dan cepat-cepat berdiri. Nafasnya sangat tidak teratur. Tubuhnya di penuhi keringat lengket.


Dia menoleh ke semua arah.


“Apa itu hanya mimpi? Tapi kenapa bisa senyata itu.” Dia mendapati dirinya sedang berada di kamar tempatnya menginap. Lilin-lilin yang menghias ruangan masih menyala.


Cahaya matahari masuk dengan damai dari jendela. Suara kicauan burung menghiasi pagi yang cerah itu.


Tidak beberapa lama, fang Liang datang dengan membawa makanan. Dia menaruh di meja samping tempat tidur dan duduk di samping ranjang.


“Xin mei sudah aku bilang, kan, kamu tidak boleh membangkang. Lihatlah tubuhmu sekarang. Jika dia tidak berbaik hati, kau tidak akan selamat hari ini.”


Dia meraba tubuhnya yang tidak ada luka sedikit pun.


“Apa itu nyata?”


“tentu saja itu nyata.” Fang Liang mengambil mangkuk sup dan mengaduknya.


“Kenapa aku bisa hidup?”


“karena dia yang menyembuhkannya.”


“mengapa?”


“aku tidak tahu, mungkin saja ada alasan penting dia melakukannya.” Fang liang menyendok sup di tangannya, lalu menyodorkannya. “makanlah, sup ini sudah dingin.”


“a-aku bisa sendiri.” Xin mei ingin mengambil mangkuk sup, tetapi Fang Liang tidak membiarkannya.


“Biar aku saja yang melakukannya. Anggap saja ini adalah perpisahan antara dua teman. Buka mulutmu.”


Dia perlahan-lahan membuka mulutnya. Ada rasa tidak enak di dalam benaknya, namun dia tidak mau melihat kemarahan lagi di wajah Fang liang.


Setelah sendok di masukkan, xin mei menutup mulutnya. Dia merasakan hangat dan sedikit asam di lidahnya. Itu adalah rasa yang sangat dia sukai.


“bagaimana?”

__ADS_1


“e-enak.”


Mendengar itu, Fang Liang menyuapinya lagi dan lagi. Setelah sup habis, Fang liang membawa xin mei keluar. Suara keramaian terdengar ketika mereka keluar. Hatinya tergerak untuk menengok orang-orang. Dia melupakan kehadiran Fang Liang di sampingnya.


Kedai ini sangat mewah! Mengapa aku tidak melihatnya dan juga ramai.


Kedai itu di hiasi dengan aneka ragam hiasan berwarna merah. Di langit-langit ada beberapa selendang merah membentuk sebuah bunga yang indah. Di dinding beberapa sudut terlihat lampion-lampion merah bulat yang indah.


Di setiap meja ada pas bunga berwarna warna; ada yang berwarna merah, putih, hijau ungu dan lain-lain.


Fang liang mendekat dan berkata, “kamu harus cepat, xin mei, dia sudah menunggumu di luar. Meski dia menyadari xin mei ingin menikmati kedamaian dan merasakan aneka ragam makanan, dia tidak berani menunggu lebih lama.


“b-baik.”


Mereka lalu menuruni tangga. Ketika lewat di antara pengunjung, semua perhatian tertuju kepada mereka. Mungkin mereka tertarik kepada xin mei yang pakainya aneh atau kepada fang liang yang cantik dan menawan.


Seorang pria muda berdiri di luar. Dia berbalik menghadap ke luar. Ketika dia mendengar suara langkah kaki, dia tetap tidak berbalik. Mungkin dia tahu siapa yang datang.


Fang liang mendekatinya, lalu mengambil sesuatu dari bajunya dan berkata, “ tang li bawa ini, belikan dia pakaian.” Dia menyabar tangan tang li dan menaruh beberapa koin di sana.


“tidak. Aku tidak ada waktu membelinya. Biarkan saja dia seperti itu. Seorang budak tidak perlu memiliki pakai yang bagus.” Jawabnya acuh tak acuh.


“jika kau seperti itu, jangan kamu anggap aku teman.”


“maka belikan lah.”


“Aku akan mempertimbangkannya.” Tang li mengambilnya.


Hati Fang liang senang setelah mendengarnya. Meski belum tentu orang itu akan membelikannya, dia yakin tang li akan membelinya, dia tidak akan menolak permintaan temannya.


“Xin mei.” Panggil Fang liang.


