Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 10 : hakka House


__ADS_3

“k-kau.” Xin mei berjalan mundur. Dia tidak ingin merasakan sakit di tusuk pedang lagi. Rasa sakit itu sungguh menyakitkan, dan tidak bisa di bayangan bagaimana rasanya.


Namun sayang sekali, kakinya terpeleset dan dia jatuh.


Dengan tatapan dingin, tang li menunjuk leher xin mei dengan pedangnya.


“jika kau banyak bicara, aku khawatir, aku tidak bisa mengendalikan tangan berdarah dinginku ini.”


Kedua mata xin mei bergetar hebat, dia sungguh takut hari ini. Dia melihat kedua mata tang li memerah dan penuh hawa dingin.


“A-apa kau tidak menjualku?”


“Aku akan memikirkannya nanti, tapi sekarang, aku hanya ingin kau diam dan mengikutiku hari ini.”


Tang li berbalik dan memasukkan kembali pedangnya.


Xin mei menghela nafas dan berusaha berdiri. Ketika berdiri, suara parau terdengar dari perutnya.


Wajahnya memerah, dan menunduk sebelum akhirnya berkata, “ tang li, a-apa kau punya makanan? Aku lapar.”


Tang li berbalik.


“ini!”


Tang li melempar sekantong buah-buahan.


“T-terima kasih.”


......................


Tujuan mereka selanjutnya adalah puncak gunung persik. Butuh beberapa hari untuk mencapainya. Tang li pergi ke sana untuk berlatih bersama gurunya. Sudah beberapa lama dia meninggalkannya, itu sudah tidak dapat di ingatnya.


Dia sungguh merindukan gurunya.


Sepanjang perjalanan, xin mei mulai lebih berani, bahkan dia berani meminta tang li untuk membelikan makanan.


Jika tang li tidak menerimanya, dia akan menangis dan berteriak meminta tolong.


Oleh karena itu, tang li tidak bisa mengelak, dia hanya bisa menerimanya dan menuruti apa yang di inginkan xin mei.


Setelah di tempat sepi, tang Li selalu mengancam akan membunuh xin mei. Awalnya ini sungguh bekerja, tapi setelah beberapa lama diulang-ulang , membuat xin mei tidak takut, bahkan jika kulit xin mei tergores.


Xin mei juga tampak lebih berani dengan tang li. Nada bicaranya jarang gugup.


Dia akan berteriak untuk melakukan apa saja yang di inginkannya, dan menyuruh tang li melepaskannya.


Tang Li tidak punya pilihan lain selain mencari cara lain, itu tidak lain adalah menelanjanginya dan mempermalukannya.


Hal ini sungguh bekerja, xin mei sangat takut dan menuruti apa yang di perintahkannya, tapi sayangnya tidak seperti sedia kala.


Selain itu, xin mei juga melakukan berbagai hal kekanakan seperti, Dia akan mandi di sungai, mengejar kodok di rawa-rawa, menangkap kupu-kupu. Gadis itu juga melakukan kenakalan, seperti mencuri pakaian, manisan, mengacaukan berbagai barang dagangan.

__ADS_1


Ketika puas dia akan berlari dan tertawa. Di sinilah tang li yang menjadi biaya ganti rugi.


Walaupun tang li berdarah dingin, dia tidak akan melakukan hal sembarangan, maka dia hanya bisa menerimanya.


Sebagai kompensasi atas kenakalannya, xin mei tidak di berikan istirahat dan di beri makan sedikit, membuatnya lemah setelah berjalan cukup jauh.


Perlakukan tang li lebih lembut dari sebelumnya, entah apa yang merasuki tubuhnya, dia menjaga kesehatan xin mei. Mungkin dia takut jika xin mei lagi-lagi menjadi bebannya.


“Tang li, aku tidak sanggup lagi untuk berdiri. Tinggalkan saja aku di sini, aku tidak akan ke mana-mana sepengetahuanmu.” Seru xin mei sambil duduk di undakan yang menuju pegunungan puncak persik.


Pegunungan itu sangat tinggi. Udara di atas sangat dingin. Embun-Embun akan terlihat sangat indah ketika malam tiba.


Di sana ada pohon bunga persik yang sangat tua dan besar. Umurnya sangat tua dan indah ketika berbunga saat ini. Dahan-dahan menjuntai dan di topang oleh bambu untuk menjaga ke asriannya.


