Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 37 : festival musim gugur


__ADS_3

Setelah berjalan dengan riang di antara gang-gang, Xin Mei melihat kerumunan orang berkumpul dalam satu tempat. Dia langsung menyelinap mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Setelah menyelinap di antara orang-orang, dia melihat seseorang tergeletak begitu saja dengan menyedihkan. Xin tidak suka melihatnya; dia kemudian pergi dari sana sembari memikirkan siapa yang berani berbuat keji seperti itu. Orang itu mati dengan menyedihkan, darah hijau dan berbau busuk mengalir di antara tubuhnya.


Kulit-kulitnya melepuh dan berwarna putih, sangat mengerikan untuk di lihat.


“Nona, kita bertemu lagi.”


Lei Shi datang bersama satu prajuritnya.


“pangeran. Apakah kau tahu siapa yang telah melakukan pembunuhan keji seperti itu?”


“Belum, tapi aku akan segera menangkapnya.” Jawabnya dengan penuh kekecewaan. Dia sulit menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, bahkan dia tidak menemukan satu petunjuk pun dari pembunuhan yang terjadi.


Jika yang melakukan pembunuhan lebih satu orang, seharusnya dia mendapatkan beberapa petunjuk. Tetapi kasus saat ini sangat membingungkannya.


Xin Mei mengangguk. “Ayo kita jalan-jalan.”


Lei Shi mengangguk dan berjalan-jalan.


Tidak jauh dari sana, di sebuah ruangan lantai dua kedai, Tang Li duduk menatap ke kerumunan orang-orang. Meski itu membuatnya tertarik untuk mengunjunginya, dia lebih tertarik mendengar laporan Ping Rushui dan jing kaigun.


Dia juga melihat Xin Mei pergi bersama Lei Shi. Dia menduga jika dia adalah pria yang di cintainya, meski dia tahu Xin Mei pernah mengungkapkan dia menyukai dirinya. Itu tidak lebih hanya bentuk lain dari rasa bencinya kepada dirinya. Bagaimana mungkin dia seorang yang membunuh keluarganya bisa di sukainya?


Meski dia tahu, Xin mei Gadis aneh, dia tidak mungkin seaneh itu. Apalagi jika dia memiliki sikap seorang gadis kecil periang di hatinya.


Dupa di tanjapkan di sudut-sudut ruangan, menimbulkan bahu harum di ruangan itu. Pelayan baru saja menggantinya. Ketika sudah mencapai setengah, Ping Rushui dan jing kaigun datang dengan pakaian biasa-biasa saja.


Ping Rushui memakai capil untuk menghindari ketertarikan orang lain terhadapnya.


Saat mereka datang, hari sudah sore, dan tidak ada lagi orang lain selain mereka di sana. Kecuali para pelayan yang sibuk membersihkan meja-meja.


“Aku sudah mendapatkannya.” Ping Rushui memulai. “Aku sudah menyelidiki semua kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini. Dan semua bukti-bukti yang telah aku kumpulkan, membuatku yakin, bukan terhadap kaisar atau keluarga kerajaan menjadi penyebab orang ini melakukan pembunuhan, tetapi keinginan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Targetnya hanya satu, yaitu untuk melakukan ajaran sesat, dan orang-orang yang di bunuh menjadi tumbalnya.”


Ping Rushui memandang Jing kaigun. “kau tahu apa yang aku maksud?”


Selama bercerita, ping Rushui memandang jing kaigun, dia merasa jing kaigun mengerti terhadap apa yang dia katakan.

__ADS_1


“jika aku tidak salah, dia menargetkan orang itu...., Tuan, anda harus melakukan sesuatu. Orang yang sangat orang ini inginkan adalah....”


Tang Li mengisyaratkan untuk diam. Dia dengan dingin berkata, “Aku mengerti. Tetapi aku masih mempertimbangkannya, apakah dia layak untuk di selamatkan.”


......................


Hanya waktu yang menjadi bayaran yang tidak pernah kembali. Akhirnya festival musim gugur telah tiba. Desa di penuhi orang-orang, kembang api terus di lontarkan di langit. Malam di penuhi bintang-bintang kembang api. Rembulan bersinar terang di atas sana.


Orang-orang saling berbincang-bincang memakan kue bulan dan membicarakan tentang cerita putri bulan.


Anak-anak bermain-main berlarian di gang-gang. Bagi orang yang mempunyai pasangan, ini adalah momen yang sangat di tunggunya dan momen romantis bagi pasangan itu.


Di dekat desa, ada sungai besar, di sana di penuhi lampion-lampion merah dan tanaman-tanaman mengambang. Sangat indah ketika kerumunan lampion-lampion itu berjalan di atas air. Bulan memantulkan cahayanya di hamparan air. Ketika sang katak melompat akan terlihat gelombang yang sangat indah di sana.


