Gadis Bordil

Gadis Bordil
Akhir


__ADS_3

Malam semakin larut. Mereka terdiam, seperti tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan; Xin Mei yang biasanya terlalu banyak bicara kini merasa canggung dan sulit mengatakan satu patah kata pun. Sementara Tang Li, terdiam dengan wajah dingin.


Tidak beberapa lama, Tang Li memandang ke langit. Xin Mei yang melihatnya ikut melihatnya.


Di langit yang di penuhi bintang-bintang itu, sebuah bintang terjatuh dengan warna merah berkilauan.


“Tang Li, cepat ucapkan keinginanmu!”


Xin Mei dengan wajah jenaka tersenyum, kemudian mengepalkan tangannya dan memejamkan mata untuk berdoa. Dia tidak peduli apa Tang Li mempedulikannya atau tidak. Tang Li tetap terdiam memandangnya.


Setelah memejamkan matanya beberapa saat, Xin Mei kemudian mengangkat kepalanya. Lalu bergumam seraya melihat bintang itu, yang perlahan-lahan menghilang menyisakan sedikit warnanya di langit. “Bintang yang indah...”


Mereka berdua kemudian menyaksikan jatuhnya bintang itu tanpa berkata apa pun.


Tidak beberapa lama, akhirnya Tang Li berkata tenang, “Tugasku telah selesai. Aku pergi dulu.”


Mendengar ucapan itu, entah mengapa Xin Mei tiba-tiba menjadi tidak enak dan di saat bersamaan juga dia merasa akan kehilangan sesuatu. Dan dengan ucapan itu, dia merasa yakin jika orang di depannya bukan orang yang tepat untuk dia cintai.


Wajah Tang Li sangat dingin, seperti dia tidak punya perasaan apa pun. Meski mereka sebelumnya sudah saling mendekat, tapi entah mengapa mereka seperti di pantulkan kembali seperti dua bola karet, yang kemudian menjauh lagi. Xin Mei merasa kehilangan, tapi juga merasa tidak bisa menghentikan kepergian pria tidak peka itu.


“Kau akhirnya pergi. Pergi saja, tanpa mengatakan apa pun. Kepergianmu mungkin yang terbaik untuk saat ini.”


Tang Li kemudian berjalan pergi, sementara Xin Mei memandang kepergiannya. Dia ingin melepaskan pria itu dan seharusnya dia senang, namun yang dia rasakan sekarang malahan sebaliknya; Xin Mei merasa kehilangan. Perlahan-lahan air mata mulai menetes dan menetes lagi.


Akhirnya Tang Li tidak ada di depannya lagi.


Xin Mei kemudian berbalik memandang rumah bordil yang besar dan tinggi itu. Takdir telah di tentukan di rumah ini.


Seorang gadis berpakaian biru kemudian muncul di sampingnya. “Ini setidaknya lebih baik dari kejadian kemarin.”

__ADS_1


Xin Mei terheran-heran, kemudian bertanya apa yang dimaksud oleh gadis itu. Namun gadis itu menjawab bukan apa-apa, kemudian menghilang.


Xin terdiam sebentar, kemudian menghela nafas. Dia akhirnya menjadi pelacur yang tidak akan mungkin terhindari, Tang Li telah memegang tangannya dan memasukkan sebuah gelang yang bisa di kontrol. Yang tidak mungkin Xin Mei lepas.


Memandang gelang itu, dia bertanya-tanya, apakah ini benar-benar takdirnya.


Tentunya tidak ada jawaban, karena dia bertanya kepada sebuah gelang.


“Gadis bordil.” Dia bergumam. Alangkah indahnya menikmatinya tanpa harus memikirkan tubuh yang dia miliki. Sekarang, kebahagiaannya hanya terletak pada menikmati apa yang dia bisa nikmati, bukan sebaliknya menikmati apa yang di inginkannya. Sekarang, dia juga menyadari, apa yang di inginkannya tidak selalu dunia ini berikan.


Dia kemudian melepaskan alas kakinya, tanda dia telah kotor, kemudian berjalan masuk.


