Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 29 : di dalam kobaran api itu dia mengingat sesuatu.


__ADS_3

Kau telah menghancurkan bonekaku, maka dari itu kau harus mati!” kedua mata Du yueliang merah. Dia sangat marah dengan bonekanya hancur seperti itu. Jika saja boneka itu bukan ayah dan ibunya, dia tidak akan se-marah ini. Air matanya tanpa sadar menetes. Hatinya sangat hancur seperti bonekanya hancur berkeping-keping. Dia tidak pernah menyangka perpisahan dengan orang tuanya secepat ini.


Dia berdiri dengan beberapa goresan-goresan di tubuhnya, melayang di langit malam. Tetapi meski begitu, dia masih terlihat anggun dan cantik.


Perlahan-lahan di genggamannya dua helai rambut ayah dan ibunya dengan erat. ‘ayah, ibu, aku akan membunuh pria itu. Meski aku sangat mencintainya, tetapi aku harus membunuhnya. Dia bukan pria yang baik.”


Du yueliang mengulurkan tangan kirinya ke depan. Menggerak-gerakkan jari-jarinya.


Perlahan-lahan boneka jacaranda mulai mendekati dengan perlahan-lahan dan semakin cepat saat mendekat. Boneka itu lebih cepat di gerakan ketika lebih dekat dengan penggunanya, oleh karena itu, Du yueliang tidak bisa menyelamatkan Bonekanya. Dia terlalu ceroboh karena telah melepaskan boneka jacaranda ke langit.


“sekarang, mari kita mulai babak kedua!”


......................


Dengan tubuh yang sedikit gemetaran, xin mei perlahan-lahan berjalan mendekati pria yang telah menyiksanya. Di letakan kedua tangannya di depan saling memegang. Dia menundukkan kepala, tetapi berjalan dengan anggun.


Han fu merah darahnya sangat mengilat dan anggun saat berjalan masuk. Wajahnya yang telah di sembuhkan sangat mempesona. Di tambah lagi dengan bedak putih tipis. Dan, rambut hitamnya yang di sanggul sedemikian rupa sangat pas untuknya.


Pria gemuk yang berada di kursi kebesarannya tersenyum penuh nafsu dan di penuhi keinginan hedonisme yang tinggi. Dia tanpa sadar meneteskan air liurnya.


“selamat malam, tuan.” Xin Mei kemudian mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap pria menjijikkan di depannya. Wajahnya sangat berkilauan dan putih saat lampu menyinarinya.


“kemari, kemarilah.” Pria itu mengisyaratkan xin mei mendekatinya.


Xin Mei sedikit gemetaran, tetapi dia harus melakukannya. Salah satu jari dari pria itu adalah kendali atas semua jebakan yang ada di rumah ini. Jika dia bisa merusak atau memotong jari itu, maka dia bisa keluar dari rumah megah dan berbahaya ini.


Xin Mei mengangguk kemudian mendekatinya.


“Ayo duduk, ayo.” Pria itu menepuk pahanya untuk xin mei duduki. Xin Mei merasa jijik melakukannya, tetapi tangan pria itu langsung menariknya, membawanya ke dalam pelukannya.


“Tuan, anda terlalu tidak sabaran...” Xin mei menciptakan nada feminin yang sangat menarik dan manja, tetapi sebenarnya dia sangat membencinya. Entah mengapa dia bisa melakukan itu dengan baik.


“Hemm. Kau sangat harum malam ini. Penampilanmu sangat indah dan cantik....” Pria itu mengendus-endus tubuh Xin Mei seperti anjing.


Xin Mei terkekeh. “Tuan bisa saja.” Xin Mei kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.


“Tuan... anda juga sangat tampan hari ini.” Xin Mei mendekati telinga pria itu, dan berbisik, “aku sangat bergairah hari ini. Bagaimana tuan akan melayaniku?”


Seketika telinga pria itu memerah, dan wajahnya sangat gembira. Dia kemudian berdiri dan membopong Xin mei.


“kau sangat menarik. Aku harus memberikanmu pertunjukan yang sangat menakjubkan hari ini.”


Pria itu kemudian berjalan keluar dan masuk ke dalam kamarnya. Dia menjatuhkan xin mei di atas ranjang kemudian meletakkan kedua tangannya di kanan dan kiri xin mei, membuatnya tidak bisa lari. Dia mendekati wajahnya dan menikmati wangi tubuh Xin mei.


“Tuan.... Tolong layani aku.” Xin Mei memegang kedua pipi pria itu.


Pria itu tersenyum, Kemudian mendekati wajah Xin mei.

__ADS_1


Tetapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu dan tertawa.


“Tuan apa yang lu–”


Satu tamparan keras mengenai pipi xin mei. Dia terkejut merasakan tamparan itu. ‘a-apa aku ketahuan?’


“tuan, apa maksud anda?”


“kau bodoh...” pria itu kemudian berdiri, kemudian mengambil arak di samping meja tidurnya.


“gadis cantik sepertimu harus menemaniku minum arak dulu.” Pria itu mengulurkan cangkir dan arak kepada xin mei.


Xin Mei yang awalnya takut ketahuan akhirnya bisa menghela nafas lega.


“Tuan benar. Mari, aku layani anda.”


Xin Mei mengambilnya, kemudian menuangkannya.


“tuan.” Dia kemudian memberikannya.


