
“Rupanya ada penghuni baru...”
Li Xin Mei mengangkat wajahnya. Dia melihat-lihat sekitar, mencari-cari orang yang berbicara dengannya. Ruang tempatnya berada cukup gelap karena berada di bawah tanah. Dia memerlukan beberapa saat untuk mencari orang itu.
Dia adalah seorang wanita muda yang berada di jeruji besi seberang. Dia duduk sepertinya, namun dia tidak terlihat bagaimana rupa dan pakaian yang di kenakannya.
“Apakah dengan menangis dan memohon seperti itu, kau akan bebas?”
“...T-tidak.”
“gadis pintar. Jika demikian, maka berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirimu. Tapi, aku tekankan, kau tidak akan bisa bebas dari yang namanya kata ‘pelayan’ untuk seumur hidupmu.”
“Mengapa kau berkata seperti itu?”
“Karena aku sudah mengerti. Setelah beberapa bulan berada di sini, aku mengerti, jika kita semua di lahirkan untuk menjadi pelayan. Bahkan ketika seorang bayi yang baru lahir pun sudah menjadi pelayan. Ketika bayi itu lahir, dia akan menangis untuk melayani dirinya bahwa dia sudah lahir, dan patut untuk di sambut dengan suka cita; ketika dia haus, dia harus menangis lagi untuk melayani dirinya untuk mendapatkan perhatian kedua orang tuanya, yang hanya untuk bisa meminum susu. Ketika beranjak anak-anak, dia harus berusaha merangkak untuk melihat sesuatu yang membuatnya penasaran, maka dia melayani dirinya untuk itu.
Ketika lebih besar lagi, dia harus belajar untuk melayani dirinya untuk masa depan dan sekarang. Ketika dia sudah tua dan sakit-sakitan, mungkin dia akan berusaha melayani dirinya sama ketika dia masih bayi.”
“A-aku tidak percaya.”
“Terserah kau saja. Aku tidak memaksamu untuk percaya atau tidak. Semuanya punya kepercayaan masing-masing. Aku tidak boleh ikut campur di dalamnya.”
“A-apakah kau juga di perlakukan dengan kasar?”
“Ketika aku datang, memang, aku di perlakukan dengan kasar seperti itu, dan berusaha kabur dari jeruji besi ini. Namun semakin lama, aku terkurung, aku mengikhlaskan semuanya. Bukankah lebih baik kita menerima takdir kita tanpa perlawanan yang sia-sia?”
“Berhentilah menangis, itu semua tidak ada gunanya. Jika kau ingin mengubah takdirmu, tangkap ini.”
Wanita itu mengayunkan sesuatu. Dengan segera Li Xin Mei menangkapnya. Itu sebuah gergaji kecil.
“Apakah ini bisa membukanya?”
“cobalah.”
......................
Tang Li sudah berjalan beberapa jam dari pegunungan. Dia sudah menemukan keramaian dan pasar. Dia berjalan di tengah-tengah menyaksikan semuanya. Ketika melewatinya, dia tertarik dengan sesuatu yang sangat dia kenal.
Dia mendekati salah satu pedagang.
__ADS_1
“Tuan, dari mana kau mendapatkan pedang itu?”
“pedang ini, aku dapat dari dua orang wanita, apakah anda tertarik membelinya?” pria pedagang itu mengangkat pedang itu dan menariknya. Kilauan bilah pedang itu sangat Putih dan indah.
“Aku rasa pedang ini memiliki sesuatu yang spesial. Tidak mudah untuk membelinya. Di butuhkan koin yang banyak. Apakah tuan mampu melakukannya?”
Tang Li diam sejenak lalu mengangguk. Dia mempunyai cukup uang setelah menjarah harta keluarga Li dan yang lainnya. Sebelum pedagang itu membungkus pedangnya, dia berkata, “Dua wanita mana yang tuan maksud? Apakah tuan mengetahui namanya?”
“Sayang sekali, aku tidak mengenalnya, tapi aku bisa memberitahukan ciri-cirinya. Apakah tuan menginginkannya?”
Tang Li mengangguk.
Pria itu lalu menceritakan semuanya. Mulai bentuk fisiknya, rambut, tinggi, dan umurnya.
Setelah membayar, Tang Li pergi dari sana. Dia berjalan-jalan lagi. Namun baru beberapa saat berjalan, dia menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik lagi. Dia membelinya lagi, dan menanyakan dari mana pedagang itu mendapatkan benda itu.
......................
Dia tidak tahu, apakah ini pagi atau malam ketika dua penjaga datang dan menyuruhnya keluar.
“Di mana kalian akan membawaku?”
“Ikut dengan kami saja.”
Dengan kepala menunduk dan di penuhi ketakutan, dia berjalan keluar. Ketika itu, baru dia menyadari banyak wanita-wanita yang di kurung, bahkan ada yang sudah menjadi tengkorak. Keadaan wanita-wanita itu sungguh memprihatinkan, tubuhnya kurus, dan tulang-tulangnya terlihat. Bibirnya keriput, kedua matanya merah. Mereka terlihat seolah tidak mempunyai gairah hidup sedikit pun.
