Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 18 : tuan kusir


__ADS_3

Cahaya itu masuk dengan lembut dari balik korden, menyentuh wajahnya. Dia mengernyitkan dahi. Angin meniup-niup korden membuatnya melambai-lambai. Dia membuka matanya dan langsung berdiri. Mengusap kedua matanya dan memandang ke sekitarnya. Dia merasa terguncang-guncang, dan merasa pedati yang berputar-putar di bawahnya. “Apakah aku berada di kereta?” dia langsung membuka korden jendela dan memandang ke luar. Hamparan Padang pasir terlihat begitu indah di luar. Beberapa gagak hinggap di ranting-ranting pohon, mereka sepertinya sedang menunggu mangsa.


“Bibi ying, kita akan ke mana? Pria itu... Pria itu.... Apakah dia sudah memberikannya?” Li Xin Mei bertanya khawatir.


“Tenang nona cantik. Bibi sudah bilang, akan membantumu. Pria itu tidak akan mengganggumu lagi. Kita akan pergi mengelana dan melihat keindahan dataran cina ini.”


“apakah ini sungguh nyata? Bibi, ini tidak mimpi ‘kan?”


“Tidak nona cantik, kau sungguh berada di kereta saat ini.”


Xin Mei lalu mencari-cari pedang dan patungnya. Karena tidak menemukannya, dia pun bertanya kepada Lu yingtao.


“pedang nona kecil...” Lu yingtao mengangkat kepalanya dan mulai berpikir. “ah... Maaf..., Bibi lupa membawanya. Apakah nona cantik sangat menyukainya?”


Xin Mei ingin mengambilnya, namun dia teringat dengan pemandangan yang berada di luar, yang berarti dia sudah berjalan jauh. Maka, dengan ekspresi sedih, xin mei menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin merepotkan dua orang di depannya, apalagi baru bertemu mereka.


Dia lagi-lagi melihat ke luar dan merasakan kelembutan angin. Memang benar, dia sekarang berada di kereta kuda. Dia kemudian masuk, dan bertanya tempat apakah gerangan yang akan mereka tuju.


Lu yingtao menerangkan, bahwa mereka akan pergi ke tempat-tempat terindah yang tidak pernah Li Xin Mei lihat. Membawanya pergi, dan hidup damai. Dia tidak mengatakan di mana tempat yang pasti mereka kunjungi.


Ketika matahari berada di atas, tiba-tiba kereta kuda berhenti perlahan-lahan.


Li Xin Mei pun bertanya apakah mereka sudah sampai. Namun, Lu yingtao menggelengkan kepalanya, dan memerintahkan Jing heihai untuk keluar.

__ADS_1


“Para manusia bodoh itu sudah salah menetapkan kita sebagai targetnya.” Dia mengambil pedang yang berdiri di samping tempat duduknya, kemudian pergi ke luar.


“Bibi, apa yang akan kakak jing lakukan?”


“nona cantik tidak perlu takut. Hal ini selalu saja terjadi di dunia kacau ini. Diam saja di sini, anggap saja di luar tidak terjadi apa-apa.” Lu yingtao menerangkan dengan lembut, namun di matanya terlihat kilatan-kilatan tajam seperti ingin membunuh seseorang.


Li Xin Mei mengangguk dan menenggelamkan kepalanya dalam pangkuan Lu yingtao. Entah mengapa, dia sangat menyukai hal ini. Mungkin dia sangat merindukan saat-saat bersama Ibunya. Ketika kecil, dia selalu melakukan ini di bawah pohon persik saat ibunya datang berkunjung. Mereka selalu melakukan hal ini. Menikmati pemandangan dan merasakan lembutnya angin.


Di luar, pria kusir berdiri dengan tatapan tajam dan sudah menarik pedangnya. Saat jing heihai datang dia berkata tanpa menoleh, “mereka ingin menagih uang sebagai tiket jalan. Jika tidak memberikannya, mereka mengancam akan membunuh kita semua. Biarkan aku mengajari mereka untuk berhati-hati ketika memilih mangsa mereka.”