Di bawahnya ada rumah hakka. Rumah yang mengitari pohon itu.


Rumah itu memiliki dua lantai, dan sangat besar.


Lalu di depannya ada gerbang dan undakan berkelok-kelok menuju ke bawah dengan hiasan pohon-pohon Persik di sisi-sisinya.


Jika orang berkunjung, mereka akan menganggap orang yang memiliki rumah itu sangat kaya.


Meski xin mei sangat menyukai bunga persik, tubuhnya lebih penting dari apa yang ada di dunia ini.


Tang li menghela nafas.


“jika kau tidak bangun, aku akan menelanjangimu.”


“apa yang kau tahu tentang diriku!” tang li memandang Xin mei dengan ekspresi marah.


“m-maaf.” Xin mei menunduk dan mengangkat kembali wajahnya, “aku lelah. Kau juga sedikit memberiku makan dan istirahat. Kita tinggal saja di sini sebentar jika kau tidak mau meninggalkanku.”


“Tidak! Tinggal sebentar lagi, kita akan tiba.”


“aku tidak bisa. Jika aku bisa, aku tidak akan melakukan hal ini.”


“pergilah, aku akan menunggumu di sini.”


Tang li mengertakkan giginya. Dia mendekati xin mei. Menyangga leher dan kaki xin mei kemudian mengangkat.


“k-kenapa?” xin mei tertegun. Dia tidak pernah menyangka tang li membopongnya. Dia tertegun memandang Tang li. Rambutnya menjuntai ke bawah.


Dia merasakan bagaimana tubuh pria ini, pria biadab. Dia pikir tubuhnya akan dingin sedingin tatapan dan gerakannya tapi yang dia rasakan sangat hangat dan di penuhi energi kehidupan.


“Jika kau memandang wajahku dengan tatapan seperti itu, aku akan menyeretmu ke atas.


“ah, tidak.” Dia memandang ke depan. Wajahnya merona. Dia tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki.


Kenapa dia selembut ini? Apa yang ada di atas sana? Apa dia menjualku? Apa ini yang di sebut rumah bordil.


Pikiran-pikiran negatif menghantuinya.

__ADS_1


“tang li.” Panggilnya setelah beberapa saat.


Tang li menatapnya.


“Kenapa kau melakukan ini?”


Tang li mengerutkan kening.


“Ah, maaf, jika aku s—”


“Bukankah kau yang kelelahan! Aku sudah berbaik hati membawamu ke atas. Kau hanya perlu diam dan duduk di sana.”


“b-baik.”


Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba.


Wajah xin mei yang merona tiba-tiba berubah menjadi kekaguman yang luar biasa ketika menatap rumah hakka dan pohon persik yang besar di depannya.


Dia kemudian duduk.


“kenapa?” tanya tang li.


“Aku lelah dan lapar, jika kau berkenan, bisa kau memberiku sedikit makanan?”


Tang li melempar sebuah kantong kepada xin mei.


“Wahh... Ini buah yang sehat! Terima kasih.”


Setelah membukanya, kedua mata xin mei bersinar terang dan mulai mengambilnya. Wajahnya tersenyum kepada tang li. Wajahnya sangat cantik dan manis. Apalagi angin menerbangkan beberapa helai rambut di depan wajahnya, itu sangat indah dan mempesona.


Tang li duduk di sampingnya.


“kenapa kau tidak masuk?” tanya Xin mei sambil makan.


“aku akan masuk bersamamu. Setelah beberapa kali kenakalanmu yang seperti itu, aku harus mengikat tanganmu.”


“Begitu? Ah sungguh sangat di sayangkan. Jika kau memberiku kebebasan, aku pasti akan memanjat pohon itu.” Xin mei menunjuk dengan wajahnya.


“kau sangat aneh dan kekanak-kanakan.”


“Apa ada yang salah dengan itu?”


Tang li tidak menjawab.


Setelah selesai makan mereka akhirnya masuk.


Sepanjang makan, tang li memperhatikan wajah xin mei. Entah kenapa dia menikmati wajahnya ketika dia makan. Gadis yang polos dan memiliki senyuman yang mempesona.


Rumah hakka itu sangat besar, dan mengelilingi pohon persik, itu ibarat seperti Colosseum roma yang dari luar. Rumah itu memiliki satu pintu masuk.


“Guru, aku tiba.”

__ADS_1


Tang li mengetuk pintu dengan ganggang pintu yang ada.


__ADS_2