Salah satu orang yang membawanya berkata, “ semua pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi di sini. Bahkan aku pernah melihat detik-detik bagaimana seseorang gadis yang sekarat mati. Dia membuka mulutnya, mau berbicara, Namun tak satu pun kata-kata keluar dari mulutnya yang malang. Sungguh malang sekali nasibnya. Aku sangat sedih melihatnya, tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Jika kau tidak melakukan tugasmu dengan baik, kau akan berakhir sama seperti mereka.”
“A-apa yang aku harus lakukan?” dia bertanya hati-hati.
“Kau akan mengetahuinya nanti.”
Setelah berjalan beberapa saat, mereka menaiki tangga. Kemudian tiba di sebuah ruangan yang sangat indah penuh dengan hiasan. Mereka keluar menuju pintu utama. Sungguh indah pemandangan di luar. Saat itulah baru Li Xin Mei mengetahui jika di luar masih siang. Alangkah senangnya dia melihat hal itu. Dia menikmati pemandangan di luar saat mereka bergerak ke lorong-lorong rumah. Ketika melewati pintu ke sepuluh. Salah satu orang maju dan mengetuk pintu.
Perasaan takut, berbagai pikiran negatif muncul di benaknya. Bagaimana jadinya jika dia bertemu pria majikan yang jahat itu. Siksaan apa lagi yang akan di deritanya. Dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Andai saja dia bisa memilih antara hidup dan mati, dia akan memilih mati dari pada hidup dalam kesia-siaan seperti ini. Dia seolah terlepas dari lubang buaya masuk ke dalam lubang naga. Sungguh begitu menyedihkan nasibnya.
Ketika pintu di buka, dia semakin takut. Dia menunduk dalam.
“Kami sudah membawa gadis ini, selanjutnya terserah dirimu saja.”
__ADS_1
Orang yang muncul tidak berkata apa-apa, mungkin dia hanya mengangguk. Dia tidak tahu bagaimana wujud orang yang ada di depannya, apakah laki-laki atau perempuan?
Sebuah tangan putih yang berhias gelang merah menarik tangannya dan menuntunnya ke dalam.
Dia mengetahui orang yang membawanya adalah seorang wanita. Ketika dia ingin mengangkat wajahnya, wanita itu lebih dulu menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya.
“Jangan bertindak seolah aku adalah penjahat.”
Sosok yang berdiri di depannya adalah seorang wanita paruh baya. Dia terlihat cantik alami. Ketika dia tersenyum mungkin akan sangat manis.
“Jangan melawan.” Ketika dia berkata seperti itu, dia melepaskan han funya. Dia tidak berani melawan.
Namun dia tidak pernah menyangka dia akan di telanjangi bulat seperti ini. Dia menjadi malu dan menyilangkan kedua tangannya di depan, berharap bisa menutupi dua buah dadanya yang putih. Namun, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan hal lainnya.
Wanita itu tertawa senang melihatnya malu seperti itu. “kau tidak usah malu. Tubuhmu sudah banyak yang melihatnya seperti ini. Bahkan ketika itu, kau tidak pernah merasa malu sedikit pun. Kau mengingatnya?”
Li Xin Mei ragu-ragu menggelengkan kepalanya.
“Kau tidak pernah mengingatnya.” Wanita itu memegang tangan xin mei. “jangan bergerak, ikuti saja apa yang aku inginkan.”
Setelah berkata demikian, dia membawanya ke sebuah ruangan. Di dalam ada kolam pemandian air panas.
“Duduk.”
Li Xin Mei duduk di pinggir pemandian itu. Entah apa yang akan di lakukan wanita ini kepadanya. Kedua kakinya sangat hangat ketika masuk ke dalam air pemandian itu. Dia menikmati hangatnya air yang ada.
Wanita itu kemudian pergi. Dalam waktu singkat sebelum wanita itu datang kembali, dia melihat-lihat sekitarnya.
Wanita itu datang membawa dua buah ember kayu. Meletakannya di samping Li Xin Mei. Dia duduk di belakang Xin mei menatap punggungnya. “banyak sekali darah yang keluar. Ini sekitar 30 cambukkan.”
Wanita itu mengambil ember yang lebih kecil, kemudian menyendok air hangat di kolam. “ini akan perih, tahan.” Dia lalu menyiram punggung xin mei dengan lembut dan mengusap-ngusapnya. Li Xin Mei hanya bisa memejamkan matanya menahan sakit. Di tambah lagi harus menahan air hangat itu.
Wanita itu melakukan beberapa kali. Setelahnya menarik tangannya. Xin Mei tidak melawan. Wanita itu membasuh tangannya dengan lembut, kemudian yang satunya lagi.
“kau bisa membasuh mukamu sendiri.”
“B-baik.”
Wanita itu kemudian pergi.
__ADS_1
Li Xin Mei membasuh mukanya dengan perlahan-lahan. Dia takut pipinya yang membengkak terasa sakit.
Tidak lama kemudian, wanita itu kembali lagi. Dia membawa beberapa kain.