Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 40.2 : aku tidak tahu


__ADS_3

“Kenapa tidak tahu?!” Ujar Xin Mei menatap Tang Li dengan perasaan kesal. Dia sudah mengenal Tang Li. Bagaimana pria itu membunuh keluarganya dan bagaimana dia bertarung dengan para bandit. Mendengarnya menjawab tidak tahu, membuatnya kesal.


Dia menatap marah ke arah Tang Li. Namun, Pria muda itu tidak menghiraukannya.


“Mengapa?” Xin Mei bertanya dengan nada memohon.


Tang Li sedikit mengangkat wajahnya menatap jauh ke belakang Xin Mei. “karena aku tidak tahu, apakah aku bisa menyelamatkanmu dan membawamu keluar dari sini atau tidak.”


Melihat tatapan itu, membuat Xin Mei mengerti, jika ada orang lain di belakangnya. Dia juga baru menyadari jika dia sekarang berada di dunia ini lain.


Xin Mei berbalik menatap seseorang di belakangnya.


Di sana, An Hua berdiri dengan gaun merah mudanya menatap Xin Mei dengan tatapan penuh tanda tanya, apakah dia membencinya atau marah dengannya.


An Hua kemudian menatap Tang Li dengan kedua mata bulat yang indah, namun dingin. Kemudian tersenyum kepada Xin Mei.


“Kakak Mei, apakah kau mau bergabung denganku di sini?”


Xin Mei diam sejenak dan ingin bertanya, tetapi An Hua terlebih dahulu berbicara. “dunia yang kakak tinggali ini akan membawakan kebahagiaan yang berbeda dari dunia luar yang penuh dengan penderitaan. Di sini, kita akan bermain bersama-sama seperti dulu. Masa yang susah itu akan di gantikan dengan tawa hati dan senyuman di sini, kak. Aku juga akan membunuh pria yang selalu membuat kakak menderita.”


“Kakak ingat, wanita tidak ternilai harganya, jika pria itu telah mengambilnya dari kakak, dia harus mati demi membalaskan apa yang telah di perbuatnya.”


Mendengar ucapan-ucapan itu, Xin Mei teringat bagaimana dia menangis dengan tubuh telanjang dan kobaran api ketika pembunuhan itu terjadi. Dia masih sangat jelas ingat, bagaimana darah kesucian terbalut di hamparan rumput, bagaimana orang-orang bertarung dan calon suami berteriak memerintahkannya untuk pergi.


Dengan kedua mata yang penuh dendam, Xin Mei menatap Tang Li. “ bodoh. Kenapa aku harus memintamu melindungiku? Sekarang adalah waktunya untuk membalaskan dendam.”


Meski pun Xin Mei baru mengenal An Hua, dia telah percaya dan merasa pernah mengenalnya, serta merasa nyaman berada di sampingnya. Apa yang di katakannya mungkin ada benarnya.


Xin Mei ingin melangkah mendekati An Hua, namun, langkahnya terhenti ketika Tang Li berbicara.


“Apa yang kau katakan memang benar, tapi, Apakah aku benar-benar memberikanmu penderitaan? Dan... Jika bukan karena ulah orang tuamu, aku tidak akan melakukannya.”


“Kau melibatkan diriku!” Xin Mei dengan marah berbalik.


Tang Li memandang Xin Mei dengan dalam dan meminta maaf.


“Tidak ada gunanya.”


Xin Mei melangkah menuju An Hua. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti setelah berjalan beberapa langkah.


“Ini adalah keputusanmu, maka aku tidak boleh ikut campur. Itu sama saja dengan jika bukan masuk dalam lubang buaya, maka masuk dalam lubang naga.”


Xin menjadi penasaran dan bertanya. Namun Tang Li sudah berjalan menjauh.


Xin Mei menatapnya saja tanpa ingin mengejarnya. Dia kemudian berbalik dan ingin mengutarakan niatnya untuk memerintahkan An Hua membunuh Tang Li.


Namun, Tiba-tiba An Hua bergerak secepat bayangan menuju ke arah dirinya.

__ADS_1


Xin Mei secara refleks ingin menghindari, tetapi dia tidak sempat melakukannya, dan hanya bisa jatuh ke depan karena ingin berlari.


Dia memejamkan matanya dan mendengar suara aduan pedang. Saat dia membuka matanya, Tang Li berada di depannya dan melindunginya.


Xin Mei tanpa sadar bertanya kenapa.


“Karena kau adalah temanku.”


“Tapi aku ingin membunuhmu...”


“gadis aneh, apakah kau tidak merasakan sakit setelah kau di sambar petir dari langit?”


“Tidak.”


“Bodoh. Itu adalah ulahnya, kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan di sini selain kematian.”


Tang Li membopong Xin Mei dan melompat menjauh.


“Apakah kau masih ingin bersamanya?” Tanya Tang Li menatap Xin Mei setelah mendarat.


Wajah Xin Mei di penuhi rona merah, membuatnya semakin cantik di lihat. Tang Li ingin menggodanya, namun dia tiba-tiba teringat mengapa dia melakukannya. Sehingga dia hanya menurunkan Xin Mei.


Dia kemudian memegang pergelangan tangan Xin Mei dan menariknya ke belakang tubuhnya.


