Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 14 : kembalikan mainanku!


__ADS_3

Meski gurunya orang serius, dia punya sedikit selera humor yang membuatnya tertawa.  Pengalaman-pengalaman yang selalu mereka lakukan bersama sudah menumpuk di dalam hati mereka. Mereka berdua seolah anak dan ayah, yang memiliki ikatan yang sangat kuat.


Ketika malam tiba, Liu Fang akan menceritakan pengalamannya dulu ketika masih muda yang selalu berpetualang mencari musuh-musuh yang kuat. Liu Fang menceritakannya dengan sangat baik dan menghayati sehingga lambat-laun Tang Li tenggelam dalam cerita liu fang. Alam fantasinya menyebar seperti kupu-kupu indah kecil membentuk berbagai pengalaman dan visual yang indah.


“Setelah musim dingin tiba, datang ke sini. Ajak pacarmu itu. Kita akan pergi ke lembah untuk menikmati hamparan bunga di sana. Pacarmu itu pasti sangat menyukainya.”


Meski dia marah mengatakan Xin mei adalah pacarnya, entah mengapa dia tidak marah ketika gurunya ini mengatakan itu kali ini. Dia tidak tau apa yang menyebabkannya seperti itu.


Tang Li mengangguk kemudian memberi hormat dengan kepalan tangan lalu pergi setelah Liu Fang mengangguk.


Liu Fang menghela nafas setelah tang Li tiba di gerbang rumahnya. Dia ingin melihat lagi murid yang sangat di cintainya.


Setelah Tang Li menghilang, dia kemudian masuk ke dalam.


“Siapa yang telah mencuri pedang dan barang berhargaku!!!” terdengar teriakan Liu Fang dan nada yang sangat marah.


Lalu di lain sisi, xin mei tiba-tiba bersin dan mengusap hidungnya yang gatal. “ini pasti ulah pria biadab itu. Aku menjadi masuk angin. Hmp! Jika aku sudah bisa menggunakan pedang aku pasti akan membunuhnya, mencincang, kemudian membawanya ke kerumunan buaya.”


Xin mei mengangkat pedang dalam posisi vertikal. “hah.... Tapi sayangnya kapan aku bisa melakukannya?” dia mengayunkan pedang beberapa kali sambil memikirkan betapa sulitnya berlatih ilmu pedang.


“Apa yang mulia kayangan akan datang?” dia mengangkat wajahnya.  “Aku harap dia akan datang lagi.” Dia memejamkan mata dan berdoa agar yan’er datang lagi menolongnya.


Dia kemudian mengambil pedang di sampingnya. Mengangkatnya, kemudian menarik. Pedang yang indah. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun. Dia memandang bilah pedang yang putih itu, sangat putih, membuat wajah cantiknya terpantul dengan jelas di sana.


Dia tersenyum manis. Poni tipis membuatnya tampak indah. Wajahnya setirus telur, dan rambut hitam panjang, meski tidak terawat, dia memiliki rambut yang sehat. Tidak lama kemudian suara dingin dan marah terdengar dari belakangnya


“Apa yang kau bawa?!”


Dia terkejut, berdiri dan menyembunyikan pedang di punggungnya. Yang berdiri di belakangnya ada Tang Li. Tang Li memandangnya dengan penuh kecurigaan. “T-tidak ada, hanya.... Hanya... Ya! Hanya bungkusan bunga yang aku bawa. Tidak ada yang lain, hanya itu.”

__ADS_1


Siapapun yang ada di depannya akan mengetahui dia menyembunyikan sesuatu. Apalagi dengan ekspresi wajah ketakutan seperti itu, siapapun tidak akan percaya dengannya.


Tang Li menunduk dan memandang patung sang penari. Melihat itu, Xin Mei mengambilnya dan mendekapnya di dada, seolah Jika Tang Li yang melihatnya dia tidak akan pernah memiliki patung itu lagi.


“ini adalah patung yang aku buat, tidak ada yang spesial dengannya dan tidak penting. Ayo kita pergi.” Sementara dia mengatakan itu, dia berjalan menjauh dengan mendekap pedang dan patung di dadanya. Memegangnya dengan erat dan berjalan cepat, tapi dia terlalu kelihatan membawa sesuatu dan sangat mencurigakan. Tidak ada yang bisa dia sembunyikan.


Dalam satu tarikan nafas, Tang Li muncul di depannya. Dia terkejut dan hendak menyembunyikan pedangnya di belakang, tapi tang Li lebih dulu melihat apa yang di sembunyikannya. Dengan nada dingin dia meminta, “serahkan pedang itu.” dia mengulurkan tangannya.