Pria gemuk itu mengambilnya. Dalam sekali teguk, arak di cangkir bersih tanpa sisa. Pria itu bahkan mengangkat tinggi-tinggi wajahnya saat minum. Dia kemudian menyodorkannya lagi untuk di isi. Xin Mei menuangkannya dengan baik. Beberapa kali itu terjadi, hinggap pria itu membuang cangkir di tangannya, kemudian mengambil tangan xin mei dan mendorongnya tidur di ranjang.


Wajah pria itu kini memerah dan di penuhi bau alkohol.


“tuan....”


Xin Mei berusaha tenang, tetapi tubuhnya sedikit gemetaran dan merasa jijik.


Pria itu mengendus-endus lagi bau harum Xin Mei.


“Ah.... Kau sangat wangi dan harum.” Katanya sambil mengusap-usap rambut xin mei.


‘ini kesempatan’ xin mei tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia mulai menggerak-gerakkan tangan kanannya, berusaha mengeluarkan pisau dari lengan bajunya. Perlahan tapi pasti, pisau mulai keluar. Meski pun seharusnya belum saatnya, dia tidak tahan lagi.


Pria itu mendekati xin mei, semakin dekat dan dekat. Sepertinya, pria itu ingin menciumnya. Dia mulai bisa mencium bau alkohol dan nafasnya yang panas. Xin Mei menjadi panik dan berusaha menggenggam pisau di lengan bajunya. Dia tidak ingin berciuman dengan pria berengsek ini.


‘dapat!’


Tanpa berpikir panjang, xin mei langsung mengayunkan pisau ke arah tangan kanan pria itu, tepatnya ke arah jari.


Plak!


Namun, pria itu dapat dengan mudah menangkap tangannya dan tersenyum puas. “dasar bodoh... Trik murahan.”


Xin Mei tidak bisa berkata-kata. Dia kemudian mengayunkan kakinya ke atas, memukul bagian sensitif pria itu kemudian mendorongnya dan pergi dari sana. Tetapi, ketika membuka pintu, pintu terkunci. Dia berusaha membukanya.


Sementara pria itu berdiri dan mendekatinya. Dia tersenyum penuh nafsu.

__ADS_1


Xin mei berusaha membuka pintu, namun pintu itu sangat kuat. Hingga akhir pria itu berada di dekatnya. Menangkap satu tangannya kemudian menghempaskan xin mei ke lantai.


“Tidak ada yang bisa menyelamatkan dirimu. Dasar bodoh!” pria itu mendekati xin mei.


“jangan mendekat!” xin mei berusaha berdiri, kemudian berlari dan melemparkan pas bunga, lukisan dan lain-lain yang ada. Tetapi, tidak ada satu pun yang mengenai pria itu.


Pria itu mendekati xin mei, kemudian menarik rambutnya dan menghempas tubuhnya ke ranjang. Sebelum xin mei bisa berdiri, pria itu mengunci semua anggota tubuhnya.


Air mata xin mei mengalir. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Hari ini, dia akan di permalukan lagi, dan lagi oleh seorang pria. Nasibnya sangat memprihatinkan. Perlahan-lahan dia menutup matanya, tidak mau melihat adegan memalukan ini.


Pria itu memegang kedua tangan xin mei dengan satu tangannya yang kuat.


Xin Mei hanya bisa pasrah. Dia dapat merasakan pakaiannya mulia di robek-robek.


Tetapi, tidak beberapa lama, dia merasakan sesuatu yang basah mengenai gaunnya. Dia perlahan-lahan membuka matanya. Hal yang mengejutkan terjadi, pedang menusuk perut pria itu dengan sangat dalam.


‘sejak kapan? Dan bagaimana bisa?’


“Ayo kita pergi!”


Ternyata itu adalah He Xian. Dia menarik tangan xin mei dan membawanya pergi. Tapi tidak semudah itu, tiba-tiba pintu keluar tertutup sendiri.


“He xian! Dasar penghianat! Hari ini kita mati bersama-sama!”


Pria itu masih hidup. Dia perlahan-lahan berdiri dan menggerak-gerakkan jari-jarinya. Tiba-tiba api muncul dari jemarinya kemudian menyebar dengan cepat di lantai.


“bibi....”


“Kau tenang saja. Ini hal yang mudah.” He Xian terus berusaha membuka pintu.


Api di dalam ruangan semakin membesar seolah ada minyak sebelumnya. Akhirnya usaha He Xian tidak sia-sia, dia berhasil membuka pintu.


“Ayo kita per–” tiba-tiba sebuah tangan muncul dari kobaran api. Itu tidak lain adalah pria itu. Meski tubuhnya terbakar, dia masih bisa hidup dan ingin menarik He Xian mati bersamanya.


“bibi!” xin mei berusaha menarik tangannya.


“xin Mei, pergilah! Jangan hiraukan bibi!”


“Tidak. Aku tidak akan meninggalkan bibi!” xin mei terus berusaha menarik tangan He Xian. Dia tidak peduli meski rumah megah ini sudah di penuhi api.


Dia sudah menganggap He Xian sebagai ibunya. Dia tidak akan membiarkannya mati. Jika dia gagal, dia rela kehilangan nyawanya.


Tetapi, meski pria itu di penuhi api, dia memiliki kekuatan yang sangat kuat, dan mampu menarik xin mei hingga ke kobaran api panas.


Sebelum xin mei masuk ke dalam kobaran api itu, tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya kemudian menariknya ke luar dan melepaskan tangan He Xian. Tiba-tiba semuanya menjadi lambat. Dia dapat dengan jelas melihat He Xian di tarik ke dalam api. Dia seolah melihat ibunya lagi.


“Tidak..! Bibi!”

__ADS_1


Dia ingin lagi terjun ke dalam api, tetapi, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.


__ADS_2