
Setelah berjalan beberapa saat, mereka akhirnya tiba di depan pohon yang sangat besar. Tingginya sekitar 100 meter dengan ranting-ranting yang panjang dan terangkai lebat. Di dalam kelebatan itu, daun-daun menghuninya. Burung-burung berbagai jenis memanfaatkan ranting-ranting yang panjang dan banyak, serta daun-daunnya yang lebat untuk di jadikan rumah dalam memelihara buah hati mereka.
Gadis itu mengangkat kepalanya menatap ke atas melihat ujung pohon itu kemudian berjalan lagi.
Setelah memandang sebentar pohon itu, Xin Mei mengikuti gadis itu mendekati pohon besar yang megah itu.
Ketika dia tiba di bawah pohon itu, gadis itu mengisyaratkan Xin Mei untuk duduk di sampingnya.
Xin Mei tidak berkata sepatah kata pun dan duduk di sana.
“Siapa kau?” tanya Xin Mei kepada gadis itu.
“Namaku An Hua. Kau pasti mengenalku. Kita dulu pernah berteman baik. Menikmati waktu bersama di rumah bordil, menertawakan para gadis-gadis bordil yang bersenandung dan mendesah yang kedengarannya lucu, bermain petak umpet, menggoda para suami orang. Ketika istrinya berteriak, ‘dasar tidak tahu diri!’ kita langsung tertawa dan berlari. Kemudian, kita berbaring di bawah pohon dan tertawa lagi mengingat kelucuan itu.”
“Kita selalu mendiskusikan ide-ide brilian ketika duduk menatap langit-langit pohon, seperti... Menabah cabai pada minuman yang di berikan kepada laki-laki berhidung belang yang datang ke rumah, memberi obat kepadanya, membiarkan anjing masuk ke dalam kamar ketika kakak Hua melayani pelanggannya. Aku ingin sekali kenangan itu terulang lagi.”
Tutur An Hua sembari menatap langit-langit pohon yang melayangkan satu daunnya dengan lambat dan penuh ke hati-hatian. Sementara Xin Mei tidak mengerti sama sekali tentang apa yang di bicarakannya.
Mengenai ide brilian, bahkan dia tidak mengenal gadis di sampingnya.
“Kau tidak akan ingat. Sudah aku katakan, kau sudah berinkarnasi,” tiba-tiba An Hua berujar.
Dia kemudian berdiri, lalu mengambil lima langkah ke depan dan menatap Xin Mei.
“Kakak tersayang, aku tidak ingin kau berpisah lagi denganku, maka dari itu, kau harus bergabung denganku.” An Hua tersenyum manis kepada Xin Mei.
Xin Mei mendekatinya. Namun, tiba-tiba sebuah petir yang sangat besar menyambarnya, kemudian meninggalkan bekas hitam di Padang rumput. Dalam sekejap itu, langit tiba-tiba hitam dan memancarkan energi yang sangat dahsyat.
An Hua mengambil sobekan bekas kain Xin Mei, kemudian mengangkat wajahnya menatap langit sore yang indah.
“ketika teman-temanku menertawakanku, kaulah orang yang datang dengan wajah cemas mengobatiku. Aku tidak akan pernah melupakannya.”
......................
Setalah melewati pertarungan yang mematikan, Dai Heng tetap saja kalah melawan Tang Li yang seolah bagaikan dinding yang tak tertembus.
Dia kini hanya bisa bersimpuh dengan luka-luka di tubuhnya. Sebilah pedang di tangan tetap di pegangnya erat. Sampai mati pun dia tetap memegangnya.
Wajahnya tertunduk lesu yang di tutupi rambutnya yang hitam sedikit kekuningan.
Darah segar mengalir ke mana-mana. Tanah-tanah terbentuk ukiran-ukiran dan pohon-pohon ada beberapa yang timbang dalam petarungan itu.
__ADS_1
Sementara Tang Li berdiri kokoh kemudian tersenyum dingin menatap Dai Heng.
“Kau adalah orang pertama yang membuatku kagum dengan tekadmu yang membara seperti api dan bergerak seperti gunung yang menjulang tanpa halangan.”
Tang Li kemudian berjalan menjauh dan menghilang.
Tidak jauh dari sana, Yulan menatap suaminya kemudian mendekatinya. Wajahnya datar tetapi hatinya sudah hancur melihat suaminya gugur dalam pertarungan.
Di depan Dai Heng, dia mengulurkan tangannya. Muncul setangkai bunga kuning di tangannya.
Dia kemudian berjongkok dan menangis. Air matanya tidak dapat di bendungnya lagi.
“Aku akan... menyelamatkan putri kita... Beristirahat dengan tenang di sana.”
