
Feri membuka pintu mobil dan segera turun.
"Brak," suara pintu mobil yang dibanting oleh Feri.
"Ah ponsel dibanting, pintu mobil dibanting semua dibanting, apa salah mereka, orang kaya," gumam Fe lalu turun mengikuti Feri.
Feri mencoba memanggil Masya dan membuka pintu secara paksa, namun tidak ada jawaban.
"Mungkin nona Masya ada ditoko kue tuan muda," ucap Fe yang khawatir tuan mudanya akan mendobrak pintu.
Wajah Feri pucat dan diselimuti dengan kebingungan, " Ayo, kenapa kamu gak bilang dari tadi," teriak Feri lalu berlari menuju mobil diikuti Fe.
"Jadi aku sekarang yang salah, kan tuan muda seharusnya yang lebih tau," gumam Fe sambil tersenyum dengan paksa.
Didalam mobil Feri sangat tidak tenang, tiba tiba Feri keluar dari mobil lalu berlari tanpa menghiraukan Fe.
"Tuan muda," teriak Fe lalu ikut berlari menyusul Feri.
Karena jalanan sangat macet hari itu, maka berlari lebih cepat fikirnya. Sepuluh menit kemudian mereka sampai ditoko namun toko kue mama Masya terlihat sedang tutup. Feri menggedor pintu dan berteriak memanggil Masya. Tiba tiba salah satu orang yang tinggal ditoko sebelah menghampiri Feri dan memberitahu Feri bahwa mereka ada dirumah sakit xx. Mendengar kata rumah sakit Feri terdiam lemas.
"Tuan muda," Fe memegang bahu Feri agar tidak terjatuh. Tatapan mata Feri kosong, Feri merasa ketakutan dan memikirkan sesuatu terjadi pada wanita yang dia cintai.
"Mari kerumah sakit tuan muda," Fe menghentikan taxi dan pergi kerumah sakit xx.
"Tuan muda nona Masya dan mamanya masih ada di UGD," Fe memberi tahu Feri, tanpa di suruh Fe sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Fe mencari informasi tentang Masya dan mamanya.
Sampai dirumah sakit Feri berlari menuju UGD dan mencari keberadaan Masya. Feri melihat Masya sedang berbicara dengan dokter. Feri berlari secepat mungkin dan langsung memeluk Masya.
"Ahhh," Masya yang terkejut tiba tiba saja ada yang memeluknya, dia langsung berteriak sekeras mungkin.
"Maaf aku tidak tau kamu dalam masalah," Feri berbicara dengan nada yang sangat menyesal.
__ADS_1
"Aku kira kamu kenapa napa," Feri tetap memeluk Masya dengan erat.
"Aku gak apa apa kak," ucap Masya yang terkejut melihat Feri sangat khawatir dengannya.
"Fe urus semuanya," Feri melepas pelukannya dan memberi perintah pada Fe.
"Baik tuan muda," Fe berjalan berbicara dengan dokter yang menangani mama Masya.
"Kamu sudah makan?, kenapa kamu pucat banget," Feri memegang wajah Masya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Kak wajah mu lebih pucat dari pada aku," gumam Masya menatap Feri lalu menggelengkan kepalanya. Tanpa banyak bicara Feri menggandeng tangan Masya lalu membawa Masya kesebuah restoran terdekat.
"Tapi kak," Masya berusaha melepas tangan Feri namun Feri tidak mendengarkan Masya dan menyeret Masya keluar rumah sakit.
"Kamu harus makan dulu, aku gak mau kamu kenapa napa," Feri melepas tangan Masya lalu berhenti, Feri menundukkan kepala dan menarik nafas dalam untuk menenangkan fikirannya.
Masya meraih tangan Feri perlahan lalu mengenggamnya, "Kak Feri baik baik saja?," Masya menatap Feri.
"Tolong kasih tau aku jika kamu dalam kesulitan, aku selalu ada buatmu, aku bisa kamu andalkan," ucap Feri dengan nada sedikit serak.
"Kak, Masya baik baik saja," ucap Masya lirih namun terdengar oleh Feri.
"Jangan bilang kamu baik baik saja, kamu tidak sedang dalam keadaan baik," ucap Feri melepas pelukannya lalu menatap Masya.
Masya merasa terharu, dia meneteskan air matanya, Masya merasa sangat senang ada yang menemaninya disaat dia kesulitan.
"Jangan menangis, hatiku sakit melihatmu menangis," Feri mengusap air mata Masya. "Ayo kamu makan dulu."
Dirumah sakit setelah Fe bertanya tentang keadaan mama Masya, dia pun pergi menemui mama Masya yabg Masih terbaring lemas.
Fe bingung apa yang akan dia lakukan. Setelah itu Fe berbicara dengan mama Masya soal keadaannya.
__ADS_1
"Tuan saya mohon jangan kasih tau Masya tentang ini, saya mohon," pinta mama Masya dengan menangis tersedu sedu.
Fe menganggukkan kepalanya lalu pergi menghubungi Feri.
"Aaah ponsel tuan muda sudah dibanting," Fe tidak bisa menghubungi Feri karena tidak membawa ponsel. Akhirnya dia berfikir untuk menghubungi Masya.
Saat itu mereka direstoran dan Masya sedang pergi ketoilet, melihat ponsel Masya bergetar Feri mengangkatnya.
"Hmm," sambung Feri
"Tuan muda," Fe memastikan yang menjawab ponsel itu Feri.
"iya aku, ada apa?," tanya Feri kemudian berjalan keluar restoran.
"Tuan muda dokter mengatakan mama nona Masya menderita kanker darah," ucap Fe dari sambungan telfon.
"Apa kamu bilang," teriak Feri menoleh kebelakang karena takut Masya tiba tiba ada dibelakangnya.
"Iya tuan muda, tapi dokter masih belum bilang nona Masya," lanjut Fe.
"Rahasiakan dari Masya, kamu pindahkan ke rumah sakit kita Fe, urus semuanya," Feri mematikan telfonnya lalu kembali kemejanya. Selang beberapa menit Masya datang dari kamar mandi dan tersenyum kepada Feri. Feri membalas senyum Masya dan menutupi keadaan mama Masya karena takut dia akan khawatir.
"Mama kamu aku pindahin kerumah sakit ku sekarang," Feri memegang tangan masya dan mengusap lembut pipi Masya.
"Kenapa kak," Masya menatap Feri penuh tanya.
"Gak apa apa, cuma aku pengen Frengki aja yang menjaga mama mu," Feri terdiam memikirkan apa yang akan dia lakukan. Feri tidam ingin membuat Masya sedih dan menangis.
Setelah itu mereka menyusul Fe kerumah sakit praditama milik Feri.
Terimakasih
__ADS_1