
......................
Di sebuah ruangan yang tidak terlalu gelap, seorang wanita duduk. Di tangannya ada sebuah buku. Setelah membacanya, dia menghela nafas dan menutupnya.
Akhirnya buku karangannya sendiri telah selesai. Meski dia tahu buku itu memiliki banyak kekurangan, setidaknya buku itu bisa di baca dan di nikmatinya, atau orang lain yang berkeinginan.
Dia kemudian mendengar suara langka kaki yang semakin mendekat, membuatnya tanpa sadar memandang ke arah pintu.
Ketika suara itu berhenti, pintu perlahan-lahan terbuka, dan seorang anak laki-laki berumur 7 tahun muncul dengan pakaian hitam panjang.
Ketika dia melihat wanita itu, kedua matanya cerah kemudian berlari mendekatinya.
“Ibu, lihat kakak, dia mandi lagi di telaga. Sudah aku peringatkan itu sangat kotor dan merusak tanaman-tanaman bunga teratai, tapi dia tidak peduli. Aku merasa kesal, sehingga tidak peduli dengannya. Tapi, lihat ini...” anak laki-laki itu mengangkat kain pakaiannya yang basah. “Dia mencipratkan air telaga dan membuat pakaianku kotor. Ibu, tolong peringati kakak, aku tidak menyukainya! Dia gadis yang sangat aneh! Aku membencinya!”
Wanita itu tersenyum. Dia tidak tahu, apakah dia harus merasa senang karena sikapnya yang turun ke anaknya atau tidak.
Setiap hari, dia harus merasa pusing terhadap anak tertuanya itu. Anak itu sulit di katakan dan di ajarkan. Dia keras kepala sama sepertinya ketika kecil. Dia tidak suka mencuri pakaian, tapi suka mengerjai adiknya.
Aduan yang di lontarkan anak laki-laki sudah sering, namun, dia tidak pernah berbicara sepanjang ini, yang berarti dia telah tidak tahan dengan semua itu.
Dia kemudian berdiri dan menggapai tangannya. “Ibu akan menghukumnya.”
Mereka lalu berjalan ke luar.
Ketika itu, seorang gadis dengan pakaian merah muda berdiri dan tersenyum jenaka. Tubuhnya di penuhi lumut-lumut hijau dan lumpur-lumpur coklat. Namun, senyumannya sangat indah dan mungil, membuat siapa saja sulit mengalihkan perhatiannya.
Anak laki-laki yang ada di samping wanita merasa jijik melihatnya. Kakaknya itu begitu kotor dan tidak bisa menjaga kebersihan diri.
Menyadari itu, gadis itu berkata mengejek, “Adik tersayang, mengapa ekspresimu begitu buruk?” Dia lalu mengarahkan kedua tangannya yang kotor ke depan lalu mendekati sambil tersenyum nakal.
“Kakak, kau sangat kotor!”
__ADS_1
Anak laki-laki itu memegang lebih erat gaun ibunya dan bersembunyi di belakangnya.
Wanita itu yang menyadari itu kemudian tersenyum kecut. Hari-harinya sebagai ibu memang sedikit menjengkelkan. Mengurus dua anak yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda membuatnya pusing dan malu. Selain itu, dia kadang-kadang marah melihat perlakuan keduanya, khususnya anak perempuannya yang keras kepala dan sangat nakal. Yang tentunya itu berasal dari kepribadiannya ketika kecil.
Anak gadisnya itu sangat nakal dan yang satunya lagi sangat menyukai kebersihan, bersikap dingin kepada orang lain yang tidak di kenal, menyukai pedang, namun takut tergores, al hasil, dia hanya bisa memaksakan diri untuk melakukannya.
Wanita itu sering melihatnya memegang pedang dengan tubuh gemetaran dan wajah takut, namun dia mengagumi sikap pantang menyerahnya. Hal itu membuatnya bertanya-tanya, apakah sikap suaminya seperti itu di masa kecil?
Dia ingin sekali menanyakannya, namun suaminya entah kapan akan pulang dan bagaimana keadaannya di luar, apakah dia baik-baik saja?
“Ibu, kakak mendekat!”
Wanita itu kemudian tersadar dan melihat anak gadisnya sudah lebih dekat. Dia kemudian menghela nafas. “Sa’er, jangan menakuti adikmu.”
“Ibu, dia sangat penakut!” Anak gadis yang di sebut Sa’er tertawa dan terus mendekat.
“Sa’er...”
“Sa’er...”
“Tidak ibu.”
“Sa’er!”
Gadis itu terkejut kemudian memandang ibunya. Tatapan ibunya sangat tajam dan mematikan. Dia kemudian menunduk. “B-baik.”
Wanita itu pun menghela nafas. “ Sa’er terlalu kotor, ibu akan memandikanmu.”
Dia kemudian memegang satu tangan gadis itu yang kotor dan satu putranya.
Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk memandikannya. Tidak hanya anak gadisnya yang di mandikan, anak laki-laki itu juga sama. Seperti biasa, gadis Sa’er itu sangat nakal. Dia melompat-lompat saat madi dan bermain air dengan gembira, membuat ibunya kebasahan dan kerepotan. Sementara anak laki-laki itu pipinya memerah karena malu. Ketika di mandikan, dia hanya diam.
__ADS_1
Wanita itu lebih senang memandikannya.
Setelah itu, mereka kemudian duduk di sebuah ruangan, yang di mana ada pemandangan telaga terlihat dari sana.
Kedua anaknya duduk di depannya dan telah bersiap untuk mendengarkan sebuah cerita.
Ibunya berdiri dan mengambil sebuah buku di rak-rak. Dia kemudian kembali duduk dan mulai membacakannya.
Karena angin bertiup kencang dan cerita yang telah sering mereka dengar, perlahan-lahan mereka memejamkan mata dan mulai tertidur.
Ibunya perlahan-lahan menurunkan nada suaranya dan berhenti ketika melihat kedua anaknya tertidur.
Dia kemudian mendekatinya dan tersenyum. Kedua anaknya begitu mungil terlihat ketika tertidur. Melihat itu, dia tidak menyangka akan memiliki mereka dan tidak pernah menyangka akan menikah.
Pria yang telah membuatnya menderita mampu membawakan kebahagiaan kepadanya. Dia tidak pernah menyangka akan sebuah kejadian seperti ini.
Mengelus kedua kepala anaknya, wanita itu kemudian pergi mengambil selimut dan menyelimutinya dengan perlahan-lahan.
Setelah itu, dia kemudian tersenyum dan tiba-tiba angin berhembus kencang. Dia menoleh. Seorang pria berjubah sedang berdiri memandang telaga yang ada di halaman rumahnya.
Wanita itu kemudian pergi ke rak-rak buku. Setelah mengambil satu buku, dia mendekati pria itu dan memberinya buku.
Pria itu menoleh sebelum mengambilnya.
Setelah membuka beberapa halaman dan halaman terakhir, dia kemudian menutupnya. Senyuman lembut muncul di wajahnya. “Kau mengubah adegan terakhir.”
Wanita yang ada di sampingnya menoleh dan tersenyum. “Aku mengubahnya. Kisah itu harus berakhir seperti itu, tidak baik berakhir dengan cara seperti yang lainnya.”
“Kau memang unik, gadis aneh.”
End....
__ADS_1