Dia kemudian mengambil tangan kirinya yang penuh luka dan meletakkan bunga itu di sana.
......................
Xin Mei berdiri di sebuah tangga yang entah menuju ke mana. Di sekitarnya penuh dengan awan-awan putih tidak berujung, seolah ini adalah jalan menuju surga.
Dia berdiri dengan tubuh telanjang. Namun tidak terlihat sedikit pun rasa malu di matanya. Dia kemudian berjalan menelusuri tangga itu.
Setelah di depan pintu, dia perlahan-lahan membuka pintu yang sangat besar. Namun, sebelum itu terjadi, sosok pria muncul di sana dan menariknya menuju ke bawah.
Dia meluncur ke bawah hingga tubuhnya membentur permukaan laut yang sangat keras. Tetapi tubuhnya terus meluncur ke bawah.
Kemudian, dia mengerjapkan kedua matanya dan berusaha menghentikan tubuhnya untuk turun lebih dalam.
Wajahnya di penuhi tanda tanya dan keheranan. Dia kemudian berusaha menuju ke atas dengan kedua kaki dan tangannya di ayunkan.
Namun, dia tidak akan pernah mungkin mencapai permukaan laut yang begitu tinggi di atas. Meski demikian, dia tetap berusaha ke atas.
Para ikan warna-warni mengelilinginya dan ubur-ubur menari di sisi-sisinya.
Dia membuka mulutnya dan ingin bernafas. Dia ingin berteriak meminta tolong. Tetapi siapa yang bisa menolongnya?
Dalam keputusasaan itu, dia membiarkan tubuhnya perlahan-lahan turun ke bawah. Kedua matanya dia pejamkan.
Satu butiran air mata menetes dari sela-sela bulu matanya yang indah.
Dia sudah pasrah dan menganggap ini adalah akhir hidupnya.
__ADS_1
Di dalam hatinya, penuh penyesalan karena tidak bisa membalas kematian orang tuanya. Menyesal juga tidak mempedulikan perhatian seorang pangeran kepadanya. Juga, menyesal hidup tanpa mengalami kebahagiaan dan kedamaian.
......................
“Nona, apa yang anda lakukan? Di mana gaun-gaunku!?” ujar salah seorang pelayan menghampiri seorang gadis menulis sesuatu di tanah dengan wajah jenakanya.
“Diam kau, aku sedang menulis sesuatu.” Ucap gadis itu sembari berjongkok dan tidak mempedulikan keluh kesah pelayan itu.
“Anda sedang menulis apa?” wanita itu menjadi penasaran.
“berkomunikasi dengan bumi. Bibi tahu, jika selain ibu, tanah ini juga adalah ibuku sekaligus ayahku. Aku ingin meminta kebahagiaan darinya.”
“Siapa yang memberitahumu?” wanita pelayan itu berjongkok di sampingnya sembari menatap apa yang di tulis gadis itu.
“Tidak ada. Aku berpikir jika semua hal yang kita butuhkan berasal dari tanah. Jika aku meminta sesuatu, mungkin saja akan di kabulkan karena semuanya berasal dari sana.”
“Apakah benar?”
“Jika tidak di coba kita tidak akan tahu.”
“Apa yang nona minta? Pria tampan?”
“Iya, itu dia. Aku ingin mendapatkan seorang Pria yang berasal dari kerajaan, sehingga aku bisa pergi ke mana saja dengan aman dan memiliki status yang sangat tinggi di kerajaan.”
......................
Xin Mei terbangun di sebuah pandang rumput. Api menyala dengan terang tidak jauh di sekitarnya.
Di sana Tang Li berdiri dan bertanya bagaimana dengan kondisinya.
Xin Mei menjatuhkan satu air matanya dan tersenyum. “Apa yang kau lihat! Apa aku baik-baik saja!? Di mana kau! Kenapa kau membiarkanku terluka hingga seperti ini. Kau selalu saja datang terlambat. Aku pikir aku akan mati saat itu juga. Dan berpikir jika kau menganggapku tidak penting lagi. Kau memang dasar pria bajingan!” Xin Mei mengusap air matanya.
Di dalam hatinya penuh dengan amarah dan terharu serta rasa benci.
Tang Li mendekatinya.
“Kau masih aku anggap penting?”
“Iya, kau benar, jika tidak, mana mungkin kau menyelamatkanku.”
Xin Mei kemudian berjalan menatap sinar matahari yang mulai muncul dengan indah di pagi hari.
__ADS_1
Dia berkata dengan lembut, “Apakah kau bisa menjaga diriku?”
Tang Li diam sejenak dan menjawab, “ aku tidak tahu.”