Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 17.2 : tarian kemenangan


__ADS_3

Setelah perjuangan yang lama, akhirnya dia bisa membukanya. Tanpa menunggu lama, dia langsung memasukkannya ke dalam mulut indahnya. Ketika mengunyah beberapa saat, ekspresi yang tidak dapat di lukisan terpoles di wajah polosnya. Dia tersenyum dan sangat menawan.


“Emmm! Ini sangat manis! Bibi, bagaimana kau bisa mendapatkan telur yang manis seperti ini? Setahuku, tidak ada telur yang manis seperti ini. Apakah ada gula di dalamnya?”


“Tidak ada gula, nona cantik. Hanya ada terbuat dari bahan berkualitas. Telur itu hanya telur biasa. Sesuai pepatah, ‘apa yang kau tanam itu yang akan kau petik’ api juga sama seperti tumbuhan dan hewan, jika Pupuknya baik, maka tanaman itu juga tumbuh baik; jika hewan itu makan makanan yang sehat, dia akan tumbuh menjadi hewan yang gemuk dan mempunyai bentuk yang indah.


Sama juga dengan api, jika nona cantik memberikannya kayu bakar berkualitas baik, maka makanan yang di hasilkan juga baik. Baunya juga akan harum. Rasa manis yang nona cantik rasakan, itu karena bibi memasukkan gula ke dalam api sehingga ketika gula-gula meleleh dan berubah menjadi asap, asapnya akan masuk ke dalam telur dan mempengaruhi rasanya.”


“hah? Bibi, apakah itu bisa?”


“buktinya itu bisa. Jika nona cantik menyukainya, nona bisa mengambil bagianku.”


“Tidak, tidak bibi, aku tidak rakus seperti itu. Aku akan menjaga tubuhku lebih kurus. Jika aku bisa, aku ingin membuat wajahku sangat jelek dan tubuhku sangat tidak menarik sama sekali.”


“memiliki wajah cantik dan tubuh yang indah, itu bukankah suatu anugerah?”


Ketika Lu yingtao mengatakan itu, Li Xin Mei memakan telur yang tersisa. Setelahnya barulah dia menjawab, “Aku tidak memerlukannya. Wajah cantik dan tubuh molek ini adalah suatu kesalahan, aku tidak memerlukannya. Bahkan karena ini, aku terancam menjadi wanita bordil. Betapa tidak terhormatnya itu.”


“bagaimana bisa nona cantik ini menjadi gadis bordil? Kau nona cantik tidak akan pernah menjadi wanita seperti itu ‘kan?”


“Jika aku bisa memilih, aku tidak akan melakukannya, namun aku tidak bisa. Mahkotaku sudah di rebut paksa oleh pria biadab itu, dan sekarang dia akan selalu memburuku dan membawaku ke rumah bordil. Bibi, aku akan menjadi wanita pelayan! Aku tidak menyukainya! Bagaimana ini! Apakah aku bisa terbebas dari hal ini?”


“Siapa pria itu? Berani-beraninya melakukan hal itu kepada nona cantik? Namun, aku sungguh iri dengannya sudah merasakan mahkota nona kecil. Nona cantik, apakah dia tampan?”


“Dia sungguh tampan. Namun sayangnya dia dingin dan psikopat, suka membunuh. Selain itu, dia juga membiarkan diriku di perkosa oleh beberapa bandit sialan itu! Aku sungguh geram dengannya. Ibu dan ayahku juga di bunuh olehnya. Bibi, tolong aku untuk bebas dari pria itu.”

__ADS_1


“Kenapa nona cantik tidak mendekatinya, siapa tahu dia bisa di jadikan suami. Selain itu, dia juga pasti kuat, kelak nona cantik akan di lindungi olehnya.”


“menikah dengannya? Tidak, tidak, tidak. Aku mungkin sudah di anggap gila menikah dengannya. Pria jahat seperti itu harus mati dan berakhir di neraka. Meski dia tampan, tampan tidak ada gunanya jika bersikap seperti itu.”


“Benar juga. Nona cantik... Bagaimana kalau kau menjadi selir raja saja atau setidaknya menjadi istri bupati dan gubernur. Dengan wajah dan tubuhmu, nona cantik pasti akan mudah mendapatkannya. Bibi jamin tidak akan ada yang menolak nona cantik. Lalu setelah menikah suruh saja suami nona cantik untuk membunuh pria biadab itu.”


