Gadis Bordil

Gadis Bordil
Charter 34.2 : takdir yang sama?


__ADS_3

Xin Mei terdiam, kemudian menunduk. Tidak lama setelahnya dia kemudian mengangkat wajahnya. Sekarang wajah cantiknya di penuhi kebimbangan. Mengetahui orang yang di cintainya akan menghianatinya, sangat membuatnya terkejut. Tetapi mengetahui lebih awal lebih baik dari pada setelah kejadian.


“Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku bisa mengubahnya?”


“Tentu saja. Ambillah pisau ini, dan bunuhlah tubuhmu yang tidak berguna itu.”


Xin Mei ragu-ragu, tetapi dia mengambilnya. Orang yang disukainya adalah orang yang sangat dia benci. Selama ini ternyata pria itu bersikap baik karena ingin merencanakan hal yang lebih besar. Dia tahu itu akan terjadi, tetapi melihat wajah dan sikapnya, membuatnya yakin, dia tidak akan melakukan itu.


Namun, sekarang dia merasa yakin, dia harus melanjutkan perjuangannya.


Setelah menatap pisau itu, dia kemudian bertanya, “Apakah dengan ini, dia akan mati?”


Wanita kabut itu mengangguk.


Entah mengapa meski bertemu sekali saja, Xin Mei sangat percaya dengan sosok aneh di depannya ini.


Dia kemudian melakukan.....


“Apa kau akan berakhir sama denganku?”


Tangan kecil seorang gadis menghentikan langkahnya.


Seorang gadis yang sama, ketika ada di mimpinya muncul di sampingnya.


......................


Xin Mei tiba-tiba berada di pinggir telaga sama seperti sebelumnya. Namun, dia memegang sebuah pisau.


“Apa yang aku lakukan?”


Dia kemudian melihat ke bangunan yang ada di tengah telaga. Wanita itu tidak ada lagi.


Dia kemudian pergi dari sana.


Tidak lama setelahnya muncul lagi wanita tadi sedang berdiri di bangunan itu dengan kedua tangannya sedang merajut.


“Dia bukan gadis biasa.”


......................


Setelah keluar dari sana, dia melihat sosok yang sangat di bencinya saat ini, dia tidak lain adalah Tang Li yang berbalik ingin pergi. Namun, sebelum bergerak lebih jauh, Xin Mei memanggilnya dan bergegas mendekatinya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Jangan bilang jika kau datang ke sini untuk bermain wanita!”


Tang Li terdiam dan menggelengkan kepalanya. “Bermain wanita? Jika itu adalah dirimu, aku mungkin akan melakukannya.”


“Apa kau berani? Ayo kita lakukan di sini.”


“Aku tidak menyukai wanita nakal sepertimu, aku hanya berbohong,” jawab Tang Li tanpa ekspresi apa pun, dan terus berjalan menjauh.


“Aku juga tidak menyukaimu. Tetapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya boneka yang selalu kau nikmati dan kau bohongi. Suatu hari nanti, aku akan membalasnya. Tentu saja dengan nyawamu...”


“Berusahalah sebaik mungkin.”


“Aku akan berusaha. Mulai detik ini, aku akan merencanakannya hingga waktu tragedi itu belum tiba.”


“Tragedi apa?” Tang Li terdiam dan menatap Xin Mei.


“Kau tidak perlu berpura-pura.”


Xin Mei kemudian berlari kencang terus ke depan.


Tang Li menatapnya diam dan di penuhi keheranan, apa yang menyebabkan gadis itu bersikap aneh saat ini?


......................

__ADS_1


Xin Mei terus berlari dan berlari. Dia kemudian duduk di bawah pohon dekat hutan. Dia bersandar di sana. Tetesan-tetesan air matanya mulai terus berjatuhan.


Dia sangat membenci orang yang telah membunuh keluarganya, tetapi semakin dia bersamanya, dia semakin menyukainya dan diam-diam jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi, setelah melihat apa yang akan terjadi ke depannya. Dia sadar, jika itu semua hanya tipu muslihat yang membuatnya hancur di kemudian hari.


‘kenapa aku harus menyukainya?’


Dia kemudian menghela nafas.


Hingga di sore hari, Xin Mei menjadi tenang, dia kemudian berdiri ingin pergi dari sana. Tetapi tiba-tiba seseorang datang dan tersenyum kepadanya.


“Nona, apa anda masih mengenal saya?”


“ya! Kau adalah orang yang hampir menabrakku.”


Dua prajurit yang berada di samping pangeran ingin menegur, tetapi di tahan oleh pangeran sendiri.


“Nona, namaku adalah pangeran Lei Shi, senang berkenalan denganmu.”


“Ternyata seorang pangeran. Jika begitu ayo kita pergi minum arak bersama.”


Tanpa Lei Shi menjawab, Xin Mei menariknya dan pergi dari sana.


......................


Dalam kegelapan malam di depan rumah kosong, Tang Li berdiri. Dia mengangkat pedangnya.


“Terbukalah!”


Brak!


Bangunan yang ada di depannya hancur berkeping-keping. Dan kemudian perlahan-lahan di dalamnya memperlihatkan seorang berpakaian jubah hitam memegang sebuah pedang.


“Akhirnya kau muncul juga. Kembalikan semuanya...”


Tang Li menghilang secepat kilat, dan tiba-tiba muncul di depan orang itu. Kemudian dua bilah pedang pun beradu, membuat pohon-pohon di sekitarnya remuk.


Kemudian mereka berdiri menjadi cahaya-cahaya dan saling berbenturan.


Tidak lama setelahnya, mereka kembali ke tempat sebelumnya. Namun, Tang Li berhasil mencekik leher orang itu.


