Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 17 : tarian kemenangan


__ADS_3

Tang Li berdiri di depan jendela sambil memandang ke luar. Orang-orang masih ramai di jalanan. Lampu-lampu yang indah menyala dengan terang menghiasi jalanan.


Dia sudah lama diam di sana, dan hanya memesan satu cangkir arak. Para pelayan mulai membicarakannya karena belum juga membayar dan menghabiskan arak yang tak seberapa itu. Namun Tang Li tidak mempedulikannya. Dia duduk termenung di meja sambil mengetuk-ngetuk meja. Lalu, berdiri melihat ke luar. Tidak ada hal lain yang dia lakukan dari tadi selain dua hal itu saja.


Dia mulai bertanya-tanya mengapa Li Xin Mei belum datang juga, apa yang menyebabkannya pergi, dan seberapa penting barang yang di tinggalkannya.


Liontin?


Dia teringat dengan liontin itu. Di keluarkannya liontin itu kemudian menggantungnya. Dia tersenyum tipis. Dia tidak akan mengembalikannya, dia akan menikmati kesedihan gadis itu.


Tiba-tiba kedua matanya tajam, dia dengan cepat berbalik. Namun tidak ada siapa-siapa di mejanya. Dia jelas yakin ada seseorang sebelumnya. Setelah mengamati beberapa saat ternyata ada seikat kain di kursi.


Dia mengambilnya dan melemparnya beberapa kali di udara. Akan terdengar suara koin.


Siapa yang memberikan ini?


Dia membukanya. Di sana ada satu gulungan kertas dan banyak koin emas. Dia membuka gulungan itu.


Musuhmu adalah musuhku juga. Kau tenang saja, aku akan menangkapnya dan menyiksanya. Setelah beberapa hari, aku akan mengembalikannya. Seorang penjahat akan tetap menjadi penjahat. Itulah yang ada di dalam gulungan itu.


......................


Dalam kegelapan malam, seorang gadis berjalan menuruni undakan. Dia sedikit menunduk. Di tangannya ada sebilah pedang dan boneka. Dia berjalan tanpa memandang ke depan, hanya memandang ke bawah, terus berjalan, dan berjalan.


Dia tidak tahu, sampai di mana berjalan. Dia hanya tahu, dia berjalan menuruni puncak dan menyeberangi jalan tanah yang dingin. Suara seram serta kilatan petir, tidak membuatnya takut. Dia bahkan tidak akan pernah memikirkan rasa takut itu sama sekali. Pikirannya di penuhi bayang-bayang ibunya yang kecewa, marah dan membencinya.


Alangkah buruknya bayangannya itu, sampai-sampai sedikit air matanya menetes.


Alangkah buruknya juga dia tidak berhati-hati dan tidak waspada.


Kilatan petir lagi-lagi merambat seperti akar, kemudian di susul suara gemuruh yang amat keras. Dia kini terkejut dan menatap langit yang sudah di penuhi awan-awan hitam.


Bulan mulai terselaputi dan bintang-bintang mulai memejamkan matanya.


“Ini akan hujan, aku harus cepat!” begitu dia berbicara, dia mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Namun, belum juga sampai di rumah penduduk sekitar, tetesan hujan bertaburan dan sangat tebal. Dia terus berlari dan berlari. Dia tidak tahu lagi ke mana jalan sebelumnya. Namun alangkah senangnya dia menemukan sebuah gubuk. Dia cepat-cepat ke sana dan membuka pintu perlahan-lahan.


Dalam gubuk itu dua wanita dewasa duduk berseberangan. Mereka menatap aneh ke arahnya.


“A-apa aku boleh berteduh sebentar?”


“Tentu saja. Kemarilah, gadis cantik.” Sambutan hangat dia dapatkan dari wanita dewasa sebelah kiri. Wanita itu harum sekali baunya. Wajahnya tidak terlalu cantik, Namun sangat ramah. Di sekujur tubuhnya di selimuti han fu putih yang sangat indah. Mungkin dia adalah seorang bangsawan.


Li Xin Mei ragu-ragu masuk. Dia mendekati wanita itu segera setelah menutup pintu.


Ketika dia datang, wanita itu menggeser tempat duduknya dan mengisyaratkannya untuk duduk. Dia ragu-ragu, namun dia menerimanya.


Kobaran api yang hangat ada di hadapannya, bersamaan dengan wanita yang lebih muda. Dia agak sedikit cuek, namun wajahnya sangat cantik. Dia memakai han fu kuning yang bersulang bunga-bunga.


“Nama bibi, Lu yingtao, panggil saja bibi ying,” ucap Wanita di sampingnya. Dia hanya bisa mengangguk pelan. Dia tidak terbiasa dengan dua wanita tidak di kenalnya.


“Di seberang, dia adalah jing heihai. Panggil saja kakak jing.”


Li xin mei lagi-lagi mengangguk.


