Gadis Cantik Milik CEO

Gadis Cantik Milik CEO
Episode 97


__ADS_3

Mendengar Feri akan pulang, mamanya segera berlari keluar kamar menuju ruang santai. Papa Feri tersenyum melihat istrinya bernafas dengan tersengal sengal.


"Mama kenapa lari lari?," tanya Feri menatap mamanya. Mama Feri segera berlari dan memukul suaminya.


"Ini orang tuaku kenapa?," gumam Feri.


"Aku kira kamu sudah tidak ingat mama," ucap mama Feri dengan nada judes.


"Dasar perempuan, tinggal bilang kangen saja jual mahal," gumam papa Feri sambil tersenyum.


"Terus," ucap Feri sambil memakan buah yang berada didepannya.


"Ini anak sama saja, jual mahal," gumam papa Feri.


Mama Feri menatap Feri dengan kesal. "Ingin rasanya aku memasukkan kamu kembali dalam perut," gumam mama Feri lalu memalingkan wajahnya.


"Ma Feri akan tinggam di apartemen mulai sekarang, mungkin jarang kesini hanya berkunjung," Feri menikmati buah yang dia makan.


"Mama ingin kamu cepat menikah lo," ucap mama Feri.


"Iya tunggu saja, kalau tidak minggu depan ya bulan depan," Feri meletakkan garpu yang dia pegang lalu berdiri dan pergi kekamarnya.


Mama Feri terkejut mendengar ucapan Feri. "Fe sungguh," tanya mama Feri menatap Fe.


"Maaf nyonya saya tidak mengerti," Fe menundukkan kepala. "Saya permisi tuan, nyonya," Fe pergi menyusul Feri dikamarnya.


"Sudah lah ma tunggu saja," lanjt papa Feri.


"Kalau Fe tidak tau artinya Feri tidak serius, heh dasar anak kurang ajar," ucap mama Feri kesal.


Hari itu Masya tetap bersikeras mencari Eka dan menanyakan pada teman temannya namun tidak ada yang mengetahui keberadaan Eka. Karena hari sudah semakin sore, Masya memutuskan untuk pulang menemui mamanya karena kemarin dia tidak kembali kerumah. Saat Masya sampai dirumah, Masya segera menengok mama nya sebelum pergi kekamarnya. Masya melihat mamanya yang masih tertidur. Akhirnya Masya kembali kekamarnya dan membersihkan diri.


Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Masya kembali melihat mamanya dikamar.


Grek


Suara pintu membuat mama Masya menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Sayang sudah pulang," tanya mama Masya melihat Masya. Masya berjalan mendekati mamanya lalu duduk disamping ranjang.


"Sudah dari tadi ma, tadi Masya kesini mama Masih tidur," ucap Masya sambil membaca buku yang dibawanya.


Mama Masya menatap Masya sedih. Dia membelai rambut Masya dengan halus membuat Masya bertanya tanya kenapa mamanya bersikap seperti itu. Masya meletakkan buku diatas meja lalu menatap mata mamanya yang sudah mulai berkaca kaca.


Sambil terus membelai rambut Masya, mama Masya memulai pembicaraan. "Sayang, ada hal yang harus mama bicarakan," ucap Mama Masya dengan nada sedu.


"Mama kenapa?, apa mama masih sakit?," ucap Masya lalu meraih tangan mamanya.


"Sayang maafkan mama belum bisa membuat kamu bahagia. Mama tidak bisa berbuat apa apa lagi untuk kamu," air mata mama Masya sudah mulai membasahi pipinya.


"Ma jangan menangis, Masya sudah cukup bahagia ada mama yang temenin Masya," Masya mengusap air mata mamanya. Tangis mama Masya semakin pecah. Dia memeluk Masya sambil menangis tersedu sedu.


"Mama kenapa?,"tanya Masya khawatir melihat mamanya yang menangis sejadi jadinya.


Perlahan mama Masya mulai berbicara tentang penyikitnya dan menjelaskan semuanya pada Masya. Mendengar itu Masya terkejut membelalakkan matanya tanpa mengeluarkan tangisnya.


"Ma jangan bercanda, gak lucu tau," ucap Masya sambil tertawa dengan dibuat buat.