Xin Mei hanya menurut tanpa berkata sepatah kata pun. Tetapi wajahnya lebih memerah, dan jantungnya berdetak lebih kencang.


“Xin Mei, apakah kau benar-benar ingin bersamanya?”


“Tidak. Tetapi aku juga tidak mau bersamamu selamanya. Aku ingin bebas.”


“Maka dari itu, jangan melakukan hal-hal aneh.”


Tang Li melompat dan mendarat beberapa langkah di depan An Hua.


“Mari kita bertarung untuk merebutkannya.”


“Meski dia memilihmu atau diriku, pada akhirnya kita akan tetap bertarung untuk memenangkannya. Tidak ada yang kita dapatkan tanpa mengorbankan sesuatu, apakah sangat buruk atau tidak.” Sebuah belati keluar dari Han funya.


Melangkah ke depan, An Hua bergerak cepat, memperlihatkan pahanya yang putih dan indah.


Tang Li juga ikut bergerak.


Dia kemudian melepaskan pedangnya. Pedangnya melayang bergerak-gerak di sisi-sisinya dengan kecepatan luar biasa. Kemudian dia menunjuk An Hua dengan telunjuk kanannya. Tepat pada saat itu, pedangnya melesat dengan kecepatan tinggi dengan aura hijau mengelilinginya.


An Hua melompat ke atas bilah pedang Tang Li dan bergerak maju. Namun, Pedang itu berbalik dan menyerangnya dengan intens. Di sekitar Tubuhnya terlihat garis-garis hijau yang merupakan pedang itu sendiri, menyerangnya dengan kecepatan yang mengerikan.


Tang Li kemudian menarik pedangnya kembali.

__ADS_1


An Hua terdiam. Darah menetes di beberapa bagian tubuhnya, tetapi dia tidak terjatuh.


Dia kemudian mengangkat kepalanya menatap Tang Li sambil mengeram. Kemudian, cahaya kuning muncul di sekitarnya dan menyembuhkannya.


Sebuah busur muncul di tangannya. Mengarahkannya kepada Tang Li, kemudian menarik benangnya.


“Pada akhirnya hanya ada satu hal yang harus aku lakukan. Mengapa aku harus melakukan hal-hal yang tidak perlu.”


Dia kemudian melepaskan anak panahnya.


Anak panah itu di penuhi warna hitam tinta yang berkilauan ketika sinar matahari menerangkannya. Bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Tang Li. Dari kejauhan akan terlihat seperti petir berwarna hitam cerah.


Tang Li langsung mengayunkan pedangnya ke depan untuk menebasnya. Namun, pedangnya hanya menebas angin. Dia kemudian memandang An Hua.


“Kau kalah....” ujarnya sambil menatap ke arah lain, di mana Xin Mei berada.


Benar... Panah itu menusuk dada Xin Mei. Darah seperti tinta keluar dari tubuhnya. Wajahnya mulai membiru, dan kedua kelopak matanya melebar entah mengapa.


Tang Li dengan cepat bergegas mendekatinya. Dia membaringkannya dan mulai menyembuhkannya. Energi berwarna biru ke luar dari kedua telapak tangannya.


Tetapi setelah dia menyelesaikan pengobatannya, luka Xin Mei lagi-lagi terbentuk dan mengeluarkan darah.


“Aku telah memasukkan racun ke tubuhnya. Dalam beberapa menit, dia akan mati mengenaskan,” ujar An Hua.


Tang Li mengerti apa yang terjadi, sehingga dia menghentikan usahanya itu dan berdiri, kemudian melompat beberapa meter dari An Hua berdiri.


Dengan tatapan dinginnya, dia berkata dengan nada berat. “ dengan mengalahkanmu, aku bisa mendapatkan penawarnya, bukan?”


“Tidak sama sekali. Aku telah memutuskan untuk membuat racun tanpa penawarnya, karena aku yakin dengan keputusanku itu.”


“Jika itu yang sebenarnya, maka aku hanya bisa mengirimmu ikut dengannya, bukan?”


Tang Li kemudian merobek bajunya, memperlihatkan otot-otot dadanya yang padat dan keras. Di lengan kirinya ada tato api berwarna hitam, hingga ke bahunya.


“Apakah ini kekuatanmu yang sebenarnya?” tanya An Hua tanpa sedikit pun terintimidasi.


“Hanya sedikit.”


Ketika Tang Li menjawab, tato-tato itu bergerak memanjang hingga ke pergelangan tangannya. Lalu, sebuah bola hitam muncul di tangannya dan membentuk pedang hitam panjang.


An Hua lebih memfokuskan semua perhatiannya kepada Tang Li. Dia yakin, jika Tang Li serius dengannya saat ini.


Dia kemudian menarik busurnya, kemudian melepaskan anak panah dan mengulanginya lagi dua kali dengan cepat. Satu anak panah bergerak lulus, satu bergerak melengkung ke atas, dan terakhir melengkung ke bawah.


Tang Li melompat mundur ke atas. Tepat dia di udara, tiga panah itu sudah sangat dekat dengannya.


Tang Li menyatukan kedua ganggang pedangnya dan memutarnya menghancurkan ketiga anak panah itu.

__ADS_1


Dia memisahkan pedangnya, kemudian menginjak udara dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah An Hua.


__ADS_2