“I-iya.” Dia mengangguk kemudian memeluk lututnya, menyandarkan kepalanya di sana dan menatap api unggun.


“Akhirnya kita menemukannya, kakak.” Tiba-tiba jing heihai, berujar.


“Kita tidak menemukannya, tapi mendapatkannya. Kau terlalu bersemangat, bersabarlah, kita akan mendapatkannya.”


Li Xin Mei tidak mempedulikan apa yang di bicarakan dua orang itu. Hari ini, dia sangat ingin bertemu dengan Tang Li. Meski pria itu biadab dan musuhnya, dia setidaknya sudah mengenalnya dan bisa berbicara panjang lebar dengannya.


Lu yingtao dan jing heihai berbicara berbagai hal. Tetapi semuanya tidak di ketahui Li Xin Mei. Dia juga tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan itu. Liontinnya sudah hilang, dan ibunya pasti akan memarahinya.


Beberapa menit berlalu, mereka akhirnya terdiam. Lu yingtao mengambil salah satu ranting pohon di depannya. Dia mengais-ngais sesuatu dari dalam arang yang membara. Li Xin Mei tertarik, dia mengamati beberapa saat. Lu yingtao ternyata mengais sesuatu yang bulat dari sana. Ada tiga bulatan yang tertutupi abu seperti telur.


Melihat Li Xin Mei mengamatinya, dia bertanya, “Apakah kau suka telur?”


Li Xin Mei diam sejenak dan bertanya, “telur?”

__ADS_1


Lu yingtao mengangguk. “Saat kami tiba di sini, kami membawa telur dan langsung memasaknya. Kami menggunakan tanah basah dari luar untuk melapisi telur kami supaya tidak hancur saat proses pemasakan. Makanlah satu, kau pasti lapar.”


Dia mengamati telur yang tertutupi tanah itu. Ini adalah pertama kalinya dia melihat seseorang memasak dengan cara yang unik seperti itu. Dia mulai berpikir, jika dua orang di depannya memiliki pengalaman bertahan hidup yang sangat hebat.


Dia mengangkat wajahnya dan ragu-ragu mengangguk. Meski dia takut orang asing dan takut di racuni, dia sangat penasaran bagaimana rasa telur panggang itu.


“Eh? Kau ternyata membawa pedang dan sebuah boneka. Boleh bibi lihat?”


Dia langsung memegang erat kedua mainannya yang menandakan tidak boleh di pinjam sama sekali. Ekspresi yang polosnya juga berubah.


Melihat itu, tidak ada jejak kekecewaan di wajah Lu yingtao. Sebaliknya, dia tersenyum lembut. “Dari mana kau mendapatkan boneka itu? Apakah kau tau apa nama tarian itu?”


Dia dengan lemah menggelengkan kepalanya.


“Namanya tarian selamat datang, kadang-kadang juga di sebut tarian kemenangan. Aku bisa melakukannya. Tarian itu jika di peruntukan untuk kemenangan, maka selendang di ujung tongkat itu akan di ganti dengan bendera, sementara untuk tarian selamat datang, akan di pasang selendang merah panjang.”


“Kakak, kenapa kau berbicara hal tidak penting seperti itu?” tiba-tiba jin heihai menyela dengan wajah kesalnya.


“jika kau tidak suka, kau boleh tidur.”


Jin heihai langsung beranjak membaringkan tubuhnya di ranjang yang tidak jauh dari sana.


Saat suara nafasnya terdengar lembut, Lu yingtao melanjutkan, “Ada tiga tahap yang harus di lakukan dalam tarian-tarian ini. Pertama, tarian tanpa selendang. Gerakan tarian ini sangat lembut dan indah. Para penari hanya membawa tongkat. Sementara, selendangnya di selipkan di pinggangnya. Tahap kedua, barulah mereka akan menarik selendangnya dan mengikatnya dengan cepat di tongkat. Kemudian terakhir penutup.”


Li Xin Mei tidak terlalu paham dengan apa yang di bicarakan Li youngtou. Namun dia terhibur dengan pembicaraannya.


“Pedang dan boneka itu, dari mana kau mendapatkannya?”


“Aku....aku...aku mendapatkannya dari salah satu pedagang di kota.” Li Xin Mei tiba-tiba panik. Untung saja Lu yingtao tidak terlalu memperdulikannya.


“Bibi, apakah aku bisa memakan telur ini sekarang?”


“Tentu saja ,namun, harus hati-hati, masih panas.”


Li Xin Mei mengangguk. Dia kemudian mengambilnya. Telur itu masih panas, namun dia paksakan untuk membukanya. Dia sangat ingin sekali mencicipinya.

__ADS_1


Butuh perjuangan dalam membukanya, karena semakin membukanya, maka akan semakin panas. Dia kandang-kandang harus meniup-niup tangannya yang panas.


__ADS_2