
“a-apa yang akan kau lakukan?” berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di pikirannya. Dia memikirkan apa pria di depannya akan menjualnya, Apakah ada sesuatu yang lainnya?
Meski sangat tidak mungkin, tapi pikirannya sudah terkontaminasi dengan pikiran-pikiran negatif.
“ikut aku, dan berdiri layaknya seperti orang biasa. Aku tidak mau melihatmu seperti ini. Aku bisa menjualmu ke para bangsawan di sini jika kau melanggarnya.”
“B-baik.”
Mereka kemudian masuk ke dalam kedai. Kedai itu tidaklah terlalu besar. Memiliki dua lantai yang indah dan Megah. Beberapa meja saja kosong dan sisanya penuh dengan para orang-orang yang memakai pakaian yang indah dan mewah. Mereka tidak lain adalah kaum bangsawan.
Ketika mereka masuk, semua tatapan terarah kepada mereka. Lebih banyak kepada xin mei. Itu membuat xin mei takut dan menunduk. Dia takut, jika ada beberapa orang tertarik kepadanya dan menawarkan uang yang banyak kepada tang Li.
Dia cepat-cepat menunduk, supaya tidak ada yang mampu melihat wajahnya. Dia tahu, dia memiliki wajah yang terbilang cantik dan memikat. Oleh karenanya, dia harus menyembunyikannya.
Jika sebelumnya, pakaian bersih, dia Tidak akan melakukannya, tapi kini dia harus melakukannya, karena jika tidak, dia akan di anggap budak dan orang rendahan
Li xin mei dan tang Li memilih duduk di meja yang paling pojok. Saat berjalan, xin mei menunduk dan mengikuti tang Li.
Walaupun dia menunduk, semua orang yang dia lewati melihat wajahnya dan tertarik.
Apa yang harus aku lakukan jika dia menjualku? Seharusnya aku tidak ikut dan berada di luar.
Beberapa orang terlihat tertarik kepadanya, ada juga nekat menyentuh tangannya, dia terkejut dan cepat menariknya.
Akhirnya penderitaannya berhenti ketika dia duduk.
Seorang pelayan datang dan menyerahkan menu Kepada mereka.
Sebenarnya, li xin mei tidak mau, tapi pelayan itu bersi kukuh memberinya. Mau tidak mau dia menerimanya.
Lama betul tang li memesan. Pria itu seolah berpikir tiga kali atau empat kali sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan.
Ketika dia ingin berkata, tiba-tiba xin mei berseru. “Aku ingin makanan ini! Ini! Dan ini!”
Dia tiba-tiba berdiri dan membanting menu di meja.
Eh?
Semuanya menatap xin mei dengan serius. Dia cepat mengambil menu dan menutupi wajahnya yang memerah. Dia terlena dengan semua makanan yang ada. Walaupun dia sudah ingin tidak makan banyak, tapi setelah melihat makanannya yang enak-enak, dia tidak tahan untuk mencicipinya.
Tapi sayangnya, dia melupakan dirinya sekarang berada.
Tang li tetap dingin dan mengangguk kepada pelayan.
__ADS_1
Pelayan itu mengerti dan mengambil kembali dua menu yang ada. Maka xin mei pun tidak bisa menyembunyikan wajah memerahnya.
Dia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja dan memainkannya sambil melihat tang li.
Lama sekali dia melakukannya sebelum akhirnya berkata, “tang li ...”
Tang li menatapnya.
“a-a-apa kau akan menjualku?” xin mei menunduk. Dia takut jika tindakannya tadi akan membuat tang li menjualnya.
“iya.” Jawab tang li singkat.
Tiba-tiba xin mei mengangkat wajahnya. Di wajahnya terlihat kemarahan yang dalam dan penuh kebencian.
“Aku akan bunuh diri.” Nada bicaranya sangat serius. Walaupun dia takut tang li, tapi setelah beberapa lama dia bersamanya, sudah terkumpul keberanian di hatinya. Dia kini terlihat seperti harimau yang beranjak dewasa.
Sikapnya yang cepat berubah membuat tang li menghela nafas.
“aku akan menjualmu.”
“tuan...”
“Apa yang anda bilang, menjualnya?”
“berapa uang yang kau inginkan?”
