
Yulan sudah mengetahui jika dalang dari semua pembunuhan yang terjadi adalah dirinya. Dia juga tahu jika saat pertama kali bertemu dengan Tang Li, Tang Li sudah mengetahui identitasnya, tetapi dia tidak membunuhnya waktu itu, bahkan tidak memperlihatkan ingin membunuhnya, meski dia ingin sekali membunuh orang yang telah mencuri uangnya.
Yulan mengorbankan tubuhnya untuk melakukan kultivasi terlarang demi membangkitkan anaknya yang telah mati, dia tidak ingin melakukan pembunuhan, tetapi semuanya perlu bayaran untuk melakukannya. Mustahil membangkitkan anaknya tanpa bayaran yang setimpal; mustahil juga dia membangkitkannya dengan cara yang baik, karena semua manusia sudah di tentukan waktu kematian mereka. Hanya dengan itu saja, dia bisa melakukannya.
Selain itu, dia juga harus menanggung penderitaan yang menyakitkan demi anaknya itu. Setiap hari, dia harus meminum obat. Obat-obatan yang di perlukan baginya sangat mahal, oleh karena itu, suaminya harus mencurinya.
“Karena aku belum mengetahuinya.”
Mustahil bagi Tang Li untuk tidak mengetahui identitasnya, apalagi saat itu dia berusaha membunuhnya. Yulan sedikit mengerutkan keningnya, kemudian dia berkata dengan tenang, “Aku sekarang berdiri di sini, ayo kita akhiri. Tetapi jika nanti aku yang menang, apakah ada sepatah kata yang ingin kau ungkapkan pada gadis itu?”
“Kita bicarakan itu nanti saja.”
Tang Li melesat ke depan bagaikan bayangan hantu. Saat mencapai Yulan, dia langsung mengayunkan pedangnya. Namun siapa yang menyangka, tiba-tiba seseorang muncul dan menangkis pedangnya.
“Inikah rasanya bertarung dengan dewa pedang?” tanya pria itu tanpa ekspresi.
“Kau ingin mencobanya? Aku akan menunjukkannya.”
......................
Kembang-kembang api mulai di lontarkan di langit, menimbulkan kemeriahan di malam festival musim gugur. Dalam kereta kuda, Xin Mei memandangnya, dia seolah melihat bunga-bunga warna-warni di langit.
“Lihat, sangat indah malam ini....” katanya dengan wajah sayu dan lemas setelah meminum banyak arak.
“Kau seharusnya tidak melakukan itu.”
Seorang gadis duduk di sebelah kanan sambil memegang kedua tangan di depan dan memejamkan matanya. Dia membukanya perlahan setelah berbicara. Tubuhnya terlihat anggun.
Meski wajahnya masih kecil, dia seolah memiliki sikap yang dewasa, lebih daripada Xin Mei. Ketika angin masuk, itu membuat rambut kepang duanya, bersamaan dengan pita biru yang mengikatnya bergerak-gerak.
Dia tidak lain adalah gadis kecil yang ada di mimpi Xin Mei beberapa bulan yang lalu.
“Aku tidak peduli... Aku menyukai arak. Kau masih kecil, apa yang kau tahu....?”
Xin Mei tersenyum memandang ke langit. Dia berkata sayu, “Tidak ada lagi orang yang sangat memperhatikannya di dunia ini. Untuk apa aku mempedulikannya, apakah aku minum arak atau tidak. Semakin cepat mati, semakin baik; semakin lebih tenang.”
__ADS_1
“Kau salah, masih ada orang yang mempedulikanmu.”
“Siapa!? Semua orang tuaku sudah mati! Dan itu semua oleh orang yang aku sukai, sungguh ironis bukan, seharusnya aku membencinya, bukan menyukainya!”
“Dia tidak salah.”
“Mungkin kau benar.” Xin Mei menghela nafas kemudian memandang hamparan pohon-pohon yang menghiasi jalanan. Tidak ada warna hijau di antara ranting-rantingnya. Pohon-pohon saat musim ini sedang mengganti daun-daun indahnya.
Memandangnya membuat Xin Mei bertanya-tanya, apakah bisa hidupnya seperti pohon-pohon itu, yang akan mendapatkan sesuatu yang baru, yang lebih baik dari pada sebelumnya setelah mengorbankan daun-daun hijaunya berserakan dan berterbangan oleh angin.
