
Apa yang selalu lewat, akan terus lewat. Dia selalu membuat hati manusia berdetak kencang. Membuat mereka cemas, takut, gembira dan merasa menyesal karena telah melewatkannya.
Manusia akan takut, cemas dan tidak sabar, juga menyesal karenanya.
Hari demi hari, dia lewatkan. Sangat menderita. Jika haus, dia hanya bisa menjilat bibirnya supaya lebih lembab. Jika lapar, dia hanya bisa memakan angin yang tidak akan pernah membuatnya Kenyang. Jika hujan, dia akan kedinginan.
Tidak ada yang memberinya air, makan, istirahat, juga payung. Dia seperti budak yang mengikuti majikannya. Yang hanya bisa melihatnya berteduh, merasakan segarnya air, nikmatnya makanan.
Dia sudah lelah, dan tidak kuat lagi berdiri. Perutnya sakit. Kedua kakinya gemetar karena tidak pernah istirahat. Jika saja ada kesempatan, dia ingin lari, jauh, sangat jauh dan hidup tenang.
Dia sudah sangat tidak kuat lagi. “ apa kau manusia!?”
Tang li terdiam dan mulai berjalan lagi, tapi xin mei tetap diam. Dia roboh.
“Cepat bangun.” Tang li tidak berbalik.
“aku lelah, haus, ingin beristirahat dan makan, bisakah kau memberikan sedikit air dan makanan? Meski tidak membuatku kenyang, setidaknya rasa sakit ini akan berkurang, dan aku bisa berjalan lagi.”
“aku bilang bangun!!”
Tang li berbalik. Kerutan-kerutan di wajahnya terlihat jelas. Tatapannya sangat marah. Namun demikian, xin mei tetap memandangnya. Dia berusaha tidak takut. Dia hanya ingin meminta sedikit, hanya sedikit.
“Aku lapar! Aku ingin makan! Jika kau tidak mau memberikannya! Bunuh saja aku! Aku sudah tidak tahan seperti ini lagi. Asal kau tahu, aku adalah korban! Korbanmu! Aku tidak tahu mengapa ayahku membunuh orang tuamu. Juga aku tidak tahu hal itu!” Wajahnya kini di penuhi buih-buih air mata. Dia sudah sangat kelelahan dan tersiksa.
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba Kepala xin mei pusing dan akhirnya pandangannya kabur, semakin kabur dan dia tidak melihat apa-apa lagi.
Ketika dia sadar, dia sudah bersandar di bawah pohon tua. Tiga orang tersenyum mesum mengitarinya. Wajah cantiknya tiba-tiba di penuhi kerutan. Dia takut, sangat takut.
“M-mau apa kalian?”
Xin mei berdiri.
“Tentu saja menikmatimu. Majikanmu sudah menyerahkanmu Kepada kami, dia bilang lakukan apa saja sesuka kami.” Mereka Kemudian tertawa.
__ADS_1
“tidak! Aku tidak mau.”
Xin mei ingin berlari, akan tetapi Pria itu memegang tangannya.
“Hahaha! Mau kemana cantik? Diam di sini.”
“lepaskan!” Xin mei meronta-ronta. Air matanya tidak kuat dia bendung. Namun apa daya, pria yang lainnya memegang satu tangannya lagi. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dan pria terakhir, memegang kedua kakinya. Dia di baringkan. Dia menangis tersedu-sedu dan terus memohon.
Kedua pria di depan tertawa dan mulai melepaskan bajunya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Apakah tubuhnya di permalukan lagi? Dia tidak bisa hidup lagi jika seperti ini.
Ini sudah berakhir, dia tidak kuat lagi menerima semua ini, dia ingin mati.
Dingin, tubuhnya sudah telanjang bulat. Dia memejamkan kedua matanya dan mendengar gelak tawa di sekitarnya.
......................
Kedua matanya tiba-tiba terbuka. Dia sudah berada di bawah pohon tua. Apa itu mimpi? Kenapa bisa sejelas itu?
Itu seperti nyata! Xin mei masih ingat betul apa yang di rasakannya.
