
Feri menatap Fe namun seperti biasa, tidak ada senyuman diwajahnya.
"Kenapa kamu lihat Fe, lihat aku aja," kedua tangan Feri memegang kepala Masya agar tetap menatap Feri.
"Ah udah kak, Masya mau berangkat," Masya memberontak namun Feri tetap memegangnya.
cup
Feri mencium pipi Masya lalu melepaskan kedua tangannya.
"Aaaaahhh mesum," Masya membuka pintu lalu berlari keluar.
Feri tersenyum menatap Masya hingga tak terlihat lagi.
Masya berjalan melalui lorong yang banyak dengan anak kampus. Semua laki laki terpana melihat kecantikan Masya. Ada salah satu laki laki yang mengenal Masya dan tersenyum melihat Masya lewat didepannya.
"Kenapa banyak orang sih, jadi malu," Masya berjalan tanpa menoleh kemanapun karena malu.
"Aduh mana aulanya," Masya menengok kanan kiri namun masih belum melihat aula. Masya berjalan kesana kemari dan ternyata orang yang mengenal Masya mengikutinya.
"Hei," Rio menepuk punggung Masya dari belakang. Masya terkejut dan langsung menoleh kebelakang.
"Siapa?," Masya menatap Rio dengan seksama. "Sepertinya aku gak kenal deh," gumam Masya setelah memastikan.
"Kamu anak baru kan?," Rio mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Em iya, kok tau?," tanya Masya, mereka berjabat tangan.
"Aku rio, Ketua organisasi penerimaan mahasiswa baru tahun ini." Rio memperkenalkan dirinya.
Masya melepaskan tangan Rio. "Oh gitu ya, kalau gitu aula dimana ya?," tanya Masya sambil menengok kanan kiri. "Kenapa tatapan cewek cewek disini menakutkan," gumam Masya melihat banyak wanita disekitarnya yang menatap tajam dan menakutkan.
Rio adalah cowok yang sangat tampan dan pintar. Dia selalu mendapat perhatian oleh banyak wanita dikampus tersebut.
"Aku juga mau kesana," Rio mengajak Masya untuk berjalan ke aula bersama.
Banyak juga lelaki yang menatap Masya dengan kagum namun berbeda dengan wanita menatap Masya seperti akan mengancamnya.
"Boleh," Masya berjalan disamping Rio, mereka pergi bersama keaula.
Mahasiswa baru sudah banyak berkumpul disana. Ketika Masya dan Rio datang, tatapan mereka tertuju pada Rio dan Masya.
__ADS_1
"Wah mereka serasi," semua anak saling berbisik melihat keserasian Masya dan Rio.
"Waaah cantik sekali," banyak cowok memuji Masya.
Pertemuan dimulai mereka sibuk membahas agenda yang akan dilakukan untuk mahasiswa baru. Semua mahasiswa banyak yang mendekat pada Masya dan membuat Masya tidak nyaman.
"Aah bisa gila aku lama lama disini," Masya berdiri dipojok karena terdorong laki laki yang ingin dekat dengan Masya.
Sedangkan di kantor, Feri akan mengadakan rapat saat itu. Feri bersiap keruang rapat dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Wajah tuan muda bahagia sekali, aku rasa rapat hari ini akan berjalan dengan lancar," Fe menghembuskan nafas lega sambil menatap wajah tuan mudanya.
Feri memasuki ruang rapat, semua orang tegang melihat kemunculan Feri. Feri duduk dengan elegannya dikursi dengan wajahnya yang tampan dan berseri hari itu. Meskipun Feri datang dengan wajah yang menyenangkan tetap saja para karyawan gemetar ketakutan saat bertatap muka dengannya.
"Santai saja muka kalian kenapa tegang gitu," gumam Fe sambil tersenyum melihat semua muka karyawan begitu tegang setelah Feri datang.
"Baik rapat dimulai, mulai dari bagian keuangan," Feri mendengarkan laporan dari kepala staf masing masing.
Hari itu kantor berjalan begitu damai tanpa ada teriakan dari Feri. Begitupun dengan Masya, hari pertama masuk kuliahnya berjalan dengan lancar meskipun sangat berisik.
Sore harinya saat Masya akan pulang dari kampus, Masya mendapat kabar berita yang tidak menyenangkan. Ponsel Masya berdering.