Memikirkan angin, membuatnya bertanya-tanya sejak kecil, bagaimanakah bau angin itu sendiri? Apakah tidak memiliki bau? Atau hanya mencuri-curi dari yang lainnya, dan seberapa besarkah dia? Di mana saja dia berada? Apakah di angkasa yang sangat jauh juga ada? Apakah di galaksi yang lainnya juga ada? Seberapa besarkah dunia yang dia tempati saat ini?
Dia merasa kembali ke masa kecilnya setelah memikirkan ini. Dia pernah bertanya kepada ibunya, apakah bunga matahari dan tumbuhan-tumbuhan yang lainnya mempunyai pikiran, dan apakah mereka mempunyai bahasa sama seperti dirinya, jika iya, bagaimanakah itu, di manakah otak dari tumbuhan itu.
“Mei,er terlalu banyak bertanya. Ibu tidak bisa menjawabnya, bahkan mungkin setiap orang yang akan kau temukan. Begitu sulit untuk menjawab itu. Jika mei,er bertanya kepada orang awam, mereka pasti akan menjawab tidak. Lalu kau akan bertanya, mengapa, bagaimana, lalu mengapa matahari bisa bergerak.”
Dalam kegundulan pohon-pohon, Xin Mei tiba-tiba melihat seorang wanita berdiri menyapanya sambil tersenyum lembut. Wanita itu tersenyum seolah-olah memberikan semangat kepada Xin mei, lalu berjalan menjauh.
Xin Mei tertegun beberapa saat, lalu tanpa sadar melompat keluar dan mengejar wanita itu. Dia yakin, wanita itu adalah ibunya. Jika itu benar adalah ibunya, maka ibunya tidak mati saat itu. Harapan demi harapan muncul di hatinya. Kerinduan akan Ibunya membuatnya terus melangkah menjauhi kereta rombongan pangeran Lei Shi.
Gadis yang duduk di samping Xin Mei tadi mendekati jendela memandang sosok Xin Mei yang semakin menjauh.
Gadis itu kemudian menghela nafas. “Apa yang bisa aku perbuat, aku tidak mau lagi mendapat takdir dan akhirnya sama seperti sebelumnya. Tidak akan pernah lagi, untuk selamanya.”
Gadis itu kemudian menjadi transparan dan menghilang.
Tidak ada yang menyadari kepergian mereka, bahkan para prajurit yang mengawasi dari belakang.
......................
Mengangkat kedua ujung gaunnya, gadis muda itu terus berlari hingga tiba di dekat sungai kecil dan dangkal. Sungai itu di penuhi daun-daun kering.
Xin Mei mencari-cari sosok yang di lihatnya sebagai ibu.
Setelah beberapa detik mencarinya, dia tidak melihatnya, tetapi tiba-tiba terdengar tangisan seorang gadis.
__ADS_1
Xin Mei mengikuti arah suara itu.
Dia menemukan seorang gadis duduk menangis di pinggir sungai.
Dia mendekatinya dan memegang bahunya.
Gadis itu perlahan-lahan menoleh ke arah Xin Mei. Xin Mei langsung terkejut dan ingin menjauh dari gadis itu, tetapi kedua tangannya langsung di pegang olehnya.
Wajah gadis itu pucat berwarna kebiruan dengan sepasang mata merah yang sangat mengerikan.
Melihat kengerian ini, membuatnya ketakutan, dan terasa semua energi kehidupannya di tarik oleh kedua mata gadis itu.
Dan tiba-tiba ribuan daun-daun kering di tiup angin menerjang wajah Xin Mei. Kemudian hamparan pepohonan hijau dan padang rumput luas ada di depannya.
Apa ini?
Suasana tiba-tiba menjadi di siang hari dengan matahari bersinar terang di atas sana.
“apakah Xin Mei ini masih mengenalku?”
Suara lembut terdengar dari belakang Xin Mei.
Di sana seorang gadis berdiri menatap Xin Mei. Tidak ada yang bisa berkomentar jika gadis itu jelek. Meski kulitnya kecokelatan, dia memiliki wajah yang manis dan tubuh yang bagus. Dengan tubuhnya di balut kain putih yang indah, membuatnya terlihat bagaikan peri cinta.
“Siapa kau?” Xin Mei bertanya penuh keheranan.
“Kita selalu bertemu dulu. Kau selalu bersamaku, apakah kau melupakanku?”
“Aku tidak mengenalmu,” jawab Xin Mei setelah beberapa saat berpikir.
“Tentu saja, kau sudah berinkarnasi, sedangkan aku masih di sini.”
“Aku tidak mengerti.”
“Tidak perlu di pikirkan. Itu sudah berlalu. Ayo ikut aku.” Gadis itu berjalan ke depan.
__ADS_1
Xin Mei mengikutinya.