Gadis Bordil

Gadis Bordil
Chapter 49 : tidak berdaya


__ADS_3

Long Chen telah mempersiapkan semua rencana yang telah dia susun untuk membunuh Tang Li. Dia awalnya akan membunuhnya setelah membunuh Gadis bersamanya. Dia ingin melihat penderitaan metal dan fisik secara bersamaan sama seperti apa yang telah pria itu lalui.


Tapi setelah berlatih keras dan mencari orang-orang yang ingin balas dendam kepada Tang Li, dia bertemu dengan 5 orang yang semua memiliki dendam kepada Tang Li.


Dia berpikir, Tang Li belum terlihat sangat mengasihi Gadis bersamanya, dia terlihat masih dingin, meski sudah terlihat kedekatan mereka, dan dia belum tahu, kapan Tang Li akan jatuh cinta dengannya, oleh sebab itu, dia memilih mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan itu dan akan menantang Tang Li satu lawan satu, kemudian yang lainnya datang untuk membantunya membunuh Tang Li.


Dia sekarang duduk bersama lima orang untuk menyusun rencananya.


Lima orang ini memiliki kekuatan yang terbilang kuat, sehingga dia yakin, dengan perencanaan yang matang, Tang Li akan mati di tangan mereka semua.


“Tuan-tuan, bagaimana kalau kita menggunakan racun untuk membunuhnya?”


Long Chen diam sebentar menyaksikan tanggapan orang-orang. “Aku telah melihat dia bertarung dengan racun, tampaknya dia lemah terhadap racun. Kita hanya perlu menggunakan racun terbaik untuk membunuhnya.”


Salah satu orang berbicara, “Apa yang kau katakan memang benar, tapi di mana kita akan mendapatkan racun seperti itu?”


Long Chen tersenyum. “Aku telah memilikinya.”


“Racun apa itu?” tanya orang itu penasaran.


Long Chen tersenyum, dan tiba-tiba saja sebuah pedang melesat dan tertanjab di atas meja.


Pedang itu memiliki kekuatan yang sangat mengagumkan. Lima orang yang ada di sana terkagum-kagum melihatnya.


Ming Na datang, kemudian berkata, “Itu adalah pedang petir ke sembilan.”


Long Chen tersenyum. “Tampaknya kemenangan ada di tangan kita.”


Semua orang yang merasakan kekuatan itu mengangguk.


......................


Gadis yang cantik itu telah duduk di rumput sepanjang hari-hari ini. Kedua matanya yang biasanya terlihat cerah, kini mendung sama seperti apa yang ada di langit.


Gumpalan-gumpalan awan hitam menumpuk dan bau segar tercium, kemudian petir tiba-tiba menyambar.


Meski suara itu keras, dia seolah tidak mendengarnya.


Jia Hu menatapnya dari jauh. Dia kemudian berkata kepada Tang Li di sampingnya. “Apa kau akan terus membuat kekasih hatimu menderita seperti itu?”


Tang Li terdiam menatap gadis itu. “Lebih baik kami seharusnya tidak bertemu.”

__ADS_1


Jia Hu telah mengetahui mengapa Tang Li bersikap dingin beberapa hari ini, itu tidak lain karena musuh-musuhnya terlalu banyak. Jika dia memiliki seorang kekasih, kemungkinan besar kekasihnya akan mati. Oleh sebab itu, dia harus membekukan hatinya dan tidak mempedulikan seorang gadis dari mana pun.


Butiran-butiran hujan terjatuh, semakin deras dan semakin keras terdengar, tapi Xin Mei tetap di sana duduk mematung.


Jia Hu menghela nafas. “Kakak, jika kau memang memilih itu, setidaknya kau tidak boleh membuatnya hujan-hujanan seperti ini.”


“Gadis nakal itu memang selalu membuatku repot.”


Tang Li mengambil payung dan berjalan mendekatinya.


Sepasang mata itu memandang ke atas ketika Tang Li memayunginya.


“Pria brengsek!”


Dia kemudian memandang ke depan lagi. Tidak peduli dengan pakaian yang basah.


“Jika kau seperti ini, kau akan demam.”


“Aku tidak peduli.”


Tang Li terdiam dan menunggu gadis itu, mematung di sana.


