Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 12 : sang penari


__ADS_3

Xin mei terdiam. Wajah putih dan lembut yan’er membuatnya tertegun dan terus memandanginya, dia seolah tidak pernah melihat gadis secantik yan’er di depannya, padahal jika dia berdandan, dia tidak kalah cantik dengan wanita di depannya.


“erghm...”


“ah, iya, namaku Li xin mei.”


Setelah lepas dari tertegunnya, xin mei melanjutkan, “anda siapa? Apakah anda wanita dari kahyangan yang di turunkan untuk menolongku?”


Yan’er terdiam beberapa saat sebelum mengangguk ragu-ragu.


“Salam hormat! Maaf atas kelancangan saya sebelumnya.” Xin mei buru-buru membungkuk dan memberi hormat.


Saat berusaha melakukannya, yan’er, mengangkat kedua bahunya, dan suara yang lembut keluar dari mulutnya, “eergm, tidak perlu seperti itu.”


“ah, iya.” Jawab Xin mei setelah beberapa saat terdiam. Dia lalu mengangkat wajahnya. Walaupun dia ingin memberi hormat kepada orang besar di depannya, dia juga tidak ingin membantah perintah orang besar ini. Selain karena orang di depannya terlihat sempurna, dia tidak tahu bagaimana sikapnya.


Sejak kecil, xin mei selalu di ceritakan oleh ibunya mengenai wanita cantik dari kahyangan yang bertemu dengan gadis polos di salah satu desa. Ketika ibunya berkunjung ke gubuk, dia selalu mengakhiri kunjungannya dengan sebuah cerita. Dia bercerita tentang gadis yang kesehariannya mencuci piring dan berjualan kayu bakar yang tidak sengaja bertemu dengan wanita dari kahyangan yang membuat hidupnya berubah saat itu juga.


Dia tidak percaya itu, tapi hari ini, dia percaya dan terkejut apa yang di katakan ibunya benar. Dia beberapa kali mencoba itu tidak percaya, tapi memang benar, di depannya adalah sebuah fakta.


“Aku datang ke sini untuk membebaskanmu dari pria jahat itu. Sebenarnya, aku ingin sekali berbicara banyak kepadamu, tapi aku tidak punya banyak waktu. Tugasku sangat banyak. Mohon maklum. Dan, Jangan sedih untuk itu, aku akan mengunjungimu lain waktu lagi.”


“tidak masalah buatku. Ada seseorang yang menolongku sudah sangat bersyukur. Anda juga adalah orang dari kahyangan, pasti mempunyai banyak tugas, tidak masalah buatku jika anda hanya berkunjung sebentar.”


Xin mei berbicara dengan ceria. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu seseorang dari kahyangan. Ini bagikan mimpi baginya dan sebuah berkah yang tidak terhitung.


Yan’er melambaikan tangannya ke depan. Gerakannya sangat halus dan lembut. Dari gaunnya keluar tiga botol vas bunga kecil, melayang mendekati xin mei.


“ambil.”


“.... Baik.” Xin mei menerima ragu-ragu.


“botol warna merah berisi racun yang sangat mematikan. Kau bisa menuangkannya ke dalam minuman untuk membunuh pria itu. Warna putih berisi Kekuatan yang sangat kuat. Dengan itu, kau bisa meminumnya dan membunuhnya, tapi ini untuk cara terakhir. Itu tidak akan berguna bagi pria kuat sepertinya.”


“dan terakhir, warna hitam berisi cairan yang dapat membunuh seseorang hanya dalam hitungan detik. Hanya dengan menuangkan setetes saja di kulit seseorang, akan membuatnya melebur dan mati, meski itu orang kuat sekali pun. Apa kau mengerti?”


“Iya, aku mengerti. Terima kasih atas bantuannya, aku sangat bersyukur bisa di berikan racun-racun ini.” Xin mei menunduk dan memberi hormat dengan satu tangannya.


“jika ada waktu lagi, aku sangat ingin menyembuhkanmu, tapi aku mempunyai sedikit waktu.” Yan’er memandang prihatin tangan xin mei.


“Tidak apa-apa yang mulia, anda datang sendirian ini untuk saya sudah sangat senang.”

__ADS_1


Yan’er memberi senyum lembut kepada xin mei sebelum akhirnya menghilang.


“Terima kasih! Yang mulia kahyangan!” xin mei memandang kepergian yan’er di langit dan melambaikan tangan kirinya. Dia tersenyum dan sangat senang.


Di lain sisi, guru tang li, liu Fang, tersenyum dingin melihat kepergian yan’er.


“Memiliki kekuatan sampai seperti itu, beraninya masuk ke dalam rumahku. Ingin mencari mati.”


Liu Fang tersenyum dingin. Dia berdiri di koridor sambil menatap langit malam kemudian pergi.


......................


Setelah bertemu dengan yan’er, xin mei pergi ke kamar dengan perasaan gembira. Dia menyembunyikan tiga botol racun di dalam bajunya. Tanpa mandi, dia pergi tidur.


Ke esokan harinya, dia seperti biasa membuka jendela, menyambut pagi hari dan cahaya matahari yang cerah. Perasaan gembira menyinari hatinya kali ini. Setelah membuka jendela dengan kedua tangannya, dia menjadi terkejut dan heran, tangan kanannya sudah sembuh dan seperti tidak terluka sama sekali sebelumnya.


Dia menjadi keheranan dan bingung memandang tangan kanannya lama-lama. “ ini pasti ulah orang dari kahyangan itu.”