Setelah orang itu tidak sadarkan diri, dia kemudian melemparkannya.


“Dia bisa mengganti tubuhnya. Benar-benar orang yang cerdik.”


Tang Li kemudian pergi. Saat dia mencapai gerbang desa, sosok bayangan terlihat bergerak-gerak dalam kegelapan menuju ke arahnya. Dia sepertinya membawa sesuatu seperti pedang.


Tang Li memusatkan perhatiannya pada orang ini. Gerakannya sangat aneh dan seperti seseorang yang bingung.


Dia adalah seorang wanita, rambutnya acak-acakan dan berjalan sempoyongan. Jika dia adalah salah satu penduduk, maka sangat mustahil, karena tidak ada yang berani yang keluar malam-malam seperti ini, apalagi jika ada pembunuhan.


Setelah beberapa saat wanita itu berjalan, Tang Li memegang ganggang pedangnya dan bersiap melakukan serangan.


Tetapi yang muncul, adalah orang yang sangat dia kenal. Gadis nakal itu lagi. Dia memakai gaun hijau muda dan membawa tongkat, berjalan-jalan sempoyongan. Entah apa yang terjadi kepadanya sebelumnya.


“Kenapa kau berada di sini? Apakah kau tidak takut jika kau dibunuh?”


“Aku lebih baik di bunuh olehnya dari pada kau yang membunuhku.”


Xin Mei tanpa berpikir panjang memeluk Tang Li.


“Aku ingin di bunuh oleh pembunuh itu.”


Dia kemudian melepaskan pelukannya dan ingin pergi melewati Tang Li. Namun, Tang Li tidak membiarkannya.


Xin Mei berbalik. “Kau ingin lagi itu? Baiklah, aku akan memberikannya.”

__ADS_1


Lagi-lagi kedua bibir mereka menyatu. Bibir Xin Mei terasa lembut dan dingin saat ini. Bau alkohol sangat menyengat dari bibirnya, membuat Tang Li tidak nyaman dan kemudian langsung mendorongnya dan menatap Xin Mei.


Wajah Xin Mei sayu dan bersemu merah, dia saat ini sedang mabuk berat. “Aku pergi dulu.”


Xin Mei kemudian ingin pergi, tetapi Tang Li menarik tubuhnya.


“lepaskan aku!” Xin Mei terus berjalan keluar.


Tang Li tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Xin Mei pergi beberapa puluh meter dan duduk di atas rumput. Dia kemudian tertawa dan tersenyum aneh.


Tang Li mengikutinya.


“Pergi kau pembunuh! Aku tidak membutuhkanmu, pergi kau!”


Tang Li tidak mempedulikan ocehan Xin Mei dan duduk di sampingnya.


“Aku tidak punya banyak kesabaran. Pergi dari sini, atau aku akan menghukummu.”


“Aku tidak peduli. Kau juga tidak mempedulikan bagaimana perasaanku.”


“Apa yang kau maksud?”


Xin Mei tersenyum dan menyadarkan kepala di pangkuan Tang Li. “Aku menyukaimu, tetapi kau memberikanku harapan palsu. Kau penjahat! Pembunuh! Aku sangat membencimu!”


Tang Li menghela nafas.


“Apakah kau minum tadi?”


“Jika iya kenapa?! Kau tidak berhak mengatur-ngaturku!”


Jika Tang Li seperti dulu, dia pasti akan membunuh orang berkata seperti itu kepadanya. Namun, saat ini, dia harus bersikap penyabar dengan gadis anehnya ini.


“Kau ingin di sini dan dibunuh oleh pembunuh itu? Aku akan membiarkannya.”


Tang Li mendorong kepala Xin Mei ke atas dan ingin beranjak berdiri, tetapi Xin tidak membiarkannya, dan menarik tangannya.


“Aku ingin tidur.”


“Tidak ada hubungannya denganku.”


“Aku ingin menjadikan pangkuanmu sebagai bantal.”


“Tidak.”


“Aku tidak peduli!”


Xin Mei tetap berusaha tidur di pangkuan Tang Li.


Melihat wajah dan sikapnya saat ini, membuat Tang Li membiarkannya, hanya sekali saja.


“Setelah ini, kita harus pulang.” Ujar Tang Li.


“Tidak ada tempat bagiku untuk pulang.”


Angin berembus dari pepohonan dan membelai mereka berdua. Keheningan muncul beberapa saat sebelum akhirnya Xin Mei berkata, “Tidak ada yang lebih indah ketika duduk sendiri di pagi hari menatap cahaya matahari yang selalu terlihat baru dan bulan yang bersinar di malam purnama.”


“Bulan dan matahari menjadi teman keduaku dan menjadi sosok penting selain ayah dan ibuku.”


“Aku tidak peduli. Benda mati seperti itu tidak ada gunanya bagiku.”


“Itu bagimu, tetapi bagi yang lain sangat penting.”


“Aku harus pulang, tidak ada waktu bagiku untuk mengurusimu.”


“Tetapi hari ini aku ingin berdiam di tempat ini. Tolong, sekali ini saja, temani aku. Besok, aku akan menyewa penginapan di tempat lain dan tidak akan pernah mengganggumu lagi.” Ujar Xin Mei sembari menatap bintang-bintang dan bulan. “Jangan khawatir, aku tidak akan bisa lolos darimu.”

__ADS_1


“Terserah kau saja.” Jawab Tang Li tanpa perasaan sedikit pun.


“Aku mengerti. Aku memang tidak di butuhkan.” Xin Mei kemudian menutup matanya dan tertidur.


__ADS_2