
"Ah biarin apa kata kak Feri ma," ucap Masya sambil menutup kepalanya dengan bantal.
"Sayang jangan gitu," mama Masya berjalan mendekati Masya dan duduk disofa dekat Masya yang sedang bersantai.
"Ma, Masya males denger kak Feri ngomel terus, dia itu cerewet melebihi mama tau gak," Masya bangun dari tempat tidurnya bicara dengan sangat antusias.
"Tapi kamu menyukainya kan," mama Masya tersenyum meledek Masya yang sedang kasmaran.
"Huust mama jangan keras keras ngomongnya nanti kedengeran orang," Masya menempelkan telunjuknya dekat dengan bibir dengan mata yang melotot.
Mama Masya tersenyum melihat Masya salah tingkah ketika ditanya soal perasaannya pada Feri.
Tidak lama kemudian terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamar.
tok
tok tok
Fe membuka pintu dengan pelan lalu masuk dan menyapa mama Masya.
"Selamat sore," sapa Fe sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa om, kak Feri mana?," tanya Masya sambil melihat kearah pintu menanti kedatangan Feri.
"Tuan muda masih dikantor rapat nona, sebantar lagi saya akan menyusul," jawab Fe yang berdiri tegap di depan Masya.
"Kenapa om berdiri tegak seperti tiang saja disitu, duduk saja, tidak perlu sungkan, santai saja sama Masya, lagian juga kita sudah kenal lama," Masya tersenyum dan bicara dengan santai pada Fe sambil memukul mukul sofa didekatnya mengisyaratkan Fe untuk duduk.
"Tidak terimakasih nona, saya kesini mau menanyakan keperluan camping anda besok, apa saja yang anda perlukan nona?," tanya Fe lalu mengeluarkan buku catatanya.
"Ya ampun om kan bisa kirim pesan atau telfon aja kenapa kesini," Masya menggelengkan keplanya heran pada Fe yang datang hanya menanyakan keperluan camping nya.
"Nona saya boleh melakukan hal sesimple itu oleh tuan muda pasti sangat mudah pekerjaan saya," gumam Fe.
__ADS_1
"Tuan muda ingin saya menanyakan langsung pada anda nona," jawab Fe dengan segan.
"Om biasa saja bicara nya, panggil saja Masya gak usah nona nona nona terus, tidak nyaman ditelinga dengarnya." Masya mendekati Fe dan memukul pundaknya. Mama Masya hanya tersenyum melihat anaknya.
Meskipun dulu Masya keluarga orang kaya namun Masya tidak pernah diperlakukan seperti ratu. Mereka tidak ingin Masya menjadi anak yang suka bergantung kepada orang lain. Masya gadis yang sangat mandiri meskipun terkadang almarhum papanya sering memanjakannya.
"Apa?, saya masih ingin hidup nona, saya tidak ingin mati muda ditangan tuan muda," gumam Fe.
"Ah sudah lah pasti om juga takut sama kak Feri. Apa om takut dibunuh kak Feri?, tenang saja Masya pasti melindungi om," ucap Masya sambil tertawa. "Masya cuma butuh keperluan mandi saja sama baju, om tidak usah repot repot," jawab Masya lalu duduk kembali disofa.
"Baik nona, saya permisi nyonya," pamit Fe sambil menundukkan kepalnya pada mama Masya. Mama Masya mengerutkan dahinya mendengar Fe memanggilnya nyonya.
Setelah bertanya kebutuhan Masya untuk camping, Fe melaporkannya pada Feri namun Feri tidak mengizinkan Masya hanya membawa barang yang dia inginkan saja. Akhirnya Feri ikut berbelanja dengan Fe untuk keperluan Masya. Mereka pergi ke swalayan milik Feri.
Kedatangan Feri disambut oleh semua karyawan disana.
"Selamat sore tuan muda," sambut kepala swalayan sambil menundukkan kepalanya.
Feri berjalan masuk kedalam swalayan itu, karyawan disana berjajar sambil menundukkan kepalanya menyambut Feri. Setelah Feri melewati karyawannya, mereka segera melanjutkan pekerjaan. Feri mengambil barang untuk perlengkapan camping Masya. Fe dan 3 karyawan disana menemani Feri berbelanja sambil membawa 1 troli.
"Tuan muda nona Masya hanya camping 1 malam kenapa segini banyaknya," gumam Fe sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini, ini lagi, ini juga bagus, aah pasti pas buat dia, emh ini cantik," Feri tetap memasukkan barang barang dalam troli hingga penuh begitu seterunya hingga 3 troli.
"Sepertinya sudah cukup," ucap Feri sambil kacak pinggang dan melihat tiga troli yang sangat penuh dengan barang.
Fe melotot mendengar Feri, " ini bukan cukup tuan muda tapi terlalu banyak," gumam Fe.
"Sudah selesai kah tuan muda," tanya Fe sambil melirik kearah troli. Feri hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Fe.
Feri kembali kedalam mobil sambil bersiul senang dan mengetuk ngetukkan jarinya dipintu mobil. Feri merasa bahagia setelah belanja keperluan untuk Masya.
Didalam mall Fe masih mengurus semua barang barang dan menaruhnya dimobil lain karena tidak muat ditaruh didalam mobil Feri.
__ADS_1
Setelah selesai Fe kembali kedalam mobil. Melihat Fe kembali dengan tangan kosong membuat Feri menengok keluar mobil.
"Kenapa kamu tidak bawa barang barang itu," tanya Feri menatap Fe.
"Maaf tuan muda, barangnya ada dimobil belakang," jawab Fe sambil menunjukkan mobil dibelakangnya dari dalam mobil.
Feri menoleh kebelang dan benar sudah ada mobil pickup dibelakangnya yang akan membawa barang barang tersebut.
"Emh," Feri melanjutkan bersiul dengan senang.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Feri pergi menemui Masya yang berada dikamar perawatan mamanya.
"Kak Feri," ucap Masya melihat Feri yang sudah berada dipintu.
Feri tersenyum lalu menghampiri Masya. Tidak lama kemudian muncullah Fe dengan beberapa karyawan mall membawa barang barang yang dibeli Feri untuk Masya.
Masya membelalakkan matanya sambil berjalan mendekati Fe dan karyawan itu. "Kak Feri ini apa," tanya Masya sambil melihat barang barang itu.
"Itu perlengkapan camping kamu," ucap Feri yang duduk disofa sambil menyilangkan kakinya dan tangannya disilingkan didepan dadanya.
Mama Masya yang sedang minum sampai tersedak mendengar Feri bicara perlengkapan camping. Bagaimana tidak tersedak, barang yang dibawa oleh Feri memenuhi kamar itu.
"Apa Masya akan pindah rumah?, apa kak Feri sudah gila?, Masya hanya 1 malam kak," ucap Masya lalu mendekati Fe.
"Apa om tidak memberi tahunya?," bisik Masya ditelinga Fe.
"Maaf nona," ucap Fe sambil menundukkan kepala.
"Aku cuma butuh ini, ini, ini dan ini," Masya mengambil handuk, perlengkapan mandi, sepatu, dan topi.
"Apa kau sudah gila," teriak Feri lalu mendekati Masya. "Disana dingin kamu perlu selimut, mantel, iya tenda ini harus kamu bawa, kamu tidak boleh tidur dengan siapapun," ucap Feri sambil menaruh barang yang dipilihnya disebelah Masya.
Masya menepuk jidatnya melihat tingkah Feri.
__ADS_1
Terimakasih jangan lupa like dan vote nya. Maaf ya untuk besok hari minggu tidak bisa up.