
“Guru, aku harus pergi.”
“Tunggu.”
“Ada apa guru?” Tang Li berbalik tanpa sedikit pun semangat sedikit pun di wajahnya.
“Temani wanitamu. Kau akan mengerti jika dia sudah meninggalkanmu.”
“guru, tidak baik bercanda seperti itu.” Tang Li berbalik ingin pergi, tapi lagi-lagi liu fang menghentikannya.
“guru, aku tidak punya hubungan apa pun dengannya, guru tidak usah menyuruhku seperti itu.” Nada tang li lebih serius. Dia tampaknya sangat tidak menyukai perintah gurunya. Dia berkata tanpa menoleh ke arah gurunya.
Liu fang ingin menghentikannya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa menghela nafas dan memandang ke luar.
......................
Angin itu membelai pipi putihnya, sungguh iri jika laki-laki melihatnya. Rambutnya melambai-lambai seolah senang di tiup angin. Li Xin Mei duduk di atas dahan pohon yang tinggi. Dia menikmati pemandangan bawah puncak yang mempesona.
Langit oranye, deretan pegunungan awan dan bangunan-bangunan serta sungai mengkong yang berkelak-kelok nampak indah dari atas. Bibirnya yang manis tersenyum. Bibir merah merona.
“ternyata tidak sia-sia berada di sini.”
“tapi sayang sekali, aku harus turun hari ini.” Xin mei memandang ke bawah. Tempatnya berada sekarang tidak bisa di bilang rendah, tapi gadis itu tidak ketakutan sama sekali.
Dia melompat dan mendarat di dahan bawahnya. Dia turun dengan sangat baik. Han fu biru bercampur putihnya berterbangan indah ketika dia melompat. Ketika tiba di bawah, tubuhnya dia rentangkan.
“Ah... Ini sangat menyenangkan. Hi hi hi.”
Dia tersenyum memandang pohon bunga persik itu. Rambutnya menjuntai lebih panjang. “ah, andai aku di berikan memanjat pohon ketika aku masih kecil, pasti akan sangat menyenangkan.”
Dia kemudian masuk ke dalam. Mengambil buah-buahan dari dapur. Ketika pergi, dia melihat penampung air, saat itu dia baru ingat untuk meracuni Tang Li.
Di keluarkan satu racun dari bajunya.
Ibu, ayah, semoga kalian tenang berada di sana. Aku akan membunuh pria itu hari ini.
__ADS_1
Perlahan-lahan dia mendekati lubang sumur. Dia melihat wajah cantiknya dan rambutnya jatuh menutupi kedua telinganya.
Hari ini kau harus mati.
Dia membuka botol dan mulai menuangkannya.
“arkh! A-anda!”
Sebelum sempat menuangkannya, tiba-tiba tangan kasar memegangnya. Saat dia menoleh, guru tang Li memegang tangannya. Wajahnya terlihat dingin, sangat dingin.
Li Xin mei tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa diam dan berusaha tidak memperlihatkan ekspresi ketakutan di wajahnya. Tapi tubuhnya keburu bergetar ketakutan. Dia menunduk, karena tidak ingin di lihat oleh guru tang Li.
“Seharusnya aku biarkan saja Tang Li membiarkan tanganmu kesakitan.”
Xin mei tetap diam, tapi dia sekarang tahu yang mengobatinya adalah tang Li, sosok pria yang sangat di bencinya. Dia sedikit terkejut mendengarnya.
Dia memberanikan diri mengangkat wajahnya. “meski dia menyembuhkanku atau tidak, aku tidak peduli. Dia adalah Pria biadab, mestinya dia mati karena dosa-dosanya.”
“Apa yang kau tahu tentangnya?” liu fang bertanya sambil mengerutkan kening.
“dia telah membunuh kedua orang tuaku! Aku harus membunuhnya! Bahkan! Telah memegal kepala ibuku! Sampai kapan pun! Aku akan membunuhnya!” air mata xin mei tidak bisa di bendung. Dia teringat dengan peristiwa itu. Seharusnya dia sekarang bahagia bersama suaminya, orang yang telah di pilih oleh kedua orang tuanya. Dan dia seharusnya tidak bernasib seperti ini jika Tang Li tidak mengacaukannya.
Liu fang menghela nafas. “Kau terlalu naif. Di dunia ini hal itu selalu terjadi. Kau gadis yang baru keluar dari kamarmu.”
“aku tahu itu! Jadi, apa salahnya aku berusaha membunuhnya! Jika kau berpihak kepada kebaikan, biarkan aku berusaha membunuhnya.” Xin mei mengusap air matanya dan menarik ingusannya.
“Tidak. Kenapa aku harus membiarkan orang yang berharga dalam hidupku mati. Kau terlalu lemah dan kedua orang tuamu juga sama. Jika tidak, mereka tidak akan berakhir mengenaskan.”
