Gadis Bordil

Gadis Bordil
Chapter 46 : pedang petir ke sembilan


__ADS_3

Setelah mendengar pertanyaan itu, barulah kedua orang yang ada di dalam ruangan itu menyadari seseorang.


Tapi Tang Li tetap memandang jendela, seolah dia tidak mendengarnya.


Sementara Xin Mei dengan wajah sedih mengatakan bahwa dia sudah mulai lebih baik dari sebelumnya.


“Makan bubur ini. Dengan gizi yang terkandung di dalamnya, kau akan cepat sembuh.”


“Emm, terima kasih Jia.”


Jia Hu mengangguk dan keluar.


Sepanjang hari ini Xin Mei beristirahat di ranjang dan makan bubur yang di buatkan Jia Hu. Dia kadang-kadang berbicara berbagai hal dengan Tang Li. Meski pria itu terlihat tidak peduli dengannya, dia tahu pria itu sangat perhatian kepadanya. Jika dia tidak peduli dengannya, pria itu tidak akan mau berdiri dan menunggunya.


Keesokan harinya, mereka kembali melakukan hal yang sama. Kejadian ini berlangsung selama 3 hari. Saat hari ke-tiga, Xin Mei merasa lebih baik. Dia dapat berdiri dan berjalan perlahan-lahan, tapi dia belum bisa berjalan jauh.


Sebagai gadis desa tubuh dewasa dan jiwa anak kecil, dia tidak peduli dengan sakitnya. Dia telah bosan beberapa hari diam di ranjang saja dan melihat kupu-kupu dan cahaya matahari. Dia ingin pergi melihat keluar.


Saat dia berjalan beberapa langkah, ruangan kamarnya terasa berputar-putar, dan dia akhirnya terhuyung-huyung, tapi Tang Li dengan cepat merangkulnya.


“Terima kasih.”


Tang Li membawanya duduk di bawah pohon. Tidak jauh dari sana, Jia Hu sedang membersihkan beras dari kotoran-kotoran dan batu dengan lampid. Suara-suara yang di timbulkannya meminta alunan nada.


Xin Mei menyukainya. Tidak lama kemudian dia mulai bosan, lalu memandang ke arah lain, di mana kupu-kupu biru berterbangan.


“Tang Li, aku menginginkan kupu-kupu itu.” Xin Mei menunjuk di mana kupu-kupu berada.


“Aku tidak mau.”


Xin Mei kesal mendengarnya. “Jika kau tidak mau, biarkan aku yang melakukannya.”


Xin Mei ingin bergegas berdiri, tapi dia berhenti Ketika Tang Li menghentikannya. “Diam di sini, aku akan menangkapnya.”


Xin Mei tersenyum. “Aku akan senang jika kau dapat menangkapnya.”


Tang Li kemudian pergi menangkap kupu-kupu biru yang ada. Dia berjalan pelan dan menggapai kupu-kupu itu dengan mudah. Tidak seperti apa yang di lakukan Xin Mei, yang harus mengendap-endap untuk mendapatkannya. Hal itu membuat gadis itu sedikit kesal.


Setelah mendapatkannya, Tang Li kemudian masuk ke dalam mengambil kotak yang sebelumnya di gunakan Xin Mei. Dia memasukkan semua kupu-kupu ke dalam kotak, kemudian kembali keluar.


“Ini.”


Xin Mei dengan senang hati menerimanya. Dia menatap dengan mata berbinar-binar kupu-kupu itu. Tidak beberapa lama, dia mendapati sesuatu di dalam kupu-kupu itu dan berkata kepada Tang Li. “Tang Li, kupu-kupu itu tidak memiliki satu kaki. Kasihan sekali dia.”


Tang Li yang memang dasar sangat dingin tidak mempedulikan apa yang di katakan Xin Mei. Dia hanya mengangguk. Namun Xin Mei juga tidak peduli dengan sikap Tang Li, dia telah mengenal sikap pria tidak peka ini. Sehingga dia terbiasa dengan sikap ini


Tapi dia tetap percaya, Tang Li sangat melindunginya.

