Gadis Bordil

Gadis Bordil
chapter 5 : pedang itu sangat mematikan


__ADS_3

“jangan bilang, jika itu tang li?” kini wajah terkejut terpoles baik di wajahnya.


“hahaha, ternyata anda tahu. Jika Anda melepaskannya, anda akan—”


“tunggu bibi!” celoteh Xin mei tiba-tiba.


Semua perhatian tertuju kepadanya. Muncul di hatinya rasa takut dan malu. Dia menunduk, lalu kembali mengangkat wajahnya. Iya, jika dia ingin lepas dari pria itu, dia harus melakukan sesuatu.


“aku akan menjadi wanitamu. Tubuhku akan aku serahkan sepenuhnya kepadamu. Aku akan melayanimu selama dan sepuas yang kau mau. Tapi, aku ingin kau membunuh tang Li. Apakah kau bisa?”


Dia menarik nafas dan mengaturnya. Perlu usaha lebih untuk mengatakan itu.


“Nona, anda...?”


“T-terima kasih bibi, tapi a-aku harus m-membalas dendam keluargaku.” Mendengar ucapnya, tentu saja membuat bibi tao terkejut. Tapi membunuhnya dengan bayaran seperti itu akan sangat setimpal. Reaksi wajah bibi tao, membuat xin mei malu dan sedikit takut, jangan-jangan bibi tao akan membencinya.


“Bagaimana tuan muda?” Xin mei menoleh ke arah pemuda yang masih sedang memikirkan sesuatu.


Empat bawahnya hanya bisa terdiam. Bagaimana pun juga tang li adalah dewa kematian, mereka tidak boleh ikut campur dan mencari gara-gara dengannya.


“ah... Maaf nona, meski anda cantik seperti Dewi, tapi...aku tidak bisa membunuhnya. Melakukannya, sama saja mengantarkan nyawa percuma-Cuma.” Dia menoleh ke arah empat bawahnya dan menginstruksikan untuk pergi.


“kalian! Bagaimana bisa kalian pergi begitu saja. Lihatlah aku, aku masih muda dan cantik.” dia tanpa sadar berteriak, akan tetapi tidak mendapatkan perhatian sedikit pun.


Melihat itu, seketika tubuh xin mei robot seolah tenaga di serap oleh lantai di bawahnya tanpa sisa. Dia menunduk ke bawah. Di tolak? Dia di tolak. Apakah sekuat itukah tang li? Hingga tuan muda seperti bangsawan itu tidak mau menolongnya


“nona, ayo kita pergi.” Suara pelan terdengar dari mulut wanita berpenampilan itu.


“t-tidak! Kenapa anda berkata seperti itu? Biarkan saja aku di bawah olehnya. aku ingin terbebas darinya. Aku ingin hidup bahagia dan tenang di satu bukit yang penuh dengan bunga.” Tetesan demi tetes air mata menetes dari sepasang matanya. Jika ingin pergi sekarang, bibi tao mungkin akan mengatakannya kepada tang li. Tapi, jika sebelumnya pergi, dia teringat dengan nasehat fang Liang.


“a-apa bibi akan membantuku untuk bebas darinya?” xin mei mengangkat wajahnya yang di landa musibah itu.


“......” bibi tao tidak bisa berkata-kata.


......................


Pelita-pelita berwarna kuning bersinar menghiasi jalan setapak yang sunyi itu. Angin malam yang tidak- pernah tertidur berjalan-jalan di sana. Membawa dedaunan dan wewangian dari tempat yang jauh.

__ADS_1


Di jalan itu, xin mei dan bibi tao berjalan.


“bibi, apa kau akan membantuku?” dia ingin meyakinkan bibi tao setelah semua yang telah dia ceritakan kepadanya. Sepasang mata itu memancarkan cahaya dan harapan yang tinggi.


“.... setelah saya mendengar cerita nona, tentu saja sedih dan berduka atas apa yang telah dilakukannya. Tapi...maaf saya tidak bisa.”


Tercengang. “Mengapa?”


“nona, tidak ada yang baru di dunia ini, sesuatu yang anda alami tentunya sudah di alami oleh orang lain juga. Menurut ibu saya, janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, itu akan membawa anda ke bencana yang lainnya.”


“T-tapi, aku melakukannya demi membalas kematian keluargaku, apakah itu di sebut kejahatan?”


“tentu nona. Apakah anda tahu mengapa tuan melakukan itu?”


Dia menggelengkan kepalanya pelan.


“baiklah, akan aku ceritakan sedikit ceria untuk anda. Sejak kecil, tuan sudah kehilangan keluarganya, itu adalah pukulan terberat yang pernah dia alami. Jika kehilangan karena penyakit, dia tentunya tidak akan memiliki dendam seperti itu. Anda tahu, kan apa yang saya maksud?”


Xin mei ragu-ragu menjawab, “m-mebunuh?”


Bibi tao mengangguk. “iya, oleh sebab itu, dia selalu berlatih dan berlatih. Bahkan karena terlalu benci dan dendamnya, dia lupa untuk istirahat dan lambat makan. Sebagai orang tua yang baik, saya tentunya akan selalu memperingatinya, namun dia tidak pernah mempedulikannya.”


