
Saat bilah pedang wanita itu mengenai pedang Tang Li, dia tiba-tiba terpental ke belakang. Tang Li melesat, tetapi tiba-tiba sosok bayangan muncul di depannya.
“Jangan membunuhnya!”
Xin Mei tiba tepat waktu, dan membuat Tang Li mendadak berhenti.
“Jangan membunuhnya, dia tidak bersalah, dia hanya ingin mengambil haknya. Pergilah, biarkan aku saja yang menanggungnya.”
Ada perasaan aneh muncul di hati Tang Li setelah mendengar ucapan itu, tetapi dia tidak tahu apakah itu rasa terkejut atau prihatin kepada gadis itu. Dia tidak ingin lama-lama memikirkannya. Setelah memasukkan pedangnya kembali, dia kemudian tiba-tiba menghilang seperti angin.
Xin Mei berbalik.
“Maaf nyonya atas apa yang telah dia perbuat. Dia hanya ingin menolongku. Tadi ada seseorang yang ingin menyerangku. Aku akan mengganti semuanya dengan cara apa pun.”
“Pergi ke bukit, ambil beberapa kayu dari tukang di sana.”
......................
Setelah memastikan di mana Xin Mei harus pergi, dia kemudian berangkat di pagi-pagi sekali, saat embun-embun belum menjatuhkan dirinya.
Matahari terus bergerak ke atas, tepat di atas sebelah timur, akhirnya Xin Mei tiba di tempat yang di tunjukan.
Di sana ada rumah besar yang terbuat dari kayu. Beberapa tukang pekerja membawa kayu dan memotongnya.
Dia kemudian mendekati salah satu orang yang menjadi pemimpin di sana yang selalu berteriak-teriak.
Pria ini memiliki tubuh yang gagah dan di penuhi tato. Tetapi gadis itu tidak takut.
“Paman, aku di suruh nyonya Yulan untuk mengambil beberapa kayu. Apakah paman sudah mempersiapkannya?”
Pria itu mengangguk dan menunjuk beberapa ikat kayu yang berada di dekat dinding.
“Ambillah beberapa di sana.” Katanya.
Xin Mei mengangguk dan pergi ke sana. Beban yang akan dia bawa, tidak sesuai dengan harapannya; itu melebihi kemampuan tubuhnya. Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Jika saja Tang Li tidak menolongnya kemarin, dia mungkin saja sudah terbunuh oleh sosok misterius itu. Dari pada di bunuh, dia lebih baik membawa seikat kayu ini dari pada harus terbunuh.
Xin Mei harus menjaga mulutnya agar tidak berucap sembarangan. Dia hanya berbicara seenaknya saja ingin di bunuh oleh pembunuh itu. Tetapi ternyata itu nyata terjadi.
Memikirkan ini membuatnya bergidik ngeri.
“hey, gadis kecil, kenapa kau diam saja?!” pria tadi berujar.
“aku akan membawanya satu!”
Pria itu mengangguk.
Xin Mei kemudian mengangkatnya di atas punggung. Percobaan pertama gagal, tetapi kedua dia berhasil melakukannya, meski dengan bersusah payah.
Dia kemudian berjalan menjauh.
Matahari mulai bergerak ke barat hingga memancarkan cahaya sorenya. Xin Mei berteduh di bawah pohon sembari tertidur. Bajunya basah oleh keringat, wajahnya menghitam dan memerah.
Hingga di sore hari, saat matahari mengucapkan salam perpisahannya, xin Mei membuka matanya. Sosok hitam muncul di depannya.
Karena dia sangat kelelahan, dia pun menutup matanya kembali.
__ADS_1
Dia di bangunkan oleh suara renyah api. Rasa hangat api membuatnya tidak kedinginan. Dia kemudian berusaha berdiri. Tang Li berdiri tidak jauh dari api unggun.
Dengan masih kelelahan, Xin Mei mendekatinya.
“kenapa kau berada di sini?”
“Aku tidak pernah melihat bintang sebanyak ini.”
Xin Mei memandang langit, ternyata benar, langit memang di penuhi bintang-bintang. Dia tanpa sadar memandangnya sebentar.
“Aku harus pergi.” Ujar Xin Mei kemudian pergi.
Tetapi ketika ingin mengangkat bebannya kembali, dia mendadak kelelahan.
“Andai saja kayu ini tidak berat seperti ini, aku pasti bisa membawanya.”
Dia kemudian duduk di atas kayu sembari berpikir bagaimana cara membawanya.
Tang Li mendekatinya.
“Ayo kita pergi.”
“Dari tadi aku ingin pergi! Jika bukan karena perbuatanmu, aku tidak akan membawa beberapa ikat kayu ke luar hutan. Ini semua salahmu. Harusnya kau yang membawanya, bukan aku. Di mana rasa hormatmu kepada perempuan? Apakah kau tidak di ajarkan oleh ibumu tentang wanita? Kau tahu, wanita itu adalah orang yang telah melahirkanmu. Wanita juga yang telah memberikanmu susu untukmu tumbuh. Percuma saja, aku berkata seperti itu, kau tidak akan mengerti.”