......................


Di sebuah pinggiran hutan, Long Chen berdiri memegang sebuah pedang. Dia telah berdiri di sana untuk waktu yang lama. Rasa kesal dan marahnya telah di tahannya untuk waktu yang lama.


Tidak beberapa lama, akhirnya sosok berpakaian hitam muncul.


......................


Jeder!!!!


Satu bunyi petir itu membuat Xin Mei terbangun. Dia kemudian meminum segelas air, lalu keluar melihat pemandangan.


Sama seperti sebelumnya, bintang-bintang bercahaya dan bulan bersinar terang, namun Xin merasa telah kehilangan untuk selamanya. Dia bertanya-tanya, perasaan apa ini dan apa yang sebenarnya terjadi.


Tiba-tiba, gelang yang ada di tangannya hancur tiba-tiba. Xin Mei terkejut dan terdiam sebentar. “Jangan-jangan dia telah.....”


Xin Mei berhenti berkata.

__ADS_1


Tiba-tiba matanya semakin gelap, kemudian dia kembali masuk dalam kamar yang gelap, yang di tiup angin segar. Sosoknya perlahan-lahan menyatu dengan kegelapan malam yang ada di dalam kamar itu.


......................


Hari-hari selanjutnya, Xin Mei menikmati hidupnya sebagai gadis pelacur yang terhina dan di bicarakan banyak orang.


Dia terkenal karena kecantikan yang sangat memukau dan tidak ada tandingannya di kota Chang’an.


Dari orang gila sampai raja pun tahu tentang kecantikan ini. Orang-orang berbondong-bondong mendatanginya.


Ketika Pangeran Lei Shi mengetahuinya, dia mengunjungi Xin Mei dan menanyakan mengapa dia melakukan itu.


Xin Mei menjawab dengan tenang sambil memandang hamparan bunga-bunga. “bukankah bunga indah itu harus di cium sebelum mereka layu? Bukankah sangat tidak berharga jika bunga itu tidak di cium ketika sangat indahnya berbunga? Aku sama seperti bunga itu.”


Lei Shi kemudian geram dan mempertanyakannya, apakah reputasi dan keberadaannya akan tercoreng.


Xin Mei tidak peduli. “Mengapa aku peduli? Mereka hanya bisa membicarakan saja.”


Hari-hari berikutnya, Lei Shi ingin mendekatinya dengan cara lembut dan membujuknya. Namun, Xin Mei terus menjauh dan menjauh. Hingga akhirnya dia mengerti, Xin Mei tidak bisa di hentikan dengan cara apa pun. Dia pun akhirnya tidak berusaha menghentikannya dan tidak lagi ingin menjadikannya istri.


Xin Mei sulit menyukainya dan reputasinya telah hancur.


Tahun berganti, musim terus berlalu, akhirnya gadis itu semakin tua dan semakin jelek. Dan akhirnya dia seperti bunga layu yang tidak mampu menarik perhatian serangga.


Di umur tuanya, dia menjatuhkan diri dari lantai atas rumah bordil kemudian meninggal. Dia telah merasa puas hidup dan kini ingin merasakan bagaimana rasanya mati.


Kepalanya berdarah dan rambut tersebar seperti kipas. Dia sedikit membuka matanya dan perlahan-lahan menutupnya lagi. Tumbuhan bunga yang ada di dekat sana terkena satu tetes darahnya, kemudian kelopak-kelopaknya yang telah kering berjatuhan tertiup angin.


Orang-orang kemudian berteriak dan bergegas mengerumuninya, seperti kelopak-kelopak bunga yang di bawa semut-semut.

__ADS_1


Kupu-kupu biru cerah kemudian muncul dan berterbangan semakin ke atas dan ke atas. Dia ingin menggapai langit. Tapi tiba-tiba deru angin terdengar dari sampingnya. Dia tidak sempat melihat, dan akhirnya tidak tahu apa yang telah terjadi kepadanya.


Begitulah akhirnya....


__ADS_2