__ADS_1


Setelah puas memandang kupu-kupu itu, dia kemudian memandang Jia Hu yang memisahkan beras dari bijinya. Suara yang di hasilkan memiliki nada. Wanita itu kadang-kadang mengganti dari tangan kanan ke kiri untuk melakukan tugasnya. Dia menikmati Bagaimana wanita itu melakukan pekerjaannya.


Tiba-tiba Tang Li berdiri. “Aku pergi sebentar.”


“Kau tidak boleh lama-lama.”


Tang Li mengangguk dan pergi dari sana.


Xin Mei menatap pria itu berjalan pergi menuruni Bukit. Setelah dia tidak terlihat, dia kembali memandang Jia Hu, tapi dia sekarang sudah menyelesaikan tugasnya dan mendekati Xin Mei.


“Jia Hu, terima kasih telah membuatkanku bubur setiap hari.”


“Tidak apa-apa Mei, aku sudah terbiasa melakukannya. Sebagai tuan rumah, aku seharusnya melayani kalian dengan baik.”


Dia kemudian duduk di samping Xin Mei. “Apa kau sudah merasa lebih baik?”


“Iya, dan ini berkata bubur yang telah kau berikan. Jika tanpa itu, aku mungkin sekarang masih berada di ranjang.”


Jia Hu tertawa renyah, memperlihatkan bentuk wajah yang sangat dewasa dan juga cantik. “Xin Mei suka bercanda.” Dia kemudian berhenti tertawa dan bertanya dengan serius, “Xin Mei, apakah kau benar-benar mencintainya?”


Xin Mei terkejut, kemudian mendesah. Dia lalu memandang ke bawah bukit, yang di mana itu tempat Tang Li duduk menikmati desiran angin. “Aku tidak tahu, apakah aku benar-benar mencintainya. Aku sulit menerima apa yang telah dia lakukan kepadaku dan keluargaku. Mengingat kejadian itu, selalu membuatku membenci, ingin membunuh dan ingin sekali pergi jauh darinya. Tapi ketika aku pergi atau dia, aku merasa merindukannya dan tidak ingin melepaskannya, bahkan aku tidak mau menikah dengan orang lain selain dia. Jika nanti ada di antara kami yang terlebih dahulu mati, aku ingin dia yang terlebih dahulu mati, agar dia tidak menangisiku.”


“Xin mei, kau benar-benar telah mencintainya, tapi kau berusaha untuk tidak mencintainya. Namun hati manusia tidak pernah berbohong, kau akan mencintainya, meski dia telah membuat keluargamu hancur.”


“Hu benar, aku berusaha memaafkan dia, meski aku tahu, semua ini berawal dari ayah dan ibu, kemudian aku menjadi imbasnya.”


“Aku tidak tahu. Itu terjadi begitu saja. Tang Li seperti memiliki daya tarik yang kuat, yang membuatku ingin bersamanya. Mungkin karena dia yang selalu bersamaku dalam keadaan apa pun.”


Jia Hu tersenyum nakal. “Xin mei, sudah beberapa kali kau berciuman dengannya?”


Seperti ada api besar di wajah Xin Mei; wajahnya tiba-tiba memerah seperti tomat. Jika Jia Hu bertanya tentang itu, mungkin tiga sampai empat kali dia telah berciuman dengannya. Dia tidak mau menjawabnya, itu sangat memalukan baginya.


Jia Hu tertawa. “Xin mei ternyata sudah pernah berciuman.”


“Jia Hu, jangan membuatku malu.”


......................


Pangeran Lei Shi duduk di meja kerjanya. Dia telah duduk dari pagi hingga sekarang memikirkan gadis cantik yang pernah menjadi temannya. Dia berpikir sepanjang pagi itu, mengapa gadis itu tidak kunjung datang menemuinya. Dia yakin surat yang di kirimnya telah di terima olehnya.


Sudah empat hari berlalu, Gadis itu belum juga datang. Dia telah beberapa kali mengunjungi di mana lokasi mengajakknya bertemu. ‘Apakah Xin Mei melupakannya?’ dia bertanya, kemudian menggeleng. ‘tidak mungkin. jika dia lupa, seharusnya dia bisa datang lain hari. Tapi jika dia menganggap aku tidak datang lagi.... Ah.... Seharusnya aku mengirimkan surat lagi untuknya.’


