Gadis Cantik Milik CEO

Gadis Cantik Milik CEO
Episode 88


__ADS_3

Rumah sakit Praditama milik Feri adalah rumah sakit mewah dinegara itu. Rumah sakit dengan bangunan yang sangat memanjakan mata itu memiliki 10 ruang VVIP yang hanya dihuni oleh orang orang dengan kantong yang tebal. Malam itu mama Masya berada disalah satu ruang itu.


Terdengar suara kaki melangkah dengan perlahan.


Jegrek suara pintu terbuka, Masya membuka pintu dengan sangat pelan.


Masya dan Feri berjalan masuk ruangan tersebut. Disana Fe sudah menunggu diruang tamu kamar itu.


"Tuan muda," Fe berdiri dari dudujnya menyambut Feri yang baru datang.


"Hust," Feri meletakkan jari telunjuknya didekat bibir dan membuag Fe tidak lagi bicara.


Masya perlahan berjalan masuk dengan hati hati dan melihat mama nya yang sudah tertidur dengan pulas. Masya mendekati ranjang itu lalu menarik selimut mamanya hingga menutupi dada mamanya.


Masya kembali berjalan keluar menemui Feri dan Fe yang menunggu diruang tamu.


"Kak Feri pulang saja Masya mau tidur disini," Masya berjalan duduk disofa kamar itu.


"Kamu serius mau jaga mama mu sendiri?," Feri mendekati Masya dan bertanya dengan wajah nya yang sangat khawatir.


"Iya kak malam ini Masya mah jagain mama," Masya menatap Feri seakan memohon agar diperbolehkan tetap diruangan itu.


"Baiklah," Feri mendekati Masya lalu mencium kening Masya. Setelah itu Feri berjalan keluar ruangan dengan hati berat seakan tidak ingin meninggalkan Masya malam itu.


Feri dan Fe berjalan keluar menemui dr Frengki.


greek Fe membuka pintu ruangan dr Frengki. dr Frengki yang sedang membaca itu menoleh kearah pintu dan tersenyum melihat Feri juga ada disana.


"Hai sudah lama tak jumpa," dr Frengki berjalan mendekati Feri sembari mengalungkan tangannya dipundak Feri.


"Aku mau minta bantuanmu ki," Feri bicara dengan nada lesu tak bertenaga.


"Tumben banget kamu ngomong mau minta tolong, biasanya juga kamu emang ngerepotin," Frengki berjalan duduk disofa.


"Tolong rawat dengan baik dia dan satu lagi sampaikan pada siapapun jangan kasih tahu gadis itu tentang keadaan mamanya, mengerti!," Feri memijat kepalanya yang merasa pusing karena lelah.


"Oke siap laksanakan," Frengki berdiri mengambil minuman untuk Feri.

__ADS_1


Malam itu didalam kamar, Masya terlentang diatas sofa sambil menatap langit langit kamar tersebut.


"Kenapa hidupku terasa sangat berat. jikalau nanti terjadi sesuatu yang serius dengan mama, bagaimana aku bisa hidup didunia ini. Kak Feri terimakasih sudah selalu menemani Masya, membuat Masya bahagia. Andai aku tidak pernah bertemu dengan mu, aku tidak tau lagi apakah aku masih hidup hari ini." Masya membayangkan kehidupannya hingga menangis tersedu sedu sampai akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.


Beberapa menit kemudian, Feri kembali kekamar itu. Feri membuka pintu perlahan lalu dia masuk dengan hati hati dan menatap Masya yang sudah lelap dalam mimpinya.


Feri menatap dengan penuh kasih sayang. Feri duduk berjongkok didekat sofa itu lalu mengusap lembut pipi Masya.


"Sayang aku akan selalu menjagamu, kamu jangan khawatir," Feri membelai pelan rambut Masya. Akhirnya Feri menemani Masya hingga tertidur.


Jangan tanya Fe dimana, Fe pun ikut tidur dirumah sakit malam itu dan tidak meninggalkan Feri.


"Aaah apa aku harus mengundurkan diri?, kenapa aku bekerja 24 jam," ucap Fe sambil mengacak ngacak rambutnya lalu masuk dikamar sebelah mama Masya dirawat.


"Ron aku tepati janji ku untuk menjaga adikmu, kamu jangan khawatir, tenanglah disana," gumam Fe sambil terlentang di bed pasien.


