
Karena pembicaraan sudah mulai serius, Fe berfikir untuk meninggalkan Feri berdua dengan Masya tanpa gangguan. Tanpa berpamitan pada Feri, Fe pulang kerumahnya.
"Aaah akhirnya selesai, hari ini sedikit melelahkan," gumam Fe menghembuskan nafas lega lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan apartemen Feri.
"Kenapa kakak ngomong gitu?, apa yang terjadi," Masya bertanya tanya apa maksud Feri.
"Gak ada," Feri menarik Masya kedalam pelukannya sambil perlahan menepuk punggung masya. Masya hanya diam karena bingung dengan sikap Feri yang tiba tiba berubah.
Masya sangat nyaman bersama dengan Feri. Benih benih cinta Masya sudah mulai tumbuh namun Masya tetap tidak ingin menunjukkan pada Feri meskipun Feri selalu menunjukkan rasa cintanya pada Masya. Mungkin Masya masih trauma karena terlalu percaya. Sejak Masya mengenal Feri dan memulai kuliahnya, Masya terlalu sibuk sehingga jarang sekali dia merawat mamanya. Feri menyiapkan satu perawat dirumah Masya untuk membantu mamanya.
"Kak sebenarnya masih ada yang mengganjal dipikiran Masya," Masya melepaskan pelukan Feri lalu menatapnya.
"Apa?," tanya Feri lalu menatap balik Masya.
"Kenapa kak Feri menyuruh seorang perawat buat jagain mama?, apa mama masih belum sembuh?, tapi kelihatannya mama membaik kak, kenapa harus ada perawat yang jaga mama," Masya bertanya dengan menggebu gebu.
Feri melapas lengan Masya lalu berjalan menuju ruang tamunya. Feri duduk dikursi sambil memainkan ponselnuya. Masya mengikuti Feri dari belakang. Feri masih memikirkan jawaban yang tepat agar Masya tidak curiga dengannya.
"Kak," Masya menggoyang goyangkan kaki Feri dan memanggilnya dengan suara yang manja.
"Ya kamu sibuk kuliah mama mu pasti kesepian," jawab Feri sambil tersenyum tipis.
"Tidak ada yang kak Feri sembunyikan dari Masya kan?," tanya Masya curiga dengan perilaku Feri.
"Tidak ada," Feri mencubit pipi Masya.
Masya berteriak kesakitan dan akhirnya membalas Feri lalu mencubit pahanya. Feri sangat mencintai Masya, bahkan dia rela belajar memasak karena ingin membuatkan makanan yang enak untuk Masya. Hati Feri yang dulu sedingin es pun sekarang mulai hangat. Masya banyak mengubah hidup Feri.
Beberapa menit kemudian setelah mereka berbincang dengan serius, Feri mengajak Masya jalan jalan disekitar apartemennya. Apartemen Feri sangat dekat dengan segala macam toko. Ada juga mall yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
"Yuk kita jalan jalan," aja Feri lalu berdiri dari tempat duduknya.
Masya menatap Feri dari atas kebawah, "Mending kak Feri ganti baju dulu deh biar Masya gak dikira jalan sama om om," ucap Masya lalu tersenyum lebar.
"Sini deh," Feri melambaikan tangannya. Masya pun berdiri mendekati Feri. "Lebih dekat," ucap Feri sambil menyilangkan tangannya dibelakang tubuhnya. Masya maju beberapa langkah mendekati Feri. Wajah Masya memerah karena malu. Masya memilih memejamkan matanya. Tidak Masya duga tiba tiba Feri menyentilkan tangannya didahi Masya membuat Masya menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Waaaak," Masya mengusap dahinya yang mulai memerah, "Seneng banget nyentil dahi Masya," Masya menyeringai kesakitan. Feri pergi sambil terbahak.
Sepuluh menit kemudian Feri keluar menghampiri Masya.
"Waah ganteng banget," Masya membelalakkan matanya menatap Feri.
"Ayo," Feri menggandeng tangan Masya lalu mereka berjalan keluar apartemen. Feri memakai switer putih dengan jelana jeans membuat Feri tampak sangat tampan.
"Tumben dia pakai baju yang sesuai," gumam Masya memegang tangan Feri.