"Apa?," Masya tampak cemas setelah dia menerima telfon lalu Masya segera berlari keluar kampus dan mencari taksi.
"Pak kerumah sakit xx," ucap Masya kepada sopir taxi dengan wajah yang khawatir. Sampai dirumah sakit, Masya segera turun dari taksi dan berlari masuk keUGD. Disana Masya mondar mandir mencari dimana keberadaan mamanya.
Setelah membuka satu persatu tirai akhirnya Masya menemukan mamanya disalah satu ranjang. Masya melihat mamanya terbaring lemas diatas ranjang.
Masya berjalan pelan mendekati ranjang dengan menitikan air matanya.
"Mama, apa yang terjadi ?, kenapa mama gak bilang Masya?," Masya menangis sambil memegang tangan mamanya.
"Sayang mama cuma pusing aja, mungkin kecapekan," mam Maysa mencoba menenqngkan putrinya yang menangis terisak isak.
Feri mencoba menghubungi Masya namun tidak ada jawaban.
"Kenapa dia gak angkat telfonku," Feri menggeram kesal karena tidak dapat menghubungi Masya.
"Aah suasana hatinya berubah disaat yang tepat," fikir Fe yang melihat wajah tuan mudanya sudah mulai berubah. Keluar hawa dingin diwajahnya.
Beberapa menit Feri menghubungi Masya tetap tidak ada jawaban sampai akhirnya Feri membanting ponsel ditangannya.
__ADS_1
"Fe cari Masya sekarang," Feri berjalan cepat keluar kantor diikuti oleh sekertarinya. Karyawan menyapa Feri pun tidak ada respon darinya.
"Sepertinya singa kita bangun," ucap karyawan yang berpapasan dengan Feri.
"Hust hati hati mulutmu, mau dipecat!," sambung temannya. Mereka pun berlari ketakutan.
"Ada apa tuan muda?," tanya Fe saat berada di dalam mobil.
"Gadis bodoh tidak merespon ku, dia gak angkat telfon ku Fe," ucap Feri dengan nada yang sangat kesal.
"Ya ampun tuan muda, cuma karena nona Masya tidak menjawab telfon anda sampaisegitunya," Fe menggelengkan kepalanya. "Jatuh cinta bikin orang gila," gumam Fe.
"Bukannya nona Masya dikampus tuan muda, mungkin nona Masya masih sibuk," sambung Fe melirik Feri dari kaca mobil.
"Tuan muda saya akan menyuruh orang mencari nona Masya, sebaiknya anda makan dulu tuan muda, anda sudah melewatkan makan siang," ucap Fe dengan hati hati takut tuan muda nya yang lagi kasmaran ini menggila.
"Apa memang orang jatuh cinta tidak merasa lapar," gumam Fe sambil tetap fokus mengemudi.
"Baiklah," Feri menyenderkan kepalanya dikursi mobil. Fe putar balik membawa Feri kerestoran kesukaannya.
Sepuluh menit kemudian Fe mendapat panggilan telfon dari orang suruhannya.
"Hallo," Fe berjalam menjauh dari Feri. Setelah mendapat kan laporan , Fe berjalan mendekati Feri.
"Tuan muda, nona Masya sudah tidak ada dikampus,"
"Ayo kerumah Masya," Feri berdiri dari tempat duduknya kembali kemobil.
Saat dalam perjalanan mereka terjebak macet karena waktu jam pulang kerja sehingga jalanan tidak begitu lengang.
"Kenapa mobil mobil ini disini," teriak Feri dengan keras.
"Sudah waktu jam pulang kerja tuan muda pasti macet," ucap Fe melihat Feri yang frustasi hanya karena Masya tidak menjawab telfonnya.
"Nona Masya kenapa anda tidak menjawab telfon, jadi mobil sekarang yang disalahkan," gumam Fe.
Setelah satu jam mereka terjebak macet dengan omelan Feri didalam mobil, Fe sedikit bernafas lega karena sudah sampai dirumah Masya. Setidaknya mulut Feri diam setelah sampai disana.
"Telingaku seperti mau pecah," gumam Fe yang sedikit pusing mendengar Feri yang terus mengumpat diperjalanan.
Terimakasih
__ADS_1