Di tengah-tengah danau ada perahu kecil panjang dengan ujungnya lancip. Gadis cantik berdiri di salah satu ujungnya, sementara seseorang pria memakai capil berdiri di ujung belakangnya sembari mendayung perahu.


Xin Mei berdiri menatap lampion berwarna hijau di kedua tangannya. Lampion itu berbentuk bulan. Dia melepaskan perlahan-lahan Lampion itu ke atas, melambung tinggi ke angkasa luas tanpa ada halangan. Lampion itu sebebas-bebasnya.


Xin Mei menatapnya hingga melambung tinggi.


“Biar ayah dan ibuku tahu, bahwa akulah yang mengirim lampion itu; biar juga sang dewi bulan memandangnya karena unik.”


“Apakah orang tuamu akan mengetahuinya?” katanya lagi sembari menatap lampion-lampion yang berterbangan.


“Tentu saja, karena orang tua tidak akan melupakan anaknya sendiri.”


“Jika kau boleh memilih, siapa yang kau pilih Hou yi atau chang-E dalam cerita dewi bulan?” kata pria itu setelah beberapa saat terdiam. Dia terus mendayung sambil berdiri.


“Tidak memilih siapa-siapa. Aku tidak menyukai kedua orang itu. Tetapi aku sangat menyukai ceritanya. Sejak kecil, ibuku selalu menceritakannya, hingga aku hapal dengan ceritanya. Yang manakah di antara keduanya yang baik? Chang-E atau hou yi. Apakah kau tahu?”


“Tidak ada yang baik.”


“paman memiliki pendapat yang sama denganku. Benar sekali, Tidak ada yang baik. Tetapi bagiku yang baik itu selalu ada, dan yang buruk itu juga selalu ada.”


Xin Mei kemudian duduk dan menyentuh air sungai. “Paman, antarkan aku sampai di sana saja.” Xin Mei menunjuk dermaga terdekat. Di sana ada Lei Shi yang sedang berdiskusi dengan beberapa prajuritnya. Dia ingin menikmati malam ini dengannya saja, dari pada dengan Tang Li yang dingin dan tidak mengerti perempuan, bahkan dia tidak pernah kelihatan dari sejak pagi.


Alasan dia juga berhenti di sana, karena tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan perjalanan, sehingga mau tidak mau dia harus berhenti.

__ADS_1


Pria itu menerimanya dan membawanya ke sana.


Setelah xin Mei membayar dan menyapa Lei Shi, mereka kemudian berjalan-jalan menelusuri pinggir sungai yang di penuhi pohon Willow. Di pinggir sungai beberapa pasangan duduk. Ada juga beberapa anak-anak yang bermain.


“Kita akan ke mana?” tanya Lei Shi.


“Kita pergi minum arak saja.” Jawab xin mei setelah beberapa saat berpikir.


“Tetapi itu terlalu buruk untuk di nikmati sekarang.”


“Aku tidak punya hal lainnya untuk di lakukan.”


Lei Shi kemudian menerimanya. Mereka kemudian pergi menuju penjual arak terdekat.


......................


Malam semakin larut, angin berembus semakin dingin, membuat orang-orang bergidik dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Daun-daun berterbangan dari hutan, bergerak entah ke mana, kemudian jatuh di dekat Tang Li. Dia sedang berdiri memegang erat Pedangnya. Puluhan sosok hitam muncul di depannya dengan mata yang sangat hitam, memberikan aura yang sangat mencekam di sekitarnya.


Mereka semua mengeram entah karena apa, tetapi eraman itu sangat menakutkan dan menimbulkan ketakutan bagi seseorang yang mendengarnya.


“Aku harap kalian tidak kabur hari ini.” Kata Tang Li dengan tatapan dingin.


Puluhan sosok itu tidak menjawabnya, tetapi salah satu dari mereka berteriak, kemudian puluhan sosok itu bergerak maju dengan masing-masing pedang di tangannya.


Tang Li menerjang ke depan. Dalam sekali ayunan, beberapa sosok tumbang dan menjadi asap hitam.


Semakin Tang Li membunuhnya, mereka semakin ganas menyerang. Tetapi semua itu hal yang sia-sia.


Satu jam kemudian mereka semua hancur dan meninggalkan satu sosok yang ketakutan melihat teman-temannya terbunuh.


Tang Li melangkah mendekatinya, dan sosok itu terus mundur ke belakang dengan ekspresi ketakutan. Tetapi Tang Li tiba-tiba berhenti dan tersenyum dingin. Dia kemudian memasukkan kembali pedangnya.


“Aku sudah lama menunggumu,” katanya.


Yulan muncul dengan gaun hitamnya dari balik pepohonan.


“Mengapa kau tidak membunuhku waktu itu?”

__ADS_1


__ADS_2