Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter : 32 persiapkan festival musim gugur


__ADS_3

“paman, paman, aku ingin satu!”


“aku juga!”


“aku juga, paman!”


“Tenang, tenang, semuanya akan mendapatkannya kok, sabar ya,”


Dalam kerumunan pasar, seorang pria paru baya membagikan bola ke setiap anak yang ingin membelinya. Dagangannya hari ini laris manis. Di sore hari, akhirnya semua bolanya telah habis.


Pria itu kemudian menghitung satu persatu koin yang di dapatnya.


Saat berlangsung kegiatannya, tiba-tiba seseorang muncul dan menggeprak meja, membuatnya terkejut dan koin di meja berhamburan.


“Paman! Aku ingin membeli bola itu! Aku sudah membawa dua koin emas, cepat berikan!”


“Dasar gadis nakal! Tidak ada bola hari ini, bolanya sudah habis, ayo pergi sana!”


“Tidak! Aku harus mendapatkannya! Aku sudah berjuang mendapatkan koin ini, paman harus memberikannya kepadaku.”


“Aku bilang tidak ada! Cepat pergi! Gadis nakal!”


“Tidak!”


“cepat pergi!”


“Tidak.”


“Aku bilang cepat!”


Brak!


“Aku bilang tidak!”


Brak!


Keduanya tidak mau mengalah satu sama lainnya.


......................


Jendela terbuka perlahan-lahan, Tang Li terdiam menatap ke jalan yang di penuhi orang-orang. Banyak orang lalu lalang di sore ini untuk membeli makanan di luar.


Tang Li tidak mengerti ke mana Perginya gadis kepala batu itu. Ini sudah lima jam lamanya dia pergi dari rumah. Dia merasa sedikit khawatir dengannya, jangan-jangan ada yang menculiknya lagi. Tetapi setelahnya, dia menepis pemikiran itu. Dia sudah memberikan paksa gelang kepada Xin Mei, jika terjadi apa-apa dengannya, dia akan mengetahuinya.


Sudah beberapa bulan berlalu setelah pertemuannya dengan Xin Mei lagi. Entah kebetulan atau tidak, dia merasa lebih ceria dari sebelumnya. Entah karena Xin Mei sangat periang atau dia memang menyukainya.


Dia ingin cepat-cepat pergi ke kota cang’an, dan menuntasi perjalanannya. Tetapi siapa yang menyangka, dia seorang ahli pedang telah kehilangan sejumlah uangnya. Oleh karena itu, dia menetap di desa ini untuk mencari uangnya dan menangkap penjahat itu.

__ADS_1


Dia bisa saja pergi tanpa uang, tetapi dia tidak melakukannya. Dia ingin menangkap pencuri yang sangat bijak dan cerdas itu. Untungnya dia hanya kecurian, tetapi jika pencuri itu berani mengancamnya dan mendapatkan lebih banyak uang, maka dapat disimpulkan pencuri itu akan mati.


Sudah beberapa kali kejadian pembunuhan terjadi di desa ini, tetapi tidak satu pun petunjuk dapat dia cari untuk menangkap pencuri itu.


Saat malam telah turun, dan orang-orang mulai sepi, Xin Mei pulang dengan kepala menunduk. Wajahnya terlihat murung.


Tang Li keluar. “Apakah kau tidak mendengarkan perintahku. Apakah kau ingin di bunuh oleh pencuri itu?”


“jika dia ada di sini, biarkan saja dia membunuhku!”


Xin Mei menunduk kepalanya kembali dan berjalan melintasi Tang Li. Tang Li langsung memegang tangannya.


“Lepaskan aku! Aku ingin sendiri! Kau juga yang memberikanku kebebasan!”


Xin Mei berjalan masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.


Tang Li menghela nafas dan harus lebih sabar dengan Xin Mei. Gadis itu meski sudah pernah berubah, tetapi sikapnya masih seperti kanak-kanak.


Tang Li masuk ke dalam kamar dan melihat gadis itu duduk di pinggir ranjang dengan menunduk dan menangis.


“Ada apa denganmu?”


“Tidak ada.”


“Jika tidak, aku tidak bisa membantu.”


Tang Li berbalik.


“Aku ingin sebuah bola, apakah kau mau membuatkannya?”


“Cara membuatnya, sangat mudah, kau hanya perlu mencari beberapa lidi dan menganyamnya membentuk sebuah bola.”


“Aku akan berusaha.”


“Jika begitu ayo kita pergi membelinya!”


Xin Mei berdiri, kemudian menarik Tang Li ke luar.


“Sekarang sudah malam, aku ingin tidur.”


“Tidak bisa, aku menginginkannya sekarang! Cepat berjongkok, kita akan pergi.”


“Aku bilang besok!”


Mendengar itu, Xin Mei menundukkan kepalanya. Lagi-lagi wajah cerianya runtuh seketika.


“Jika kau tidak mau... baiklah, kita pergi besok saja.”

