
Dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping, di mana Pria itu duduk. “Brengsek! Kau benar-benar brengsek! Kau meninggalkanku begitu saja dan membuatku menderita. Kau pria jahat!”
Dia mulai menangis dan memeluk lebih erat pria di sampingnya.
Setelah beberapa saat, dia melepaskannya, kemudian mengusap air matanya. Dia menyadari sekarang waktunya malam dan dia beristirahat di ranjang yang di temani pemuda yang selama ini dia sukai dan di bencinya.
“Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini. Kau setia saat memegang tanganku. Kadang-kadang lebih erat Ketika kau bermimpi.”
Xin Mei bingung. Dia kemudian mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi kepadanya.
Tiga hari yang lalu, mereka berdua telah sampai di rumah Jia Hu yang ada di bukit. Mereka tiba dengan kelelahan. Tang Li sangat kelelahan, tapi wajahnya sulit sekali memperlihatkan hal seperti itu. Xin Mei tidak merasa kelelahan, tapi dia merasa bosan dengan perjalanan ini. Meski dia telah berlatih bertarung selama beberapa hari, tidak pungkiri tidak ada satu pun orang yang bisa di lawannya. Di tambah lagi, dia selalu bergendong di punggung Tang Li, bahkan ketika dia tidak merasa kelelahan sekali pun.
Rumah ini berdiri di bukit yang di penuhi rumput-rumput hijau. Hanya beberapa titik saja terlihat ada pohon. Sehingga, rumah yang beratap jerami dan terbuat dari kayu itu dengan mudah terlihat dari bawah bukit.
Jia Hu adalah adik dari Jia Jia. Mereka tanpa sadar melewatinya, sehingga memilih untuk mengunjungi. Dan tidak jauh dari sana, kota Cang’an terlihat megah.
Jia Hu menyambut mereka dengan lembut dan menghidangkan teh dan beberapa kue. Mereka akan duduk di bawah pohon besar yang ada di halaman rumahnya. Pemandangan kota Cang’an dan yang lainnya terlihat jelas dari sana, bahkan batas daratan terlihat begitu jelas.
Xin Mei adalah gadis nakal dan memiliki sikap kekanak-kanakan. Dia telah tidak mempedulikan kue dan ikut mengobrol dengan mereka, dia memilih menangkap kupu-kupu biru di dekat sana. Dengan wajah jenakanya, dia berlarian menangkap kupu-kupu.
Gadis itu menjadi lebih polos dan lucu Ketika kembali bersama Tang Li.
Dengan ekspresi serius, Jia Hu memandang Xin Mei. Dia meminum sedikit tehnya. Angin senang tiasa berhembus kencang di atas bukit, apalagi tidak ada yang dapat menghalanginya.
“kakak, aku tidak lama bertemu denganmu. Setelah kepergian kakak Jia, kau menjadi mesin pembunuh dan membuat rasa haus darah yang tinggi. Tapi sekarang kau terlihat lebih baik.”
Jia Hu diam sebentar. “Apakah sikapmu ini ada hubungannya dengan gadis itu?”
Tang Li meminum tehnya dan memejamkan mata, merasakan kenikmatan dan sensasi teh yang mengalir dalam kerongkongannya. “Dia hanya mainan. Tapi semakin lama aku bersamanya, aku semakin lebih tenang. Sikapnya yang lugu dan polos, membuatku terhibur. Jika dia tidak bersikap seperti itu, aku telah lama membunuhnya.”
“Dia adalah anak musuhmu. Aku merasakan dia telah menyukaimu. Kalian sama-sama menyukai. Tidak di sangka, dengan kepribadian kalian berdua, kalian bisa saling melengkapi dan bersatu.”
“Benar, anak musuhku. Aku telah membunuh keluarganya. Gadis itu seharusnya membenciku seumur hidupnya, tapi apa yang terjadi kepadanya, dia menjadi menyukaiku.”
__ADS_1
“Kau telah memperkosanya?”
Seharusnya pertanyaan ini tidak dia ajukan. Tapi mengingat bagaimana anak gadis seperti itu di perlakukan oleh musuhnya, membuat dia bertanya seperti itu. Tentu saja Tang Li jika normal akan mengatakan iya, tapi yang keluar dari mulutnya malahan sebaliknya.
“Kenapa kau tidak melakukannya?” Jia Hu keheranan.
“saat pertama kalinya aku melihatnya, aku hanya mempermainkannya. Aku tidak mau bersetubuh dengan gadis yang menjadi anak musuhku. Aku jijik dengannya.”
Jia Hu tidak bertanya lagi, karena Xin Mei datang dan cepat duduk memakan kue-kue dengan lahap. Dia sangat menyukainya dan tanpa sadar menghabiskan semuanya.
Jia Hu tertawa di dalam hatinya, kemudian berbisik kepada Tang Li. “Seharusnya sikap ini yang membuatmu menyukainya.”