Tidak beberapa lama, datang tang li dengan membawa satu karung yang entah apa isinya.
Xin Mei lalu berdiri dan mundur. Dia takut dengannya. Namun kecepatan tang li sangat cepat, dia menyambar tangan xin mei.
“lepaskan!”
“Ini.”
Tang li memberi xin mei sebuah apel merah.
Xin mei ragu-ragu mengambilnya. Dia memandang lekat-lekat buah tersebut. Jika tidak memakannya, maka kematian yang akan menghampirinya. Namun jika memakannya apakah dia akan selamat?
Mungkin saja tang li memberikan racun di dalamnya atau akan memperkosanya lagi, hinggap tidak mempunyai wujud menjadi wanita, juga mungkin saja dia akan memotong kedua tangannya dan membiarkannya hidup di dunia ini seperti neraka.
__ADS_1
Lama betul dia memandangnya. Dia dapat mendengar suara bisikan-bisikan memanggil dari buah apel itu. Bisikan demi bisikan mulai mempengaruhinya.
Namun ketika dia mulai mendekati buah apel ke dalam mulutnya, tiba-tiba terlintas di benaknya mengenai pemerkosaan yang di lakukan oleh tiga orang bandit. Dia mengangkat wajahnya, dan bertanya, “tang li, apa yang sebelumnya itu memang benar terjadi?”
Tang li yang hendak pergi diam dan menjawab, “apa yang kau rasakan, itulah yang terjadi.”
Tanpa menunggu reaksi xin mei tang li melompat, akan tetapi xin mei tiba-tiba memegang jubahnya.
“Katakan! Katakan sekali lagi! Apakah itu benar? Itu tidak benar, kan?” air mata xin mei jatuh bercucuran, bak semuanya keluar tanpa sisa.
Jika itu memang benar-benar terjadi apakah dirinya masih di sebut wanita? Apakah dirinya di takdirkan sebagai wanita yang di korbankan dan di bagi-bagi?
Dia tidak bisa hidup lagi, dia ingin pergi, pergi menuju alam lain. Dia ingin melepas beban di punggungnya, sangat berat, berat sekali. Dia tidak bisa menanggung malu yang berat ini lagi.
Jika hari ini hujan, dia berharap petir akan menyambarnya. Jika ada bandit, atau pembunuh, dia ingin sekali di bunuh.
Tang li mengangguk. “Iya. Para bandit itu memang ada.”
Tiba-tiba, langit menjadi gelap, banyak di penuhi awan-awan hitam. Setetes demi setetes air hujan jatuh, menerpa wajahnya yang cantik. Xin mei tertegun. Kedua matanya dipenuhi keterkejutan.
Tidak ada lagi kehidupan di dalamnya, dia seperti sudah tidak memiliki jiwa, Jiwanya pergi entah ke mana.
Dia mulai menangis. Dia berteriak keras. Tangisannya bergema. Hujan mulai deras jatuh seolah terharu dan menangisi xin mei yang malang itu. Oh betapa sungguh miris nasibnya, tapi semua itu hanya ilusi, tidak ada hujan, tidak ada awan mendung.
Ketika kecil, dia sangat ingin berangan-angan membuat ibunya mempunyai cucu. Melihatnya menikah dan mempunyai suami. Dia ingin hidup damai dengan keluarganya.
Ketika di bawah pohon Willow, di atas pangkuan ibunya, dia pernah berkata, “jika aku menikah, ibu harus mendatangiku setiap hari, tidak peduli entah itu jauh atau tidak; entah hujan atau tidak, ibu harus mengunjungiku. Dan ketika aku mempunyai anak, ibu harus datang menjenguknya dan mengajarinya.”
Jauh betul pikirannya. Ketika itu dia baru berusia 12 tahun, tapi pikirannya jauh ke depan, sangat jauh.
“Jika ibu sudah menjadi nenek-nenek, dan memiliki kaki tiga, sudikah engkau mengunjungi ibu?”
“Ibu... Jangan berkata seperti ini, ucapan ibu kurang bagus, berbicara seperti biasa saja. Aku tidak suka.”
__ADS_1
Mereka kemudian tertawa renyah.