
An Hua tentu tidak membiarkannya begitu saja, dia menarik lagi busurnya dan melontarkan anak panahnya dengan sangat cepat.
Dalam sekejap, lima anak panah melesat dengan kecepatan tinggi, tetapi dengan arah yang berbeda.
Tang Li mengerti ini, dia langsung mengeluarkan lima pedang terbang dan menghalangi setiap gerakan-gerakan anak panah itu.
Pedang melawan anak panah tentu saja yang menang akan pedang. Anak panah An Hua hancur setelah mengeluarkan dentingan keras di udara.
Anak panahnya remuk, tetapi ujung pedang Tang Li tumpul akibat benturan itu.
Tang Li sedikit kecewa, tapi tidak sedikit pun terlihat di wajahnya. Sementara, An Hua merasa sangat kesal. Dia kemudian melakukan gerakan yang sama.
Kali ini, 10 anak panah melesat dengan cepat dan berwarna hitam gelap.
Ketika melesat di udara, itu bagaikan kembang-kembang api hitam yang aneh, apalagi dengan lima pedang Tang Li yang bagaikan petir- petir putih.
Tang Li melempar satu pedangnya yang berwarna putih. Ketika itu di lakukan, tiba-tiba pedang itu berubah menjadi lima. Kemudian, menyerang anak-anak panah.
Lagi-lagi An Hua merasa kecewa. Ketika dia ingin melakukannya lagi, tiba-tiba Tang Li muncul di belakangnya dan langsung mengayunkan pedang Hitamnya.
Untungnya An Hua langsung berbalik dan menghadangnya. Dia dapat merasakan sesuatu yang sangat besar tengah menghadangnya kali ini. Pedang yang ada di depannya sangat kuat.
Sementara itu, pedang-pedang Tang Li bergerombol mulai mendekatinya dari belakang.
Dia tidak punya pilihan lain selain menghindar. Dalam kecepatan tinggi, dia tiba-tiba muncul di tempat yang lainnya. Tetapi, pedang-pedang tang Li memburunya ke mana pun. Pedang-pedang itu satu persatu tertanjab di tanah.
Hingga pedang terakhir tertanjab, membuat mereka terpisah jauh.
Ekspresi wajah An Hua lebih serius dan penuh kebencian menatap Tang Li dari jauh. Beberapa buih keringat keluar dari pelipisnya.
Dia kemudian mengeluarkan belatinya dan tersenyum dingin kepada Tang Li.
“Mengapa kau menyelamatkan gadis dari orang yang telah membunuh keluargamu?”
“Aku tidak harus menjawabnya...”
Tang Li mengulurkan tangannya ke depan dan membuat tangannya seperti mencengkeram sesuatu.
__ADS_1
Semua pedang secara bersamaan melesat ke arah tangannya, dan dalam sekejap menjadi satu pedang utuh kembali.
Tang Li kemudian berkata lagi, “ berikan penawarnya sekarang.”
“Aku tidak mempunyainya.”
“Maka, marilah....”
Tang Li bergerak menuju An Hua dengan sangat cepat, lebih cepat dari sambaran petir.
An Hua mengeluarkan kembali busurnya, kemudian menyerang Tang Li dengan anak-anak panahnya. Namun, Tang Li dengan mudah menghindarinya dan memotong-motongnya menjadi dua bagian.
An Hua menjadi semakin geram. Dia kemudian memfokuskan pandangannya ke arah dahi Tang Li dan perlahan-lahan menarik busurnya yang sudah di pasang anak panah.
Semakin di tarik, anak panahnya di selimuti aura hitam seperti petir menyambar di sekitarnya.
“Rasakan i....”
An Hua perlahan-lahan melepaskan anak panahnya, tetapi, tiba-tiba Tang Li muncul di belakangnya dan menusuk jantungnya.
An Hua terjatuh, dan darah keluar dari tubuhnya yang berwarna hijau dan hitam.
Tang Li tidak tertarik dengan keanehan itu, dia kemudian menghilang dan berdiri beberapa meter dari An Hua. Dengan dingin berkata, “keluarkan semua yang kau miliki...”
Satu aliran energi berwarna hitam tiba-tiba muncul di sekitar tubuh An Hua, melambung tinggi seperti Pilar hitam. Kemudian, bertambah satu dan satu lagi. Tiga pilar hitam muncul di sekitar tubuh An Hua dengan bentuk segitiga.
