Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 30 : danau kecil yang indah


__ADS_3

“bibi...!” xin mei terbangun dengan kondisi buruk di pagi hari. Tubuhnya di penuhi keringat lengket, pakaiannya penuh robekan dan kakinya terluka akibat terbakar.


Ketika dia terbangun, dia menyadari dia berada di tempat yang tidak di kenalnya sama sekali. Hamparan rumput pendek tumbuh subur di bawahnya. Danau kecil terlihat di depannya. Air danau sangat jernih, dan di penuhi bunga teratai yang sedang berkembang indah saat ini. Bunga-bunga yang harum membuat para lebah dan serangga lain mengunjunginya.


Cahaya matahari kuning sangat indah dan menyejukkan muncul dari ufuk timur. Xin Mei dapat merasakan kehangatan dari cahaya matahari itu.


‘apakah itu mimpi? Tidak, itu bukan mimpi. Aku harus menolong bibi.” Xin mei bergegas berdiri. Dia berjalan mendekati danau dengan tertatih-tatih, berjalan di antara rumput yang mulai menjatuhkan tetesan embun.


Setelah tiba di pinggir danau, dia menjadi bingung, di mana letak rumah itu? Dan dari mana dia harus berjalan.


Dalam kebingungan beberapa detik, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya, “ayo kita pergi.”


Xin Mei menjadi marah dan benci mendengar suara itu. Itu tidak lain adalah suara orang yang membuatnya menderita dan tersiksa seperti ini.


“Pergi ke mana!? Aku harus menyelamatkan bibi He Xian terlebih dahulu!” Dia kemudian berjalan menelusuri danau dan ingin menyeberang ke seberang.


Namun, sebelum dia melangkah tiba-tiba Tang Li berkata yang membuatnya terkejut. “Dia telah mati.”


Wajah xin mei menjadi gelap. Dia mengepal erat kedua tangannya dan berbalik.


“kau pembohong! Aku membencimu! Bibi tidak mungkin mati, dia masih hidup. Kau pria pembohong, biadab dan pembunuh! Aku harus menyelamatkannya!”


Xin Mei berbalik menatap langit. Air matanya mulai keluar. Meski dia berkata seperti itu, dia tidak tahu di mana harus pergi, dari mana dia harus memulainya dan bagaimana cara dia menyelamatkannya. Dia hanya bisa menangis dan duduk di pinggir danau. Air matanya menetes ke dalam cermin danau menciptakan lingkaran-lingkaran.


Tang Li mendekatinya.


“pergi kau dari sini! Aku membencimu! Ini pasti ulahmu. Dan aku terkurung di dalam rumah itu juga pasti karena dirimu! Apa yang kau inginkan? Apakah kau puas setelah melihatku menderita? Jika kau membenci keluargaku, kau bisa menyiksaku, tetapi kenapa kau menyiksa orang-orang yang berada di dekatku?” xin mei menangis merintih.


Tang Li tidak menjawab. Dia kemudian pergi dari sana.


......................


Di siang harinya yang cerah matahari berada di atas. Angin sepoi-sepoi berhembus, menciptakan alunan nada.


Xin mei masih duduk di pinggir danau. Keringat menetes deras. Wajahnya memerah. Dia menatap permukaan air tanpa ekspresi. Kedua matanya masih memerah, tapi sudah berakhir mengeluarkan air.


Tang Li mendekatinya


“Kenapa kau berada di sini? Cepat pergi. Aku tidak memerlukanmu di sini.”

__ADS_1


“wanita itu selamat.”


“aku tidak—tunggu, apa yang kau bilang?” xin mei tiba-tiba berdiri.


“Aku bilang, dia selamat.”


“Kau pembohong!” xin mei kemudian duduk lagi.


“Aku tidak berbohong. Ini. Dia memberikannya untukmu.” Tang Li mengulurkan sebuah patung dengan tangan kanannya.


Ketika xin mei melihat patung itu, kedua matanya berkaca-kaca. Dia mulai menangis dan menyambar patung itu dan memeluknya.


