
Setelah mereka pergi, Yulan muncul dari pepohonan. Dia memandang mereka berdua dengan tatapan datar dan kosong.
Tiba-tiba, angin bertiup dari pepohonan, membawa daun-daunnya. Semua daun-daun itu berkumpul di depan Yulan, membentuk sosok gadis.
Yulan membelai pipinya, yang hanya terasa dingin.
“Ibu gagal....”
Sosok itu mengangkat tangannya dan memegang tangan Yulan. Dia menggeleng dua kali, sebelum akhirnya di terbangkan angin.
Tubuh Yulan roboh, kemudian dia menangis sembari menatap tanah yang di penuhi air matanya. Tidak ada yang menyakitkan baginya selain kehilangan suami dan anaknya di waktu yang sama.
Seorang pria berjubah hitam tiba-tiba muncul di depannya sembari membawa satu buah pedang panjang.
Aura kematian keluar dari tubuhnya.
“Saatnya kau menerima hukumanmu....”
......................
Lei Shi menatap Tang Li dan Xin Mei dari jauh. Mereka sedang berdiri menatap kembang-kembang api di langit.
Kecemburuan dan kemarahan meluap-luap di dalam hatinya. Kini dia tidak bisa membawa gadis itu pergi. Jika dia nekat membawanya, maka dia harus berhadapan dengan salah satu sosok terkuat dalam seni pedang.
Dia mengepalkan tangan kanannya dan memukul batang kayu di sampingnya.
Pengawalnya merasa bingung tentang apa harus dia lakukan, sehingga hanya bertanya, “yang mulia, apakah kita harus melaporkan ini kepada yang mulia permaisuri?”
“Tidak. Ayo kita pergi!”
__ADS_1
Mereka lalu pergi dari sana.
......................
Xin Mei mendengar suara, sehingga dia menoleh menatap ke arah rerimbunan pohon. Dia tersenyum manis, kemudian memalingkan wajahnya menatap kembang-kembang api.
Tidak lama setelah beberapa lontaran kembang api, Xin Mei bertanya, “Apa kau bisa memasang liontinku ini?”
Tang Li memandangnya. Tanpa menjawab, dia mengambil liontin dari tangan Xin Mei kemudian memasangnya.
Wajah cantik Xin Mei menatap Tang Li dengan penuh perhatian, membuatnya seperti terjun ke dalam lautan yang sangat dalam. Xin Mei seperti Dewi laut yang sangat menyegarkan.
“T-terima kasih...”
Tang Li tiba-tiba tersadar dan mengangguk.
Xin Mei kemudian memegang tangan Tang Li dan berkata, “Kau tahu, ibuku pernah berkata, jika kita tidak pernah memegang tangan seseorang yang paling dekat dengan kita, kita tidak akan pernah mengenalnya dengan dalam, meskipun kau sudah mengenalnya bertahun-tahun.”
Xin Mei tidak membantah. “Mungkin saja, tetapi setelah aku pikir-pikir ada benarnya juga. Ada beberapa jaringan yang terhubung dari tangan ke otak, oleh sebab itu, aku mempercayainya.”
......................
Seorang gadis berdiri tidak jauh dari sungai, dia memandang Tang Li dan Xin Mei dengan senyuman licik.
“Kalian harus berakhir sama denganku....”
......................
Dari kejauhan memandang sepasang kekasih itu, jing kaigun menatapnya dengan damai. Rambut hitam panjangnya tertiup angin, sesekali memperlihatkan kedua tangannya di belakang punggung. Dia kemudian menggerakkan tangannya ke depan dan sedikit terangkat.
__ADS_1
Sebuah tangan lembut berwarna putih yang di hiasi gelang anyaman berwarna merah memegang tangan Jing kaigun.
Di samping Jing kaigun, ada seseorang wanita berdiri dengan sangat elegan. Rambutnya tidak terlalu panjang. Namun, memiliki warna hitam cerah.
Di dahinya yang datar, meluncur beberapa helai rambut dan bergerak-gerak ke samping.
Telinganya di hiasi sekuntum bunga mawar segar, dan berwarna putih. Gadis itu kemudian menyibak poni yang menutupi sebagian wajahnya.
“jadi... Apakah kau puas melihatku dalam tampilan seperti ini, sekarang?” gadis itu memandang jing kaigun dengan tatapan lembut, seperti salju pertama yang turun saat musim dingin.
Jing kaigun mengangguk. “Teror sudah berlalu...” Jing kaigun menatap Xin Mei dan Tang Li yang berada jauh di sungai. “Seharusnya ini menjadi momen yang istimewa.”
“Aku merasa kesal... aku ingin sendiri membunuh wanita berengsek itu, tetapi malaikat mautnya lebih dulu tiba dariku.”
Gadis itu memandang ke arah sungai. “Mengapa orang itu yang di kenal senang membunuh, tidak melakukan itu?”
“Dia bukan tidak mau, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya.”
“Apa?”
“Aku tidak tahu.”
Gadis itu menghela nafas, mungkin karena kesal mendengar ucapan itu. Dia kemudian berbalik dan berjalan. “Aku tidak suka berpenampilan wanita, itu membuatku terlihat lemah.”
Jing kaigun tidak membiarkannya, dia memegang pergelangan tangannya.
Gadis itu menoleh dengan mempesona dan menatap Jing kaigun dengan mata yang jernih.
“Kita harus pergi dari desa ini, setelah kau mengemasi barang-barangmu. Duniaku harus ada misteri yang harus di pecahkan.”
__ADS_1
Dia kemudian pergi dan jing kaigun membiarkannya.
......................