Pangeran Lei Shi kemudian mengambil kertas dan tinta, kemudian mulai menulis.


Dia telah mengetahui di mana Xin Mei berada, tapi karena ada Tang Li, dia tidak berani berurusan dengannya. Itu sama saja dengan berurusan dengan kematian.


Dia kemudian berdiri dan mendekati jendela. Ketika ingin memanggil burungnya, tiba-tiba seorang wanita berkata, “Apa kau menyukai Gadis itu?”

__ADS_1


Lei Shi dengan cepat berbalik. Di belakangnya sudah ada wanita berpakaian putih berdiri. Kehadirannya tanpa suara, gerutu ataupun tanda-tanda, membuat pangeran itu terkejut dan mengangkat alisnya.


Meski begitu, gadis itu sangat cantik dengan pakaian putih yang terlihat suci dan tubuh langsingnya. Ekspresinya begitu lembut, seperti ketika butiran-butiran hujan berjatuhan untuk pertama kalinya. Dia tidak lain adalah Ming Na, gadis yang sering Xin Mei sebut sebagai wanita dari khayangan.


Walaupun seperti gadis cantik biasa, aura yang kuat terpancar darinya, yang menandakan jika gadis itu bukan orang sembarangan.


“S-Siapa kau?!”


Aura itu, membuat Lei Shi takut. Dia takut jika orang itu datang untuk membunuhnya. Sebagai pangeran mahkota, nyawanya sangat terancam dan orang-orang kekaisaran ingin sekali membunuhnya, khususnya bagi saudara-saudaranya yang ingin merebut posisinya.


Ming Na tidak menjawabnya. “Jika kau menginginkan gadis itu, aku akan membantumu. Gadis itu akan menjadi milikmu selamanya.”


“Li Xin Mei?”


“Tidak hanya itu, kau akan juga akan mendapatkan perlindungan dariku.”


Lei Shi kemudian berpikir sebentar. “Bagaimana jika kau menipuku?”


Ming Na berkata serius, “Aku tidak suka menipu. Syaratnya hanya satu, pedang petir ke sembilan.”


Lei Shi terkejut. “Pedang petir ke sembilan?” dia kemudian berpikir sebentar.


Pedang petir ke sembilan adalah Pedang warisan kaisar terdahulu yang menjadi kaisar pertama, dan terus di wariskan hingga sekarang. Namun setelah beberapa generasi, pedang itu akhirnya di simpan di kota dengan penjaga yang sangat ketat. Jika ada orang yang berani mencoba mencurinya, maka hanya ajal yang akan mendatanginya.


Pedang itu memiliki kekuatan yang sangat mengerikan. Kaisar pertama menggunakannya untuk membunuh dan menghancurkan musuh-musuhnya.


“Jika kau tidak mau, tidak hanya gadis itu yang tidak kau dapatkan, mungkin juga tahtah kekaisaran. Dengan pedang itu sebagai syaratnya, aku akan selalu melindungimu dan menjamin semua yang kau inginkan,” kata Ming Na mempengaruhi.


“Kau menipuku.”


“Aku tidak menipumu. Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Tapi aku harap keputusanmu tidak membuatmu menyesal nantinya.”


Ming Na berbalik dan berjalan pergi.


Lei Shi berpikir sebentar, kemudian menghentikan Ming Na. “Aku menyetujuinya.”


Ming Na berhenti dan tersenyum penuh kepuasan.


......................


Para penjaga telah siap siaga berdiri di depan gerbang yang menjadi tempat penyimpanan pedang petir sembilan.


Lei Shi berjongkok di atas pohon memakai pakaian hitam dengan cadar menutupi wajahnya. Sementara Ming Na tetap memakai gaun putihnya dan berdiri. Baginya tidak ada yang perlu di sembunyikan dalam melakukan kejahatan ini.


Lei Shi menari pedangnya bersamaan dengan Ming Na.


Mereka saling pandang dan mengangguk, kemudian melompat ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2