Liu fang melanjutkan, “di dunia ini hanya yang kuat akan menang dan yang lemah akan di tindas. Kekuatan adalah segalanya, kau harus tahu itu.”
“aku tahu itu. Tapi apa gunanya akal, pikiran, perasan!? Apakah semua itu tidak penting? Apakah kau bisa hidup dengan kekuatan saja? Apakah kau bisa hidup tanpa rasa dan kasih sayang!? Apakah manusia bisa hidup tanpa cinta?”
Liu fang menghela nafas. “Daun kering hanya memiliki takdir di terpa angin, Meski dia tidak ingin berpisah dengan induknya.”
“kita kembali ke awal saja. Tidak ada gunanya membicarakan hal aneh seperti itu. Aku akan pergi dari sini.”
__ADS_1
Xin mei langsung bergegas pergi tapi liu fang muncul di depannya dan menotok tubuhnya dan membuatnya pingsan.
Ketiga botol rancun tebang melayang ke tangannya dengan lembut. Liu fang lagi-lagi menghela nafas. “aku kurang berhati-hati.” Dia menggelengkan kepala dan pergi dari sana.
......................
Ketika sadar, xin mei langsung memeriksa botol racunnya. Namun dia tidak menemukannya. Dia terus mencari dan mencarinya, akan tetapi tidak membuahkan hasil.
Setelah beberapa lama mencari, dia teringat dengan Liu fang. Dia menjadi marah dan mengutuknya. “dasar guru dan murid sama saja! Aku berjanji akan membuat kalian membayar semuanya.... Iks....iks.....iks....”
“Kenapa, Kenapa, Kau membela murid jahatmu itu? Aku membencimu juga.” Xin mei hanya bisa menangis. Dia tidak punya harapan untuk membunuh Tang Li, racun yang di berikan semuanya di ambil. Jika dia ingin mengambilnya akan sangat mustahil.
Dia hanya bisa menangis kecerobohan dan kurang hati-hatinya dalam melakukan tugasnya.
......................
Setelah kesedihannya mereda, xin mei berjalan-jalan mengelilingi rumah hakka. Hatinya lebih gembira setelah beberapa hari, dan dia juga sudah mulai melupakan kejadian itu. Sementara tang Li sendiri, dia tidak pernah bertemu dengannya. Dia hanya akan mengetuk pintu di pagi-pagi buta dan memberikan makanan. Xin mei awalnya berusaha untuk tidak tergoda dengan makanan itu, akan tetapi dia tidak bisa dan menghabiskannya. Sudah beberapa kali itu terjadi, namun dia masih belum bisa mengendalikan dirinya.
Setelah berjalan-jalan beberapa saat, dia masuk ke dalam sebuah ruangan, dan tanpa sengaja melihat beberapa pedang di tembok. Dia tertarik dan mengambilnya.
“Inikah rasanya mengambil pedang?” Ucap xin mei lirih sambil melihat-lihat dan mengusap-usap pedang.
Dia kemudian menariknya. “pedang ini sangat indah, tapi sayang sekali untuk membunuh.” Dia kembali meletakkannya.
“Tapi.... mungkin ini akan bermanfaat jika aku mencurinya.” Xin mei memandang sekitarnya. “tidak ada siapa-siapa, aku harus mengambilnya.”
Xin mei berjalan. Setelah beberapa saat, dia melihat patung seorang wanita sedang menari dengan selendang.
“Wah, ini mempunyai keindahan yang misterius.” Dia kemudian menoleh ke segala arah. “hehehe. tidak ada siapa-siapa, kau harus menjadi miliku.” Dia kemudian mengambil patung itu dan memasukkannya ke dalam pakaian, kemudian pergi dari sana. Senyuman nakal terlihat jelas di wajahnya. Dia mengambil seolah itu adalah hak miliknya. Tidak ada rasa takut di wajahnya; hanya di penuhi rasa kegembiraan yang tinggi.
Saat Xin mei menutup pintu dengan perlahan-lahan, dia di kejutkan dengan Tang Li yang berada di depan pintu.
“Apa yang kau lakukan?”
“tidak ada,” jawab xin mei ketus sambil menyembunyikan pedang di punggungnya.
__ADS_1
Melihat wajah Tang Li tidak percaya dan memandang, Xin mei berkata, “kenapa? Apa kau mencurigaiku? Asal kau tahu, aku adalah gadis bangsawan, semua barang yang ada di sini tidak menarik minatku. Permisi.” Xin mei cepat-cepat pergi sambil menyembunyikan pedang. Dia mendekapnya di dada sambil berjalan. Untungnya pedang itu tidak terlalu panjang dan besar sehingga dapat tersembunyi dengan baik di dadanya.
Tapi, dengan kepala menunduk dan mendekap sesuatu dengan kedua tangannya, membuat siapapun akan mengetahui dia sedang menyembunyikan sesuatu. Namun saat xin mei berjalan seperti itu, tang Li sudah berjalan menjauh.