Tang Li hendak pergi, tetapi tiba-tiba xin mei bertanya, “Apa kau tidak berbohong?”


Tiba-tiba Tang Li menoleh, kedua mata Tang Li menjadi lebih tajam dan salah satu telinganya berkedut. Dia menarik tangan Xin Mei ke dalam pelukannya.


Xin Mei ingin mengumpat tetapi setelah sekilas melihat sesuatu yang di tangkap Tang Li dia memilih diam. Namun, dia menghirup sesuatu dan merasakan tubuhnya menjadi tidak sehat.


“Tutup mulut dan hidungmu,” ujar Tang Li setelah merasakan ada sesuatu dari panah itu. Dia kemudian memandang ke arah tempat di mana berasal anak panah itu. Tiba-tiba suara jeritan terdengar dari dibalik semak-semak.


“kita harus pergi dari si–”


Dia langsung cepat-cepat menjauhi xin Mei dan bertanya-tanya apa yang ada di panah itu.


Wajah Xin Mei tiba-tiba memerah dan sayu. Pasti ada sesuatu yang telah dia hirup.


“maafkan aku...aku tidak bisa menahannya. Tolong jangan melakukan hal menjijikan itu lagi.” Xin Mei kemudian memeluk Tang Li lebih erat.


“Biarkan aku seperti ini sejenak. Jika aku melakukan hal-hal aneh, tolong bantu aku.”


......................


Di sore hari akhirnya Xin Mei terbangun. Kepalanya terasa pening dan berkunang-kunang.


“ayo kita pergi.”


“A-apa aku melakukan hal aneh?” kedua pipi xin mei bersemu merah. Dia malu setelah melakukan itu. Tidak Pernah dia menyangka ciuman pertamanya terjadi kepada orang yang sangat di bencinya. Namun, entah mengapa tubuhnya tiba-tiba tidak bisa di kendalikan.


“tidak. Ayo pergi.”

__ADS_1


“T-tunggu. Kakiku terluka saat kebakaran itu. Aku tidak bisa berjalan jauh. Apa kau bisa membantuku?”


Tang Li menghela nafas. Dia kemudian berjongkok. “ayo naik.”


Tidak ada jawaban.


“Jika kau tidak mau n–”


“Siapa bilang?” ujar xin mei setelah naik. “ Jika kau memberikannya seribu kali, aku tidak akan menolaknya.” Xin Mei melingkarkan tangan di leher Tang Li dan bergendong. Dia sangat menyukai hal ini. Meski Tang Li orang yang di bencinya, dia tidak akan menolak hal seperti ini.


Ketika xin mei berkata, dia sangat gembira seolah tidak ada kesedihan sebelumnya.


Tang Li menggendong xin mei dengan ikhlas. Jika bukan karena dia merasa bersalah karena membuat Xin Mei terjebak dan menderita, dia tidak mungkin melakukan hal ini.


“Tunggu...aku ingin makan hari ini dan pergi mencari liontinku. Apa kau mau membantuku?”


“Aku membawanya.”


Xin Mei diam sejenak karena terkejut. “Bagaimana bisa bersama dirimu? Cepat serahkan.” Xin Mei mengulurkan tangannya. Perasaan lega muncul di hatinya setelah mendengar hal itu. Meski dia belum tahu apakah Tang Li berbohong atau tidak.


“Aku akan memberikannya ketika kita sampai di rumah bordil.”


“Kau pembohong.”


“jika kau tidak percaya, tidak apa-apa.”


“Apa kau sungguh membawanya?”


Tang Li mengangguk. “bukan hanya itu, bahkan pedangmu aku membawanya.”


“Dari mana kau mendapatkannya?”


“Saat melakukan perjalanan.”


“cepat serahkan! Itu adalah pemberian ibuku. Itu adalah mainanku! Aku bisa saja membunuhmu hari ini jika kau tidak memberikannya.”


“Tidak. Aku akan memberikannya ketika kita sampai di sana.”


“dasar pencuri!” xin mei menutup pembicaraan.

__ADS_1


Tang Li menghela nafas. ‘Di sini siapa yang pencuri? Aku atau kau?’


__ADS_2