“Itu keputusan yang bijak, tapi... tapi... Jika pria yang menjadi suamiku tidak tampan dan sudah tua, aku tidak mau bersamanya.”


“Tidak apa-apa, asalkan segala kemudahan di penuhi. Tidak tampan tidak apa-apa ‘kan?”


“Tidak, tidak bibi, aku tidak mau. Namun jika tampan, aku mau. Tapi, bibi, apakah aku bisa menikahi seseorang yang aku sukai?”


“tentu saja, nona kecil. Tapi... Sulit untuk mendapatkan yang terbaik. Kaya di wajah mungkin tidak kaya di harta. Nona cantik, aku sarankan untuk menikahi raja saja, Kendati tidak tampan, wajah dan tubuhmu akan terawat.”


“dasar gadis naif!” tiba-tiba jing heihai berceloteh.


Li Xin Mei sedikit tersinggung, tapi dia tidak membalas.


“Kau tidak akan bisa hidup di dunia ini jika memiliki sikap seperti itu. Dunia ini begitu kejam bagi seorang gadis sepertimu. Pikiran naif dan polos, hanya akan menjadi korban di dunia yang kacau ini. Jika kau ingin menang kau harus licik, pandai mencari celah, mengorbankan segala sesuatu dan jahat. Jika kau menginginkan pria yang tampan dan orang yang kau suka, maka bersiap-siaplah, kau tidak akan bisa menemukannya. Jika kau menemukannya, dia atau kau yang masih ada di dunia ini,” tambah jin heihai.


“M-mengapa?”


“hidup di dunia ini saling memakan dan mengorbankan. Tidak ada yang akan berakhir baik.”


“Aku akan melakukan yang terbaik.”

__ADS_1


“Dasar gadis naif.”


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara Xin mei dengan jin heihai. Xin mei menoleh, memandang Li youngtou. “Bibi, apa yang di katakan kakak jin benar?”


Lu yingtao mengangguk pelan. “jika nona cantik, ingin terbebas dari pria itu, bibi akan membantu nona cantik.”


“Apakah bibi bisa?”


“nona cantik tenang saja.” Lu yingtao memeluk Xin mei dengan tangan kanannya. Dia menggosok bahunya dengan lembut.


“sekarang tidurlah. Jangan pernah membayangkan apa pun, semua belum terjadi. Tidurlah, besok nona cantik akan memulai kehidupan yang baru. Kita akan pergi mengelilingi dataran cina ini. Melihat orang-orang dari negara lain; melihat apa saja yang di bawanya.”


Xin Mei tidak pernah merasa kasih sayang dan kehangatan selama ini. Dia selalu bertemu ketakutan, kedinginan dan penyiksa. Dia tidak akan pernah menyangka akan merasakan kelembutan ini. Dia perlahan-lahan menidurkan kepalanya dalam kain putih pangkuan Li youngtou.


Lu yingtao mengelus-elus rambut hitam dan kepalanya dengan lembut. Setiap Lu yingtao membelai rambutnya, dia merasa sangat nyaman dan tenang.


“Nona kecil memiliki rambut yang sehat. Jika kelak bibi memiliki anak gadis, bibi ingin melihatnya tumbuh seperti nona cantik.”


“bibi.... kenapa bibi belum menikah?” Xin mei bertanya sambil tetap tertidur.


“Mungkin belum saatnya.”


“Nona cantik, tidurlah dengan nyenyak. Jangan pedulikan hujan di luar. Jangan pedulikan orang-orang yang menyakitimu, nona cantik akan hidup bahagia. Orang-orang itu kejam, namun jika di ingat-ingat, akan sangat menyakitkan. Anggap saja tidak pernah terjadi. Jika masih terngiang-ngiang, anggap itu adalah mimpi buruk yang harus di lupakan. Kunci hidup bahagia adalah menghilangkan pikiran buruk dan mengingat hal-hal yang membahagiakan.”


Xin Mei mengangguk pelan. Dia sudah memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat hangat dan nyaman. Tangannya perlahan-lahan jatuh menyentuh tanah. Kemudian, terdengar suara nafasnya yang lembut.

__ADS_1


__ADS_2