
Wajah itu terlihat sempurna dengan hiasan secukupnya. Tidak terlalu putih ataupun terlalu gelap. Sangat sempurna. Di tambah hidung mungil yang mancung, bentuk wajah yang runcing, alis hitam yang bercahaya dan sepasang mata hitam yang di penuhi kelembutan. Rambut hitam terjun bebas di belakangnya. Beberapa helai menutupi wajahnya dan terulur di depannya. Bibirnya yang merah merona dan di penuhi belahan-belahan sangat anggun dan sempurna
Wajah yang mungil itu akan sangat sempurna, jika bukan wajah itu kini pucat dan terlihat sedih.
Dua pelayan dengan fokus menyisir rambutnya, seolah mereka tidak sadar dengan penderitaan pengantin itu. Tidak berselang lama, mereka menggulung rambut hitamnya dan kemudian memasukkan tusuk konde di rambutnya. Maka, sempurnalah dia sebagai pengantin. Gaun merah, hiasan yang cukup dan tepat. Kemudian kedua pelayan itu pergi tanpa berkata apa-apa.
Seharusnya hari ini adalah hari terindah dan tidak akan pernah dia lupakan. Tapi hari ini, baginya adalah hari yang bagaikan neraka yang paling dalam yang pernah dia rasakan.
Dia sudah menyerah untuk hidupnya. Dia sudah muak dengan kejadian-kejadian absurd dunia yang telah mempermainkannya.
Jika dia sebelum-sebelumnya sangat tegar dan berusaha untuk bertahan, tapi, sekarang dia tidak bisa lagi. Ketiga kalinya dia telah merasakan kejadian ini. Untuk terakhir ini, dia tidak bisa lagi menahannya. Dia ingin bunuh diri dan berakhir dengan semua penderitaan yang memberatkan ini.
Pertama dia menikah, dia telah di perkosa dan orang tuanya terbunuh. Dia masih tegar. Orang yang telah menghancurkan hari-harinya itu membawanya pergi dan menyiksanya. Dia menderita, tapi masih berharap semuanya akan baik-baik saja dan hidupnya akan di sinari matahari pagi yang berwarna kuning, atau sinar matahari sore yang hangat. Dia menanti, dan menanti.
Pada suatu titik, begitu ironisnya dia telah mencintai Pria yang telah menghabisi orang tuanya dan merebut bunganya.
“Mengapa aku mencintainya? Mengapa aku dengan Bodohnya harus jatuh cinta dengan orang yang tidak pernah mengharapkanku?” Dia menggerutu, hanya untuk mengingat-ingat kenang-kenangan masa lalu.
Dia telah mengetahui, jika dia mencintainya hanya sebagai alasan untuk bertahan dan untuk terus menjalani hidup. Tetapi, semakin lama, dia benar-benar telah jatuh cinta kepada pemuda yang dingin dan tidak peka itu.
Mungkin alasan lainnya, karena dia tidak punya lagi orang lain di dunia ini.
Seiring berjalannya waktu, dia yang mencintai Pemuda itu mendapatkan balasan darinya. Dia menemukan tanda-tandanya; dia terus di tolong dan di obati, kadang-kadang pemuda itu akan menggendongnya. Meski ada banyak Alasan untuk tidak mempercayainya, dia tetap yakin dengan pria itu.
Tapi sekarang, di mana pria yang mencintainya? Kenapa dia tidak menolongnya ataupun menjemputnya. Dia telah menunggunya dari pagi hingga malam selama tiga hari, tapi dia tidak datang, bahkan tanda-tandanya pun tidak terlihat.
“Apakah benar dia benar-benar tidak mengharapkanku? Semua yang telah terjadi hanya kebohongan dan semua orang-orang katakan kepadaku benar adanya?” gerutunya ketika menatap langit sore sambil mengharapkan Pemuda itu menjemputnya, layaknya seorang pahlawan yang menolong putri cantik.
Dia memandang cermin besar dengan air mata yang mulai mengalir. Dia telah menyerah dengan semua ini. Di ambilnya sebuah pisau kecil. Kemudian Dia menusuk dirinya dengan pisau itu.
Seperti adegan yang sering terjadi, akan ada yang menghentikannya. Seorang gadis pakaian biru langit menggenggam tangannya dan menghentikan tindakan itu.
__ADS_1
Dia kemudian memandang gadis itu dengan wajah jijik. Dia Berharap kedatangan gadis itu dalam hidupnya akan mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Tapi ternyata Dia yang telah membantu penjahat untuknya di bawa pergi.
“Apa yang kau lakukan adalah tindakan yang sia-sia.”
“Ini bukan tindakan sia-sia. Aku hanya ingin tenang dan berakhir lebih cepat.”
Gadis itu mempererat genggamannya. Sampai-sampai Xin Mei merasa kesakitan dan menjatuhkan pisaunya. Setelah jatuh, gadis itu memungutnya, kemudian pergi. Tapi sebelum benar-benar pergi, dia berbisik di telinga Xin Mei, “Aku datang hanya untuk membuat hidupmu menjadi lebih baik, bersabar, kau akan mengerti nanti.”