Masya terkejut melihatnya, dia menjatuhkan kertas yang dia pegang lalu menutup wajah dengan tangannya. Masya menangis tersedu sedu. Mama Masya meraih tangan Masya lalu memeluknya dengan erat.


"Kenapa semua orang menutupi nya dari Masya Ma?," ucap Masya sambil menangis.


Mama Masya melepas pelukannya lalu memegang pundak Masya. "Sayang jangan menangis," Mama masya menyeka air mata Masya lalu menatap Masya dengan sedih.


Masya menghapus air matanya lalu menatap mamanya. "Mama masih bisa sembuh kan?,"ucap Masya dengan nada surau.


Mama Masya hanya menatap Masya sedih lalu memeluknya. Masya melepas pelukan mamanya lalu lari keluar kamar mamanya. Masya keluar dari rumahnya mencari udara segar sambil tetap mengeluarkan air matanya. Beberapa menit setelah Masya meninggalkan rumah, Feri datang kerumah Masya.


"Tuan, nona Masya pergi keluar," ucap perawat itu dengan gugup.


Tanpa bertanya Feri segera lari keluar rumah mencari Masya. Feri masuk kedalam mobil lalu mengemudi perlahan sambil menoleh kanan kiri melihat keberadaan Masya.


Setelah beberapa menit dia mencari namun masih belum menemukan Masya. "Masya kamu kemana?," teriak Feri khawatir. Tiba tiba Feri melihat seorang gadis berjalan dengan baju putih dan celana pendek tanpa memakai alas kaki.


"Itu sepertinya dia," Feri mendekati gadis itu dengan mobilnya.Feri memperhatikan dari dalam dan benar itu Masya. Masya masih tetap menangis sambil terus berjalan tanpa tujuan.

__ADS_1


"Shh kenapa dia suka sekali menangis dipinggir jalan," ucap Feri lalu melajukan mobilnya ditepi jalan. Feri keluar dari mobil lalu berlari mendekati Masya. Dia berdiri didepan Masya namun Masya tidak mengetahuinya.


Duk


Masya menabrak Feri tepat didadanya.


"Owh," Feri menyeringai kesakitan. Masya mendongakkan kepalanya lalu melihat Feri didepannya . Masya tidak berhenti menangis namun tangis Masya semakin keras. Feri memeluk Masya dengan erat.


"Jangan menangis," Feri memegang wajah Masya lalu mengusap air matanya.


"Kakak," panggil Masya dengan nada sendu.


"Iya, jangan sedih kakak disini," Feri menggandeng tangan Masya masuk kedalam mobil.


"Yuk kita pulang ya," Feri melajukan mobilnya. Masya terdiam tanpa suara dengan air matanya yang terus menetes.


Feri mengendarai mobil sambil sesekali melirik Masya. Beberapa menit kemudian meraka sampai diapartemen Feri. Feri menggendong Masya yang tertidur setelah menangis. Feri berjalan pelan sambil terus menatap Masya. Dia sangat kasihan melihat Masya seperti itu. Feri meletakkan Masya diatas ranjangnya, setelah itu dia mengambil ponsel yang berada disakunya untuk menghubungi mama Masya.


"Halo tante, ini Feri. Masya bersama Feri sekarang. Tanti jangan khawatir," ucap Feri dari sambungan telfonnya.


"Iya nak, terimakasih," Mama Masya mematikan ponselnya.


Feri kembali ke kamarnya dan duduk disamping Masya.Feri memegang tangan Masya.


"Gadis yang malang," ucap Feri sambil menatap Masya.


Feri menemani Masya sepanjang malam. Dia takut Masya terbangun dan tidak ada orang disampingnya. Feri tidak ingin Masya sedih.


Sinar matahari sudah mulai memasuki kamar Feri. Masya terbangun dan melihat Feri yang tertidur disebelahnya. Masya tidak membangunkan Feri dan memandang Feri yang masih tertidur pulas.


"Dia sangat tampan," gumam Masya lalu diam memandang Feri. Tiba tiba Feri terbangun dan melihat Masya duduk menatapnya dengan pandangan kosong.


"Kamu sudah bangun?," tanya Feri lalu duduk didepannya. Masya tidak merespon pertanyaan Feri. Feri memegang tangan Masya dan membuat Masya terkejut.


"Eh kakak, mengagetkanku," Masya memegang dadanya yang berdetak dengan kencang.


terimakasih 😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2