“Ayo naik.”
Tang Li berjongkok di depan xin mei, membuatnya terkejut dan terheran-heran. Mengapa dia tidak melawan sama sekali?
“Aku rasa kau telah merencanakan sesuatu.”
“b-baik.”
Tang Li kemudian berdiri setelah Xin mei naik. Dia kemudian memandang ikatan kayu yang di bawa Xin Mei. Dalam sekejap mata, itu menghilang begitu saja.
Dia kemudian pergi dari sana.
Awan-awan menutupi bulan; malam menjadi semakin suram dan semakin larut. Kilatan-kilatan putih terlihat di mana-mana.
“Sebentar lagi akan hujan, lebih cepat.”
“......”
“Apa kau tidak dengar?”
“Aku tahu.”
Tidak beberapa lama, Xin Mei tiba-tiba bertanya, “Mengapa kau membantuku? Kau yang berkata sebaiknya tidak melakukan ini.”
“Karena kau adalah temanku, sekaligus musuhku.”
“kau benar, aku adalah musuhmu. Entah penderitaan apa yang akan kau tumpahkan kepadaku lagi. Tetapi, asal kau tahu, aku mulai menyukaimu.”
Tang Li diam sejenak dan menjawab, “Aku tidak peduli.”
“Memang seharusnya kau tidak peduli.”
__ADS_1
*****
Yulan berdiri di depan rumah tua di hutan. Dia terbatuk-batuk, tetapi tetap menjaga ekspresi anggunnya.
“Anakku, sebentar lagi kau akan bangkit, aku telah menemukan tubuh gadis yang cocok untukmu. Tunggu sebentar lagi.”
Pintu rumah terbuka perlahan-lahan, sosok memakai topeng berdiri di sana. Pakaian hitamnya tidak terlihat. Dari balik topeng putihnya terlihat kedua mata berwarna hijau menyala.
Sosok itu kemudian berjalan menuruni tangga, memperlihatkan kakinya berwarna hitam gelap.
Saat melihat pemandangan ini, kedua mata dan bibir Yulan bergetar. Butiran-butiran air mata menetes.
“Anakku....”
......................
Malam akhirnya kembali cerah ketika Xin Mei dan Tang Li tiba di penginapan Yulan. Bulan bersinar terang di langit lagi, dan bintang-bintang berkilauan juga.
Setelah Xin Mei turun, dia kembali meraih kedua pipi Tang Li dan mendekatkan wajahnya. Ya, dia menciumnya, tetapi hari ini dia secara sadar melakukannya.
Tang Li merasakan kelembutan bibirnya lagi. Kelembutan ini terasa sangat lebih lembut dari sebelumnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Dia tidak mau merasakan ini, sehingga dia dengan kasar mendorong Xin Mei.
“Kau sudah gila.” Katanya lalu berbalik dan pergi.
Xin Mei memandangnya sambil tersenyum. “Mungkin aku telah gila, tetapi aku tidak tahan untuk melakukannya. Sampai jumpa lagi!”
Dia kemudian berjalan masuk ke dalam.
......................
Di siang hari, Yulan berdiri di depan rumah sembari memandang Xin Mei berjalan riang di jalan. Tatapannya terlihat penuh dengan keinginan untuk mendapatkan gadis itu, tetapi dia harus bersabar.
Ini adalah hari ketiga gadis itu menginap di penginapannya. Selama itu juga dia berusaha membunuhnya, tetapi sosok pelindung selalu melindunginya secara diam-diam. Itu membuatnya kesal, tetapi dia tidak menyerah begitu saja.
“Kapan kita akan melakukannya?” tanya kepada sosok pria di sampingnya tanpa memandangnya.
“Dalam satu Minggu.”
Yulan terbatuk-batuk, membuat pria itu khawatir dan ingin mempertanyakan keadaannya, tetapi segara Yulan mengisyaratkan untuk tidak perlu bertanya.
Pria itu kemudian berkata, “sejak aku mengenal gadis itu, dia adalah gadis kekanak-kanakan. Sangat menyebalkan, tetapi sangat menghiburku ketika itu. Sangat di sayangkan jika dia harus di bunuh untuk menghidupkan putri kita lagi.”
“Di mana kau bertemu dengannya?”
“Saat aku jualan. Meski aku kesal dengannya, aku sudah menganggapnya sebagai teman yang menyenangkan.”
“Tetapi kita harus mengorbankannya. Apakah kau tidak tega melakukannya?”
“Tidak, tetapi hanya sangat di sayangkan saja.”
Yulan terbatuk-batuk.
“Setelah rencana itu berhasil, kau tidak boleh melakukan hal itu lagi.” Ucap pria itu penuh kekhawatiran.
Yulan masuk ke dalam tanpa menanggapinya.
__ADS_1