“Apa yang kalian diskusikan?” Xin Mei curiga dia telah di bicarakan karena telah memakan semua kue. Mulutnya penuh dengan kue.
Jia Hu mengalihkan pembicaraan. “kupu-kupumu sangat indah. Bagaimana cara kau menangkapnya tanpa ada cacat sedikit pun di sayapnya?”
Xin Mei memandang kupu-kupu yang ada di dalam kotaknya, kemudian dia tersenyum jenaka. “Kau pasti iri, kan? Aku dapat dengan mudah menangkapnya di sana.” Dia menunjuk ke arah rumput. “kuncinya adalah senyap dan tenang. Kau baru bisa menangkapnya.”
Sebagai seorang teman dan pangeran Lei Shi telah baik bersamanya, dia memutuskan untuk pergi tanpa berpikir lebih jauh lagi.
Dalam perjalanan menuju ke sana, dia di hadang oleh beberapa orang. Dia lupa membawa senjatanya, tapi dia cukup berani melawan dan percaya diri bisa menghabisi 5 orang tersebut.
Tapi pada akhirnya dia terluka parah dan hampir meninggal. Di saat seperti inilah dia samar-samar melihat seorang gadis berpakaian biru berdiri di depannya dan dia akhirnya tidak sadarkan diri, kemudian bermimpi buruk. Itu muncul mungkin karena tubuhnya terluka parah.
Selama tiga hari Tang Li berusaha menyembuhkannya. Dari pagi hingga malam, dia terus menjaganya. Jia Hu merasa kasihan dan menggantinya. Tetapi Xin Mei menyebutkan nama Tang Li dan menginginkan kehadirannya.
Sepanjang malam dan siang, tangan Tang Li terus di pegang oleh Xin Mei.
Hingga akhir dia sadar. Meski tubuhnya tidak terlihat ada luka, tapi di dalam, organ-organnya terluka.
Setelah mengingat semua itu, dia mengangguk. “Sebagai calon suamiku, seharusnya memang begitu lah kau bersikap.”
Tang Li diam beberapa saat, kemudian mengalihkan perhatiannya, “Kau harus meminta izin saat kau pergi.”
__ADS_1
Tang Li berdiri. Tidak mau pria itu pergi, dia memegang tangannya lebih erat. “Aku tidak mau bermimpi seperti itu lagi. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini.”
“Aku hanya membuka jendela.”
Dia pun melepaskannya dan membiarkan Tang Li membuka jendela. Tubuhnya terasa sejuk setelah jendela terbuka dan membuatnya semakin nyaman.
Tang Li kembali duduk dan bertanya, “Mimpi apa yang kau alami?”
“Mimpi buruk...”
“Seperti apa?”
“Ini sangat buruk! Berjanjilah Jangan meninggalkanku.” Dia memandang Tang Li dengan wajah penuh harapan.
Melihat tatapan jernih dan penuh harapan dari Xin Mei, Tang Li mengangguk.
“Aku bermimpi menikah dengan pangeran Lei Shi, dan aku tidak mau menikahinya. Di dalam mimpi itu, aku merasa telah di culik dan di permainkan. Aku berharap kau datang menghentikan pernikahan itu, tapi kau tidak muncul, tapi kau muncul begitu telat. Dan kau salah paham kemudian meninggalkanku. Aku mengejarmu, tapi kau tetap pergi. Lalu aku tersambar Petir dan tersadar dari mimpi itu. Oleh sebab itu, aku mohon jangan pernah meninggalkanku.”
Tang Li mengerti apa yang telah membuat Xin Mei memegang tangannya dan tidak mau membiarkannya pergi, bahkan sedetik pun, itu ternyata dia terlalu mencintainya dan tidak mau kehilangannya. Merasakan ini, Tang Li menjadi canggung. Dia mengangguk pelan.
Xin Mei kemudian mengambil air di samping ranjang dan meminumnya. Tubuhnya saat ini sudah baikkan, tapi tidak bisa bergerak bebas dan harus beristirahat beberapa hari ke depan.
...----------------...
Ketika matahari pagi mulai bersinar, Jia Hu masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Tang Li berdiri memandang ke arah jendela, yang di mana di sana pemandangan indah tersajikan. Sementara Xin Mei duduk dengan wajah lembut dan di penuhi kesedihan memandang kupu-kupunya yang telah mati. Selama dia pingsan, tidak ada yang mempedulikan kupu-kupunya, dan akhirnya mati kelaparan.
Sebagai orang yang pernah merasakan bagaimana rasa kelaparan itu, dia merasa sangat sedih dan mengkritik dirinya dengan sangat keras.
Tidak ada yang memperhatikan kedatangan Jia Hu, tapi dia tidak mempermasalahkannya.
Dia meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
__ADS_1