Lalu, tubuh An Hua di selimuti energi berwarna hijau, dan perlahan-lahan lenyap.
Tidak lama setelahnya, muncul perlahan-lahan cairan mengepul dari sana, kemudian membentuk wajah, tangan dan kaki manusia. Lalu, cahaya hijau menyala sangat terang. Dua sayap putih terlentang. Dan, memperlihatkan sosok gadis berpakaian hijau dengan dua sayap putih indah terbang membawa satu tongkat putih panjang.
Sosok itu kemudian memandang Tang Li dengan tatapan tajam, kemudian turun.
“kau menunggu ini?” tanya sosok itu.
Tang Li mengangguk. “Sosok anak kecil tadi, ternyata bukan wujud aslimu. Ternyata apa yang aku duga memang benar.”
An Hua tersenyum, kemudian berkata, “bagaimana mungkin aku berwujud seperti anak kecil seperti itu. Tetapi... Itu juga wujudku ketika kecil.”
__ADS_1
Dia kemudian menghela nafas dan memandang Xin Mei yang sudah tergeletak, lalu memandang Tang Li kembali. “ Aku merasa bersalah telah melakukannya... Tetapi... Aku tidak punya pilihan lain lagi untuk mengakhiri ini semua. Tentunya, kau tahu apa yang aku bicarakan.”
“Dia bukan gadis biasa.”
An Hua mengangguk. “Oleh karena itu, kita hanya ada dua pilihan, hidup atau mati.”
An Hua menancapkan tongkatnya ke tanah, menyebabkan retakan panjang seperti bintang di sana. Kemudian, seekor elang raksasa berwarna hijau muda keluar dari sana. Bulu-bulunya sangat indah yang di campur dengan warna ungu di sekitar ujung-ujungnya. Mahkluk itu berteriak dan mengepakkan sayapnya seperti mendeklarasikan bahwa dia telah muncul. Kemudian memandang tajam ke arah Tang Li.
An Hua berdiri di atas kepalanya juga memandang Tang Li. “bunuh dia...”
Elang itu kemudian meloncat dan terbang ke atas langit, mengambung tinggi dan berbunyi beberapa kali. Kemudian menukik ke bawah dengan kecepatan tinggi dengan mengincar targetnya.
Tang Li tidak diam saja; dia menyatukan kedua gang pedangnya dan melesat ke atas langit dengan keseriusan yang sangat tinggi.
......................
Xin Mei lagi-lagi berdiri di antara awan-awan. Tetapi saat ini dia sadar sepenuhnya. Dia merasa bingung dengan apa yang terjadi, kemudian berjalan-jalan sembari memikirkan mengapa dia berada di sini.
Tidak lama setelahnya, dia melihat dua gerbang besar, yang satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna merah. Xin Mei dapat merasakan dua aura berbeda dari sana; satu terasa sangat menyegarkan dan suatunya lagi terasa sangat panas.
Tetapi, yang paling membuatnya tertarik sekaligus terkejut, di depan gerbang berwarna putih ada seorang wanita yang tersenyum menyapanya.
Dia tidak tahan melihat wanita itu, dan berlari kemudian memeluknya. Lalu menyebutnya beberapa kali sebagai ibunya.
Ibu Xin Mei mengusap-usap rambut gadisnya yang sangat keras dan kasar dari sebelumnya. Dia mengetahui apa yang terjadi dan menduga itu akan terjadi kepada putrinya itu. Tetapi, dia tidak mau bertanya, apa yang di lakukan penjahat itu kepada putrinya selama ini, dia tidak tahan mendengarnya.
Namun, dia tidak mau jika anak gadisnya mati begitu cepat tanpa mendapatkan kebahagiaan sekali pun dalam seumur hidupnya.
Sayangnya, dia tidak tahan ingin bertanya mengapa putrinya bisa ada di sini.
“Aku....” kemudian ingatan-ingatannya sebelumnya pun terlihat di kepalanya. “aku di bunuh.” Nada Xin Mei merendah, dia sebenarnya tidak mau menjawabnya.
Ibu xin mei mengerti, dan berkata, “apa orang itu....” ibu Xin Mei menjadi lebih penasaran.
Xin Mei diam sejenak dan bertanya, “Apakah ibu tahu siapa pelakunya?”
Ibu Xin Mei ragu-ragu mengangguk. “Ibu yang pernah merawatnya...”
__ADS_1