Malam itu jalanan sangat ramai, banyam kendaraan lalu lalang. Banyak muda mudi bergandengan tangan dengan pasangan mereka masing masing. Saat Masya dan Feri lewat banyak mata menatap mereka. Cantik dan tampan, mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Banyak orang memuji keserasiaan mereka.
Setelah berjalan cukup jauh Masya merasa capek. Tiba tiba saja Masya berhenti dan membuat Feri tertarik lagi kebelakang.
"Kenapa," tanya Feri menoleh kearah Masya yang berada sedikit dibelakang Feri.
"Masya capek kak, haus,"Masya mengusap usap lehernya.
"Yah cuma berjalan beberapa meter," ucap Feri, "tunggu disana aku belikan minum," Feri menunjuk sebuah kursi dibawah pohon.
Masya berjalan menuju tempat duduk yang ditunjukkan Feri, sementara Feri pergi membeli minum yang berada disebrang jalan. Karena Masya merasa lama menunggu Feri akhirnya Masya melangkah menyusul Feri.
"Aww sakit," Masya melihat siku dan kaki nya keluar darah.
Sementara Feri sedang membeli minuman di cafe seberang jalan. Karena antri panjang Feri pergi ketoilet sebentar. Saat Feri sudah membeli dan kembali ketempat Masya menunggu, Feri melihat kerumunan orang dipinggir jalan dan membuat Feri penasaran.
Feri bergegas melangkah kembali menemui Masya. Feri mencoba menoleh kearah kerumunan orang disitu. Karena banyak orang yang melihat, Feri tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi sehingga Feri mengabaikannya. Namun saat melihat dari jauh Masya tidak ada ditempat duduk disebrang jalan.
Feri menoleh kekanan kiri namun tidak menemukan Masya, akhirnya Feri mencoba mencari disekitar orang orang itu. Feri masuk kedalam kerumunan dan melihat Masya duduk sambil memegang tangannya.
"Masya," teriak Feri lalu menjatuhkan minuman yang dia bawa.
"Kak," panggil Masya dengan nada sendu. Masya menyeringai kesakitan.
Feri bergegas menggendong Masya dan berteriak meminta orang menggubungi ambulance.
__ADS_1
"Cepat hubungi ambulance," teriak Feri sambil menggendong Masya dan menatap Masya dengan Khawatir.
"I i itu presdir praditama," ucap salah seseorang dari mereka.
Setelah orang orang nenghubungi ambulance, beberapa saat kemudian ambulance datang. Feri meminta kerumah sakit praditama. Feri langsung menghubungi Fe dan Frengki.
"Fe segera kerumah sakit," teriak Feri dari balik ponsel nya.
Sementara saat itu Fe akan bersiap untuk tidur. Terkejut dengan teriakan Feri.
"Apa rumah sakit," teriak Fe dan segera bergegas menuju rumah sakit.
Frengki menunggu Feri didepan pintu UGD dengan beberapa perawat. Sesaat kemudian ambulance datang. Masya diturunkan dari ambulan dan didorong dengan bed diikuti Feri.
"Brengsek Feri, aku kira dia parah sambai dibawa ambulance," ucap Frengki setelah melihat luka Masya yang tidak begitu parah.
"Ki cepat," teriak Feri pada Frengki yang berdiri melihat Feri begitu panik.
"Aah aku kerjain kamu," gumam Frengki tersenyum licik. "Kamu tunggu disini aku akan periksa dia,"ucap Frengki.
"Tidak aku akan ikut kedalam," teriak Feri menatap Masya khawatir.
"Oke," Frengki menghampiri Masya. Saat Frengki ingin mencoba memeriksa Masya dan meminta Masya membuka sedikit baju Masya tiba tiba Feri tidak memberi izin untuk memegang Masya.
"Apa apaan kamu," teriak Feri memukul tangan Frengki yang hendak memeriksa Masya. "Ki yang terluka tangan dan kakinya kenapa kamu buka baju nya," teriak Feri sangat keras.
Fe yang saat itu baru saja datang segera berlari setelah mendengar teriakan Feri.
ckeklek
brak
Pintu terbuka dengan sangat keras membuat mereka menoleh secara bersamaan kearah sumber suara. Fe muncul dengan nafas yang tidak beraturan.
"Maaf tuan muda saya terlambat," ucap Fe dengan nafas nya yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Kau mengagetkan saja Fe," ucap Frengki lalu kembali menghadap Masya.
Terinakasih