
Tang Li dengan wajah dinginnya berjalan melintasi Xin Mei. Dia tidak tertarik dengan pertanyaan Xin Mei, dan seolah menganggapnya tidak ada.
Melihat itu, dia sedikit kecewa, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia lalu mengikuti Tang Li berjalan sambil menggenggam pedang di dadanya.
Ketika berada di bawah undakan, tiba-tiba terdengar suara yang tidak mengenakkan dari belakang Tang Li. Dia berbalik menatap Xin Mei yang menunduk. Kedua pipinya memerah dan kedua tangannya berada di belakangnya. Kakinya bergerak tidak menentu dalam diam. Dia terlihat seperti anak kecil yang sangat indah dengan kedua pipi merah merona seperti itu. Suara lembut seperti anak kecil berumur 7 tahun keluar dari mulutnya, “Aku lapar.”
Tang Li lalu berbalik, ketika dia mulai melangkah, Xin Mei lagi-lagi berbicara. “aku lapar. Aku tidak bisa berjalan lagi. Dari pagi aku tidak makan sama sekali. Jika aku tidak makan, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan.”
Tang Li menghela nafas dia berbalik. “siapa yang menyuruhmu pergi lebih awal?” pertanyaan Tang Li tidak terlalu tegas tapi itu sudah membuat Xin Mei sedikit ketakutan.
Setelah sejenak terdiam, Xin Mei menjawab dengan ragu-ragu, “itu karena aku takut pria aneh itu merebut pedangku. Jika dia mengetahui pedang dan patung itu berada di tanganku, dia tidak akan memberikan aku membawanya. Dia juga pasti akan menghukumku. Kau pasti tahu bagaimana pencuri di perlakukan jika ketahuan?”
Tang Li ingin mengatakan, ‘siapa yang menyuruhmu mencuri barang berharganya? Jika bukan karena guru sangat baik kepadamu, mungkin kau hanya menjadi seonggok daging hari ini’ tapi dia tidak akan mengeluarkannya. Rasa malunya begitu tinggi jika mengatakan itu. Dia ingin bersikap dingin di depan Xin Mei, dan juga berhati besi serta sangat kejam.
Perasaannya masih membencinya, tapi dia kadang-kadang juga kasihan dengannya. Dia mulai bertanya-tanya apa yang menyebabkannya seperti ini. Jika kecantikan gadis di depannya memang membuat seseorang tergoda, tapi dia tidak tertarik sama sekali.
Setelah sejenak terdiam Tang Li menghela nafas. “Aku tidak punya.” Dia hendak pergi tapi tangan yang lembut dan putih serta anggun menarik jubahnya. Dia sekilas melihat kuku-kuku yang anggun itu.
“aku lapar. Perutku terasa sakit. Andai aku bisa mencari makanan, aku tidak akan meminta bantuanmu. Dan siapa juga yang ingin meminta bantuan dengan pria bejat sepertimu.”
“aku tidak punya.”
Mendengar itu, wajah Xin Mei penuh kekecewaan. “Baik, Baik. Jika kau tidak memberiku sedikit makanan, kau boleh pergi sekarang. Tapi, aku tidak akan pergi mengikutimu. Aku akan pergi mencari makanan sendiri saja.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Xin Mei pergi ke arah berlawanan dengan arah Tang Li. Tang Li hanya bisa menghela nafas. Dia dengan kasar menarik kain Han fu Xin Mei dan berkata, “tunggu di sini! Aku akan mencarikan makanan untukmu.”
Setelah itu, dalam sekejap, Tang Li hilang tanpa jejak. Dia seperti udara yang mudah sekali hilang dan mudah sekali di terbangkan.
Xin Mei tersenyum dan tertawa renyah ketika Tang Li sudah tidak ada di depannya. Meski pria itu berhati dingin, dia tidak akan pernah menyangka sikapnya akan berubah seiring waktu. Dengan sikapnya yang lebih lembut, dia akan memanfaatkannya untuk mencari celah dan membunuhnya. Nyawa harus di bayar nyawa, tidak ada yang lain.