Pria kusir itu juga seorang pendekar, Namun ilmunya tidak cukup tinggi, akan tetapi, dia mampu mengatasi sepuluh pria bertopeng di depannya. Karena selalu bepergian jauh dan menjaga agar penumpangnya aman dalam perjalanan, dia melatih ilmu pedangnya. Para bandit selalu berkeliaran di pandang pasir dan tempat-tempat sepi seperti ini, dan dia selalu bepergian ke tempat-tempat seperti itu, maka, dia sudah mempunyai pengalaman dalam mengatasi hal-hal seperti ini.


“Biarkan aku saja yang melawannya. Kau duduk saja. Mereka hanya para penjahat bodoh.”


“Tapi....”


Dengan menggunakan busur dan anak panah adalah senjata yang dapat mencegah hal-hal yang tidak di inginkan terjadi. Karena jarak jauh dan mencegah kematian, senjata itu seharusnya menjadi senjata mereka dan senjata yang paling ampuh.


10 orang itu berteriak dan berlari mengepung Jing heihai. Mereka semua mengangkat pedangnya.


Jin heihai tersenyum sinis. Dia lalu mengangkat pedangnya secara horisontal. Dengan lembut, jari tangan kirinya mementil bilah pedangnya.


Kemudian gelombang suara bagaikan gelombang air menyebar ke segala arah. Suaranya pun juga keras dan membengkakan telinga. Saking kerasnya, beberapa daun-daun pohon bergoyang-goyang.

__ADS_1


Dan selanjutnya... Sesuatu yang sangat mengerikan terjadi...


......................


“Kenapa kau menggangguku lagi?” dengan dingin dan datar, Tang Li berkata kepada gadis di depannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dia sudah berada di hamparan putih yang tidak berujung seperti ini. Tidak ada hal lainnya selain warna putih dan angin yang meniup-niupnya.


Meski gadis di depannya sangat dia rindukan, dia sudah membekukan perasaannya dan membuang semua kenangan masa lalu yang tidak berguna dan hanya menyakitkan saja.


Sebelumnya, sebelum berada di sini, dia ingat sekali, dia pergi dari kedai setelah hujan reda. Kemudian duduk di bawah pohon dan menyandarkan tubuhnya.


Xin Mei sudah tidak akan, dia sudah pergi menerima kesengsaraan dunia, dia tidak perlu mengotori tangannya untuk anak gadis musuhnya dan semuanya sudah selesai. Dia akan pergi ke gunung dan mengakhiri hidupnya dengan tenang di sana. Mendengar kicauan burung, menghirup udara segar dan menikmati pemandangan setiap hari. Tidak ada hal yang menyenangkan selain itu setelah tragedi berdarah yang sebelumnya dia alami.


Gadis di depannya tersenyum tipis. Gaun putih melambai-lambai di tiup angin. Dia terlihat sangat bahagia. Kedua matanya menampakkan kesenangan dan kegembiraan setelah bertemu dengan orang yang sangat di cintainya. Lama dia diam sebelum berkata lembut, “Apakah kau melupakanku?”


Tang Li tidak menjawabnya.


“Ini sudah berlalu bertahun-tahun. Kau sudah berubah lagi. Kau terlihat sangat dingin dan penuh darah, tapi aku mengetahui dari balik wajahmu, kau sangat menderita. Kau terlalu penuh berdarah, kau tidak bisa tenang setelah membalaskan dendammu. Selama hidupmu akan di penuhi tanda tanya besar dan kau tidak akan pernah menemukan jawabannya.”


“....kau salah, aku sudah menemukannya, dan kini, tugasku sudah selesai, aku akan pergi ke gunung dan menjalankan hidup tenang di sana. Jangan pernah menggangguku lagi. Aku tidak mau mengingatmu lagi. Kau sudah mati, seharusnya kau tidak mengganggu yang hidup.”


“Aku adalah kekasihmu, aku tidak bisa tenang jika kau berjalan seperti ini, kau berjalan di jembatan yang indah dengan langit biru laut, namun di bawahnya ada bara api yang selalu menghantuimu dan membuatmu panas.”


“Jangan pernah ganggu aku lagi!” Tang Li berbalik dan berjalan menjauh.

__ADS_1


“Selamatkan gadis itu...”


Tang Li terdiam. Dia tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan itu dari jia-jia. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak layaknya orang gila. “Aku tidak akan pernah menyelamatkannya. Aku akan membuatnya sangat menderita dan menyiksanya.” dia kemudian melanjutkan perjalanan.


__ADS_2