Dia tidak percaya dengan ucapan gadis itu. Bagaimana mungkin dia akan bahagia dengan pria yang tidak pernah di cintainya selama ini. Meski, pernah suatu waktu dia berharap akan menikah dengan seorang pangeran, tetapi waktu itu dia hanya bercanda dan tidak pernah mengharapkannya akan sungguh terjadi.
Sekarang, apa yang telah dia katakan terwujud, dia akan menikah dengan pangeran Lei Shi yang sebelumnya di anggapnya baik, tetapi ternyata memiliki ambisi mendapatkannya dengan segala cara. Dia sudah tidak tahu apa yang di lakukannya saat ini, selain, dia hanya menikmati semua momen ini dengan pasrah dan mensyukurinya.
Setelah beberapa saat, seorang pelayan perempuan datang dan melaporkan, “Nona, pernikahan akan di mulai.”
...----------------...
Akhirnya cahaya dari pintu terhalang sosok berpakaian merah dengan kerudung menutupi kepalanya. Dia berjalan gugup dengan hati yang pasrah. Memandang Pria tampan yang tidak pernah dia sukai di depannya sekarang. Kini, akan menjadi suaminya.
Pangeran Lei Shi mengangkat sedikit tangan kanannya dan tersenyum bahagia. Wajahnya terlihat sangat bahagia dan tidak akan pernah melupakan momen penting seperti ini.
Setelah memegang tangannya, dia berharap akan ada sosok yang datang dan menghentikan pernikahan ini, tetapi ini sebuah kenyataan dan bukan drama. Pernikahan berlangsung dengan lancar tanpa ada halangan sedikit pun.
...----------------...
Di malam hari, Dia duduk di pinggir ranjang, menunggu saat-saat malam pertama yang akan di laluinya. Ketika pernikahan pertamanya, dia sangat berharap akan merasakannya dengan sangat bahagia. Tapi saat ini, dia tidak bergairah sedikit pun.
Duduk dengan bisu tanpa kerudung yang terbuka.
Pangeran Lei Shi akhirnya datang dan duduk di sampingnya. “Walaupun kau tidak menyukai pernikahan ini, kau tetap harus menjalankannya.”
Tangan pangeran Lei Shi perlahan-lahan membuka kerudung yang menutupi wajahnya. Perlahan-lahan wajah cantik nan sempurna itu terlihat. Pangeran Lei Shi meneguk ludah.
__ADS_1
Kemudian, dia perlahan-lahan mendekatinya. Sang pengantin wanita membisu dan tidak tahu harus berbuat seperti apa.
“Ini adalah malam pertama kita.”
Pangeran Lei Shi dengan lembut mengecup keningnya. Dia tiba-tiba mengganas dan mendorong Sang pengantin ke ranjang. Dia ingin memberontak dan pergi. Namun, bibir Pangeran telah di lapisi ramuan penggoda. Dia menjadi terangsang dan wajahnya memerah. Kecupan itu berlangsung lama.
Pangeran Lei Shi mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan, dia membuka gaun merahnya, lalu menghisap gunung kembar dengan lembut.
Sang pengantin terangsang dan mulai mengeluarkan eraman-eraman.
Kemudian, di lepaskan kedua pakaiannya dan momen itu berlalu begitu cepat. Kehangatan dan kebahagiaan bercampur satu dan saling melengkapi.
Suara nafas yang panjang dan bergairah. Suara-suara lembut yang mengeram, terasa begitu indah terdengar. Malam pertama terasa begitu menggairahkan dan cepat berlalu.
...----------------...
Ketika dia membuka matanya, punggung pria berpakaian hitam samar-samar muncul di depannya. Dia sangat mengetahui siapa dia dan apa tujuannya datang. Pria itu kemudian berjalan pergi.
Sang pengantin wanita terbangun, kemudian berteriak, “Ini tidak seperti apa yang kau bayangkan..!”
Dia cepat-cepat berlari keluar hanya memakai gaun putih. Tetapi Pria itu sudah sangat jauh. Entah apa yang terjadi, dia merasa tidak akan pernah bertemu dengannya.
Suara petir menggelegar dan hujan akhirnya berjatuhan. Tidak lama kemudian menjadi lebat.
“Apakah aku tidak akan menemukan kebahagiaan?”
“Kembalilah! Kau yang merebut kesucianku. Kau yang telah merasakan setiap jengkal tubuhku, kau juga mengatakan akan membawaku pergi ke rumah bordil dan menganggapku masih penting bagimu, tapi mengapa begitu kau hanya satu kali melihatku seperti ini, kau meninggalkanku dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini! Aku mohon, kembalilah!” Dia akhirnya menangis.
Petir tiba-tiba menggelegar. Cahaya putihnya merambat menuju ke arahnya. Dia tahu apa yang akan terjadi, tapi dia membiarkannya. Dia tiba-tiba melihat putih dan rasa sakit menyakitkan.
...----------------...
__ADS_1
Tiba-tiba dia terbangun. Kemudian memandang ke sekitarnya. Tubuhnya sangat basah di penuhi keringat. Dia telah bermimpi buruk dan membuat perasaannya begitu kacau.
“Kau telah sadar.”