Jantung xin mei di penuhi kabut hitam peka. Kedua matanya tumpul. Apa dia benar-benar menjualku? Apa aku bisa di samakan dengan uang?
Dia menunduk. Air matanya mulai menetes dan terdengar isak tangis kecil.
Meski demikian, pria itu dan tang li tidak mempedulikannya.
“aku bisa membayarnya 1000 koin emas dan tanah. Aku pikir tidak lebih dari itu.”
“Masih kurang.”
“bagaimana dengan tambahan vila?”
“Masih kurang.”
Pria itu mengerutkan kening. Baginya itu sudah terlalu mahal dan tidak layak untuk Seorang gadis seperti xin mei.
“baiklah, aku akan...”
__ADS_1
Bag!
“Kalian pikir aku adalah barang! Yang selalu bisa tawar menawar?”
Xin mei berdiri. Kedua matanya tajam memandang dua orang di depannya.
Dia menendang meja ke samping dengan keras dan pergi. Dia tidak mempedulikann apa tanggapan orang-orang, dia tidak peduli dengan makanan, ataupun tang li, pria biadab itu. Dia bersumpah akan membunuhnya, dan memberi dagingnya kepada para buaya.
Ketika tiba di luar, dia menangis dan berlari.
Setelah xin mei menghilang dari pintu, tang li menghela nafas. Wajahnya memang tidak memperlihatkan apa pun, tapi mungkin saja di dalam hatinya lain.
Setelah kepergian gadis itu, semua orang mulai berbisik-bisik; ada yang kasihan dengan xin mei, ada yang menganggapnya itu adalah hal yang biasa. Di dunia ini, penjualan manusia memang lumrah terjadi, bahkan sudah umun terjadi.
Mereka yang tidak memiliki apa pun untuk membayar hutang, memilih untuk mengorbankan anak atau yang lainnya yang berharga untuk bertahan hidup. Di dunia ini yang kuat hidup dan lemah tertindas. Itu biasanya di sebut hukum rimba.
Setelah bisikan-bisikan berangsur-angsur menghilang, akhirnya pemuda yang sebelumnya kembali mendatangi tang li. Dia duduk berseberangan dengan tang li.
“sepertinya transaksi kita batalkan saja. Akan sangat merepotkan jika aku membawa gadis seperti itu pulang. Di tambah lagi, aku sudah banyak memilikinya. Awalnya aku harap mendapatkannya tapi ternyata tidak berjodoh. Sayang sekali, sayang sekali.”
Setelah pemuda itu pergi dan tang li membayar, dia bergegas keluar dari kedai.
Tidak butuh waktu banyak menemukannya dengan fakta tang Li adalah sebuah ahli bela diri, hanya berjalan beberapa menit saja, dia akhirnya menemukannya duduk memeluk lutut di pinggir sungai.
Xin mei menangis tersedu-sedu. Dia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan lutut putihnya. Rambutnya menjuntai ke bawah hingga menyentuh rumput.
Tang li mendekatinya.
“apa yang kau mau lagi! Apa kau ingin menyiksaku lagi! Kau pria bajingan! Kurang ajar! Pergi dari sini! Aku ingin sendiri! Kau tidak di perlukan di sini. Dan siapa yang menginginkan Pria sepertimu!”
Setelah memperlihatkan wajahnya penuh sedih dan pilu yang di penuhi air matanya, xin mei menenggelamkan wajahnya di balik dua lututnya lagi.
Suara isak tangis terdengar lagi, dan terhalangi dari kedua lututnya.
Tang Li diam di sana dan menunggu xin mei baikkan. Mungkin dia merasa sedih melihatnya.
“kenapa kau diam di sini? Apa kau bersikap lembut karena aku akan mendapatkan penderitaan yang lebih menyakitkan lagi dari sebelumnya?”
Tang li bergegas. Dia meraih kedua bahu xin mei dan mengangkatnya.
“A-apa yang akan kau lakukan?” kedua mata xin mei bergetar karena takut. Berbagai pikiran negatif masuk ke dalam pikirannya.
Tang Li menarik pedangnya.
__ADS_1
“k-kau.” Xin mei berjalan mundur. Dia tidak ingin merasakan sakit di tusuk pedang lagi. Rasa sakit itu sungguh menyakitkan, dan tidak bisa di bayangan bagaimana rasanya.