Xin mei mendekat. Dia menunduk, takut dengan pria itu.


“xin mei.” Fang Liang menyentuh bahu, membuatnya mengangkat wajahnya. Senyuman lembut menyambutnya. “jangan kamu membangkang, ikutilah katanya. Jika kamu membangkang, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi. Apa kamu mengerti?”


“b-baik.” Xin mei mengangguk pelan. Dia harus menghormati orang di depannya. Meski dia tidak akan melakukannya, dia harus bisa bersikap seolah menerimanya.


“Pergilah.”


Xin mei mengangguk. Saat dekat dengan tang li, dia mengulurkan kedua tangannya.

__ADS_1


Tang li berbalik dan mengikat rantai di tangannya. Mereka lalu pergi. Tang li berdiri tegap dan xin mei menunduk seolah memikul beban di lehernya.


Melihat mereka dari jauh, Fang liang menghela nafas lalu masuk ke dalam kedainya.


......................


Angin memang tidak pernah tertidur, dia seolah menjadi teman dalam hidup manusia. Jika angin sudah pergi, maka manusia itu sudah tidak ada lagi.


Angin di siang ini bertiup cukup kencang. Mungkin bumi terlalu senang hari ini. Mungkin juga karena sang Surya tersenyum kepadanya.


Kelopak-kelopak bunga persik berterbangan di sisi kiri dan kanan jalan. Bau harum masuk ke dalam hidung xin mei membuat mengangkat wajah dan menarik nafas panjang-panjang dan mengeluarkannya.


Dia berjalan lebih cepat, ingin melihat-lihat bunga persik yang tidak dapat dia lihat semalam. Tanpa sadar menabrak tang li. Dengan wajah takut tang li berbalik dan mendengus dingin.


Xin mei menunduk, takut jika mendapat hukuman. Dia melihat tangan tang li mendekati tangannya secara perlahan mendekati tangannya.


Apa yang akan dia lakukan? Xin mei memejamkan matanya dan bersiap-siap untuk menerima hukuman. Tapi, setelah beberapa saat dia tidak mendapatkan hukuman. Saat membuka matanya, dia melihat rantai di tangannya sudah menghilang. Aku pikir dia akan menghukumku.


“Kenapa kau diam di sana!?” seru tang li yang sudah berada beberapa meter dari xin mei. Wajahnya terlihat kesal dan marah.


“B-baik.” Xin berlari mendekati tang li. Mereka lalu berjalan lagi.


Tibanya di pasar, semua pedagang beramai-ramai berteriak menawarkan promosi dagangnya. Tidak sedikit juga yang tertarik. Juga tidak banyak yang tertarik. Suara-suara pedagang itu terdengar merdu dan menarik hati.


Walaupun di siang hari ini para warga tidak banyak yang datang, mereka tetap antusias menawarkannya. Terlebih lagi sedikit, maka berbondong-bondonglah mereka menawarkannya.


Yang paling xin mei ingat adalah gadis penjual han fu di sisi jalan. Dia sangat mengingatnya. Apalagi pakaian han fu yang berwarna biru bercampur putih itu. Dia sangat menyukainya. Dia menoleh dan Tanpa sadar menarik baju tang li.


“Apa aku boleh memilih?” katanya dengan nada sedikit takut


“tidak!” dengan sedikit marah dan benci tang li menjawab.


“tidak bisakah aku memilihnya?” nadanya lebih keras. “aku seorang wanita, aku jelas tahu berapa ukuran tubuh dan pakaian yang aku suka. Uang itu juga milik Fang liang.”


Mendengar itu, kedua alis tang Li terangkat. Dia memandang tajam ke arah xin mei.


Melihat tatapan itu, Xin mei menunduk. Dia takut dengan tatapan itu. Tatapan kematian.


Dengan mendengus, tang li berjalan dan menarik tangan xin mei dengan kasar. Rupa-rupanya tang li membawanya ke toko pakaian gadis itu.


“Selamat siang, tuan dan nyonya, apa kalian ingin membeli pakaian?”

__ADS_1


Tang li mengangguk.


“Ah, anda sangat tepat memilih toko. Toko kami adalah salah satu toko terlengkap di desa ini. Kami memiliki berbagai jenis motif han fu dan pakaian lainnya. Kami juga memiliki beberapa desain lampion.” Katanya sambil menunjuk-nunjuk barang dagangannya.


__ADS_2