#Pagi


Masya membuka mata lalu menggeliat diatas sofa, dia duduk lalu melihat Feri tertidur disofa depan Masya.


Masya bangun lalu mendekati Feri, "Kak Feri ganteng banget kalau lagi tidur, terimakasih sudah menjaga Masya, ih imut juga dia," gumam Masya dalam hatinya sambil tertawa dengan pelan.


"Sudah puas lihatinnya," ucap Feri sambil membuka matanya.


Suara Feri membuat Masya terkejut hingga duduk terjatuh.


"Aww, kak Feri bikin Masya kaget," Masya bangun sambil memegang pantatnya karena sakit terbentur lantai.


Feri tertawa sambil membantu Masya bangun. "Husst jangan keras keras," ucap Feri.


"Aku mau lihat mama sudah bangun belum," Masya berjalan menuju bed tempat mamanya tidur. Mama Masya masih tertidur karena pengaruh obat tidur.


"Kenapa mama gak bangun bangun ya kak," tanya Masya pada Feri yang sudah berdiri disampingnya.


"Frengki memberinya obat tidur, kamu tenang saja, biarkan mama mu istirahat,"ucap Feri sambil mengalungkan tangannya dipundak Masya.


Mereka akhirnya meninggalkan mama Masya lalu pergi keluar ruangan itu. Didepan pintu sudah berdiri Fe dan dr ki.

__ADS_1


"Eh," Frengki menaikkan alisnya melihat Masya. "Ini kan gadis yang malam itu," gumam Frengki. "Selamat pagi," Frengki tersenyum pada Masya.


"Pagi," Masya membalas senyuman dr Ki.


"Apa sih lihat lihat segala kamu," ucap Feri lalu menarik Masya sembunyi dibelakangnya.


"Aku kan menyapa keluarga pasien ku kenapa gak boleh," Frengki memegang pundak Feri lalu melirik Masya yang berada dibelakangnya. "Cantik ya," bisik Frengki pada Feri.


"Awas ku bunuh kau," Feri melempar Frengki menjauh darinya. Frengki tersenyum lebar berhasil menggoda Feri. "Jaga dia baik baik,"


"Siap laksanakan," Frengki bergaya seperti seorang tentara dan memberikan hormat kepada Feri.


"Gila kamu!," ucap Feri, Masya hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka.


"Tuan muda perlengkapan mandi sudah saya siapkan di kamar sebelah," ucap Fe sambil menunjukkan kamar disebelah kamar rawat mama Masya.


Feri berjalan menggandeng Masya menuju kamar tersebut. Tanpa menghiraukan Fe.


"Dicuekin kai Fe," Frengki tertawa sambil menepuk pundak Fe lalu berjalan meninggalkannya.


"Sudah biasa tidak terlalu kaget," ucap Fe lirih sambil mengangkat kedua bahunya.


Feri dan Masya akhirnya bersiap untuk kegiatan mereka hari itu.


Feri mengantar Masya kekampusnya lalu pergi kekantor. Hari itu Feri tidak bahagia seperti biasanya karena penyakit mama Masya yang belum diketahui oleh Masya. Feri merasa kasian dan bingung bagaimana cara memberi tahu Masya agar dia tidak sedih setelah mengetahuinya.


Beberapa hari Feri tidak fokus bekerja dan Fe selalu setia membantu Feri dan berada disamping Feri.


Satu minggu berlalu, mama Masya sudah mulai membaik. Hari itu Masya akan pergi berkemah dipuncak untuk merayakan penerimaan mahasiswa baru. Feri masih menyembunyikan penyakit yang diderita oleh mamanya, karena mama Masya tidak memperbolehkan Feri memberi tahu Masya.


"Sayang kamu sudah siapin barang barang buat dibawa kesana?," mama Masya berjalan mengambil remot televisi, Masya sibuk dengan ponselnya.


Sambil bersantau Masya asyik bermain game, "Ahh mati deh," Masya melempar ponselnya diatas paha.


"Belum ma, sekertaris kak Feri yang nyiapin, aku suruh jaga mama saja hari ini," Masya melentangkan badannya diatas sofa.


"mama baik baik saja, kamu pergi sana siapin sendiri," ucap mama Masya sambil memilih saluran televisi.

__ADS_1


Terimakasih jangan lupa like dan vote nya ya.


__ADS_2