Jia Hu hanya bisa menggeleng ketika melihat kejadian ini. Tingkah laku sepasang kekasih itu membuatnya pusing dan bingung.


Tang Li senang hati menunggunya hingga mau berdiri dan pergi dari sana. Dia tidak akan kedinginan dan kehujanan, sehingga mampu berdiri di sana berlama-lama. Tapi Xin Mei yang seorang gadis biasa, merasa kedinginan. Dia memeluk dadanya yang kedinginan dan bersin. Tubuhnya mulai gemetaran.


Tang Li merasa kesal, dia kemudian menaruh payungnya dan membopong gadis itu. Dia tidak peduli dengan reaksi gadis itu.


“Tang Li brengsek! Lepaskan aku!”


Tang Li tidak peduli dan membawa gadis itu ke dalam. Dia tanpa ragu membuka Han funya setengah.


Pipi Xin Mei memerah dan berseru, “Dasar mesum!”


Tang Li kemudian mengambil selimut dan menyelimutinya dengan lembut.


Xin Mei memegang kedua ujung selimut itu dan mengumpat, “Dasar brengsek!”


Tang kemudian berjongkok di depan Xin Mei.


Melihatnya seperti ini, Xin Mei mengalihkan perhatiannya. Tiba-tiba tangannya di pegang Tang Li. “Apa yang akan kau lakukan?”

__ADS_1


Tang Li tidak menjawab.


Tiba-tiba tubuh Xin Mei merasa lebih hangat dan nyaman.


Dia kemudian memandang tangannya yang di pegang. “Aku tidak memerlukan bantuanmu.”


Dia mendengus dan memandang yang lain. Hingga akhirnya satu jam pun terlewati. Tang Li tetap dengan posisi seperti itu dan memejamkan mata, sementara Xin Mei telah beberapa kali ingin tidur, tapi dia berusaha terjaga.


Tang Li kemudian membuka matanya. Ia kemudian berdiri dan menidurkan Xin Mei dengan pelan-pelan.


Dia memandangnya sebentar lalu ingin pergi, tapi tangan Xin Mei memegangnya dengan cepat. “Bisa kau menjaga diriku semalam ini?”


Ketika menoleh, Xin Mei telah membuka matanya.


Tang Li diam sebentar dan mengangguk. Dia lalu mengambil kursi dan duduk di sampingnya.


Xin Mei tersenyum, kemudian memandang langit-langit rumah. Senyumannya mengandung kesedihan dan kebahagiaan.


Dia lalu bertanya sembari tetap memandang langit-langit, “Kenapa kau selalu menghindariku?”


“Menghindari apa?”


Xin Mei tidak menjawab dan sebaliknya bertanya, “Aku ingin sekali mengetahui kebenarannya, apakah kau menyukaiku?”


Tang Li terdiam.


Melihat ekspresi wajah Tang Li, Xin Mei melanjutkan, “Aku tahu, seharusnya aku tidak menyukaimu dan menganggap yang telah aku alami hanya hal yang tidak berguna, tapi sekarang aku benar-benar yakin, aku telah mencintaimu, meski kau telah membunuh keluargaku. Sekarang aku mengerti, lebih baik hidup bersamamu dari pada harus hidup tanpa ada orang lain lagi di sisiku. Aku juga tahu, semua ini hanya kesalahan pahaman.”


“Kau seharusnya tidak melakukan itu.”


“Tang, apakah kau benar-benar tidak mencintaiku?”


Kini Xin Mei memandang Tang Li dengan penuh kelembutan, sampai-sampai Tang Li tidak tahu harus berkata apa dan tertegun melihatnya.


Detak jantungnya berdegup sangat kencang. Gadis yang ada di depannya sekarang, tidak seperti apa yang dia kenal.


Tang Li terdiam, kemudian dia berdiri dan menatap ke arah jendela. Dia merasa lebih baik ketika angin malam menerpa wajahnya.


“Kita seharusnya tidak membicarakan itu.”


Kedua mata Xin Mei penuh kekecewaan. Dia kemudian memejamkan matanya dan tertidur lembut dan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


Tang Li kembali duduk dan memandang gadis itu. Seharusnya semua akan menjadi mudah setelah tiba di kota Chang’an tapi dengan kehadiran perasaan ini dan kekhawatiran masa depannya, Tang Li merasa tidak berdaya.


__ADS_2