“tidak! Aku tidak mau! Ini milikku, aku tidak akan memberikannya!” dengan memegang pedangnya, Xin Mei berbalik dan berlari ke atas.


Tapi gerakan Tang Li sangat cepat, dia menyentil dahi Xin Mei membuatnya kesakitan dan terjatuh.


“Aduh...!” Xin mei menggosok dahinya. Dia merasa kepalanya sedikit pusing.


“Cepat serahkan.”


“cepat serahkan!” Tang Li mulai memanas.


“Tidak! Aku bilang tidak!”


Dalam sekejap mata Tang Li mengambil paksa pedang dari tangan xin mei.


Xin mei mengangkat wajahnya yang berkaca-kaca. Perlahan-lahan air matanya mulai keluar, berjalan lembut melintasi pipinya. “kenapa, kenapa kau mengambilnya!? Itu milikku, cepat kembalikan!” dia ingin mengambilnya, tapi dalam sekali pandang, Xin Mei roboh lagi seolah pandangan itu memiliki kekuatan magis.


“(Isak tangis)  Kau jahat! Aku membencimu! Sangat membencimu! Langit akan menghukummu! Cepat kembalikan!” Xin Mei mencoba mengambilnya lagi, tapi dia lagi-lagi terhempas ke undakan.


Tang Li tidak bergeming dengan sikap Xin Mei. Dia bahkan mengambil patung sang penari dengan paksa, membuat Xin Mei lebih sedih, dia memandang Tang Li dengan mata kemerahan. Pipinya yang sebelumnya putih kini merah.


“ini bukan milikmu, kau telah mencurinya.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?! Pria aneh itu juga sepertinya memberikannya! Cepat kembalikan! (Isak tangis)”


“Tidak. Aku harus mengembalikannya.” Tang Li berjalan melintasi xin mei.


“Aku bilang kembalikan!!” xin mei mencoba merebutnya, namun, dalam sekali hentakkan kaki, Tang Li berada 5 meter dari Xin Mei. Dia melompat dengan anggun dan tenang, juga mendarat dengan lembut.


Dia mencuri mainanku! Aku harus merebutnya kembali. Tidak peduli, tidak mau, dia harus mengembalikannya, harus mengembalikannya....!


Dalam kesedihan, dia memeluk lututnya, menenggelamkan kepalanya dan membanjiri dua pahanya yang halus. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mencegah mainannya di ambil, tidak ada. Dia hanya bisa menangis dan menangis.


Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekatinya, kemudian berhenti.


“ini.” Suara dingin terdengar. Dia tahu siapa itu, pria biadab itu lagi.


“Tidak mau! Aku mau mainanku, pedangku dan patung itu. Aku tidak mau yang lain.” Dia tetap menenggelamkan wajahnya.


“Apa kau tidak mau mainanmu kembali?”


Mendengar itu, kali ini dia mengangkat wajahnya. Kedua pipil mata dan pipinya memerah. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Secepat kilat, dia mengambil pedang dan patung sang penari dari tangan Tang Li.


“Ini milikku” Dia  memeluk erat pedang dan patungnya seolah-olah dia akan berpisah dengan mereka selamanya.


Tang Li hanya bisa diam. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membuatnya sedih. Gurunya terlalu menyukai xin mei, jika tidak, gadis itu pasti menangis hari ini. Dia menghela nafas. “jika kau berani mencuri apa pun lagi, kedua mainanmu akan aku hancurkan.”


“Kau jahat! Aku membencimu!” dia memeluk lebih erat. Kemudian tersenyum renyah seperti anak kecil yang di hadiahi sesuatu oleh orang-tuannya, menciptakan suasana yang indah dan menyejukkan bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Angin lembut bertiup dari bawah, lalu menerbangkan rambutnya beberapa helai, membuat dia terlihat bagaikan sosok malaikat dari surga.


Kulitnya yang memerah dan selembut salju sangat indah di pandang ketika matahari menyinarinya. Wajahnya seperti bercahaya saat seperti ini.


Dia lalu beranjak berdiri. “ke mana kita akan pergi selanjutnya?” kelancaran kata-katanya seolah dia tidak takut jika Tang Li membawanya ke rumah bordil. Tapi sebenarnya, dia sangat takut, namun, hatinya begitu gembira setelah pedang dan patungnya kembali. Dia seolah menghirup udara segar, yang bercampur wewangian bunga yang menenangkan dan membahagiakan.

__ADS_1


__ADS_2