
Dia adalah pria yang tampan, bahkan ketika tertidur, ketampanan masih sangat terlihat di wajahnya. Dia tidak bisa di bandingkan dengan calon suaminya yang memiliki rupa yang sangat tampan di desanya itu. Rambut hitam panjang menjuntai dengan lembut. Wajah dingin namun anggun, dan menyejukkan mata bagi siapa yang melihatnya. Kendati demikian, xin mei membencinya, dan mempertanyakan bagaimana bisa pria jahat seperti itu memiliki wajah setampan ini.
Dengan jantung berdegup kencang, dia berjalan dengan pandangan mengunci tubuh tang li. Sesekali dia menelan ludah karena gugup.
Pisau yang sudah dia persiapkan di pegang erat-erat. Meski dia baru pertama kali ingin membunuh dan sangat ketakutan, dia tidak bisa mundur, ada dorongan yang sangat kuat yang menyebabkannya melakukan itu. Mungkin ini tidak lain adalah dendamnya kepada tang Li.
Hari ini kau harus mati! Hari ini, ya, hari ini, kau harus mati.
Sambil mengucap itu di dalam hatinya beberapa kali, dia berjalan perlahan-lahan.
“mati!”
Dia mengarahkan ujung pedang ke dada tang Li, tepat di jantungnya berada. Pisau itu bergerak cepat, tapi tiba-tiba sesuatu dengan cepat menahannya. Kecepatannya sangat cepat, membuatnya terkejut. Lalu setelah itu, dia baru menyadari tangan Tang Li memegang tangannya seolah dia sudah mengetahui pisau itu di arahkan.
Dia terkejut dan mendorong pisaunya lebih keras. Dia bahkan menggunakan kedua tangannya. Meski sangat dekat dengan target, dia tidak bisa mendorongnya lagi. Kekuatan lelaki di depannya sangat kuat.
Kemudian, cahaya biru keluar dari tangan tang li, kemudian bergerak menuju tangan xin mei. Dia tidak tahu cahaya itu, tapi, tiba-tiba dia terlempar beberapa meter dari ranjang tang li.
Dia menjerit, dan perlahan-lahan berdiri. Tubuhnya terasa sakit setelah di hempaskan dengan keras seperti itu.
“Kau harus mati hari ini!” serunya dan berlari menyerang tang li.
Dia terlalu percaya diri. Rasa dendamnya membuatnya buta dan melupakan tang li adalah seseorang memiliki kekuatan.
Setelah berlari beberapa meter, tubuhnya lagi-lagi terpental, dan serangan itu lebih keras dari sebelumnya. Dia lagi-lagi menjerit. Tangan dan perutnya terasa sangat sakit.
Tidak, aku tidak boleh menyerah, aku harus berusaha.
Dia kembali berdiri dan melakukan serangan.
Tang Li tidak diam kali ini, dia berdiri cepat dan menggapai leher xin mei dan mengangkat tubuhnya. Dalam kondisi seperti itu, xin mei menggunakan pisaunya untuk menyerang, tapi tangan tang li yang satunya lagi memegangnya, dan yang satunya lagi tidak bisa bergerak sedikit pun, seolah mati rasa.
Dengan wajah tanpa ekspresi tang li mencekik xin mei, membuatnya lemas dan melepaskan pisaunya.
“Kau gadis bodoh.”
__ADS_1
Setelah Tang Li melepaskan tangannya, dia memegang kedua tangan tang li untuk membuat rasa sakit di lehernya melemah. Meski kedua tangannya sangat lemah, dia berusaha melakukannya.
“Kau pria kejam, aku harus membunuhmu. Kau telah membunuh orang tuaku. Dengan membunuhmu, mereka tenang di alam baka.” Xin mei berusaha berbicara meski sedang di cekik.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku!” tang li menghempas tubuh xin mei, membuatnya merasakan sakit ketiga kalinya.
“iya, aku tidak mengetahuinya, dan tidak perlu mengetahuinya.” Xin mei mulai berdiri lagi. “ tapi, aku mengetahui apa yang harus aku lakukan, yaitu membunuhmu!”
Dia berlari lagi dan melemparkan tinjuan ke wajah tang li.
Dengan tanpa ekspresi, tang li memegang dan meremasnya dengan keras, membuatnya kesakitan, kemudian melemparkannya ke lantai lagi. Rasa sakit kali ini dua kali lebih keras dari sebelumnya, membuatnya menjerit dan mulai menangis.
“Seberapa kuat dirimu, kau tidak akan bisa membunuhku.” Tang li berjalan. Ketika mencapai pintu, dia tanpa menoleh berkata, “ ini adalah takdirmu, nikmatilah apa yang di berikan surga.”
Tang li bergegas pergi tanpa menghiraukan tangisan xin mei.
“iks...iks...iks.... Ini semua salahmu! Aku membencimu! Kau laki-laki biadab, aku sangat membencimu! Iks...iks...iks.” dalam kesedihan, xin mei menangis dan memegang tangannya yang sakit. Mungkin tangannya patah akibat genggaman tang li.
Setelah beberapa saat, dia kemudian berjalan keluar. Di sana tang li berdiri menghalangi xin mei pergi. Dengan kemarahan yang meluap-luap, xin mei berkata, “apa yang kau inginkan lagi?! Apakah kau belum puas melihatku menderita?! Apakah kematian orang tua dan kesucianku belum cukup membuatmu puas!?”
