Gadis Cantik Milik CEO

Gadis Cantik Milik CEO
Episode 84


__ADS_3

"Diam!!, berisik sekali!, teriak Feri.


Mendengar teriakan Feri, Masya, Erika dan Alex menghentikan tawanya.


"Kan kak Feri sendiri tadi ngotot naik, sekarang diketawain marah marah," kata Masya bicara didelat telinga Feri.


"Ah aku pengen kerumah hantu," ucap Erika lalu berjalan mencari rumah hantu dan diikuti Alex, Feri dan Masya.


Sesampai dirumah hantu dan membeli tiketnya, mereka pun memasuki ruangan itu.


"Yuk masuk. Kamu gandeng tangan aku . Kalau takut peluk juga boleh," ucap Feri pada Masya.


"Cih Masya gak takut kok," jawab Masya.


Baru beberapa langkah memasuki rumah hantu tersebut, hantu hantu sudah mulai bermunculan.


"Aaaaaah waaaaah yaaaaa aaaaa aaaaa aaaa,, siapa pegang kakiku aaa, aaaaa,"Teriakan Feri menggema diseluruh ruangan itu.


"Tadi sok berani sekarang teriak teriak," kata Masya dengan tertawa.


"Buk bluk bluk." Terdengar suara Feri memukul salah satu hantu diruangan itu.


"Woy woy woy berhenti sakit hei." Teriak hantu yang menyamar.


"Kak Feri kak jangan," ucap Masya memegang tangan Feri.


Melihat temannya yang memukul seseorang tak berdosa, Alex pun berlari kearah Feri dan menariknya keluar ruangan. Al hasil diluar hantu itu keluar dan ramailah tempat itu karena Feri memukul hantu yang menyamar.


"Fer gila kau." Ucap Alex diluar ruangan. Feri tetap diam.


Orang orang yang mendengar keramaian itu pun ikut melihat.


"Aku reflex. Kaget tadi dia tiba tiba muncul didepanku."Jawab Feri dengan santai tanpa merasa bersalah.


"Kenapa sya?," tanya Erika yang sudah panik melihat hantu yang babak belur.


"Tadi kak Feri tiba tiba mukul hantu itu."Ucap Masya. Erika tidak bisa menahan tawanya, akhirnya terbahak bersama Masya.


"Memang Feri gila."Ucap Erika.


Hantu hantuan itu terdiam tidak bicara sepatah katapun karena melihat yang memukulnya berkuasa dinegaranya.


"Biar Fe yang urus."Ucap Feri lalu pergi.


Salah satu orang pengurus taman bermain itu turun kelapangan menghampiri Feri.


"Maafkan kami tuan atas ketidaknyamanannya."Ucap orang itu sambil menundukkan kepalanya ketakutan.


"Sekertarisku nanti kesini dan ganti rugi hantu itu."Ucap Feri.


"Baik tuan." Jawab orang itu.


"Terimakasih tuan."Kata hantu hantuan itu. Dia berterimakasih karena ada ganti rugi dan tidak akan sedikit jika itu Feri yang melakukan.


"Kenapa hantu itu berterimakasih padahal kan dia yang dipukul," fikir Masya mengikuti Feri dibelakangnya.


"Yah pasti hantu itu senang dipukul Feri."Ucap Alex sambil tertawa mengikuti teman temannya.


Fe yang sudah berada dirumah menerima panghilan dari Feri untuk datang ketaman bermain.

__ADS_1


"Apalagi yang anda lakukan tuan muda."Ucap Fe sambil bersiap pergi menemui Feri.


Mereka sudah berada di dalam sebuah cafe menunggu sekertaris Fe. Lima belas menit kemudian Fe muncul.


"Itu ekor Feri udah datang."Kata Alex sambil menikmati coffe pesanannya.


"Sudah saya selesaikan tuan muda."Ucap Fe melaporkan kepada Feri.


"Hmmmm."Jawab Feri dengan dingin.


"Wah cepet juga kerjamu Fe," kata Alex tersenyum dengan lebar.


"Yuk aku antar pulang," ajak Feri pada Masya.


"Fer kamu gak nganterin aku sama Erika."Tanya Alex.


"Cih kalian udah besar ngapain aku antar segala. Sana pulang bareng Fe." Kata Feri lalu meninggalkan mereka.


"Nyesel aku punya temen kamu."Teriak Alex lalu tersenyum. "Dasar gila." Sambungnya lagi.


"Ayo sayang kita pulang sama Fe." Ucap Alex tersenyum pada Erika.


"Cih sayang sayang." Kata Erika memukul Alex.


"Tidak dengan tuan muda atau temannya aku selalu jadi orang ketiga." Kata Fe lirih lalu pergi mengantar Alex dan Erika.