“kenapa bibi mengatakan itu?” xin mei berhenti berjalan, dan di ikuti bibi tao.


“supaya anda tahu, asal usul mengenai tuan muda.” Mereka mulai berjalan lagi. “Setelah pertemuan itu, saya sangat bersyukur karena telah di pertemukan keduanya. Mereka memupuk cinta dengan tulus dan setia. Kebiasaan tuan muda berkurang dan berangsur-angsur membaik. Gadis itu juga sangat baik dan anggun. Saya masih tidak bisa melupakan wajahnya yang anggun dan senyumannya yang menawan.”


“selain itu, sikapnya juga seperti bunga teratai yang menyebarkan wanginya ke segala arah. Dia akan berkata ‘mari kita diskusikan ini untuk mendapatkan cara yang lebih baik.’ Katanya setiap kali saya melihat dia berada di kedai dan menemukan ada bawahan yang mendapat kesalahan. Meski kedengarannya aneh dan menggurui, karena sikapnya yang ceria dan selalu tersenyum membuat semua yang senang dengannya.”


“akan tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suatu malam, dia pergi ke atas gunung dengan pelita tongkat di tangannya untuk mencari tanaman herbal untuk menyembuhkan tuan muda. Ini adalah awal mela petaka tuan muda bersikap seperti itu.” Tiba-tiba nada bibi tao lebih serius.


“apa dia mati?” xin mei menduga.


Bibi tao menggelengkan kepala pelan. “bukan begitu, Tapi dia di culik dan di temukan tanpa busa sedikit pun di dalam gua oleh tuan muda. Maka meluaplah kemarahan tuan muda. Saat orang-orang yang melakukan itu muncul tuan muda langsung menyerangnya. Akan tetapi tuan muda saat itu masih lemah, lambat laun dia di kalahkan. Tetapi dia berhasil selamat berkat kekasihnya yang telah mengorbankan nyawanya untuk melindungi tuan muda. Saat itu tuan muda Berhasil selamat karena bantuan gurunya, namun dia tidak bisa membalaskan dendam kekasihnya. Setelah itu, dia kemudian menjadi orang yang suka berlatih pedang dan membunuh.”


“Nona, jika anda bersedia, tolong dia untuk kembali ke jalan yang benar. Dia korban kejahatan.”


Xin mei tidak menjawab. “ Kenapa bibi bisa tahu?”

__ADS_1


“Karena dia selalu menganggap bibi sebagai ibunya.”


Xin mei berhenti. “tidak bibi, aku tidak akan pernah membantunya, sampai kapan pun. Dia telah membunuh keluargaku dan calon suamiku tepat di hadapanku.” Bayangan-bayangan tragedi itu muncul di dalam pikirannya.


Setetes air matanya jatuh kata tidak kuat melihat pembantai itu.


“Dia juga telah merebut kesucianku, bagaimana bisa aku membantunya?” xin mei mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah dan dendam di hatinya. Air mata mengalir deras tidak terkontrol.


Meski mendengar itu, bibi tao tetap tenang seolah itu adalah hal yang wajar. “nona, apakah nona mengetahui mengapa dia melakukan itu?”


“Tidak tapi aku tidak mempedulikannya. Entah alasannya baik atau tidak, aku harus membunuhnya!”


“Nona, dia melakukan itu karena keluargamu lah yang telah membunuh orang tuanya.”


“bibi! Itu tidak mungkin, ayah dan ibuku orang yang baik, mereka pasti tidak akan pernah melakukannya. Dia pasti sudah salah membunuh.”


“tidak non—”


“Jangan di sambung lagi.” Sosok pemuda berdiri di depan mereka. Dia berbalik.


Xin mei terkejut dan cepat-cepat menunduk. Ketakutan akan pria di depannya sangat tinggi, terlebih lagi dia sangat kejam. Jantungnya seketika berdetak kencang.


“bibi, aku ingin berdua dengannya.”


Bibi tao mengangguk dan pergi cepat-cepat, bahkan dia tidak mempedulikan xin mei yang memanggilnya.


“A-apa yang akan kau lakukan?” Xin mei berjalan mundur.


“Aku harus memberimu pelajar.” Tang Li berjalan mendekati.


“t-tidak, kau harus pergi dari sini.” Xin mei berbaik dan hendak pergi, namun dia terpeleset dan akhirnya jatuh.


Sedetik kemudian tang li sudah ada di depannya dan berjongkok. “Kenapa kau harus takut?” dia dengan cepat mencekik xin mei dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Apa dia akan membunuhku? Bagaimana bisa hanya kesalahan kecil itu, bisa membuatnya marah seperti itu? Dia berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya dan berusaha melepaskan tangan kuat yang mencengkeram lehernya.


Sakit. Dia lagi-lagi mendapatkan sakit yang luar biasa. “le-lepaskan.” Dia berusaha dan berusaha.

__ADS_1


“lepaskan?” tang li mengambil pedang di punggungnya dan langsung menusukkan dada xin mei tepat di jantungnya.


Xin mei merasakan ada sesuatu yang sangat cepat dan dingin menusuk hatinya. Rasa sakit yang sangat menjalar dari tubuhnya. Darah menetes dari ujung pedang yang menusuknya. Perlahan-lahan tangannya melemah dan akhirnya lemas.


__ADS_2