Tang Li memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya ke pohon persik.
......................
Sudah dua hari setelah kejadian itu, mimpi pembunuhan itu membuat xin mei sedih dan sangat marah. Dia tidak pernah menyangka ibunya di bunuh sangat keji seperti itu. Sikapnya berubah; dia menjadi orang pendendam, dan selalu memikirkan cara untuk membunuh tang Li, pria biadab itu.
Meski itu hanya mimpi, hatinya tersayat-sayat melihat itu. Kedua matanya mencerminkan kebencian yang mendalam ketika melihatnya, dan bagaimana pun juga dia adalah anaknya, tidak mungkin akan tidak sedih jika melihat ibunya seperti itu.
Dia selalu memikirkannya, dan tidak pernah melupakannya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan kejadian mimpi itu yang di dalamnya ada orang yang sangat dia sayangi?
Di malam hari ini, dia duduk di undakan. Ingin menyegarkan pikiran yang penuh dengan dendam ini. Suasana memang dingin, tapi membuatnya lebih tenang.
Dia duduk sambil memandang bintang-bintang dan bunga persik berguguran. Kelap-kelip lampu di bawah puncak membuatnya lebih senang. Bau manis bunga persik membuatnya nyaman.
Dia mengangkat kepalanya, memandang langit-langit yang indah. “ayah, ibu, aku akan membunuh orang itu, ini adalah janjiku kepada kalian.”
__ADS_1
Dia kembali memandang kelap-kelip lampu dan menghela nafas. “tapi bagaimana caranya?”
Dia tidak tahu bagaimana caranya membalaskan dendam orang tuanya. Dia adalah gadis kecil yang tidak punya apa-apa. Meski dia berkata akan membalas dendam demi ayah dan ibunya, kata-kata itu sejujurnya di curahkan sepenuhnya kepada ibunya. Dia memiliki pengalaman buruk kepada ayahnya.
Meski dia memiliki kenangan yang buruk dengan ayahnya, dia tetap adalah putrinya, dan harus berbakti kepadanya. Ini adalah kenangan buruk yang pertama kalinya dia terima, tidak jelas mengapa ayahnya melakukan itu.
Dia marah, dan sangat marah, tapi ayahnya tidak seburuk yang dia perkirakan; ayahnya selalu mendatanginya ketika dia di asingkan di gubuk tua di desa tempat tinggalnya.
Dia hidup bersama beberapa pelayan. Ketika itu dia berumur sekitar 5 tahun, dan dia sangat merindukan bermain bersama saudara-saudarinya yang lain.
Dia membenci ayah ketika waktu itu, Karena tidak membiarkannya bermain bersama anak-anak lainnya, dan meninggalkannya di sini bersama para pelayan. Oleh karena itu, dia tumbuh menjadi gadis yang nakal untuk menyalurkan keinginannya untuk bermain.
Setiap hari, dia selalu mencuri beberapa pakaian para pelayan dan menggantung di pohon dekat gubuknya.
Pohon itu tidak terlalu tinggi, sehingga membuat tidak kesulitan untuk memanjat.
Dia selalu mandi di kolam dekat taman. Dia menikmatinya dan menjadi hobinya ketika masa kecil. Pelayannya tidak membiarkannya, tapi mereka tidak bisa melakukan itu di hadapan gadis kecil nakal yang keras kepala ini.
Bahkan ibunya pun tidak bisa melarangnya. Dia hanya bisa menasihatinya dan menyembuhkannya ketika terluka. Ibunya mengerti, dia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan dia hanya bisa mengunjunginya seminggu sekali. Alasan inilah yang membuatnya membiarkan xin mei bermain-main dan jarang belajar.
Dia tumbuh menjadi gadis yang nakal dan asing dengan tulisan.
“Apa itu!?” xin mei memicingkan mata. Dia menjadi terkejut melihat kelopak-kelopak bunga persik melingkar membentuk pusaran di langit. Bunga itu sangat indah saat di sinari cahaya rembulan, menyebabkannya menjadi tampak sangat indah.
Perlahan-lahan kelopak-kelopak bunga itu menyatu menjadi bentuk seseorang. Detik selanjutnya, seorang gadis cantik memakai gaun putih panjang muncul di langit.
Wajah xin mei terkagum-kagum melihatnya. Dia tanpa sadar mengeluarkan kata “wahh” dari mulutnya. Wanita yang melayang di depan sungguh cantik. Pupil kedua matanya berkilauan ketika menatapnya.
Rambutnya sangat panjang dan sangat hitam berkilauan. Rambut yang sedikit panjang yang ada di pelipisnya yang tipis membuat memiliki kesan yang ceria dan pemberani.
Wajahnya yang tirus tersenyum dingin kepada xin mei, tapi sangat lembut seperti air yang tenang di pagi hari. Ketika melihat wajah xin mei yang penuh kekaguman, dia berkata “oh” dan bergerak mendekati xin mei.
“A-anda siapa?” jejak kekaguman terlihat di wajahnya. Dia tertegun dan memandang wanita di depannya lekat-lekat. Baunya sangat harum. Dia merasa nyaman berada di sisinya.
Wanita itu tersenyum dan melayang di depan xin mei.
__ADS_1
“Namaku yan’er, kau?”