
Ketika menyentuh tanah, Ming Na berlari kencang menerjang sekelompok prajurit yang berjaga. Dengan mata tajam dan keganasan terlihat, dia mengayunkan pedangnya ke segala arah dengan cepat, keras dan mematikan.
Orang-orang berteriak dan darah muncrat, lalu tubuh-tubuh itu tergeletak bermandikan darah. Namun, tidak ada yang terlihat ketakutan, seolah nyawa mereka tidak lebih penting dari kewajiban yang harus dilakukan. Bahkan di saat terakhir mereka, mereka masih memiliki semangat yang tinggi.
Akhirnya dia berhenti dan tetesan darah terus berjatuhan dari bilah pedangnya seperti tetesan hujan darah.
Meski dia sendiri yang bertarung dan darah meluncur dari segala arah, pakaian putihnya tidak tersentuh sama sekali, seperti memiliki pelindung alami.
Lei Shi tidak percaya dengan kecepatan dan tindakan gadis itu. Dalam beberapa detik saja, beberapa nyawa telah menjadi korbannya. Dia kemudian mendekatinya.
Ketika itu, sebuah pedang berwarna biru turun dari langit, membelah lantai dan menggoyangkan tempat-tempat yang ada di sana, itu bagaikan gempa bumi dengan 5 SR dan mampu membuat beberapa atap-atap rumah runtuh.
Seseorang kemudian melompat dari belakang gerbang. Sekali dia mendarat, kakinya tenggelam dan menghancurkan tanah, remuk dan hancur-hancuran.
Dengan wajah sanggar dia menarik pedang, kemudian memandang Ming Na dan Lei Shi dengan tatapan menghina. Dengan tubuhnya yang gagah seperti banteng dan berotot, dia layak menjadi seorang jendral dan penjaga yang kuat.
“Dua orang sedang mengantarkan nyawa mereka.”
Dia mengambil ancang-ancang kemudian menerjang ke depan.
Ming Na mengeluarkan tiga botol racun dari pakaiannya, kemudian melesat dan melemparkannya.
Ketiganya bergerak cepat mengarah pria itu, tapi dalam sekali tebas, botol-botol itu hancur. Namun itulah yang Ming Na inginkan, tiga asap dengan warna kuning, hijau dan merah menyebar secepat kilat.
Pria itu terkena jebakan, memutuskan untuk melompat ke atas, tapi asap-asap itu sangat tinggi dan juga tebal. Dia tidak punya pilihan lain selain harus secepatnya berlari dari sana. Dia tidak tahu seberapa mengerikan racun yang di bawah oleh gadis itu, oleh karena itu, menyelamatkan diri menjadi prioritas utamanya.
Dan lagi, dia belum berpengalaman dalam menangani racun.
__ADS_1
Setelah mendarat lagi, dia ingin pergi, tapi Ming Na muncul dan mengayunkan pedang.
Pria itu langsung menahannya. Dalam kumpulan asap itu terjadi pertarungan sengit di antara keduanya.
Pangeran Lei Shi yang ada di dalamnya tidak tahu apa yang terjadi dan tidak tahu apa yang harus di lakukan, sehingga dia hanya diam saja. Dia tidak akan terkena racun yang di lempar Ming Na, sebab mereka telah menelan penawarnya sebelum pergi.
Rencana ini telah mereka susun dengan sangat matang setelah memperkirakan kemampuan jendral dan sistem pertahanan yang ada. Maka, setelah asap menghilang, pedang Ming Na sudah menembus kepala Sang jendral. Darah mengalir dari kepalanya, sementara dia telah menutup mata dan telah mati. Wajah sangar Jendral itu menjadi pucat, kerutan-kerutan di wajahnya perlahan-lahan membisu, seolah telah kehilangan keberaniannya.
Ming Na menarik pedangnya, kemudian masuk ke dalam gerbang bersama Lei Shi.
Di dalam sana, mereka membunuh setiap prajurit yang ada. Hingga beberapa saat, akhirnya mereka tiba di ruangan pusat. Di sana telah ada satu peti panjang, yang tidak lain adalah tempat pedang itu di simpan.
Ming Na memandang Lei Shi untuk mengisyaratkan membuka peti itu.