__ADS_1


Xin Mei berjalan menunduk ke dalam rumah. Tang Li mengetahui jika gadis itu sedang menangis. Dia sebenarnya sangat ingin tidur hari ini setelah menyelidiki seharian tentang si pencuri.


Tetapi, dia tidak mau melihat teman anehnya seperti ini, dia kemudian berkata, membuat gadis itu kembali ceria. “Ayo kita pergi.”


“ayo! Pasar sekarang masih buka!”


Benar saja, gadis kekanak-kanakan itu tersenyum lagi dan langsung melompat ke punggung Tang Li. Sudah di antarkan, lagi-lagi ingin juga di gendong, benar-benar gadis ceria yang aneh. Dia seharusnya sudah bisa bersikap lebih dewasa setelah mengalami berbagai peristiwa, tetapi, dia hanya meninggalkan kebiasaan mandi dan mencurinya.


Tang Li pernah berpikir setelah mengalami berbagai peristiwa, dia berharap gadis itu bisa bersikap tenang dan tidak membutuhkan mainan lagi, tapi ternyata dia salah.


“Tang Li, cepat, aku ingin memilikinya sekarang.”


“Aku ingin sekali mendapatkan bayaran setelah ini.” Tang Li mulai berjalan.


Xin Mei terkekeh. “Apa kau ingin melihat tubuh telanjangku? Apakah kau berani melakukannya?”


Tang Li merasa kecewa. Trik itu tidak berguna lagi bagi gadis ini. Xin Mei telah menemukan cara melawannya. Saat Tang Li mengancamnya, alih-alih dia akan malu, gadis itu malah melepaskan semua pakaiannya dan mendekati Tang Li.


“Kau ingin menikmatiku kan? Sekarang, nikmatilah, aku akan memberikannya kepadamu.”


Xin Mei kemudian mendekati Tang Li. Dia meraih kedua pipinya dan memberikan kecupan yang manis kepadanya.


Setelah melakukannya, dia pun berkata, “Sekarang, ayo kita lakukan bersama-sama. Kau sangat menginginkannya kan? Kau pasti sangat menginginkannya, setelah melakukannya satu kali tanpa aku sadari. Sekarang, aku sadar seutuhnya, ayo kita lakukan bersama-sama. Perlihatkan, bagaimana cara bercintamu yang membuat para wanita ketagihan dan bergairah, ayo kita lakukan.”


Itu adalah momen yang sangat membuatnya tidak nyaman dan menghantuinya hingga sekarang. Meski dia tahu, ada sesuatu yang membuat Xin Mei melakukan itu tanpa sadar, dia tetap saja tidak bisa melupakannya.


“Apakah kau tidak malu jika orang lain melihatnya?” tanya Tang Li ketika berjalan menuju pasar. Orang-orang memang benar melihatnya.


Xin Mei tersenyum. “Aku membenci orang-orang yang malu karena hal sepele seperti ini. Cepat jalan, aku sangat menginginkannya.”


Tang Li menghela nafas. Seberapa banyak dia menasihatinya, Xin Mei tetap gadis nakal yang dia kenal. Tetapi, dia sangat terhibur dengan sikapnya seperti itu.


......................


Angin utara berhembus pelan, daun-daun berterbangan. Suara keramaian dan teriakan-teriakan masih menghiasi pasar. Orang-orang terlihat sedang melihat-lihat berbagai macam barang yang di jual. Para anak-anak berlari-larian sembari bermain kejar-kejaran atau baling-baling. Beberapa ada juga yang bermain kembang api.


Suasana pasar lebih ramai dari biasanya. Sebentar lagi akan tiba festival musim gugur, semua orang mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lentera, lampion, hiasan-hiasan dan berbagai hal mengenai bulan.


Festival musim gugur akan berlangsung pada bulan September minggu ke dua. Sekarang hari pertama bulan September, jadi hanya dua minggu lagi kegiatan itu akan di laksanakan.


Desa yang di tempati Xin Mei dan Tang Li merupakan tempat para pedagang singgah, oleh karena itu para warga berbondong-bondong membeli berbagai kebutuhan yang di inginkannya sebelum para pedagang itu pergi atau kehabisan barang dagangannya.


Di tengah-tengah keramaian suara kaki kuda terdengar nyaring, bersamaan dengan itu, semua penduduk terbelah dan menyingkir.


Tiga kuda berlarian. Seorang pemuda tampan mengendarai kuda yang paling depan. Rambutnya yang pirang, membuatnya terkesan berani dan gagah. Pakaian gagah dan bijaksana yang dia kenakan, membuatnya tampak lebih tampan.


Orang-orang mulai membicarakannya. Dia adalah putra mahkota kekaisaran yang mungkin di tugaskan untuk membunuh penjahat yang telah membuat orang-orang resah dan ketakutan.

__ADS_1


Tiba-tiba suara tiga kuda itu berhenti, melompat dan terkikik. Semua orang menjadi terkejut dan memperhatikannya.


__ADS_2