Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 25 : teman lama


__ADS_3

Satu, dua, tiga dan banyak, tetesan air berjatuhan di langit malam, menciptakan suara merdu dan sedikit berisik. Langit cerah di penuhi awan-awan hitam. Sesekali terlihat kilatan putih di langit, seolah-olah langit berkelap-kelip di malam ini.


Seorang gadis bersimpuh di bawah hujan. Dia menunduk lemas, memandang pisau yang kini berada di tangan kanannya yang lemah. Dia mengangkat wajahnya. Ada wajah kekecewaan, perhatian dan kebencian ketika menatap langit. Dia tersenyum penuh kesedihan. Rambut kuning keemasan panjangnya terurai hingga menyentuh lantai.


Dia perlahan-lahan mengangkat pisaunya. Dari bilahnya, dia seolah melihat wajah seseorang pria muda.


Kau telah melukaiku.


Dia menggenggam pisau dengan erat, kemudian memasukkan ke dalam dadanya.


“ kak Du! Apa yang kakak lakukan!? Jangan melakukan itu!”


tepat ketika Du yueliang memasukkan pisau itu, seorang gadis mendatanginya. Tetapi karena jaraknya terlalu jauh, dia tidak bisa menghentikan Du yueliang. Dia hanya bisa berteriak dan menutup wajah dengan kedua tangannya, dan membiarkan payung di tangannya terjatuh.


Tubuh gadis itu bergetar. Dia sedikit mengeram. Gadis itu ketakutan melihat orang bunuh diri. Meski dia telah melihat berbagai pembunuhan, dia tidak bisa melihat seseorang bunuh diri seperti ini, terlebih lagi dia adalah orang yang sangat dihormatinya.


Sedetik kemudian, gadis itu merenggangkan jari-jarinya. Seorang pria berpakaian hitam berdiri di depan Du yueliang memegang pisau itu dengan tangannya. Gadis itu bisa menghela nafas.


“Kenapa kau melakukan ini?” tanya pemuda itu dengan nada dingin.


“Aku ingin bersamamu, aku ingin pergi bersamamu. Jika tidak, tolong tinggal di sini, aku sangat membutuhkanmu. Apa pun yang kau inginkan di sini, aku akan menyediakannya.”


“Tidak. Aku harus pergi.”


“Aku mohon! Jangan pergi! Aku sangat menyukaimu. Kau adalah hidupku, aku tidak bisa hidup tanpa diirimu. Bolehkan aku mengikutimu, aku akan selalu menjagamu.”


Du yueliang mendekati pria itu, kemudian menarik jubah hitamnya. Air matanya mulai mengalir deras.


“Tidak. Aku tidak membutuhkanmu.”


Pria itu dengan dingin berjalan menjauh dan pergi dengan tenang.


“Aku tidak akan melepaskanmu!”


Du yueliang berusaha berdiri dan ingin memeluk Pria itu, tetapi dalam sekejap pria itu muncul 5meter jauhnya. Dia semakin menjauh, menjauh, dan akhirnya menghilang.


“kenapa kau menolakku...!” dalam hujan deras ini dia meneteskan air mata. “Kembalilah.....!”

__ADS_1


“k-kak....”


Gadis itu tidak bisa menahan keprihatinannya. Dia menggenggam erat payung di tangannya, kemudian mendekati Du yueliang dan memayunginya.


Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa untuk menenangkannya. Bibirnya kumat kamit beberapa saat, sebelum akhirnya dia bisa berkata, “kakak, orang itu tidak pantas untuk kakak.”


“Bukan! Dia pantas untukku! Dia hanya tidak mengerti....”


“Kakak, jangan berpikir naif seperti itu! Dia pria jahat. Jika kakak mencintainya, dan dia menolaknya. Dia pantas mati untuk itu! Dia hanya punya kakak. Jika dia tidak kakak miliki, dia harus mati di tangan kakak. Meski dia tidak menjadi milik kakak, setidaknya dia mati di tangan kakak.”


Du yueliang diam sejenak menatap kejauhan. Dia tidak pernah memikirkan untuk membunuhnya. Dia sangat menyukainya, rasa sukanya telah menenggelamkannya di laut yang luas, hingga dia hanya mempunyai satu tujuan, hanya berusaha dan berusaha. Dia tidak pernah memikirkan untuk melukainya, apalagi ingin membunuhnya.


“Apa yang kau bicarakan?”


......................


Dia tidak menyerah begitu saja. Keesokan harinya Dia pergi dari sektenya, dan mencari pria itu. Hatinya sudah di kuasai cinta yang buta.


Gadis itu hanya bisa menyaksikan kepergiannya. Dia tidak mencoba menghentikannya. Semua orang bebas memilih jalannya sendiri.


