
Tidak beberapa lama setelah dia merapikan rambutnya, Tang Li datang membawa bungkusan. Dia berdiri dan tersenyum manis kepadanya. Namun Tang Li dengan wajah dingin langsung memberikan bungkusan itu. Dia tidak melemparnya. Melainkan, memberikannya seraya mendorong Xin Mei seperti dia memberikannya secara tidak ikhlas.
Meski agak sedikit kasar, itu lebih baik dari pada sebelumnya yang di lempar begitu saja.
Xin Mei tidak merasa tersinggung dengan perlakuan Tang Li. Sebaliknya, dia senang dan gembira karena mendapatkan makanan, di tambah lagi ada yang mau mencarikannya. Selain itu, dia juga sudah terbiasa dengan perlakuan Tang Li yang kasar, perlakuan sebelumnya itu bisa di bilang perkembangan dari sebelumnya.
Setelah mendapatkannya, dia duduk di undakan. Membuka bungkusan itu. Alangkah senangnya dia setelah mengetahui jika itu adalah beberapa buah apel yang segar dan baru di petik dari pohonnya. Buah apel itu berbentuk bulat dan berwarna merah segar. Anak-anak pasti sangat menyukainya.
“Ini sungguh hebat! Di mana kau mendapatkannya? Aku lihat, sepanjang perjalanan tidak ada pohon apel di sekitar sini.” Dia bertanya dengan antusias.
Meski dia tahu Tang Li bisa hilang, dia tidak percaya dapat menemukan makanan yang relatif singkat hanya beberapa menit saja.
“Jangan banyak bertanya!” Tang Li agak tidak senang di tanya seperti itu. Dia berbalik menjauh dan berdiri Beberapa meter darinya.
Memandangnya sebentar, dia membuka bungkusan dan berujar dengan ceria, “Tang Li, sini!”
Tang Li tidak bergeming.
“Ayolah!”
“.....”
“Jika kau tidak mau, kau harus menunggu aku beberapa jam untuk memakan makanan ini.”
Saat ini, barulah Tang Li mendengarkannya. Dia mendengus kesal sebelum mendekatinya. “Apa yang kau inginkan lagi!?”
Mendengar pekikkan Tang Li, dia tidak takut sama sekali. Dia bahkan menganggapnya tidak ada. Ketika Tang Li berkata seperti itu, Xin Mei buru-buru menarik pedangnya, mengambil sebuah apel. Kemudian, membelahnya dengan baik. Suaranya renyah terdengar ketika dia membengkokkan bilah pedangnya. Dan apel pun terbelah menjadi dua.
“Ini!” Dia mengulurkan tangan putihnya yang ada sebagian buah apel.
Tang Li diam sejenak dan mengamati apa yang di lakukannya. Dan dia bertanya penuh keheranan, “Mengapa kau memberikannya?”
“Mengapa? Dasar bodoh! Ini adalah hasilmu, bukankah kau berhak mendapatkannya? Selain itu, jika ada racun di apel ini, kau yang akan mati lebih dulu dari pada aku.”
__ADS_1
“Meski aku tahu, kau sangat mustahil melakukan itu, karena aku masih penting. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam otak biadabmu itu. Cepat ambil, dan makan.”
“Tidak.”
“Cepat! Jika kau tidak mau, jangan kau berharap kita akan berjalan di tengah hari nanti. Ayo cepat!”
“Dasar gadis aneh!” Tang Li mengambilnya dengan terpaksa kemudian memakannya.
“Gadis aneh? Itu nama yang bagus.”
“Kau memang gadis yang aneh.” Tang Li duduk di sampingnya.
“Kau benar, aku gadis aneh menurutmu. Jika menurut ibuku dan bibi tao, mereka bilang aku Gadis keras kepala dan kepala emas. Banyak sekali julukan yang kuterima. Gadis pencuri, gadis nakal... Banyak sekali. Para pelayan yang suka mengatakan itu. Tapi anehnya, aku tidak merasa sakit hati mendengarnya, malahan sebaliknya, aku menyukainya.” Dia berkata seraya mengupas buah apel dengan pedangnya.
“Kau memang aneh.”
“Kau yang aneh! Kau tidak tahu mengapa mereka menjulukiku seperti itu. Itu artinya mereka sayang kepadaku, kecuali dirimu. Mereka semua menganggap diri mereka adalah ibuku.”
“Di bandingkan dengan sayang, itu lebih tepatnya mengejek dirimu.”
“Terserah kepadamu saja.”
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Setelah Tang Li selesai makan, dia berdiri dan berjalan menjauh. Lalu, berdiri tidak jauh dari sana.