Lei Shi yang mengerti mulai membukanya.
......................
Dia duduk menunggu matahari terbit. Matahari telah kalah darinya, dia telah berada di luar sebelum cahaya pertama matahari menyentuh rumput-rumput.
Buih-buih air masih bergelantungan di rumput, tapi itu tidak membuatnya kesal ataupun tidak nyaman saat duduk di sana.
Kemudian, cahaya matahari bersinar terang, dan dari kejauhan terlihat bagaimana cahaya itu terus bergerak menyinari rumput-rumput dan pohon. Hingga akhirnya menyentuh wajahnya.
Dia tersenyum tipis dan mensyukuri kehidupannya yang pilu, menegangkan dan tidak pasti. Mimpi yang sebelumnya, yang terasa nyata itu tidak benar-benar terjadi. Dia sangat senang mengetahui itu, dan mulai menghargai betapa penting momen sekarang yang telah dia miliki.
Tapi sekali lagi, ada sesuatu yang membuatnya bersedih.
__ADS_1
Sepanjang pagi itu, dia duduk menikmati dan menanti terbitnya matahari sambil memikirkan mengapa dia berkata seperti itu kemarin. Kata-kata itu membuatnya kecewa dan sedih. Tapi seharusnya, dia tidak perlu melakukan itu, namun sekarang dia mengerti dia telah benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Tapi sekarang, dia harus bisa menahannya dan menjaga jarak.
Jia Hu dengan pakaian merah berjalan mendekatinya dan duduk di samping Xin Mei. Dia ikut memandang langit lalu bertanya kepadanya, “Xin, apa kau akan benar-benar akan menikah dengan pria itu?”
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuatnya memikirkan apakah benar-benar dia akan menikahinya. Berbagai pertimbangan dia pikirkan dan akhirnya menyerah dengan menjawab, “aku tidak tahu.”
Sungguh menjadi anak durhaka jika dia menikah dengan pria itu, yang sebelumnya telah membunuh keluarganya. Meski dia tahu ini semua hanya kesalah pahaman. Sebagai anak yang baik, dia mungkin akan memilih pergi ke tempat yang jauh, di mana dia akan melupakan masa lalu yang kelam dan tidak pernah membuatnya terpikir atau mengingat masa sekarang. Di tempat baru itu, dia akan bermain bersama para gadis setiap hari dan hidup tenang hingga akhir hayatnya.
Namun, apakah dia bisa mewujudkannya?
Pria itu mungkin masih memiliki dendam kepadanya, yang sulit untuk di lupakan.
Jia Hu menghela nafas melihat wajah mungil itu di penuhi kebimbangan. Dia tahu memutuskan hidup dengan seseorang adalah keputusan yang berat. Jika memutuskannya dengan cepat, itu terlalu gegabah. Jika telah masuk ke dalam suatu ikatan, maka sulit sekali untuk kembali. Namun, Jia Hu telah salah mengartikan apa yang di pikirkan Xin Mei.
Yang mungkin menjadi alasan gadis di sampingnya sulit memutuskan untuk menikah, Tidak lain karena masa lalu Tang Li yang kelam. Dia membunuh musuh-musuhnya dengan kejam, yang membawa api dendam di belakangnya sekarang. Akan sangat berbahaya jika memutuskan untuk menikahinya.
Tapi, sebagai teman dan calon adik iparnya, dan tidak ingin Pria itu jatuh kembali ke masa-masa kelamnya, dia harus meyakinkan gadis polos ini.
“Xin Mei, jika kau tidak memutuskannya dengan cepat, dia akan pergi untuk selamanya.”
Xin Mei terdiam, dan hanya terdengar suara kicauan burung.
“Aku masih tidak terlalu yakin dengan cintanya. Dia sulit di lihat, apakah benar-benar mencintaiku atau tidak. Dan lagi ingatan-ingatan buruk tentangnya telah membuatku sedikit sulit menerimanya.”
“Jika Jia Hu bertanya, apakah aku mencintainya? Maka aku akan menjawab sangat mencintainya, tetapi untuk mengikat kehidupan dengannya, aku belum bisa menyatakannya sekarang. Jia Hu, aku sangat ragu-ragu, dan ini terlalu cepat bagiku.”
__ADS_1