Dia memejamkan mata dan bedoa kepada sosok yang di duganya dari kahyangan itu.


Tanpa berpikir lebih jauh lagi, xin mei melompat keluar. Kali ini dia tidak akan melakukan kecerobohan lagi. Dia melompat, berlari di atas genteng kemudian melompat dan berputar di udara, menyebabkan han fu putihnya berterbangan indah di udara.


“asyik! Aku bisa melakukannya!” dia kemudian memandang pohon bunga persik di depannya. Dia tersenyum.


Dia berlari mendekat, kemudian berusaha memanjatnya.


......................


Cahaya matahari orange itu menyinari taman rumah hakka milik liu fang. Burung-burung dengan damainya pulang melintasi langit yang indah di sore hari.


“kita akhiri sampai di sini,” liu fang berucap lalu menghela nafas. Sudah seharian dia menjelaskan teknik yang akan di lakukan tang Li. Dia menjelaskannya sangat detail dan penuh kesabaran. Dia ingin tang li mengetahui semuanya.


Meski dia tahu tidak sampai seperti itu, dia ingin menyampaikan apa saja yang dia milikinya. Seorang guru harus memberikan semua pengetahuan yang dia punya.


Setelah melihat tang li mengangguk, liu fang menoleh ke arah jendela, memandang xin mei yang masih duduk di atas pohon. Gadis itu naik terlalu tinggi dan menikmati waktu yang lama di sana, namun wajahnya masih sangat gembira.


Melihat kecantikan gadis itu, membuatnya teringat dengan sang penari. Wajahnya yang tirus seperti telur dan hidung mancungnya memiliki kesamaan dengan wanita sang penari. Yang paling membuatnya teringat, adalah kedua kakinya yang putih dan lembut. Bentuknya yang sempurna; tidak terlalu panjang dan pendek, membuatnya tampak indah dan anggun.


Penari itu akan menari. Melangkahkan kakinya dengan mantap di atas tanah membawa tongkat dengan ujung di ikat selendang merah. Dengan tatapan tajam, dia bergerak dengan lincah. Kadang-kadang dia akan memutar tongkat itu, atau sekedar mengayunkannya ke samping.


Kelancaran dan keindahan gerakannya membuat Liu fang menyukainya. Apalagi gelang di kakinya yang selalu berbunyi ketika melangkah, menciptakan alunan nada yang teratur, membuat dia melompat dari persembunyiannya dan menikmati pertunjukan sang penari yang memakai gaun ungu menawan itu.

__ADS_1


Lambat laut sang penari menyadarinya dan mendatanginya.


“alangkah senangnya jika anda menikmati pertunjukan saya.” Wanita itu mendekat.


Liu fang tertegun. Kecantikan wanita itu membuatnya gila. Dia menyukai bulu matanya. Rambut hitam berkilau seperti seorang gadis yang pernah dia lihat di lukisan terindah, bahkan lebih indah dari itu.


“Tuan, tuan.” Wanita itu memanggil liu fang hingga membuatnya terkejut.


Wanita itu tersenyum sebelum akhirnya berkata, “tuan, apa anda menikmati pertunjukan saya?”


“Iya, iya.” Liu fang menjadi gugup.


“anda dari mana?”


Maka bercakap-cakap lah mereka hingga ke tempat sang penari tinggal. Sepanjang perjalanan, mereka saling mengenal satu sama lain. Hanya dalam beberapa menit saja, mereka sudah sangat akrab. Namanya he xian. Dia tinggal bersama adiknya. Ayah dan ibunya sudah meninggal.


Mata pencariannya bertani dan menjadi penari. Adiknya masih kecil, dan perlu kasih sayang he xian. Karenanya, dia harus bekerja keras demi menghidupi adiknya itu.


“kau menari dengan sangat indah.” puji liu fang.


Meski di puji, wanita ini kebal akan pujian; ekspresinya datar, bahkan dia tidak menatap liu fang, tapi dia menjawab, “terima kasih. Tapi bagi saya, itu tidak indah, bahkan terbilang jauh dari kata indah itu.”


“mengapa?”


“bukankah seekor burung lebih tahu tentang dirinya?”


“.......”


Keheningan terjadi di antara mereka berdua. Liu fang hanya bisa diam, dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Tapi he xian segera mencairkan suasana.


“maaf, jika itu membuat anda tersinggung. Tapi, apa yang saya katakan memang ada benarnya, saya tidak puas dengan pencapaian saya, dan saya selalu berusaha mencapai lebih tinggi lagi dan terus berusaha.”


Buru-buru dia melanjutkan, “memang benar, hidup dengan ambisi itu sangat menyenangkan, tapi saya terlalu ambisius yang lambat laun akan menghancurkan diri saya sendiri.”


“lupakan saja. Anda dari tempat yang jauh,' kan? Jika saya tidak salah tebak, anda memiliki kekuatan yang sangat kuat. Anda adalah salah satu orang yang akan di takdirkan menjadi orang hebat.”


“Mengapa?”


“karena anda sangat ambisius dan di tambah memiliki talenta. Jika anda sudah menjadi sangat kuat, saya akan datang ke rumah anda dan menjadi istri anda.”


Mendengar itu, liu fang menjadi terkejut. Dia tidak pernah menduga kata-kata itu keluar dari mulut wanita di depannya. Tapi dia tidak bisa menolaknya, dia menyukai wanita di depannya.

__ADS_1


“aku akan menunggumu.”


__ADS_2