"Kak Feri kenapa tadi?," Masya masih teringat kejadian tadi dan tersenyum.


"Lucu?," Feri mendekati Masya pelan pelan.


"Kenapa kak Feri deket deket sih," Jantung Masya bedetak dengan cepat menatap Feri yang semakin dekat dengannya. Masya terdiam kaku tidak bergerak, Feri semakin dekat dan semarang berada didepan Masya.


Feri tersenyum melihat ekspresi Masya dan mendengar detak jantungnya.


Cklik


Suara sabuk pengaman yang dipasangkan.


"Apa yang kamu fikirkan gadis kecil," Feri kembali kekursinya semula.


Masya membuka matanya pelan pelan dan meligat Feri sudah ada dikursi kemudinya dan tersenyum menatap Masya.


Masya tersipu malu. "Aaah memalukan, kenapa aku menutup mataku," Masya segera menghadap kedepan.


Tiba tiba tanpa Masya sadari Feri mendekat lagi dan mecium pipinya.


cup


Sontak membuat Masya terkejut dan membelalakkan matanya. Feri tertawa kecil melihat tingkah Masya yang menggemaskan.


"Hei hei hei apa itu tadi apa," Masya bersuara dalam hatinya.


Feri melajukan mobil dan Masya masih tidak bersuara karena terkejut. Beberapa menit mereka sampai di apartemen Feri.


"Loh kok aku dibawa kesini," Masya melihat lokasi parkir apartemen. Kak kenapa kesini lagi?," Masya menatap Feri.


Feri keluar dari mobilnya dan membuka pintu Masya.


"Ayo keluar kamu mau tetap disini?," Feri menarik tangan Masya "Atau mau aku gendong."

__ADS_1


"Ah gak gak aku bisa jalan." Masya segera melompat dari tempat duduknya.


"Aku masih ingin bersama kamu jadi, kamu disini temenin aku." Ucap Feri menggandeng tangan Masya masuk.


"Tapi kak, kasian mama dirumah," Masya sedikit memberontak karena kepikiran dengan mamnya selalu sendiri tanpa ada teman.


"Apa aku harus suruh Fe temenin mama kamu?," Feri memegang tangan Masya dengan erat.


"Hah," Masya terkejut mendengar Feri "Gila ini orang." Ucap Masya dengan pasrah mengikuti Feri.


Mereka pun sampai di didalam aprtemen Feri.


"Aaaah," teriak Masya sambil menutup matanya. "Kak Feri mau ngapain?," Masya menutup mata dengan rapat dan berbalik membelakangi Feri.


"Mau mandi, ikut?," Feri menggoda Masya yang malu melihat tubuh Feri.


"Enggak," jawab Masya dengan singkat.


"Aaah gila gila bener bener gila," ucap Masya lirih.


Feri masuk kekamar mandi sambil tertawa melihat Masya.


"Aaah aku ngapain disini," Masya mondar mandir bingung apa yang akan dia lakukan.


"Lebih baik aku pura pura tidur, ya aku tidur sekarang." Masya berlari menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Masya berguling guling kesana kemari bingung harus berbuat apa.


Jegrek


Suara pintu kamar mandi terbuka.


Masya segera menenggelamkan kepalanya dibawah selimut. "Aaah bener bener gila." Ucap Masya lirih.


Feri keluar dari kamar mandi dan melihat Masya sudah berbaring diranjang dengan tubuh yang sudah terbalut dengan selimut.


"Dasar gadis gila," Feri tersenyum menghampiri Masya.


Jantung Masya berdetak kencang mendengar langkah kaki yang semakin mendekat.


"Hoh hoh dia panti berjalan kemari ah aku giman ini gimana, ah akuingin menghilang saja," Masya memegang selimut dengan sangat erat.


Feri berdiri disamping ranjang dan masih memakai handuk di pinggangnya.


"Hei sudah tidur kah?," Feri menarik selimut namun ditahan kuat oleh Masya. "Kenapa dia sembunyi," Feri tersenyum melihat tingkah Masya.


Masya sedikit membuka selimut melihat keberadaan Feri.


"Aaaaah dasar mesum," teriak Masya melihat Feri yang hanya memakai handuk tanpa baju.


"Hust kamu mau membangunkan orang segedung ini?, apa yang kamu pikirkan?, otak mu yang mesum." Feri menjitak kening Masya.


"Aaau sakit," Masya mengusap usap keningnya yang memerah. Melihat kening Masya yang memerah Feri pun memegangnya.


"Aaah maaf maaf sakit ya?," Feri mengusap kening Masya.


"Apa?, maaf?, tumben amat ngomong itu, ups ," Masya menutup mulutnya.


"Apa kamu bilang?," Feri mendekati Masya lalu menggelitik perutnya. Mereka pun bercanda malam itu.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2