Sementara Xin Mei menikmati buah apel yang di berikan. Buah apel itu sangat enak dan manis, tidak terasa sudah lima buah dia habiskan. Dia ingin memakan semuanya, namun harus dia urungkan, karena harus di jadikan bekal selama perjalanan. Dia tidak ingin meminta lagi kepada Tang Li.
Setelah selesai makan, dia memungut semua apel dan kulitnya, kemudian membuang kulitnya dan mendekati Tang Li.
“Ayo kita pergi.”
Tang Li tidak menjawab, namun dia berjalan menjauh.
“Hi hi hi. Kau sangat hebat dalam mencari buah apel,” ujar Xin Mei sambil membawa bungkusan di tangannya. Dia terlihat sangat ceria ketika bertanya layaknya gadis berusia 16 tahunan.
__ADS_1
“Aku lebih jago membunuh dan menyiksa, apakah kau mau melihatnya?”
Xin Mei menjadi takut. “Tidak, tidak, aku tidak berani.” Dia berkata sambil sedikit menunduk dan memperlambat jalannya.
Setelah berjalan beberapa jam, akhirnya mereka tiba di desa terdekat. Desa yang mereka datangi bernama desa meili de Shan. Orang-orang terlihat banyak lalu lalang dari pintu gerbang, dan tentu saja ada aksara desa Meili de Shan tertata di sana. Saat mereka tiba, cahaya matahari sudah berada di ufuk barat. Karena mereka berjalan ke arah timur, maka akan terlihat bayangan mereka di timur yang panjang.
Orang-orang terlihat saling menyibukkan diri, ada yang menjual manisan, makanan, jimat, dan lain-lain. Anak-anak lalu lalang dengan indahnya. Keributan pun pecah dan sangat ramai ketika mereka tiba.
Sebelum Xin Mei masuk lebih jauh, dia menarik pedangnya, hanya sekedar melihat penampilannya. Dia masih tetap cantik. Cahaya matahari memantul dan menyilaukannya. Namun, baru dia menyadari sesuatu. Kedua matanya sedikit melebar, dan dahinya sedikit terajut. “Oh tidak! Oh Tidak! Liontin ibu!” dia tanpa sadar memegang kedua pipinya dan menjatuhkan pedangnya.
“Aku harus kembali dulu, itu sangat penting!” tanpa mempedulikan Tang Li, dia berbalik pergi berlari setelah mengambil pedangnya.
Tang Li yang mendengar Li Xin Mei hanya bisa menghela nafas kemudian masuk ke salah satu kedai guna menunggunya di sana.
......................
Setelah kembali ke sana, dia tidak menemukannya. Dia tidak menyerah begitu saja, dia terus mencari dan mencari. Tidak peduli benda curiannya di ketahui Liu Fang, yang paling dia inginkan adalah liontin tersebut, itu adalah liontin pemberian ibunya. Dia harus mendapatkannya, tidak peduli entah di mana.
Dia mencari setiap ruangan yang ada. Tidak peduli pernah dia ke sana atau tidak. Dia sangat khawatir liontinnya hilang. Jika itu bukan pemberian ibunya, dia tidak akan ambil pusing, namun itu adalah pemberian ibunya. Dia juga sangat menyayanginya.
Liu fang yang melihat kekhawatiran di wajah Gadis itu, mau tidak mau membantunya. Namun liontin itu benar-benar tidak ada di sana. Dia memeriksanya dengan baik dan cermat.
Namun, Xin Mei tidak percaya, dia sangat ingat jika liontinnya berada di sini, hanya saja tidak tahu di mana dia menaruhnya.
“Tuan... tolong aku! tolong bantu aku mencarinya. Itu sangat penting. Liontin itu adalah pemberian ibuku!” Xin Mei memohon sambil menarik-narik jubah Liu Fang. Air matanya mulai jatuh mengalir.
Melihat wajah sedihnya, Liu Fang tidak tega, dia membantunya sekuat tenaganya. Namun ketika malam tiba hingga larut, mereka tidak menemukannya. Xin Mei sangat bersedih.
Dia akhirnya meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan dengan Liu Fang. Liu Fang pun memberikannya pergi sendiri. Li Xin Mei hanya ingin sendirian. Dia sudah menawarkan beberapa barang untuk di tukarkan dengan liontin itu, namun semuanya di tolak begitu saja.
“itu adalah liontin pemberian ibuku! Aku tidak mau yang lain!” Begitulah jawabannya ketika di tawarkan.
Li Xin Mei berjalan perlahan-lahan sambil menunduk. Kedua matanya redup bersamaan dengan alisnya. Dia sungguh menginginkan liontin itu. Sungguh ceroboh dirinya karena telah meninggalkannya begitu saja. Ibunya mungkin akan marah karena tidak bisa menjaga liontinnya.
__ADS_1
Sambil memegang patung sang penari dan pedang di dadanya, dia perlahan-lahan menghilang di balik gerbang.