Dia kemudian duduk dengan indah di undakan, menyebabkan kain Han fu yang panjangnya terurai di tanah.
Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam lubang baju kirinya, mengambil sisir kayu indah dengan ukiran bunga. Dia tersenyum melihatnya. Dia mendapatkannya dengan mencuri di rumah Liu Fang. Dia dengan lembut memindahkan rambutnya ke depan dan menyisirnya dengan lembut sembari mendengarkan kicauan burung di pagi hari.
Setelah selesai melakukannya, dia menggulungnya ke atas, kemudian mengambil tusuk konde di yaodainya. Tusuk konde tersebut dia dapat ketika berada di rumah Liu fang lagi. Dia benar-benar gadis pencuri.
Ukurannya tidak terlalu panjang, dan dengan keahlian menyembunyikannya, membuatnya tidak terlihat sama sekali. Di ujungnya ada ukiran bunga dan ada gantungan dua mutiara yang sangat indah.
“Ini sudah sangat pas. Lain kali, aku akan memperbaikinya. Ibu, aku bisa merias diri. Siapa bilang, aku tidak akan bisa melakukannya? Gadis ini adalah anak yang pintar seperti ayahnya, ibu tidak boleh meremehkanku lagi.”
Ketika dia kecil, ibunya selalu mengejeknya karena tidak pernah merias diri. Dia selalu akan mencari ibunya ketika ada acara. Dengan membawa sisir dan tusuk konde, dia akan selalu mencari ibunya dan memohon kepadanya.
“Jika ibu tidak mau, bagaimana aku bisa melihat ibu melakukannya, dan bagaimana aku bisa merias diri tanpa ibu perlihatkan bagaimana caranya?”
“Kau selalu seperti itu. Ini sudah kesepuluh kali, kau datang ingin di rias dan selalu mengatakan itu sebagai alasan. Mengapa kau tidak menyuruh pelayan di kamarmu saja, sayangku?”
“.... ibu, mengapa ibu mengatakan sepuluh kali? Ini baru kedua kalinya aku menyuruh ibu. Selain itu, para pelayan, aku tidak menyukainya. Aku lebih suka di rias oleh ibu, ibu hebat dalam merias. Jika ibu membuka salon, mei’er yakin, akan ada banyak sekali pelanggan yang akan datang. Ibu...tolong...” dia mengulurkan tangannya yang memegang sisir dan tusuk konde.
__ADS_1
“Apa katamu? Dua kali? Inilah akibatnya jika kau tidak pernah belajar menghitung. Kenapa kau tidak belajar berhitung?”
“....aku tidak suka. Selain itu, jika aku bisa menghitung sampai dua saja, sampai kapan pun, aku meminta ibu untuk meriasku, akan selalu dua.”
“Mengapa?”
“....Karena, aku hanya bisa menghitung sampai dua saja, sehingga berapa pun, aku meminta, akan selalu dua bagiku.”
“Gadis bodoh, apakah kau tidak takut jika nanti kau menjadi bodoh?”
Xin Mei kecil diam sejenak. Dia menatap ibunya beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Tidak ibu, aku tidak takut bodoh. Aku sudah menjadi bodoh, mengapa aku takut dengan menjadi bodoh, bukankah aku sudah bodoh? Semuanya juga begitu, berawal dari bodoh.”
“Oh...kau sudah berani melawan ibu?” tanya ibu dengan nada menggoda.
“Tidak, tidak, mei’er tidak berani.”
“Lalu?”
“Mei‘er hanya berkata yang sebenarnya,” jawab Xin Mei ragu-ragu.
“Huh.... baiklah, ibu hari ini sangat malas berdebat denganmu.” Ibu Xin Mei memegang tangan kiri Xin Mei dengan lembut. “Hari ini, anak gadis cantik ini harus lebih cantik dari pada sebelumnya. Tidak ada alasan apa pun.”
Ketika ibunya mengatakan itu, mereka sudah berjalan ke arah pintu bercahaya putih. Lalu, perlahan-lahan pintu di tutup dan ruangan pun menjadi gelap
__ADS_1