“Adik junior memang benar. Pria itu harus mati, dan aku harus membunuhnya.”


Du yueliang lalu pergi berpapasan dengan adik juniornya. Sebelum pergi, gadis itu dapat melihat kebencian di kedua matanya.


......................


Hari ini, dia datang untuk mengambil nyawanya. Dia bukan gadis gila kepada Pria itu. Dia datang tidak lain hanya untuk kematiannya. Hanya itu, tidak ada yang lain. Kedua pupil matanya yang bulat dan berkilau, yang memberikan sensasi lembut setiap orang, telah di gantikan dengan tatapan tajam seperti pisau, atau mungkin kedua mata itu di tempa dengan penempaan sehingga menjadi pisau seperti itu.


Rambut kuning emas yang panjang, kini lebih panjang dari tubuhnya, dan sangat indah ketika udara membelainya. Dua liontin indah berwarna ungu berbunyi dentingan yang indah. Dia saat ini berdiri di atas atap pagoda sembilan tingkat. Pakaian merah mudanya memperlihatkan kesan wanita yang sangat manis, dan wajahnya memperlihatkan seorang gadis Kesatria pemberani. Kedua kakinya sedikit menjijit, dan hanya ujung kakinya yang putih itu menyentuh ujung pagoda.


Ketika dia berdiri seperti itu, dia bagaikan seorang dewi perang yang sangat cantik dan indah.


Kedua matanya terpejam, lalu kembali terbuka. Dia sudah lama tidak bertemu dengan pria di depannya. Pria itu sama saja seperti dulu; dingin dan kaku, tidak berubah sama sekali.


Dia sedikit mengangkat wajahnya. Suara yang lembut seperti tangan menyentuh salju dan di saat bersama di hembuskan angin terdengar dari mulutnya, “lama tidak berjumpa, teman lama. Apakah kau baik-baik saja?”


Meski di hadapkan dengan sosok seperti Dewi seperti ini, Tang Li tetap dingin. Sepanjang hidupnya hanya jia-jia yang bisa membuatnya sangat mengubah ekspresi.

__ADS_1


Dia mengangguk sedikit. “Lama tidak berjumpa. Kau semakin tumbuh cantik dan lebih dewasa.”


Du yueliang sedikit goyah. Dia menggertak giginya. “Tentu saja! Ini berkat dirimu. Jika kau tidak meninggalkanku waktu itu, aku tidak akan mungkin mencapai diriku seperti ini lagi. Kau sepertinya tidak berubah sama sekali, apakah kau hanya diam saja selama ini?”


“bisa dibilang begitu. Aku harus pergi dari sini, ada sesuatu yang mendesak.”


“Maaf! Aku tidak akan membiarkannya!”


Du yueliang melambaikan satu tangannya ke depan. Gerakannya sangat pelan dan mempesona.


Boneka raksasa yang ada di belakang Tang Li perlahan-lahan bergerak. Suara kayu bergeser terdengar ketika boneka itu bergerak. Kecepatannya semakin cepat, dan lebih cepat.


Brak!


Ketika pedangnya mulai mendekati Tang Li, pedangnya terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Boneka itu terus bergerak, hingga bilah pedangnya hancur semuanya. Dia berhenti ketika semua bilah pedangnya hancur.


“formasi pedang sungguh hebat. Tingkat ini adalah tingkat tertinggi yang pernah aku lihat. Kau sungguh hebat.”


“Ini hanya hal biasa. Apa kau datang untuk melakukan beberapa pertunjukan?”


“Bagaimana menurutmu? Apakah kau mau melayaninya?”


“Hanya beberapa menit. Aku sedang sibuk hari ini.”


“Tidak masalah.”


Du yueliang menggerakkan telunjuknya menekuk, kemudian jari kelingking dan terakhir jari manisnya.


Bilah pedang baru muncul dari ganggang pedangnya. Bonekanya kembali utuh seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya.


Du yueliang tersenyum dingin. Dia mengangkat tangannya ke atas. Lengan bajunya yang indah turun dengan lembut, memperlihatkan kulitnya yang putih. Dia menggerakkan Telunjuknya ke depan.


Boneka besar di belakangnya menggerakkan kedua tangannya. Pagoda sembilan tingkat terangkat lebih tinggi. Sepuluh boneka gadis muncul di koridor. Masing-masing dari mereka membawa panah, dan siap mulai melepaskan anak panah masing-masing.


Setiap boneka di tangannya, membawa tiga panah di sela-sela jarinya.


“Sebelum aku bertindak lebih lanjut, aku akan memperkenalkan dua bonekaku ini.”

__ADS_1


__ADS_2